Pengalaman adalah guru yang terbaik. Akan lebih baik jika pengalaman buruk yang menjadi pelajaran tidak terjadi pada kita, tapi kita mempelajarinya dari pengalaman orang lain. Tak perlu menjadikannya sebuah peristiwa harus terjadi dulu pada kita, baru kita menyadari bahwa hal itu pernah terjadi pada orang lain.
Bersahabat, butuh pengorbanan. Kadang lebih banyak kita yang berkorban dibandingkan sahabat kita.
Atau mungkin saja posisinya terbalik atau seimbang. Semuanya bergantung pada komitmen masing-masing.
Seorang sahabat pastinya tahu kapan sebuah informasi itu adalah sebuah rahasia atau tidak. Tak perlu diberitahu. Dan tentunya kita juga tahu, porsi yang bisa kita bagi kepada orang lain di luar keluarga.
Akan tetapi tidak jarang seseorang menjadikan sahabat segala-galanya. Lebih bisa membagi uneg-unegnya kepada sahabatnya daripada kepada keluarganya sendiri. Semuanya sah saja, akan tetapi perlu diingat, hubungan keluarga adalah hubungan darah, berbeda dengan hubungan sahabat.
Karena itu, seseorang yang selalu membagi semua kehidupannya dengan seorang sahabat akan menjadi sangat menderita saat orang yang dipercayainya itu berbagi rahasia dirinya kepada orang lain. Suatu hal yang hanya dia bagi kepada sahabatnya tersebut. Karena itu, sudah sepantasnya kita juga menguji kepantasan sahabat kita untuk dipercaya dengan mencoba menceritakannya sedikit rahasia saja untuk mengetahui seberapa bisa dipercayanya dia. Akan tetapi jangan pernah berpikir untuk membuka rahasia sahabat kita itu kepada orang lain. Jika kita melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan, kita tidak lebih baik dari dirinya.
Semua hal yang terjadi pada kita pasti ada hikmahnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kejadian yang terjadi pada kita. Semua hal buruk bisa menjadi pelajaran terbaik bagi kita jika kita bisa menyikapinya dengan hati lapang dan bijaksana.