12 April 2011

1000 Years Amnesia : Environment Tradition in Muslim Heritage by Salim T S Al-Hassani

3.1 Environment Design in Sinan's Architecture

In construction for example, we can refer to Sinan's architecture (smoke filtering and its use as ink, also use of Ostrich eggs to drive spiders out) and to the spread of courtyard houses (as optimum environmental design). In water resource management reference may be made to water raising machines (including automatic animal water feeding, wind and water mills, qanats, dams, etc.)

Mimar Sinan (d. 1588) was the chief Ottoman architect and civil engineer for sultans Suleiman I, Selim II, and Murad III. He was, during a period of fifty years, responsible for the construction or the supervision of every major building in the Ottoman Empire. Benefiting from the long Islamic and Turkish traditions of architecture, building design and civil engineering, Sinan used ostrich eggs in the centre of the chandeliers that dangled from the dome to chase away insects which were attracted by candles or oil lamps.

At the centre of the circular frame that holds the numerous candles and oil lanterns in Ottoman mosques, there is usually a strange egg shaped object as if made of marble (see fig. 8). The object is actually an ostrich egg . Through research over many years, the Ottomans discovered that these eggs secrete chemical substances into the atmosphere, which repel spiders and mosquitoes away. Hence, due to these eggs there are no spider webs in Ottoman mosques.[2]

Another innovation regarded air purification, mainly in mosques. For instance, in the Süleymaniye Mosque, built by Mimar Sinan on the order of Sultan Suleiman I the Magnificent between 1550 and 1557, there is a soot room on the main gate in Suleymaniye mosque. The oil lamps and candles that were used in large numbers to lighten huge buildings would generate smoke and burn oxygen. To solve this problem, Sinan and his followers made use of aerodynamics to drive the smoke to a filter chamber. The soot was then collected and used for making ink. In turn, clean air was driven to the outside ensuring sustainability. Soot obtained from the candles is one of the raw materials in the making of ink used for calligraphy adding with stirring. This ink protects the books from the book worms. This system filters the air pollution inside the mosque bad air that comes from candles and people breathing. In this example, we have a sustainable system, which is also environmentally friendly. The same device exists in Sultan Ahmed Mosque in Istanbul, built between 1609 and 1616 during the rule of Ahmed I by the royal architect Sedefhar Mehmet Ağa, a pupil and senior assistant of Sinan.[3]

These two examples, the use of ostrich eggs and the air purification by collecting soot and its recycling for the fabrication of ink, are evidently environment friendly. Such research reminds us of the numerous discoveries in medicine such as the discovery of the catgut (the suture from the intestine of the cat used in internal surgery) by Al-Zahrawi which was found to be acceptable by the human flesh and is dissolved a few weeks after surgery.

Source : http://muslimheritage.com/topics/default.cfm?ArticleID=1167

Amnesia 1000 tahun : tradisi ramah lingkungan warisan Muslim oleh Salim T S Al-Hassani.

3.1 Desain ramah lingkungan di Arsitektur Sinan

Dalam bidang konstruksi misalnya, kita bisa merujuk ke arsitektur Sinan (menyaring asap dan menggunakannya sebagai tinta, juga menggunakan telur-telur burung unta untuk mengusir laba-laba) hingga rumah-rumah yang menyebar (sebagai desain optimal ramah lingkungan). Dalam hal manajemen sumber air, mesin pemompa air dapat menjadi acuan (termasuk menggunakan tenaga hewan, angin, sumur, bendungan dan lainnya.)

Mimar Sinan (wafat 1588 Masehi) adalah kepala arsitek dan insinyur sipil untuk Sultan Sulaiman I, Salim II dan Murad III. Dia, selama 50 tahun, bertanggung jawab untuk pembangunan atau pengawasan setiap bangunan megah di zaman kesultanan Usman. Memanfaatkan tradisi arsitektur Islam dan Turki, Sinan menggunakan telur-telur burung unta di tengah-tengah lampu kristal yang menggantung dari kubah untuk mengusir serangga yang tertarik pada lilin atau minyak lampu.

Di tengah-tengah bingkai lingkaran yang menahan banyak lilin dan minyak lentera di masjid-masjid kesultanan Usman, biasanya terdapat benda berbentuk telur seperti terbuat dari marmer. Benda itu sebenarnya adalah telur burung unta. Setelah melalui riset bertahun-tahun, kesultanan Usman menemukan bahwa telur-telur tersebut mengeluarkan zat kimia ke udara, yang mengusir laba-laba dan nyamuk. Oleh karena itu, tidak ada sarang laba-laba di masjid Usman.

Inovasi penting lainnya adalah pemurnian udara, terutama di masjid-masjid. Misalnya, di Masjid Sulaiman, dibangun oleh Mimar Sinan atas perintah Sultan Sulaiman I antara tahun 1550 hingga 1557, ada ruangan jelaga di gerbang utama Masjid Sulaiman. Lampu-lampu minyak dan lilin yang banyak digunakan untuk menerangi bangunan yang luas akan menyebabkan asap dan membakar oksigen. Untuk mengatasi masalah ini, Sinan dan pengikutnya memanfaatkan dinamika udara untuk mengarahkan asap ke ruang penyaring. Jelaga kemudian dikumpulkan dan digunakan untuk membuat tinta. Sehingga, udara bersih dialirkan ke luar untuk memastikan kesinambungan. Jelaga yang diambil dari lilin adalah salah satu bahan mentah pembuatan tinta yang digunakan untuk kaligrafi. Tinta ini melindungi buku dari rayap. Sistem ini menyaring polusi udara di dalam masjid yang berasal dari lilin dan napas manusia. Di dalam contoh ini, ada sistem berkesinambungan, yang juga ramah lingkungan. Alat yang sama masih terdapat di Masjid Sultan Ahmad di Istanbul, yang dibangun antara tahun 1609 hingga tahun 1616 selama masa pemerintahan Ahmad I oleh seorang arsitek kesultanan bernama Sedefhar Mehmet Ağa, masyarakat dan asisten senior Sinan.

Dua contoh itu, penggunaan telur-telur burung unta dan pemurnian udara dengan mengambil jelaga dan menggunakannya kembali untuk pembuatan tinta, merupakan bukti ramah lingkungan. Penelitian itu mengingatkan kita akan banyaknya penemuan di bidang ilmu kedokteran seperti penemuan benang jahit untuk operasi (benang berasal dari usus kucing yang digunakan untuk operasi organ tubuh) oleh Al Zahwari yang ditemukan agar dapat digunakan untuk manusia dan menyatu beberapa minggu kemudian setelah operasi.

Sumber : http://muslimheritage.com/topics/default.cfm?ArticleID=1167

09 April 2011

Mistis VS Realistis.

Ayo mengaku? Siapa yang dulu saat masih kecil dilarang duduk di atas bantal karena bokong akan bisulan? Atau jangan duduk di depan pintu karena akan jauh jodoh?

Untuk semua pertanyaan itu sudah dari sejak kecil pikiran kita dipenuhi oleh sesuatu yang mistis, sesuatu yang berada di luar logika. Padahal ada jawaban masuk akal dari semua itu, bantal tidak boleh diduduki karena dipakai untuk kepala dan Anda akan menghalangi orang keluar masuk kalau duduk di depan pintu.

Mungkin karena orangtua kita dulu bisa dibilang mencoba untuk menghentikan pertanyaan anaknya, sehingga dijawab dengan jawaban mistis yang tidak bisa diserap pikiran anak-anak, dan dulu, kita tidak mungkin lagi bertanya, kenapa, kenapa dan kenapa?

Kenapa saya menuliskan topik ini. Ya, semua ini bermula dari mobil jemputan yang disediakan kantor kami untuk para karyawan. Sambil menunggu waktu yang sudah ditentukan untuk berangkat, kami mendengarkan radio. Dan topik yang dibicarakan pagi itu adalah ”Kisah sial apa yang Anda pernah alami”.

Dari topiknya saja saya sudah tidak setuju. Saya gak suka penggunaan kata sial itu.

Penelepon pertama bercerita tentang adiknya yang mengalami ”kesialan”. Saat sedang berbelanja di mini market, sang adik melihat ada seseorang yang mencuri motornya. Karena panik dan tidak ada ojek, sang adik mencoba mengejar sang pencuri motor dengan naik bus.

Karena bus terhambat jalannya, sang adik memutuskan turun dari bus dan mengejarnya. Setelah tidak terkejar, sang adik akhirnya baru sadar kalau hp-nya juga sudah raib. Karena terlalu fokus dengan mengejar motor yang dicuri, dia tidak sadar apakah hp-nya dicopet atau jatuh di bus.

Dia bahkan berpikir, apakah seharusnya ada yang dikorbankan untuk buang sial? Astagfirullah. Padahal semua itu bisa saja tidak terjadi kalau dia lebih waspada dengan tindakan pencegahan, seperti membawa kunci gembok misalnya dan mengunci motornya dengan baik.

Cerita kedua. Seorang wanita yang percaya bahwa hari Rabu adalah hari sialnya, sehingga teman sekantornya selalu menunggu-nunggu kejadian sial yang akan dialaminya. Kasihan amat, kok orang nungguin dia dapat musibah.

Kisah berawal setahun lalu saat seorang karyawati mengambil gaji di sebuah ATM. Keluar dari ATM, tidak berapa lama dia dihampiri 2 pria. Setelah bercakap-cakap, si karyawati ditawari batu bertuah oleh kedua pria tersebut. Akhirnya dia sadar bahwa dia akan dihipnotis, dia lalu mengalihkan perhatian kedua pria itu, dan langsung naik bus.

Di bus, dia tidur. Begitu sadar, ternyata dia naik bus yang salah dan harus mencari bus lain untuk pulang ke rumahnya. Setelah naik bus yang benar, dan mau turun, ternyata ada dua pria yang mencoba menghalanginya turun. Dia tidak sadar bahwa kedua pria itu adalah pencopet.

Alhasil, dompet berisi uang gajiannya melayang. Dan sejak saat itu dia mendeklarasikan bahwa hari Rabu adalah hari sialnya. Hmm, kasihan sekali, mendeklarasikan kalau hari Rabu adalah hari sial, padahal semua hari adalah hari yang baik.

Padahal tidak akan terjadi hal seperti itu kalau dia mau lebih waspada.

Dan untungnya mobil jemputan sudah sampai kantor, sehingga saya tidak perlu mendengarkan banyak cerita kesialan lainnya.

