Saya percaya bukan sebuah kebetulan saya mengganti channel dan kemudian menonton serial Spongebob.
Awal kisah, Spongebob akan berlayar bersama teman-teman pramukanya ke sebuah pulau dan harus meninggalkan Patrick, si bintang laut. Karena Spongebob tidak bisa mengucapkan selamat tinggal kepada Patrick, akhirnya kapal meninggalkan Spongebob di dermaga.
Kemudian, datanglah kapal yang akan membawa para narapidana. Bahkan setelah semua narapidana masuk, Spongebob masih membutuhkan beberapa waktu untuk berpamitan. Akhirnya dia dapat mengucapkan selamat tinggal dan mereka berdua masuk ke dalam kapal yang akan membawa narapidana itu.
Sampailah mereka di pulau tempat napi menjalani hukuman. Akan tetapi, baik Spongebob maupun Patrick tidak menyadari mereka berada diantara napi. Mereka malah merasa sedih karena napi lainnya sepertinya tidak bisa bersenang-senang seperti mereka. Akhirnya mereka bersama para napi mengadakan pertunjukan drama dengan membangun panggung seperti kapal untuk menghibur para sipir.
Sang kepala sipir bahkan sampai sangat terharu melihat pertunjukan hebat tersebut. Akan tetapi para napi mengambil kesempatan untuk melarikan dengan panggung kapal yang tentu saja berakhir gagal.
Akhirnya, sang kepala sipir menyadari bahwa Spongebob telah masuk ke kapal yang salah setelah pembina pramuka menjemput Spongebob di pulau itu.
Inspirasi yang dapat saya ambil dari kisah di atas adalah, kesedihan atau kebahagiaan hanya berpulang dari apa yang ada di pikiran kita. Kita bahkan bisa tetap merasa bebas di tempat seperti penjara, atau bisa merasa terpenjara bahkan di dunia yang luas ini. Semuanya ada di dalam pikiran.
Yuk kita bebaskan pikiran untuk tetap bisa merasa bahagia.
Semoga bermanfaat. ^_^
20 Februari 2011
Penjual pulsa
Tidak jauh berbeda dari cerita mini market. Kali ini terjadi juga pada penjual pulsa.
Awalnya, ada penjual pulsa yang menjual pulsanya dengan tenda dan berada di tengah taman dekat saya tinggal. Sebut saja "Penjual pulsa A".
Tidak berapa lama, muncullah penjual pulsa baru, sebut saja "Penjual pulsa B". Letaknya di warung kecil tepi jalan dengan jarak hanya sekitar 10 hingga 15 meter dari penjual pulsa A.
Tadi sore, sepulang dari kantor, saya agak terkejut. Ada apa sebuah lemari kaca display ada di tengah taman dengan banyak orang di sekelilingnya. Dan ya, Anda benar, ternyata ada lagi penjual pulsa diantara penjual pulsa A dan B.
Masih terheran-heran dengan pola pikir si penjual pulsa yang terakhir. Apakah karena masih ada pangsa pasar karena itu dia memutuskan untuk membuka konter penjualan pulsa atau memang karena ikut-ikutan ingin menjajal peruntungan?
Entahlah, saya hanya bisa mengira-ngira apa yang ada di pikiran orang itu. Ada apa dengan masyarakat kita? Apakah latah? Atau sekadar iseng. :(
Awalnya, ada penjual pulsa yang menjual pulsanya dengan tenda dan berada di tengah taman dekat saya tinggal. Sebut saja "Penjual pulsa A".
Tidak berapa lama, muncullah penjual pulsa baru, sebut saja "Penjual pulsa B". Letaknya di warung kecil tepi jalan dengan jarak hanya sekitar 10 hingga 15 meter dari penjual pulsa A.
Tadi sore, sepulang dari kantor, saya agak terkejut. Ada apa sebuah lemari kaca display ada di tengah taman dengan banyak orang di sekelilingnya. Dan ya, Anda benar, ternyata ada lagi penjual pulsa diantara penjual pulsa A dan B.
Masih terheran-heran dengan pola pikir si penjual pulsa yang terakhir. Apakah karena masih ada pangsa pasar karena itu dia memutuskan untuk membuka konter penjualan pulsa atau memang karena ikut-ikutan ingin menjajal peruntungan?
Entahlah, saya hanya bisa mengira-ngira apa yang ada di pikiran orang itu. Ada apa dengan masyarakat kita? Apakah latah? Atau sekadar iseng. :(
Mini Market
Sekitar setahun lalu, berdirilah sebuah mini market di sekitar lingkungan tempat tinggal saya. Sebutlah "Mini Market A".
Awalnya, tentu saja Mini Market A ini berbeda dibandingkan dengan warung yang ada, karena dilengkapi beberapa AC. Dengan adanya mini Market A ini, maka berbondong-bondonglah orang mencoba melihat apa saja barang yang ditawarkan di sana.
Beberapa bulan kemudian, mulai terjadi kekurangnyamanan di Mini Marke A ini. Dari AC yang kurang dingin hingga kasir yang tadinya ada 2 kasir, hanya tinggal 1.
Tak berapa lama, tidak jauh dari lokasi Mini Market A, dibukalah salah satu mini market yang sudah cukup banyak cabangnya di Indonesia, kita sebut saja Mini Market B. Setiap kali ada pelanggan datang, kasir akan mengucapkan kalimat yang sama. "Selamat datang di "Mini Market B", silakan membeli" kurang lebih kalimatnya seperti itu.
Mungkin karena harus mengucapkan kalimat yang sama setiap kali pelanggan datang, saya mendengarnya seperti kalimat yang bisa diucapkan robot. Berulang-ulang, tetapi tanpa emosi.
Dengan AC yang cukup dingin dan beberapa karyawan, bisa dibilang cukup nyaman untuk berbelanja di Mini Market B ini.
Minggu lalu, dibukalah mini market baru. Sebut saja Mini Market C. Jaraknya hanya berbeda satu rumah dari Mini Market A. Yup, hanya satu rumah.
Dengan lokasi yang cukup luas dibandingkan kedua mini market A dan B, AC di Mini Market C juga sangat dingin, maklum, mungkin baru saja buka. Tetapi yang membuat kurang nyaman justru tidak sebandingnya antara pegawai dengan luasnya Mini Market C itu. Terlalu banyaknya pegawai di Mini Market yang bisa dibilang kecil.
Dengan adanya 3 mini market dalam radius tidak lebih dari 100 meter, saya berpikir, betapa tidak sehatnya persaingan antara mereka. Apalagi jika dimasukkan warung-warung yang ada di sekitarnya. Tidak mungkin warung-warung kecil mengalahkan mini market yang dingin karena AC.
Sedih, ya, karena untuk urusan yang seperti ini saja tidak bisa diatur.
Di mana hati nurani? :(
Awalnya, tentu saja Mini Market A ini berbeda dibandingkan dengan warung yang ada, karena dilengkapi beberapa AC. Dengan adanya mini Market A ini, maka berbondong-bondonglah orang mencoba melihat apa saja barang yang ditawarkan di sana.
Beberapa bulan kemudian, mulai terjadi kekurangnyamanan di Mini Marke A ini. Dari AC yang kurang dingin hingga kasir yang tadinya ada 2 kasir, hanya tinggal 1.
Tak berapa lama, tidak jauh dari lokasi Mini Market A, dibukalah salah satu mini market yang sudah cukup banyak cabangnya di Indonesia, kita sebut saja Mini Market B. Setiap kali ada pelanggan datang, kasir akan mengucapkan kalimat yang sama. "Selamat datang di "Mini Market B", silakan membeli" kurang lebih kalimatnya seperti itu.
Mungkin karena harus mengucapkan kalimat yang sama setiap kali pelanggan datang, saya mendengarnya seperti kalimat yang bisa diucapkan robot. Berulang-ulang, tetapi tanpa emosi.
Dengan AC yang cukup dingin dan beberapa karyawan, bisa dibilang cukup nyaman untuk berbelanja di Mini Market B ini.
Minggu lalu, dibukalah mini market baru. Sebut saja Mini Market C. Jaraknya hanya berbeda satu rumah dari Mini Market A. Yup, hanya satu rumah.
Dengan lokasi yang cukup luas dibandingkan kedua mini market A dan B, AC di Mini Market C juga sangat dingin, maklum, mungkin baru saja buka. Tetapi yang membuat kurang nyaman justru tidak sebandingnya antara pegawai dengan luasnya Mini Market C itu. Terlalu banyaknya pegawai di Mini Market yang bisa dibilang kecil.
Dengan adanya 3 mini market dalam radius tidak lebih dari 100 meter, saya berpikir, betapa tidak sehatnya persaingan antara mereka. Apalagi jika dimasukkan warung-warung yang ada di sekitarnya. Tidak mungkin warung-warung kecil mengalahkan mini market yang dingin karena AC.
Sedih, ya, karena untuk urusan yang seperti ini saja tidak bisa diatur.
Di mana hati nurani? :(
SMS oh SMS
Saat sedang bekerja, hp saya berbunyi karena menerima sms.
Penasaran dengan siapa yang mengirim sms itu, saya melihat isi sms yang baru saya terima.
"Hii, pnya kenalan yg mau turun berat bdn 3-5 kg/bln? Kl da telp saya ya, Nugroho, 08788307473 atau dptkan tips langsing gratis diwww.ayolangsing.com/arief"
Bukan ingin turut berpromosi, :D, hanya ini modus operandi yang baru saja saya ketahui.
Si pengirim sms itu tidak hanya menawarkan kepada si pemilik hp, tetapi juga berharap si pemilik hp akan menawarkan kepada kenalannya.
Banyak tawaran lainnya yang ditawarkan melalui sms, mulai dari KTA hingga seperti sms yang di atas, usaha melangsingkan badan, walaupun jelas-jelas salah tujuan. :D
Yang membuat saya kadang membalas sms tersebut adalah kadang ditulis dengan huruf kapital semua.
Pernah saya coba nasihati agar jangan menggunakan huruf kapital semua, karena terkesan kurang sopan.
Entah dilakukan atau tidak, karena saya tidak pernah lagi menerima sms dengan huruf kapital atau mungkin karena saya tidak menyimpan nomor hp orang tersebut.
Atau membalas sms yang isinya bisa menurunkan berat badan 5-10 kg dalam waktu 1 bulan dengan pesan, kalau saya turun berat badan hingga 10 kg, saya langsung harus ke rumah sakit karena benar-benar sangat kurus. ;)
Saat ini banyak cara yang digunakan untuk melakukan bisnis. Tetapi sebagai orang yang tidak membutuhkannya, saya cukup terganggu dengan sms-sms tersebut.
Ahh, kapan gangguan sms itu bisa berakhir.
Penasaran dengan siapa yang mengirim sms itu, saya melihat isi sms yang baru saya terima.
"Hii, pnya kenalan yg mau turun berat bdn 3-5 kg/bln? Kl da telp saya ya, Nugroho, 08788307473 atau dptkan tips langsing gratis diwww.ayolangsing.com/arief"
Bukan ingin turut berpromosi, :D, hanya ini modus operandi yang baru saja saya ketahui.
Si pengirim sms itu tidak hanya menawarkan kepada si pemilik hp, tetapi juga berharap si pemilik hp akan menawarkan kepada kenalannya.
Banyak tawaran lainnya yang ditawarkan melalui sms, mulai dari KTA hingga seperti sms yang di atas, usaha melangsingkan badan, walaupun jelas-jelas salah tujuan. :D
Yang membuat saya kadang membalas sms tersebut adalah kadang ditulis dengan huruf kapital semua.
Pernah saya coba nasihati agar jangan menggunakan huruf kapital semua, karena terkesan kurang sopan.
Entah dilakukan atau tidak, karena saya tidak pernah lagi menerima sms dengan huruf kapital atau mungkin karena saya tidak menyimpan nomor hp orang tersebut.
Atau membalas sms yang isinya bisa menurunkan berat badan 5-10 kg dalam waktu 1 bulan dengan pesan, kalau saya turun berat badan hingga 10 kg, saya langsung harus ke rumah sakit karena benar-benar sangat kurus. ;)
Saat ini banyak cara yang digunakan untuk melakukan bisnis. Tetapi sebagai orang yang tidak membutuhkannya, saya cukup terganggu dengan sms-sms tersebut.
Ahh, kapan gangguan sms itu bisa berakhir.
Sepenggal kisah di sore hari.
Saat menunggu angkutan sepulang dari kantor, terlihat segerombol anak SMP turun dari truk tumpangan mereka.
Wah, sepertinya akan ada masalah nih, harus lebih waspada.
Benar, saja. Sebuah motor dengan 4 orang yang masih remaja, mengacungkan jari tengah ke segerombolan anak-anak SMP yang baru saja turun menumpang truk tadi.
Marah. Ya, tentu saja.
Gerombolan tersebut mencoba mengejar si pengendara sepeda motor. Betapa bodohnya pikirku, mengejar motor dengan berlari.
Ternyata dugaanku salah.
4 pengendara motor itu berhenti sekitar 50 meter, menunggu gerombolan anak SMP itu mengejar, dan berlalu dengan menggunakan sepeda motornya.
Hmm, generasi masa kini. Yang akan menjadi pemimpin di masa depan. :(
Kisah selanjutnya di bus yang saya tumpangi.
2 remaja putri, pulang sekolah, duduk di kursi yang berbeda. Setelah salah satunya memberikan ongkos dengan tangan kiri, kemudian mereka terlibat percakapan dengan salah satunya memalingkan badannya ke arah temannya.
Penumpang ada yang naik. Karena kakinya menghalangi jalan, agak sulit bagi si ibu untuk masuk dan duduk.
Hmm, hal kecil dan sepele, ya memang. Kenapa terlalu dipikirkan?
Sedih melihat generasi muda, yang akan menjadi pemimpin di masa depan tidak memiliki rasa sopan santun. :(
Mulai dari rumah yuk. Ajarkan sopan santun kepada generasi muda harapan bangsa.
Wah, sepertinya akan ada masalah nih, harus lebih waspada.
Benar, saja. Sebuah motor dengan 4 orang yang masih remaja, mengacungkan jari tengah ke segerombolan anak-anak SMP yang baru saja turun menumpang truk tadi.
Marah. Ya, tentu saja.
Gerombolan tersebut mencoba mengejar si pengendara sepeda motor. Betapa bodohnya pikirku, mengejar motor dengan berlari.
Ternyata dugaanku salah.
