19 Oktober 2011

Loe Gue End, MTGW, Minggu, 11 September 2011.

Segmen I :

Yang penting kesegeraan, bukan kecepatan.

Apa pun yang dikerjakan setengah-setengah, harus dikerjakan dua kali.

Sebetulnya tidak ada orang malas, yang ada adalah orang yang rajin bermalas-malasan.

Akhirilah hal-hal yang menjadikan kita masuk ke dalam keadaan yang sulit.

Sesuatu yang baik selalu dicapai melalui kesulitan. Kesulitan mengalahkan yang buruk.


Segmen II :

Yang kita capai adalah hasil dari pilihan kita. Itu sebabnya kadang-kadang kita dinilai dari yang kita kenakan karena yang kita kenakan itu menunjukkan keputusan terakhir kita.

Keputusan terakhir menunjukkan kualitas terakhir dari kita. Sehingga orang yang berpakaian sembarangan, berbicara sembarangan menunjukkan kualitas terakhir dari kemampuannya dalam memutuskan.

Berarti hati-hati dengan penampilan kita karena itu menunjukkan kualitas pilihan terakhir kita.

Sebelum menikah, pilih yang terbaik. Setelah menikah, terima apa adanya.

Tidak ada masalah antara dua jiwa yang tidak bisa diselesaikan dengan bicara.

Keluhan di keluarga, sebagian besar disebabkan oleh kurangnya bicara. Dan ketidakdamaian jiwa, berasal dari kurangnya bicara orang dengan dirinya sendiri.

Rata-rata, orang yang menyesal itu bicara dulu baru kemudian bicara kepada dirinya. Mulai dari sekarang, sebelum bicara, pikir dampaknya apa.

Selamatkan hati Anda dari penyesalan. Bicara dulu dengan diri, sebelum Anda mengatakan sesuatu.


Segmen III :

Berbaik hatilah bahkan kepada orang yang menyakiti kita. Itu merupakan tanda jiwa yang indah.

Perubahan yang paling baik adalah perubahan yang segera.

Jangan berencana terlalu banyak karena banyak rencana mengambil waktu untuk bertindak.

Semua anak muda yang kemudian berhasil hebat, selalu lebih bersegera daripada temannya.

Tangan yang menggenggam tidak bisa menerima pemberian baru.

Berbaik hati kepada orang yang baik terhadap kita mudah, tapi berbaik hati terhadap orang yang menyakiti kita, itu tanda jiwa yang indah.


Segmen IV :

Sesuatu yang dimulai dengan kesalahan, selalu berakhir dengan keharusan memperbaiki diri.

Sebagian besar di antara kita, tumbuh lebih cepat mengakhiri yang jelek untuk memperbaiki diri daripada memulai yang tidak tahu benar atau tidak.

Jadi, karena kita tumbuh karena kesalahan, cepatlah memulai yang kita pikir baik dulu. Segera. Lalu jangan takut berubah pendapat.

Kebiasaan kita yang paling indah adalah kebiasaan berubah untuk menuju kebaikan.

Upayakan diri Anda, dari setiap kesadaran diri Anda, adalah untuk kebaikan orang yang dekat dengan Anda.

Jadikanlah diri Anda hadiah bagi kebaikan orang lain.

Sulit sekali meninggalkan sesuatu yang baik, yang kecil, untuk kebaikan yang lebih besar.

Lakukan yang baik bagi dirimu, karena kalau tidak, kamu tidak baik bagi siapa pun.

Logika terbaik kita digunakan agar kita sampai pada perasaan terbaik. Jangan terbalik.

Oleh sebab itu, jika orang-orang ingin berpengaruh, itu berpengaruh ke hati, bukan ke pikiran.

Maka, bicaralah ke hati, itu lebih mudah karena dijamin oleh Tuhan. Yang berangkatnya dari hati, sampai di hati.


Segmen V :

Cinta tersiksa oleh pengabaian. Penyepelean itu bentuk pengabaian.

Untuk menyelamatkan kita dari penyepelean, yang membuat kita disepelekan adalah kita diam waktu disepelekan.

Orang-orang yang menghukum orang yang menyepelekannya, tidak disepelekan.

Sikap kita, apakah kita ikhlas disepelekan atau tidak itu menentukan perendahan atau penyepelean yang kita dapat. Caranya, bayangkan diri Anda sebagai pribadi yang lebih besar.

Bayangkan diri Anda sebagai pribadi yang lebih besar, setelah itu Anda akan bereaksi secara alamiah terhadap penyepelean.

Lebih baik kita dilukai dengan kejujuran daripada dihibur dengan janji palsu seumur hidup.

Orang yang hidupnya cemerlang walaupun pendek, umurnya diperpanjang dengan kebaikan yang ditinggalkannya.

Ketegasan untuk pindah dari keadaan yang tidak membahagiakan itu kita butuhkan agar segera kita hidup sepenuhnya dalam kebaikan.

Orang-orang yang mengeluh itu berarti dia sedang menggunakan tanda untuk memperbaiki diri sebagai cara untuk tidak menyukai keadaan yang buruk.

Orang yang mengeluh berarti sedang berada dalam kehidupan yang buruk, dan menggunakan akalnya untuk menyalahkan orang lain, nasib, keadilan Tuhan.

Orang yang ikhlas menerima bahwa yang meninggikan akan ditinggikan, akan meninggalkan hal-hal yang merendahkan, dan berusaha meninggikan diri dan sesamanya.

Ketegasan mengharuskan kita menyegerakan. Semakin segera kita meninggalkan sesuatu yang tidak baik, semakin segera kita masuk ke dalam kehidupan yang lebih baik.

Itu semua karena kita ingin berhasil semuda mungkin, kita ingin berwenang semuda mungkin, sehingga masa tua kita diisi dengan mengajarkan, menyampaikan kebijakan yang menjadikan lebih banyak jiwa muda lain tegas untuk segera memihakkan diri kepada kebaikan.


Semoga bermanfaat. Aamiin.


Tautan video : http://www.metrotvnews.com/metromain/newsprograms/2011/09/11/10022/187/Loe-Gue-End

Tidak ada komentar: