Beberapa waktu lalu, saya menonton di salah satu televisi ada penelitian mengenai gelombang otak di sebuah universitas di Amerika seputar tanggapan masyarakat terhadap debat yang dilakukan oleh para calon presiden Amerika.
Di dalam penelitian itu disimpulkan bahwa orang-orang yang menyaksikan debat lebih suka jika para calon presiden itu mengatakan hal yang baik tentang lawannya. Dan tidak suka jika mereka menjelek-jelekkan lawannya. Hal itu bisa dilihat bahwa gelombang otak akan membentuk gunung jika kalimat-kalimat yang dikeluarkan adalah kalimat yang baik dan akan membentuk lembah jika kalimat-kalimat yang dikeluarkan adalah kalimat yang menjelek-jelekkan.
Dengan begitu telah terbukti bahwa perkataan yang baik akan membuat lawan bicara kita akan merasa lebih baik, dan semoga hal itu menjadikan kita lebih beruntung karena membuat orang yang kita ajak bicara merasa lebih bahagia karena perkataan kita yang baik.
26 Oktober 2008
Mengerti Sebelum Meminta Dimengerti
Setelah sekian lama bertanya-tanya dan merenungi mengapa banyak teman saya melakukan sesuatu yang berbeda dengan apa yang saya lakukan, akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa agar kita bisa dimengerti orang lain maka kitapun harus mengerti orang tersebut.
Untuk mendapatkan pengertian tersebut, saya harus melewati waktu yang cukup panjang. Kadang melalui debat yang tidak mencapai kata sepakat yang akhirnya malah membuat kedua belah pihak merasa kesal. Setelah diteliti lebih lanjut ternyata hal itu disebabkan kami memiliki sudut pandang yang berbeda atas suatu hal.
Tetapi saya sadar bahwa pendekatan kepada setiap orang harus berbeda karena setiap manusia diciptakan unik. Untuk memperbaikinya, saya mencoba mensahabatkan diri kepada teman-teman saya yang mungkin belum benar-benar mengetahui dan mengerti sifat-sifat saya lalu mencoba menyampaikan pendapat saya dengan cara berbeda yang tentunya lebih baik karena hubungan pertemanan itu harus dilakukan kedua belah pihak. Untuk menjaganya dibutuhkan kerja keras dan kesungguhan dari keduanya.
Untuk mendapatkan pengertian tersebut, saya harus melewati waktu yang cukup panjang. Kadang melalui debat yang tidak mencapai kata sepakat yang akhirnya malah membuat kedua belah pihak merasa kesal. Setelah diteliti lebih lanjut ternyata hal itu disebabkan kami memiliki sudut pandang yang berbeda atas suatu hal.
Tetapi saya sadar bahwa pendekatan kepada setiap orang harus berbeda karena setiap manusia diciptakan unik. Untuk memperbaikinya, saya mencoba mensahabatkan diri kepada teman-teman saya yang mungkin belum benar-benar mengetahui dan mengerti sifat-sifat saya lalu mencoba menyampaikan pendapat saya dengan cara berbeda yang tentunya lebih baik karena hubungan pertemanan itu harus dilakukan kedua belah pihak. Untuk menjaganya dibutuhkan kerja keras dan kesungguhan dari keduanya.
Langganan:
Postingan (Atom)