4 pengendara motor itu berhenti sekitar 50 meter, menunggu gerombolan anak SMP itu mengejar, dan berlalu dengan menggunakan sepeda motornya.
Hmm, generasi masa kini. Yang akan menjadi pemimpin di masa depan. :(
Kisah selanjutnya di bus yang saya tumpangi.
2 remaja putri, pulang sekolah, duduk di kursi yang berbeda. Setelah salah satunya memberikan ongkos dengan tangan kiri, kemudian mereka terlibat percakapan dengan salah satunya memalingkan badannya ke arah temannya.
Penumpang ada yang naik. Karena kakinya menghalangi jalan, agak sulit bagi si ibu untuk masuk dan duduk.
Hmm, hal kecil dan sepele, ya memang. Kenapa terlalu dipikirkan?
Sedih melihat generasi muda, yang akan menjadi pemimpin di masa depan tidak memiliki rasa sopan santun. :(
Mulai dari rumah yuk. Ajarkan sopan santun kepada generasi muda harapan bangsa.
Sepenggal kisah di sore hari.
Saat menunggu angkutan sepulang dari kantor, terlihat segerombol anak SMP turun dari truk tumpangan mereka.
Wah, sepertinya akan ada masalah nih, harus lebih waspada.
Benar, saja. Sebuah motor dengan 4 orang yang masih remaja, mengacungkan jari tengah ke segerombolan anak-anak SMP yang baru saja turun menumpang truk tadi.
Marah. Ya, tentu saja.
Gerombolan tersebut mencoba mengejar si pengendara sepeda motor. Betapa bodohnya pikirku, mengejar motor dengan berlari.
Ternyata dugaanku salah.
4 pengendara motor itu berhenti sekitar 50 meter, menunggu gerombolan anak SMP itu mengejar, dan berlalu dengan menggunakan sepeda motornya.
Hmm, generasi masa kini. Yang akan menjadi pemimpin di masa depan. :(
Kisah selanjutnya di bus yang saya tumpangi.
2 remaja putri, pulang sekolah, duduk di kursi yang berbeda. Setelah salah satunya memberikan ongkos dengan tangan kiri, kemudian mereka terlibat percakapan dengan salah satunya memalingkan badannya ke arah temannya.
Penumpang ada yang naik. Karena kakinya menghalangi jalan, agak sulit bagi si ibu untuk masuk dan duduk.
Hmm, hal kecil dan sepele, ya memang. Kenapa terlalu dipikirkan?
Sedih melihat generasi muda, yang akan menjadi pemimpin di masa depan tidak memiliki rasa sopan santun. :(
Mulai dari rumah yuk. Ajarkan sopan santun kepada generasi muda harapan bangsa.
Wah, sepertinya akan ada masalah nih, harus lebih waspada.
Benar, saja. Sebuah motor dengan 4 orang yang masih remaja, mengacungkan jari tengah ke segerombolan anak-anak SMP yang baru saja turun menumpang truk tadi.
Marah. Ya, tentu saja.
Gerombolan tersebut mencoba mengejar si pengendara sepeda motor. Betapa bodohnya pikirku, mengejar motor dengan berlari.
Ternyata dugaanku salah.
4 pengendara motor itu berhenti sekitar 50 meter, menunggu gerombolan anak SMP itu mengejar, dan berlalu dengan menggunakan sepeda motornya.
Hmm, generasi masa kini. Yang akan menjadi pemimpin di masa depan. :(
Kisah selanjutnya di bus yang saya tumpangi.
2 remaja putri, pulang sekolah, duduk di kursi yang berbeda. Setelah salah satunya memberikan ongkos dengan tangan kiri, kemudian mereka terlibat percakapan dengan salah satunya memalingkan badannya ke arah temannya.
Penumpang ada yang naik. Karena kakinya menghalangi jalan, agak sulit bagi si ibu untuk masuk dan duduk.
Hmm, hal kecil dan sepele, ya memang. Kenapa terlalu dipikirkan?
Sedih melihat generasi muda, yang akan menjadi pemimpin di masa depan tidak memiliki rasa sopan santun. :(
Mulai dari rumah yuk. Ajarkan sopan santun kepada generasi muda harapan bangsa.
Tukang bajaj oh tukang bajaj... :(
Setelah beberapa bulan lalu dimaki-maki tukang bajaj karena dia sudah terlalu pede saya akan naik bajajnya dan saya tolak, tadi siang ada lagi kejadian yang membuat saya geleng-geleng kepala.
Saya dan adik saya ingin pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di dekat rumah. Setelah negosiasi harga, akhirnya disepakati harga yang diinginkan si tukang bajaj.
Ternyata si tukang bajaj memilih jalur yang macet. Sebenarnya ada jalur lain yang tidak macet akan tetapi entah kenapa dia malah memilih jalur yang macet.
Hanya sekitar 10 meter dari pusat perbelanjaan yang kami tuju, tiba-tiba si tukang bajaj mengatakan "jalan kaki lewat pinggir aja neng, lebih cepat".