Memang semuanya sudah terjadi. Tetapi, akan lebih baik lagi kalau kita berpikir hal yang terjadi itu bukan kesialan, karena semua itu sudah diketahui Allah SWT dan diizinkan terjadi. Bukan untuk dilihat sebagai kesialan, tetapi membuat kita lebih waspada dengan apa yang terjadi di sekeliling kita.

06 April 2011

Diamlah, dengarkanlah, jangan dipotong.

“Diamlah, dengarkanlah pembicaraan jangan dipotong, itulah tingginya adab dan kesopanan. - Hikmah.”

Jadi penasaran dengan jumlah orang yang benar-benar mendengarkan tanpa memotong pembicaraan.

Dari pengamatan saya, hmmm, bagaimana ya mengatakannya, tidak banyak jumlahnya orang yang benar-benar mau mendengarkan.

Yang bisa saya simpulkan dari kejadian yang saya alami sendiri. Mohon maaf, tapi ini hanya dari pengamatan pribadi saya.

Pertama, saya menyampaikan informasi yang tidak menarik bagi lawan bicara saya.

Kedua, waktu yang sangat tidak tepat.

Ketiga, memang sudah menjadi karakter atau mungkin sifat dari lawan bicara saya yang secara tidak sadar ingin langsung menanggapi apa pun yang saya sampaikan, yup, memotong pembicaraan tentunya.

Keempat, lawan bicara saya tidak suka menunggu apa yang ingin saya jelaskan secara rinci atau detail. Saya hanya bermaksud agar mereka mendapatkan informasi lengkap, dan seringkali bukan itu yang mereka butuhkan.

Karena sering terjadi seperti itu, saya akhirnya hanya menjawab pertanyaan mereka dengan ya atau tidak, tanpa memberikan jawaban detail.

Kelima, mereka sudah tahu informasinya dan langsung menyambung apa yang ingin saya katakan.

Kurang lebih, seperti itulah pendapat saya.

Salah satu hal yang menjadikan seorang Bill Clinton disenangi banyak orang, konon, setiap orang yang berbincang dengan beliau selalu mendapatkan perhatian penuh, seakan-akan hanya dialah satu-satunya orang yang ada di hadapan Bill Clinton. Tentu saja dengan begitu Anda akan merasa orang paling penting di dunia.

Yuk, mulai mendengarkan lebih baik lagi jika ada orang yang ingin menyampaikan sesuatu kepada kita.

Usahakan jangan dipotong pembicaraannya. Biarkan dia selesai bicara, baru kita berikan pendapat kita. Agar sesuai dengan kalimat bijaksana di awal tulisan ini, “Diamlah, dengarkanlah pembicaraan jangan dipotong, itulah tingginya adab dan kesopanan. - Hikmah.”

Semoga bermanfaat. :)

Kalau Nggak.

Kalau nggak ditunjukkan blog tulisan berbahasa Prancis, tidak ada keinginan untuk memulai kembali menulis dalam bahasa Prancis.

Kalau nggak diskusi tentang pekerjaan, gak tahu kalau orang tersebut sudah memiliki karier kedua sebagai pebisnis.

Kalau tidak diskusi tentang berhentinya belajar sejak lulus kuliah, gak akan ada pembicaraan hanya Nabi Muhammad SAW sebagai satu-satunya manusia yang bisa diteladani.

Kalau nggak terlambat makan, tidak akan ada diskusi, dan tahu berapa lama seseorang akan memotong pembicaraan atau tetap mendengarkan.

Kalau nggak mengerjakan pekerjaan lebih lama, gak akan dimintakan keterangan oleh si bos.

Kalau nggak pulang agak terlambat, gak pulang bareng sama rekan kerja.

Kalau nggak pulang agak terlambat, gak naik metromini yang supirnya sejak bertahun-tahun tidak mengalami kemajuan saat menyupir.

Kalau nggak mampir ke warung untuk membeli teh, gak mendengar sedikit curhat seorang ibu yang sudah lama bekerja di rumah yang majikannya tidak menghargai jasanya.

Kalau nggak dengar sedikit curhat ibu itu, gak terlintas di pikiran sudah berapa lama mengeluhkan hal yang sama tanpa melakukan sesuatu.

Kalau nggak pulang agak terlambat, gak melihat anak kecil dan abangnya yang duduk-duduk di tepi jalan dan akhirnya tersenyum setelah mendengar si anak kecil itu bertanya kepada abangnya, "Kenapa ikan paus punya gigi?"

Kalau nggak pulang agak terlambat, gak bisa melihat anak kucing berbulu putih dan hitam yang lucu.

Yuks, teman, lebih hargai hal-hal yang sepertinya kecil itu sebagai suatu berkah dan percaya bahwa semua yang terjadi itu bukan suatu kebetulan. Semuanya sudah diketahui oleh Allah SWT.

Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih bersyukur dan lebih bijaksana menyikapi hidup. Amin. Semoga bermanfaat. :D

05 April 2011

Ibu.

Suatu sore di Masjid At-Tin, ada seorang ibu yang sedang duduk di dalam masjid.

Sang ibu yang berkacamata agak retak itu bertanya darimana kami dan mau kemana kami setelah shalat Ashar di masjid ini.

Setelah menjelaskan tujuan kami, beliau akhirnya menceritakan bahwa beliau berasal dari Tasikmalaya dan berkunjung ke rumah saudaranya untuk menagih hutang yang pernah beliau pinjamkan kepada saudaranya yang tinggal di daerah Pondok Gede, kalau saya tidak salah mengingatnya.

