27 Juli 2008

Bahagia Bisa Membuat Orang Lain Bahagia

Hari Jumat, tanggal 25 Juli 2008, adalah hari yang menggembirakan.
Di hari itu, saya berhasil menyelesaikan terjemahan tentang data warehouse atau gudang data atas permintaan teman saya yang mengetahui kalau saya bisa menerjemahkan.

Suatu hasil yang mencengangkan jika dilihat dari cukup banyaknya halaman terjemahan, sekitar 20 halaman, dan diselesaikan dalam waktu semalam. Ya, semalam, saya juga tidak menyangka dapat melakukannya. Mungkin karena memang dia memerlukannya untuk hari Senin, dan saya harus menyelesaikan hari Jumat karena hari Sabtu saya harus menghadapi ujian lain, ujian les bahasa korea.

Ternyata, saya bisa membuat teman saya terkejut, karena dia mengharapkan saya setidaknya menyelesaikan terjemahan itu hari Sabtu. Bukan dia saja yang terkejut, saya sendiri juga terkejut, bisa menyelesaikannya tanpa merasa lelah. Rasa lelah itu baru datang setelah saya menyerahkan terjemahan itu kepada teman saya. Senang rasanya bisa membahagiakan orang lain dengan keahlian yang saya miliki.

Apabila kita mengerjakan apa yang kita sukai, rasanya tidak seperti beban. Apalagi jika kita melakukannya tidak terpaksa, dan ingin membahagiakan orang lain. Sepertinya tubuh ini dibuat tidak lelah, walaupun kalau dilihat lagi, tidak mungkin rasanya menyelesaikan 20 halaman terjemahan dalam semalam, terlepas dari hasil terjemahan saya yang mungkin kurang bagus karena data warehouse bukan bidang saya yang berlatang belakang pendidikan sastra.

Semua kerja keras itu terbayar dengan berbinarnya mata teman saya saat mengetahui terjemahan yang dia perlukan sudah saya selesaikan. Satu lagi, dengan dia meminta saya menerjemahkan, saya mengetahui informasi baru tentang data warehouse. Senang rasanya bisa membantu orang yang sedang membutuhkan bantuan dan memberikan lebih dari yang dia butuhkan. Terima kasih teman, sudah mempercayakan saya untuk menerjemahkan materi yang kau butuhkan.

19 Juli 2008

Apa Sih Kategori Orang Sulit?

Selama berinteraksi dengan orang lain, sering terdengar keluhan bahwa si A itu orangnya sulit, atau si B itu orangnya tidak bisa diajak bekerja sama.
Dulu saya selalu beranggapan bahwa seseorang itu termasuk orang yang sulit saat pertama kali bertemu.

Ternyata, anggapan saya itu seringkali justru merugikan diri saya.
Orang yang saya anggap sulit itu, terbukti tidak sulit setelah saya mengenal dirinya, bertukar pikiran dengannya, dan menemukan sedikit banyak sifat saya di dirinya.

Karena itulah, jika kita mencap seseorang itu sulit, ada baiknya untuk melihat kepada diri kita sendiri dulu, apakah memang kita yang sulit, atau dia yang sulit.
Sulit menurut kita belum tentu sulit menurut orang lain. Kita harus mengenal seseorang terlebih dulu sebelum mencapnya sebagai orang sulit.

Jika memang kita sudah mencoba mengenalnya dengan baik dan ternyata dia memang orang yang sulit, ada baiknya kita mencoba mengenalkannya pada pikiran-pikiran yang baik, dengan cara yang baik juga. Kita memberinya nasihat saat dia memintanya, dan mencoba memberikan jalan keluar yang baik untuk masalah yang dihadapinya.

Memang mudah untuk diucapkan, tapi saya juga masih dalam tahap belajar untuk bisa
mengerti mengapa seseorang berperilaku sulit. Setelah kita mengerti alasannya, kita akan lebih mudah memahami alasannya untuk berperilaku seperti itu. Intinya adalah introspeksi diri, apakah kita yang bermasalah atau orang lain yang bermasalah, agar kita bisa memperkecil konflik yang mungkin terjadi akibat ketidakpahaman diantara kita dan teman kita.