Sejenak saya dan adik saya berpandangan. Lalu saya bertanya kembali ke tukang bajaj dan dia menjawab dengan kalimat yang sama.
Dalam hati saya, tadi minta bayaran penuh kok sekarang minta saya keluar dan jalan kaki karena jalanan macet. Enak saja.
:(
Saya dan adik saya ingin pergi ke salah satu pusat perbelanjaan di dekat rumah. Setelah negosiasi harga, akhirnya disepakati harga yang diinginkan si tukang bajaj.
Ternyata si tukang bajaj memilih jalur yang macet. Sebenarnya ada jalur lain yang tidak macet akan tetapi entah kenapa dia malah memilih jalur yang macet.
Hanya sekitar 10 meter dari pusat perbelanjaan yang kami tuju, tiba-tiba si tukang bajaj mengatakan "jalan kaki lewat pinggir aja neng, lebih cepat".
Sejenak saya dan adik saya berpandangan. Lalu saya bertanya kembali ke tukang bajaj dan dia menjawab dengan kalimat yang sama.
Dalam hati saya, tadi minta bayaran penuh kok sekarang minta saya keluar dan jalan kaki karena jalanan macet. Enak saja.
:(
Asumsi... :D
Siang tadi, selesai makan, saat kami akan kembali ke kantor, ada seorang bapak penjual rujak bebeg. (mohon maaf jika penulisannya salah, :D)
Salah satu teman kami berujar, "Wah, ada rujak bebeg, beli yuk" Kemudian, dipanggillah si bapak penjual.
"Pak! Pak!"
Dengan santainya si bapak penjualnya tetap berjalan.
Sampai beberapa kali dipanggil, si bapak penjual tetap berjalan, seakan tidak mendengar kami yang akhirnya hampir semuanya berteriak memanggilnya.
Bahkan sampai beberapa teman kami yang berhadapan langsung dengan si bapak dan ikut memanggilnya, tetap saja si bapak melenggang seakan-akan tidak mendengar teriakan kami.
Akhirnya beliau berhenti juga. Usut punya usut, setelah ditanya, ternyata beliau mengira panggilan itu bukan untuk dirinya, tetapi untuk orang lain.
Kami semua sampai tidak bisa menahan tawa melihat situasi tersebut.
Salah satu teman saya bahkan berkomentar, "Bagaimana bisa laku, kalau dipanggil gak berhenti?"
Yah, itulah, langsung terpikir oleh saya. Bagaimana kalau selama ini hal itu juga terjadi pada saya?
Sudah lama orang lain ingin memberikan rezeki kepada saya, akan tetapi karena saya berasumsi bahwa panggilan itu bukan untuk saya, maka betapa banyak kesempatan yang terlewati karena saya kurang peka atau terlalu sering berasumsi.
Tetapi, entahlah. :D
Salah satu teman kami berujar, "Wah, ada rujak bebeg, beli yuk" Kemudian, dipanggillah si bapak penjual.
"Pak! Pak!"
Dengan santainya si bapak penjualnya tetap berjalan.
Sampai beberapa kali dipanggil, si bapak penjual tetap berjalan, seakan tidak mendengar kami yang akhirnya hampir semuanya berteriak memanggilnya.
Bahkan sampai beberapa teman kami yang berhadapan langsung dengan si bapak dan ikut memanggilnya, tetap saja si bapak melenggang seakan-akan tidak mendengar teriakan kami.
Akhirnya beliau berhenti juga. Usut punya usut, setelah ditanya, ternyata beliau mengira panggilan itu bukan untuk dirinya, tetapi untuk orang lain.
Kami semua sampai tidak bisa menahan tawa melihat situasi tersebut.
Salah satu teman saya bahkan berkomentar, "Bagaimana bisa laku, kalau dipanggil gak berhenti?"
Yah, itulah, langsung terpikir oleh saya. Bagaimana kalau selama ini hal itu juga terjadi pada saya?
Sudah lama orang lain ingin memberikan rezeki kepada saya, akan tetapi karena saya berasumsi bahwa panggilan itu bukan untuk saya, maka betapa banyak kesempatan yang terlewati karena saya kurang peka atau terlalu sering berasumsi.
Tetapi, entahlah. :D
Just a thought...
Dikirim teman baikku, mudah-mudahan bisa bermanfaat. :)
1. Doa bukanlah "ban serep" yang dapat kamu keluarkan ketika dalam masalah, tapi "kemudi" yang menunjukkan arah yang tepat.
2. Kenapa kaca depan mobil sangat besar dan kaca spion begitu kecil? Karena masa lalu kita tidak sepenting masa depan kita. Jadi, pandanglah ke depan dan majulah.
3. Pertemanan itu seperti sebuah buku. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk membakarnya, tapi butuh waktu tahunan untuk menulisnya.