Ternyata beliau hanya menemukan rumah kosong dan saudaranya itu sedang pergi entah ke mana. Si Ibu akhirnya berjalan dari Pondok Gede ke Masjid At-Tin tersebut karena tidak memiliki ongkos.

Beliau terpaksa melakukan perjalanan jauh itu karena anak beliau yang paling kecil yang duduk di kelas VI SD akan menghadapi UAN yang tentunya membutuhkan biaya.

Dan masih akan ada perjalanan jauh untuk kembali ke rumah tanpa ongkos sama sekali. Beliau hanya meminta permen untuk mengganjal perutnya yang lapar.

Astaghfirullah. Saya langsung bertanya-tanya, di mana anak-anak beliau? Beliau memiliki 7 anak. Apakah beliau tidak memberitahukan anak-anaknya bahwa beliau akan ke Jakarta? Apakah anak-anaknya memang tahu tetapi membiarkan saja ibunya pergi tanpa mendampinginya?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang melintas di kepala saya.

Mamah, doakan aku untuk selalu menjadi putri yang selalu menjaga dan menghormatimu ya, Mah. Amin.

Tidak bisa berkata-kata lagi.

Selalu Menginginkan yang Tidak Kita Miliki

Salah satu atau mungkin hobi saya satu-satunya yang tidak akan bisa digantikan adalah membaca buku. Yup, rada-rada kutu buku begitu deh.

Untuk memperkaya jiwa, saya memilih membaca buku, mengapa? Karena saya bisa mengembangkan imajinasi saya jikalau saya membaca novel Harry Potter, atau pergi berkeliling dunia saat saya membaca novel Edensor karya Andrea Hirata.

Entahlah, mungkin karena saya seorang pemalu yang kurang mahir berbincang dengan orang lain yang seringkali merasa orang yang mendominasi pembicaraan yang saya mulai atau singkatnya, mau curhat malah dicurhati, jadilah buku sebagai pelarian saya dimana saya merasa nyaman tanpa harus merasa didominasi atau mendominasi pembicaraan.

Saya sering merasa sedih karena tidak bisa membaca buku, hmm, mungkin karena memang belum berusaha keras ya, hehe. Saya membayangkan betapa senangnya jika memiliki banyak waktu misalnya seperti supir bajaj saat menunggu penumpang, atau penjaga tiket busway yang memiliki banyak waktu saat menunggu penumpang yang akan naik.

Tetapi kemudian saya berpikir, betapa tidak bersyukurnya kalau saya tetap berpikir seperti itu. Saya mungkin bukan tidak memiliki waktu luang untuk membaca, tetapi belum meluangkan waktu atau benar-benar ingin membaca buku, dan alhamdulillah masih diberikan rezeki untuk membeli buku.

Sedangkan, untuk supir bajaj atau penjaga tiket itu, mereka mungkin memiliki banyak waktu, tetapi mungkin mereka tidak menyukai membaca buku atau masih belum seberuntung saya bisa membeli buku.

Entahlah, mungkin saya salah mengenai mereka, mungkin mereka memang ingin membaca buku tetapi keadaan yang belum memungkinkan.

Hhhh, manusia memang selalu menginginkan apa yang belum dimilikinya. Sudah waktunya untuk selalu bersyukur dengan keadaan yang kita miliki agar kita dilebihkan atas apa yang kita syukuri.

Terima kasih Allah, telah mengingatkan hambamu yang lalai ini. Alhamdulillah. :D

Buku oleh Putu Setia, Koran Tempo, Minggu, 20 Maret 2011

Rindu saya dengan Romo Imam. Rindu dengan pencerahan moral yang disampaikannya lewat guyonan. Saya datangi beliau di padepokannya seraya memberi oleh-oleh sebungkus buku. Romo dan istrinya lagi santai.

“Ada paket buku, baru tiba dari Jakarta, sebaiknya untuk Romo saja,” kata saya. Romo menatap bungkusan itu, tetapi istrinya tiba-tiba menjerit: “Astaganaganaga.... Awas bom....” Istrinya lari menjauh.

Romo juga mundur dua langkah. “Siapa pengirimnya,” tanya dia. Saya katakan dari kantor Tempo, dikirim lewat paket khusus. Di Bali, jasa pengiriman paket sudah diawasi oleh Tim Gegana Kepolisian.

Romo mendekati bungkusan itu. Ia merobek sampulnya dengan hati-hati, tapi dengan cepat buku tebal itu dia taruh kembali. “Mencurigakan, judulnya Orang Kiri Indonesia, ada gambar Aidit dan tokoh-tokoh komunis lainnya. Wah, ini teror, mari menjauh.” Romo mengajak saya ke kursi tamu yang jaraknya sekitar empat meter. “Buku itu berisi pita merah. Jangan-jangan, kalau pitanya ditarik, bomnya meledak,” kata Romo lagi. Saya ikut cemas.

“Apa yang salah dengan bangsa ini, kok begini terpuruk. Tak ada satu pun tersisa warisan budaya leluhur yang adiluhung. Buku yang mencerdaskan umat dijadikan perantara bom, ini keterlaluan,” Romo mulai bergumam.

