31 Agustus 2010

Sekarang

"Yuk, kita pergi sekarang."

Kata "sekarang" pada kalimat di atas ternyata memiliki makna yang berbeda dari apa yang ada di dalam pikiran saya dan teman-teman saya.

Kata "sekarang" menurut saya, berarti saat ini juga atau detik ini juga setelah kata itu diucapkan.

Lain halnya dengan teman-teman saya. "Sekarang" bisa berarti 5 hingga 30 menit lagi.

Kenapa? Karena setelah kata itu diucapkan, akan ada tindakan pendahuluan sebelum kami akhirnya benar-benar pergi atau berangkat.

Mulai dari harus ke toilet, memakai sepatu, menyelesaikan pekerjaan yang sedikit lagi selesai, menunggu teman yang harus ke toilet, menunggu teman yang ingin menitipkan sesuatu, ataupun sejuta kegiatan lainnya. (agak berlebihan ya)

Setelah beberapa kali kejadian "sekarang" akhirnya saya bisa lebih tidak terburu-buru sekiranya teman saya mengatakan "sekarang".

Karena "sekarang" mereka bisa berarti 5 hingga 30 menit lagi. :)

30 Agustus 2010

Maaf

Kata yang satu ini memang sepertinya sangat sulit dikatakan atau dicamkan di dalam hati jika kita merasa tersakiti atau tidak diperlakukan semestinya.

Mungkin kita seringkali merasakan bahwa yang kita lakukan sudah yang terbaik, dan tidak seharusnya kita diperlakukan semena-mena hingga kita menuntut orang tersebut meminta maaf.

Kita tidak akan berhenti membuat orang tersebut merasa bersalah hingga akhirnya meminta maaf kepada kita.

Tetapi kenyataannya hubungan kita dengan orang tersebut semakin tidak baik, karena kita memperlakukan orang itu dengan kasar hanya karena kita menginginkan kata maaf yang bisa dibilang tidak mungkin dikatakannya.

Untuk itu, akan lebih baik kita memberikan maaf kepada orang itu, karena memang cara pikir dan sudut pandang setiap orang terhadap sesuatu memang tidak akan pernah sama.

Karena dengan memberikan maaf, hati kita akan damai.

Mudah dikatakan, sulit dilakukan. Saya bahkan sampai saat ini masih berusaha keras untuk mewujudkannya. Memberi maaf kepada orang lain.

So help me God.

:)

29 Agustus 2010

Kata

Kata-kata yang teruntai dengan sangat baik bisa menjadikan diri kita terinspirasi dan menjadi bersemangat.

Kata-kata lainnya mungkin dapat dengan mudah menjadikan kita sedih, marah ataupun kecewa.

Semuanya bergantung dari apa yang kita rangkaikan. Satu kata dengan kata yang lain.

Memilih kata-kata memang sebuah seni. Orang mungkin memiliki dan mengetahui jumlah kosa kata yang sama. Tetapi tidak mungkin satu orang dapat menggunakan kata yang diketahui sama persis.

Yuk, menuliskan kata-kata di dalam untaian yang indah dan menjadikan inspirasi bagi orang lain, daripada menuliskan untaian kata-kata yang mungkin menyakiti perasaan orang lain.

:)

28 Agustus 2010

Pilihan

Beberapa waktu lalu, saat sedang berbincang dengan teman, saya tersadar saat dia mengatakan bahwa hal yang saya lakukan adalah pilihan saya.

Masih belum benar-benar sadar, saya mengatakan bahwa yang saya lakukan adalah apa yang harus saya lakukan, dan saya merasa bahwa itu bukanlah sebuah pilihan.

Teman saya mengatakan, ya, mungkin saja itu yang harus kamu lakukan, tetapi pada akhirnya kamulah yang memutuskan untuk melakukannya atau tidak dan itu merupakan pilihan. Dan jika kamu melakukannya, itulah pilihanmu.

Hmm, memang pada awalnya sulit menerima bahwa itu adalah sebuah pilihan. Mungkin karena sudah terbiasa dengan keharusan untuk melakukan, kita tidak melihatnya sebagai pilihan. Pilihan untuk tidak melakukannya, misalnya.

Ya, hidup itu berisi pilihan dan sudah seharusnya kita bisa berbesar hati dengan konsekuensi apapun yang datang bersama pilihan itu.

:)

Komentar

Untuk yang satu ini saya belajar banyak.

Terkadang saya mengatakan sesuatu yang menurut saya biasa saja.