4. Semua hal dalam hidup adalah sementara. Jika berlangsung baik, nikmatilah, karena tidak akan bertahan selamanya. Jika berlangsung salah, jangan khawatir, karena juga tidak akan bertahan lama.
5. Teman lama adalah emas! Teman baru adalah berlian! Jika kamu mendapat sebuah berlian, jangan lupakan emas! Karena untuk mempertahankan sebuah berlian, kamu selalu memerlukan dasar emas.
6. Seringkali ketika kita hilang harapan dan berpikir ini adalah akhir dari segalanya, Tuhan tersenyum dari atas dan berkata " Tenang sayang, itu hanyalah bengkokan, bukan akhir!
7. Ketika Tuhan memecahkan masalahmu, kamu memiliki kepercayaan pada kemampuan-Nya; ketika Tuhan tidak memecahkan masalahmu, Dia memiliki kepercayaan pada kemampuanmu.
8. Seorang buta bertanya pada St. Anthony : "Apakah ada yang lebih buruk daripada kehilangan penglihatan mata?" Dia menjawab : "Ya ada, kehilangan visimu!"
9. Ketika kamu berdoa untuk orang lain, Tuhan mendengarkanmu dan memberkati mereka, dan terkadang, ketika kamu aman dan happy, ingat bahwa seseorang telah mendoakanmu.
10. Khawatir tidak akan menghilangkan masalah besok, hanya akan menghilangkan kedamaian hari ini. Jika kamu menikmati dan merasa sudah diberkati, mohon mengirimkan juga ke orang lain.
1. Doa bukanlah "ban serep" yang dapat kamu keluarkan ketika dalam masalah, tapi "kemudi" yang menunjukkan arah yang tepat.
2. Kenapa kaca depan mobil sangat besar dan kaca spion begitu kecil? Karena masa lalu kita tidak sepenting masa depan kita. Jadi, pandanglah ke depan dan majulah.
3. Pertemanan itu seperti sebuah buku. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk membakarnya, tapi butuh waktu tahunan untuk menulisnya.
4. Semua hal dalam hidup adalah sementara. Jika berlangsung baik, nikmatilah, karena tidak akan bertahan selamanya. Jika berlangsung salah, jangan khawatir, karena juga tidak akan bertahan lama.
5. Teman lama adalah emas! Teman baru adalah berlian! Jika kamu mendapat sebuah berlian, jangan lupakan emas! Karena untuk mempertahankan sebuah berlian, kamu selalu memerlukan dasar emas.
6. Seringkali ketika kita hilang harapan dan berpikir ini adalah akhir dari segalanya, Tuhan tersenyum dari atas dan berkata " Tenang sayang, itu hanyalah bengkokan, bukan akhir!
7. Ketika Tuhan memecahkan masalahmu, kamu memiliki kepercayaan pada kemampuan-Nya; ketika Tuhan tidak memecahkan masalahmu, Dia memiliki kepercayaan pada kemampuanmu.
8. Seorang buta bertanya pada St. Anthony : "Apakah ada yang lebih buruk daripada kehilangan penglihatan mata?" Dia menjawab : "Ya ada, kehilangan visimu!"
9. Ketika kamu berdoa untuk orang lain, Tuhan mendengarkanmu dan memberkati mereka, dan terkadang, ketika kamu aman dan happy, ingat bahwa seseorang telah mendoakanmu.
10. Khawatir tidak akan menghilangkan masalah besok, hanya akan menghilangkan kedamaian hari ini. Jika kamu menikmati dan merasa sudah diberkati, mohon mengirimkan juga ke orang lain.
Kok begini? Kok begitu? :(
Seberapa sering Anda dengar kalimat :”Kok jadinya begini?” ”Kok jadinya begitu?” ”Kok kerjanya gak rapi sih”, setelah menghabiskan tenaga dan waktu seharian untuk mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya bukan tugas Anda karena Anda ”dimintai bantuan”, dan tidak ada orang lain yang cukup peduli membantu atau cukup waktu untuk mengerjakannya?
Mungkin ya, mungkin tidak.
Kalau Anda memang termasuk yang senang membantu, mungkin ya. Ah, entahlah, saya tidak sedang ingin berandai-andai.
Pernah terpikir bagaimana perasaan orang yang telah mengerjakan pekerjaan itu?
Alangkah bahagianya perasaan orang yang telah mencurahkan “darah dan keringatnya” agar pekerjaan yang dianggap “kecil dan remeh” oleh orang lain itu dihargai atau setidaknya tidak “dikomentari”.
Sebegitu sulitkah untuk mengatakan kalimat sederhana yang tidak sederhana dampaknya seperti “terima kasih sudah membantu saya.” Atau “Saya tahu waktunya sangat sempit, tetapi kamu telah melakukan pekerjaan yang hebat”.
Hmm, mudah-mudahan bukan hanya mimpi di siang bolong.
Yuk, kita mulai untuk menghargai sekecil apa pun pekerjaan itu, karena ada orang lain yang sangat berdedikasi terhadap pekerjaan yang sering kita anggap ”kecil dan remeh”. Tetapi mereka melakukannya dengan sepenuh hati.