“Seluruh umat manusia di dunia ini sebenarnya wajib membaca. Bahkan kitab suci berbagai agama diawali dengan perintah membaca. Bacalah, baca, baca...,” suara Romo bergetar. “Dalam keterbatasan bahan, manusia zaman dulu menulis di batu, di daun rontal, sebelum ditemukannya kertas. Setiap zaman melahirkan pujangga, banyak kitab terbit di era Singosari, Majapahit, Mataram. Arjuna Wiwaha, Kidung Pararaton, Siti Nurbaya, Salah Asuhan, I Swasta Setahun di Bedahulu, sampai pada Bumi Manusia dan seterusnya, adalah bacaan yang memperkaya rohani kita, mengajarkan keluhuran budi pekerti, menjadi sesuluh menuju ke peradaban mulia. Kok tiba-tiba buku disisipi bom. Ini kebiadaban....”

“Bagaimana tradisi Hindu?” tanya Romo. Saya langsung menjawab, “Jangan sebut Hindu, saya kira seluruh agama memuliakan kitab. Memang dalam Hindu ada hari yang memuja Dewi Saraswati, dewi yang menurunkan ilmu pengetahuan yang oleh masyarakat dirayakan dengan memuliakan buku. Padahal intinya adalah baca, karena dengan membaca kita menjelajahi dunia.”

“Warga Jepang patut dicontoh. Di setiap waktu mereka membaca. Di bus, di kereta api, di trotoar, mereka tetap membaca. Peradabannya diasah terus lewat pesan yang diperolehnya dari buku. Kini Jepang diterpa bencana, gempa hebat, tsunami dahsyat, nuklir gawat. Tapi mereka tetap tertib antre menahan lapar dan dingin, menunggu pasokan bantuan. Mereka beradab, malapetaka tak harus ditambahi dengan bencana lain, misalnya penjarahan atau saling menyalahkan, seperti bangsa kita.” Romo meneguk minuman.

“Kita punya menteri kebudayaan, tapi yang diurusi kesenian. Punya menteri pendidikan, yang diurusi ujian nasional. Punya menteri agama, yang diurusi administrasi. Tak ada yang menanamkan budi pekerti, mengajarkan akhlak baik, apalagi membina moral. Bahkan tokoh agama kita pun sibuk mengurusi kekuasaan. Kita menuju kehancuran segala-galanya....”

Romo berhenti bicara. Anaknya datang dan anak itu langsung mengambil paket buku yang tergeletak tadi. “Awas bom,” Romo mengingatkan. Anak itu tak peduli, ia langsung menarik pita merah pada buku itu. Byar…. Bukan bom. Empat buku jatuh ke lantai. “Ini buku yang saya cari, seri buku Tempo,” kata anak itu.

Romo menghela napas lega: “Semoga penghinaan pada buku segera berakhir.”

Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/03/20/Cari_angin/index.html

Perfeksionis? Hmm, menurut saya sih tidak.

Teman saya pernah berkomentar bahwa saya seseorang yang perfeksionis. Alasannya? Menurut dia saya selalu meletakkan benda-benda milik saya secara rapi.

Pernah suatu ketika saya menceritakan padanya bahwa saya tidak suka jika buku yang saya miliki dipinjam orang lain dan dikembalikan kepada saya tidak seperti saat buku itu dipinjamkan, maka saya akan merasa kesal dan kemungkinan tidak akan meminjamkan buku saya kepada orang tersebut. Untuk itulah dia tidak berani meminjam buku kepada saya. Hmm, sayang sekali ya sebenarnya.

Bukan bermaksud kejam, akan tetapi saya ingin buku yang saya miliki itu bisa dipinjamkan ke banyak orang. Kalau buku yang dipinjamkan masih dalam keadaan bersih, rapi, tanpa lipatan, atau coretan di dalamnya, tentu orang yang meminjam buku tersebut akan membaca dalam keadaan sangat nyaman dan informasi yang dibutuhkannya dapat didapatkannya. Karena itulah yang saya inginkan, membaca buku dalam keadaan yang sangat nyaman.

Begitu juga dengan benda-benda yang saya miliki. Saya letakkan ke tempat semula agar jika saya membutuhkannya, saya tidak perlu mencari ke sana ke mari karena sudah ada di tempat yang biasa saya letakkan.

Perfeksionis, entahlah, saya tidak melihatnya seperti itu, saya hanya ingin hidup saya lebih nyaman dengan mendapatkan benda yang saya butuhkan di tempat saya meletakkannya. As simple as that. :D

Generasi &@#$%^

“Bahkan saya tak pernah melihat orang-orang Jepang bertatap mata dengan tajam seperti yang sering kita saksikan saat remaja-remaja kita bertengkar. Tawuran? Ini apalagi. Praktis tidak terdengar.”

Di atas adalah kutipan dari tulisan Rhenald Khasali dengan judul ”Sikap Penduduk Jepang” di harian Seputar Indonesia yang terbit hari ini, Rabu, 17 Maret 2011.

Maaf untuk mengganti kata-kata yang kurang berkenan di atas, karena saya sangat muak dengan perilaku oknum yang menjelek-jelekkan reputasi anak muda sekarang yang nantinya akan menjadi pemimpin di masa depan.

Berbeda kondisinya 180 derajat, saat tadi saya pulang dari kantor, terjadi tawuran di jalan raya. Mobil-mobil sampai berhenti dan tidak berani melewati jalan yang dijadikan ajang tawuran.