Mungkin ya, mungkin tidak.
Kalau Anda memang termasuk yang senang membantu, mungkin ya. Ah, entahlah, saya tidak sedang ingin berandai-andai.
Pernah terpikir bagaimana perasaan orang yang telah mengerjakan pekerjaan itu?
Alangkah bahagianya perasaan orang yang telah mencurahkan “darah dan keringatnya” agar pekerjaan yang dianggap “kecil dan remeh” oleh orang lain itu dihargai atau setidaknya tidak “dikomentari”.
Sebegitu sulitkah untuk mengatakan kalimat sederhana yang tidak sederhana dampaknya seperti “terima kasih sudah membantu saya.” Atau “Saya tahu waktunya sangat sempit, tetapi kamu telah melakukan pekerjaan yang hebat”.
Hmm, mudah-mudahan bukan hanya mimpi di siang bolong.
Yuk, kita mulai untuk menghargai sekecil apa pun pekerjaan itu, karena ada orang lain yang sangat berdedikasi terhadap pekerjaan yang sering kita anggap ”kecil dan remeh”. Tetapi mereka melakukannya dengan sepenuh hati.
Six Signs It’s Time For a New Job
1. It’s not just that they don’t pay you enough, it’s that they couldn’t ever pay you enough to make you feel good.
People who feel underpaid always think that more money will make them feel better. Sometimes it will, but sometimes it won’t. and I can prove it. If your biggest complain about your job is the salary, consider whether an amount 10 percent higher would make you happy. Then of a number that is 20 percent higher. If a 10 to 20 percent increase would make you feel well compensated, you’re in the right job – you just need to work on getting a raise. If you could go as high as 50 to 100 percent more and still not be satisfied, then money isn’t the problem and more of it won’t make you feel better. It’s time to find another position within the company or a new job altogether.
2. You believe that nothing you do makes the least bit of difference.
This is demoralizing position to be in, but it’s usually not the work itself that makes you feel as if you’re not making a contribution. One of the world’s most admired companies specializes in cleaning services, and its employees, who scrub office floors and bathrooms, believe they have reason to be proud of themselves and the work they do.
You need to discover a sense of purpose. Your job is making copies? Find out who needs them and why. Or maybe you need to shift your focus to what makes you happy outside of work – traveling, playing tennis, volunteering. Then you can think your job as the means to make those activities possible. If you still think that everything you do is meaningless, then you need to prepare for a job change – because once you believe you’re wasting your time, it won’t be too long before your employer believes it, too.
3. You’re not learning anything.
Of all the things that can go wrong with a job, I think feeling as if you’re not growing is one of the most dangerous. The market for your talent is changing every day, and unless you are evolving, too, you run the risk of becoming as obsolete as punch cards in a software world. Be vigilant if you feel you are not learning anything and your current employer is paying you more than anyone else would. That means it is definitely time to run, not walk, toward opportunities for building new skills. (A boss looking to cut workers will always target the ones who cost him more than their talents warrant.)
You might register for technology courses or simply ask your current employer for new responsibilities. Concentrate on shoring up an area you feel is your biggest weakness or building on your second-greatest strength. (You’ve probably automatically refined your strongest suit because it’s something you love to do.)
4. No one ever talks to you about the future in a positive way.
Many of us feel we don’t get enough positive feedback. In today’s fast-paced environment, managers are often so overwhelmed that they fail to notice when someone could use a little praise. But there is a difference between not getting enough compliments and not having any indication that your boss or senior managers imagine you playing an important role in the company’s future (something like “You know, you would be good for job X, one step up”). If no one further up the food chain says anything to you about the future, it could be a sign that plan is to keep you in your slot – if you’re lucky, and they don’t need to make cuts.
Finding out that you’re not on the fast track – or any track at all – can be painful, so don’t press for more information than you can handle. When you’re ready to deal with the worst-case scenario, ask for more time with your boss and say, “Here are two or three jobs I would like to grow into. What should I do to be ready for the next step?” If the boss says, “I think you’re terrific, but the company needs to do better before we can offer you or anyone, any opportunities,” that’s good news.
5. You hate your boss so much that it’s hard to think about anything else.
The number one reason people give me for wanting to change job is that they hate their boss. But let’s face it, if you have a boss, any boss, you have days when you aren’t thrilled with her. The occasional incident doesn’t turn a good job into a wrong job. But when every day is Boss-Hating Day, that’s another story.
Nancy, for example, was working in a café with the people she liked. This group had such great style that they turned what could have been just another lunch spot into the place in town. Yet their boss continually change hid mind, insulted his staff, and micromanaged and second-guessed everything they did. One day, Nancy realized that her work menu never altered : It was always servings of boss hatred. The only way to change the situation was to change jobs.