Beberapa pengamen yang juga menyaksikan sampai berkomentar, “Tabrak aja”. Wah, ternyata si pengamen juga tidak suka melihat tawuran tersebut.

Ternyata satu gerombolan pelajar SMA yang tawuran berjalan mengarah ke arah tempat saya berdiri. Lalu dengan seenaknya beberapa dari mereka menghentikan truk di perempatan jalan yang sedang ramai lalu lintasnya karena jam pulang kantor lalu naik ke truk tersebut. Bahkan ada satu orang yang duduk di bemper truk tersebut. Mereka bahkan memaksa si supir truk untuk berbelok ke kanan. Supir truk yang tadinya memang ingin berbelok ke kanan memutuskan untuk tetap jalan terus dan tidak mengikuti keinginan anak-anak tersebut.

Setelah naik, dengan bangga mereka bersorak-sorak dan bernyanyi ”Marilah pulang”. Akh, memang generasi &@#$%^, sudah menyusahkan orang banyak, masih bisa bernyanyi-nyanyi dan bersorak-sorak.

Saya kira semuanya sudah berakhir, ternyata tidak sampai 5 menit kemudian, mereka berbondong-bondong berjalan kaki menuju tempat saya menunggu bus, arah yang mereka inginkan, bukan ke arah ke mana truk itu pergi.

Dengan pongahnya mereka berjalan berbondong-bondong hingga ke tengah lajur jalan hingga membuat beberapa supir metromini sejenak menghentikan metromininya sebelum kemudian melewati mereka. Hah, masa depan apa yang akan dihadapi Indonesia jika sebagian besar generasinya bertindak pongah dan tidak peduli kepentingan orang lain selain kepentingan mereka.

Kalau satu lawan satu saya rasa mereka tidak akan berani. Mereka hanya berani karena banyak. Hehe, alias pengecut.

PR besar untuk para calon orangtua. Yuk ajarkan anak kita tentang sopan santun sejak dini. Kita memang memiliki hak, tetapi hak kita terbatas karena ada hak orang lain. Yuk, mulai dari keluarga, agar kelak anak-anak kita tidak menjadi generasi &@#$%^, yang membuat orang lain susah. Agar anak-anak kita bisa berperilaku sopan dan hormat kepada orang lain. Amin. :D

Sikap Penduduk Jepang oleh Rhenald Kasali, Ketua Program MM UI, Koran Sindo, Kamis, 17 Maret 2011

Bagaimana takjubnya dunia terhadap perilaku penduduk Jepang pascamusibah tsunami sudah banyak Anda baca. Dunia kagum dengan kedisiplinan dan kerukunan orang Jepang melewati masa-masa sulit.

Tak ada rebutan makanan, walaupun perut kosong atau anak menangis. Tak ada saling serobot lalu lintas, meski sudah lebih dari lima jam jalan tidak bergerak. Tak ada amarah atau komplain yang diucapkan, kendati listrik terus-menerus padam dan kereta api tak kunjung datang. Semua orang tahu bagaimana cara menahan diri. Apa yang membuat orang-orang Jepang mampu menahan diri seperti itu?

Sumimasen

Setiap kali saya bersenggolan di Tokyo atau di Osaka yang padat, kata sumimasen menjadi begitu familier di telinga saya. Begitu cepat orang yang menyenggol mengucapkan kata tersebut— yang berarti ’permisi’ atau ’maafkan saya’. Anak-anak di Jepang begitu cepat mengucapkan kata itu satu dengan lainnya, disertai anggukan kepala sebagai tanda respek. Selama beberapa kali melakukan kunjungan dan studi di Jepang, seingat saya hampir tidak pernah saya melihat orang Jepang berkelahi atau rebut mulut.

Bahkan saya tak pernah melihat orang-orang Jepang bertatap mata dengan tajam seperti yang sering kita saksikan saat remaja-remaja kita bertengkar. Tawuran? Ini apalagi. Praktis tidak terdengar. Di Anyer, seorang teman yang membuka usaha rumah makan Jepang yang dilengkapi pijat sehat bercerita bahwa pelanggan-pelanggannya semula adalah para eksekutif Jepang yang sedang bertugas di sana.

Entah karena apa belakangan di sekitar Anyer datang pekerja asal Korea dan mereka secara beramai-ramai mendominasi tempat pijat. Tentu saja hal ini membuat pelanggan asal Jepang terdesak. Anda tahu apa yang dilakukan keluarga asal Jepang yang terdesak itu? Mereka diam seribu bahasa dan memilih mundur perlahan-lahan. Tak ingin terlibat dalam keributan telah menjadi karakter penduduk Jepang.

Beberapa pemuda magang asal Indonesia yang saya temui di Osaka pada September tahun lalu bercerita bagaimana nilai-nilai itu dibangun di Jepang. Berbeda dengan di Tanah Air, katanya, di taman kanak-kanak mereka tidak diajari matematika. Lantas apa yang diajarkan? ”Mencuci piring, mengepel, dan origami,” ujarnya. ”Satu lagi, kalau bersentuhan mereka harus cepat-cepat bilang sumimasen,” katanya. Berbeda dengan di Indonesia.

Taman kanak-kanak yang tak lain adalah tempat bermain telah berubah menjadi sekolah yang dilengkapi target yang luar biasa ambisius. Di pintu sekolah, ibu-ibu muda menggunjingkan pelajaran berhitung dengan membanggakan anak-anaknya yang katanya sudah pintar menghafal angka 1 sampai 100.

Sementara itu, stasiun televisi sangat getol menampilkan anak-anak pandai menghafal nama-nama negara atau bendera berbagai bangsa. Tak ada yang mempersoalkan anak-anak itu berbicara sambil mengunyah makanan atau terduduk-tidur seenaknya. Kita telah lebih mengedepankan aspek kognitif ketimbang aspek psikomotorik yang menjadi pembentuk karakter yang penting.

SOP

Orang-orang Jepang bagi saya adalah sosok yang sangat menarik. Agak pemalu, sangat santun, dan bicaranya halus. Terkesan tidak ingin menonjolkan diri dan secara individu tidak begitu dominan. Namun, bila berada dalam sebuah tim mereka pun menunjukkan keperkasaan. Manajemen Jepang pada dasarnya adalah manajemen SOP (standard operating procedure). Apa pun juga mereka ingin standardisasikan. Prinsipnya semua harus dibuat tertulis, persis seperti filosofi ISO, ”Write what you do,and do what you write” (Tulis apa yang Anda kerjakan,dan kerjakan seperti yang tertulis).

Dengan modal SOP seperti itu Jepang membangun industrinya dengan detail, terencana, repetisi, dan terkoreksi melalui mekanisme kontrol. Setiap kali seseorang menemukan sebuah produk dari sebuah sampel yang diambil ada yang cacat, proses produksi pun dihentikan. Mereka memencet tombol, mesin berhenti, dan semua orang dalam satu line di pabrik segera masuk ruang rapat. Mereka menelusuri sebab-sebab dan memperbaikinya on the spot. Seorang bintang olahraga baseball Jepang mengatakan, ”Yang paling saya bosan bermain di sini adalah seringnya coach meminta time out.”

Mereka rewel dan detail, tetapi hasilnya luar biasa. Cerita lain soal SOP dialami istri saya saat dia membeli kamera yang menjadi hobi anak kami. Dua jam dia berbicara dengan petugas hanya untuk meminta agar kamera yang dibelinya dapat diganti pada bagian-bagian tertentu, ternyata tidak selesai-selesai. Pegawai KBRI yang menjemput kemudian memberi tahu kami: ”Di sini kalau Anda memesan makanan terimalah sesuai menu. Kalau di Indonesia Anda bisa meminta pesanan makanan ditambahi cabai, kurangi lemak, tambahi jamur atau buat lebih asin, demikian mudah.

Di Jepang semua orang bekerja sesuai SOP dan menyesuaikan diri dengan masing-masing selera adalah masalah besar.” Mungkin karena itu pulalah Bapak dan Ibu mengalami kesulitan untuk mengirim bantuan makanan, obat-obatan, pakaian, bahkan relawan kemanusiaan untuk membantu evakuasi para korban Tsunami di Jepang. Semua sudah ada SOP-nya dan standar mereka begitu tinggi.

Kontrol begitu ketat—demi sebuah kesejahteraan. Namun apa pun yang terjadi, tetaplah menunduk, mohon ampun, dan berdoalah agar saudara-saudara kita yang terkena musibah di Jepang diberi kekuatan dan semoga arwah para korban diberi ampunan. Kita juga berdoa agar musibah seperti itu menjauh dari Tanah Air.

RHENALD KASALI

Ketua Program MM UI

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/387609/38/

Jalan Menuju Syukur

Yup, itu judul kajian hari Kamis lalu di kantor. Alhamdulillah, bekerja di lingkungan yang juga cukup menyediakan makanan jiwa.

Di dalam kajian tersebut, diingatkan kembali bahwa kebahagian kita berasal dari dalam diri kita. Dicontohkan, misalnya kita sudah dalam keadaan kenyang dan seseorang membawakan makanan kesukaan kita. Tentu saja kita tidak akan merasakan nikmat memakan makanan kesukaan kita karena kita sudah dalam keadaan kenyang.

Contoh lainnya, apakah kita akan merasakan kenikmatan yang sama memakan mie ayam saat masih susah bahkan untuk membeli semangkuk mie ayam dibandingkan dengan saat kita dapat membelinya kapan pun walaupun dijual oleh pedagang yang sama? Jawabannya tentu tidak.

Disebutkan juga bahwa, kita sukses jika kita mendapatkan apa yang kita inginkan dan jika kita sudah menginginkan apa yang kita dapatkan maka kita akan bahagia.

Kita juga cenderung kurang bersyukur saat kita sudah mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Kita tidak menginginkan mata, paru-paru, atau bahkan orang tua, tetapi kita langsung mendapatkannya, karena itu kita kurang mensyukurinya apa yang ada, tetapi kita baru akan mensyukurinya ketika kita sudah kehilangan.

Misalnya : kalau kita sudah sakit, baru kita mensyukuri betapa nikmatnya dalam keadaan sehat.

Ada 3 hal yang menghalangi manusia bersyukur :

1. Selalu mengingat kesalahan kemarin.

2. Merasa was was dengan apa yang terjadi di hari esok.

3. Tidak melakukan yang terbaik di hari ini.

Kurang lebih itulah yang saya ingat. Semoga bermanfaat. Amin.

Gak bisa komentar.