6. You feel that who you are at work doesn’t have much to do with who you are in the rest of your life.
Little mismatches can always crop up between our individual preferences and what our job requires : Maybe it’s the daily irritation of pulling on pantyhose or being forced to defend a dumb company policy. But you might discover a profound discrepancy between yourself and your company. Maybe your casual style doesn’t fly in your buttoned-down workplace. Or, more seriously, you may find your ethics don’t match.
Just a few weeks a go I heard about a young woman who was bothered by the bookkeeping practices of the family-owned business she worked for. It’s not that these procedures were illegal, but she prided herself on adhering to the highest standards of ethics and these loose policies made here acutely uneasy. If you’re consistently uncomfortable at your workplace – as the result of a major personality conflict or a clash of ethics – you should get ready to move on.
People who feel underpaid always think that more money will make them feel better. Sometimes it will, but sometimes it won’t. and I can prove it. If your biggest complain about your job is the salary, consider whether an amount 10 percent higher would make you happy. Then of a number that is 20 percent higher. If a 10 to 20 percent increase would make you feel well compensated, you’re in the right job – you just need to work on getting a raise. If you could go as high as 50 to 100 percent more and still not be satisfied, then money isn’t the problem and more of it won’t make you feel better. It’s time to find another position within the company or a new job altogether.
2. You believe that nothing you do makes the least bit of difference.
This is demoralizing position to be in, but it’s usually not the work itself that makes you feel as if you’re not making a contribution. One of the world’s most admired companies specializes in cleaning services, and its employees, who scrub office floors and bathrooms, believe they have reason to be proud of themselves and the work they do.
You need to discover a sense of purpose. Your job is making copies? Find out who needs them and why. Or maybe you need to shift your focus to what makes you happy outside of work – traveling, playing tennis, volunteering. Then you can think your job as the means to make those activities possible. If you still think that everything you do is meaningless, then you need to prepare for a job change – because once you believe you’re wasting your time, it won’t be too long before your employer believes it, too.
3. You’re not learning anything.
Of all the things that can go wrong with a job, I think feeling as if you’re not growing is one of the most dangerous. The market for your talent is changing every day, and unless you are evolving, too, you run the risk of becoming as obsolete as punch cards in a software world. Be vigilant if you feel you are not learning anything and your current employer is paying you more than anyone else would. That means it is definitely time to run, not walk, toward opportunities for building new skills. (A boss looking to cut workers will always target the ones who cost him more than their talents warrant.)
You might register for technology courses or simply ask your current employer for new responsibilities. Concentrate on shoring up an area you feel is your biggest weakness or building on your second-greatest strength. (You’ve probably automatically refined your strongest suit because it’s something you love to do.)
4. No one ever talks to you about the future in a positive way.
Many of us feel we don’t get enough positive feedback. In today’s fast-paced environment, managers are often so overwhelmed that they fail to notice when someone could use a little praise. But there is a difference between not getting enough compliments and not having any indication that your boss or senior managers imagine you playing an important role in the company’s future (something like “You know, you would be good for job X, one step up”). If no one further up the food chain says anything to you about the future, it could be a sign that plan is to keep you in your slot – if you’re lucky, and they don’t need to make cuts.
Finding out that you’re not on the fast track – or any track at all – can be painful, so don’t press for more information than you can handle. When you’re ready to deal with the worst-case scenario, ask for more time with your boss and say, “Here are two or three jobs I would like to grow into. What should I do to be ready for the next step?” If the boss says, “I think you’re terrific, but the company needs to do better before we can offer you or anyone, any opportunities,” that’s good news.
5. You hate your boss so much that it’s hard to think about anything else.
The number one reason people give me for wanting to change job is that they hate their boss. But let’s face it, if you have a boss, any boss, you have days when you aren’t thrilled with her. The occasional incident doesn’t turn a good job into a wrong job. But when every day is Boss-Hating Day, that’s another story.
Nancy, for example, was working in a café with the people she liked. This group had such great style that they turned what could have been just another lunch spot into the place in town. Yet their boss continually change hid mind, insulted his staff, and micromanaged and second-guessed everything they did. One day, Nancy realized that her work menu never altered : It was always servings of boss hatred. The only way to change the situation was to change jobs.
6. You feel that who you are at work doesn’t have much to do with who you are in the rest of your life.
Little mismatches can always crop up between our individual preferences and what our job requires : Maybe it’s the daily irritation of pulling on pantyhose or being forced to defend a dumb company policy. But you might discover a profound discrepancy between yourself and your company. Maybe your casual style doesn’t fly in your buttoned-down workplace. Or, more seriously, you may find your ethics don’t match.
Just a few weeks a go I heard about a young woman who was bothered by the bookkeeping practices of the family-owned business she worked for. It’s not that these procedures were illegal, but she prided herself on adhering to the highest standards of ethics and these loose policies made here acutely uneasy. If you’re consistently uncomfortable at your workplace – as the result of a major personality conflict or a clash of ethics – you should get ready to move on.
Langganan:
Postingan (Atom)