Hari ini seorang rekan kerja dengan bahagianya mengumumkan kepada saya dan teman saya bahwa dia dalam waktu dekat tidak akan lagi memonitoring program yang memang rentang waktunya lebih panjang daripada kami kebanyakan.

Pastinya merasa bahagia lepas dari sesuatu yang sangat menyiksa tidak ada salahnya, tetapi akan lebih baik lagi jika memang rasa bahagia itu tidak disebarluaskan kepada orang yang mungkin saja akan mengerjakan pekerjaan itu.

Akh, entahlah, memang setiap orang berbeda dalam bereaksi. Saya juga mungkin akan merasa senang bebas dari tugas yang mungkin akan sangat menyiksa itu, tetapi saya tidak akan mengatakan betapa senangnya saya kepada orang yang mungkin akan melakukan tugas saya kemudian.

Menurut saya, salah satu cara mengurangi jumlah teman adalah dengan menyatakan betapa bahagianya Anda di atas kemungkinan penderitaan orang lain.

Just a thought. :D

Seni Berkomunikasi.

Beberapa hari lalu, saya chatting dengan teman saya via chat fb.

Dan sudah dari awal sepertinya akan terjadi masalah dalam komunikasi kami.

Saya terbiasa untuk hanya menuliskan setidaknya satu atau dua kalimat, sebelum dilanjutkan dengan kalimat lain. Tidak dengan mengisi kolom chat dengan terlalu banyak dan penuh kalimat-kalimat panjang.

Sedangkan teman saya ini ternyata tidak terlalu sabar tanpa langsung menjawab kalimat yang baru saya tulis.

Setelah berakhir dengan salah mengerti, akhirnya keluarlah kalimat, sabar, ya, jangan langsung dijawab, setelah selesai menulisnya baru dijawab.

Saya memutuskan untuk menuliskan hingga 6 kalimat untuk menjelaskannya dan akhirnya tercapailah tujuan dari komunikasi, yaitu sampainya pesan ke pihak lawan bicara.

Akhir bahagia untuk sebuah komunikasi.

A special reminder, kalau pesan tidak sampai, pastinya ada yang salah dengan cara kita berkomunikasi. :D

Cara.

Tadi pagi terkejut karena saat membuka laci meja kerja ternyata buku yang sudah lama saya pinjamkan ke seseorang sudah ada di dalamnya.

Kapan buku itu diletakkan? Karena sampai saya pulang kantor pun, buku itu belum saya terima.

Saya sangat menghormati privasi orang lain, kalau ingin mengembalikan buku seseorang, saya akan mengembalikannya kalau orang itu ada di tempat kerjanya, jika tidak ada, buku itu akan saya bawa kembali, dan tidak akan meletakkannya di dalam laci meja kerja orang tersebut.

Mulai lebih hargai privasi orang lain yuk. :D

Berjanji.

Untuk kata yang satu itu akan saya ganti dengan "usahakan" ditambah dengan Insya Allah, karena hanya Allah yang mengizinkan dan tentu saja tetap saja saya lakukan dengan sungguh-sungguh.

Banyak pengalaman pahit saya alami karena berjanji.

Ditelepon berulang-ulang, dengan jarak yang tidak lama.

Disalahkan karena tidak bisa memenuhi janji, walaupun awalnya justru si penagih janji yang mengubah perjanjian, sekeras apa pun usaha saya dan mencoba menjelaskannya, tidak didengarnya.

Kalau Anda sudah mengatakan ya, sampai ke lubang semut pun Anda akan dikejar, sampai permintaan mereka terpenuhi.

Mungkin memang sudah jalannya seperti itu agar saya lebih tegas lagi terhadap permintaan orang lain.

Teman saya pernah menasihatkan, bilang saja tidak, toh dia akan mencari orang lain yang membantunya.

Nasihat yang bagus teman. :D

Kekuatan kata "Tidak"

Saya dulu sering masuk dalam masalah karena selalu mengatakan ya.

Yup, dua huruf yang kadang justru merepotkan saya karena keinginan yang besar untuk selalu diterima di mana pun saya berada.

Setelah mengalami babak belur yang cukup parah, saya mulai mengatakan tidak. Tidak untuk sesuatu yang enggan saya lakukan karena ada paksaan di dalamnya, kompetensi yang yang tidak saya miliki untuk melakukannya, atau berlawanan dengan hati nurani saya.

Tapi itu menurut pandangan saya, dan setiap orang mungkin memiliki pandangan lain.

Karena sering kali saya menemukan pribadi yang mudah sekali mengatakan tidak, karena pribadi itu tahu kalau dia mengatakan ya, akan banyak kerepotan yang dialaminya.

Hasil dari banyak introspeksi. :)

S.A.K.I.T

Lima huruf itu baru akan mengingatkan kita betapa mahalnya untuk menuju sehat.

Yup, menurut saya, bukan sehat yang mahal, tetapi menuju sehat.

Mulai dari harus ke dokter, beristirahat, tidak bisa melakukan yang sudah kita rencanakan dan sebagainya.

Akan tetapi, kita dapat menikmati waktu sakit.

Untuk saya mungkin membaca buku, mengingat kembali apa yang seharusnya saya lakukan untuk tetap menjaga kesehatan dan bersyukur memilikinya.

Memang harus lebih banyak bersyukur ya, dengan apa pun keadaan yang sekarang ini kita alami.

Semoga kita bisa menjadi pribadi yang mudah bersyukur. Amin.