Ternyata, komentar yang keluar dari teman-teman saya merupakan sesuatu yang tidak saya perkirakan sebelumnya.

Dari kejadian tersebut, saya belajar, lebih baik untuk tidak mengatakan sesuatu apabila kita tidak siap dengan komentar yang akan dikeluarkan oleh orang lain.

Karena setiap orang memiliki pandangan dan pemikiran yang berbeda dengan kita.

Dan akan baik jika kita mengatakan apa yang menjadi perasaan kita karena orang tidak bisa membaca pikiran kita. :)

26 Agustus 2010

Belajar

Terjadi beberapa hari lalu.

Saya bertanya kepada rekan saya. Kok tidak ikut pelatihan?

Pelatihannya sudah tahu, tentang rating, sharing dan semua yang berkaitan dengan penghitungan program.

Jadi ya, gak usah ikut lagi karena sudah tahu.

Owh. Jadi kalau sudah tahu tidak belajar lagi?

Ya, mungkin itu jawaban masuk akal bagi semua orang yang sudah mengetahui materi yang akan diajarkan.

Tetapi entah mengapa, hari itu saya berpikir. Apakah kita bisa mendapatkan sesuatu yang berbeda jika ilmu yang sama diajarkan oleh orang yang berbeda?

Apakah kita bisa mendapatkan sudut pandang baru atau masukan baru yang bisa membuat kita melihat dari sudut pandang baru?

Memang semuanya tergantung pada banyak hal. Pengajar, materi yang diajarkan bahkan dari diri kita sendiri, apakah kita siap menerima informasi baru walaupun kita sudah memiliki informasi tentang hal tersebut sebelumnya?

Entahlah. Tetapi tidak ada salahnya mencoba belajar hal yang sama dari sumber yang berbeda. Mungkin saja, kita mendapatkan ilmu baru.

Insya Allah. :)

25 Agustus 2010

Bright Side

Always see the bright side of everything that happened to you.

Cause God let it happened to you to make you a better person.

Be tough.

And make God smiles at you cause you are grateful.

And try hard to remember God in every good things you do.

You will see that nothing you can't handle if you walk with God.

:)

23 Agustus 2010

Mistakes

Well, what can I say. We all do make mistakes.

People around us may not like them. And criticize us.

That we have to take. All the critics.

But the most important thing is how we forgive ourselves for doing the mistakes.

And get over the guilty feeling.

Learn from the mistakes we made.

And try to not do the same mistake in the future.

Please get over the guilt, I am begging you.

:)

Perubahan.

Seberapa baikkah kita menerima perubahan? Baik kecil ataupun besar.

Mungkin kita mulai dengan yang kecil. Sebagai manusia, kita memiliki pola tertentu dalam mengerjakan sesuatu, misalnya pola kerja kita.

Ada yang memulai kerja dengan membuat teh terlebih dahulu sebelum bisa bekerja. Atau melakukan apapun yang sudah menjadi rutinitas.

Karena sudah terbiasa dengan pola yang ada, perubahan kecil pun mungkin akan membuat hari kita menjadi tidak menyenangkan.

Orang yang lupa mengembalikan barang yang dipinjamnya saat kita membutuhkan barang itu, atau tidak mengembalikannya ke tempat semula.

Yah, tidak semua orang memiliki prinsip ataupun pandangan yang sama dengan kita.

Waktunya melihat perubahan yang kecil sebagai perubahan kecil dan tidak terlalu terganggu dengan perubahan kecil itu. :)

21 Agustus 2010

Identitas Diri

Apa sih sebenarnya identitas diri? Apakah hanya sekadar nama, tempat tanggal lahir atau alamat kita yang ada di KTP misalnya?

Apa yang membuat kita berbeda dari orang lain? Baik secara fisik ataupun karakter.
Siapa yang paling berperan dalam pembentukan identitas diri kita? Orang tuakah? Temankah? Atau lingkungankah?

Apakah dengan nyamannya keadaan di rumah akan membuat kita cukup kuat menghadapi kritikan dari orang sekitar kita, misal teman atau rekan kerja?

Hmm, dari pengalaman yang saya alami, nyamannya kita di rumah tidak bisa mempersiapkan mental untuk menghadapi betapa kerasnya kritikan yang akan kita terima dari lingkungan baru kita.

Persiapan mental untuk menerima berbagai kritikan harus disiapkan dari rumah. Orangtua sejak awal seharusnya mempersiapkan mental anak untuk bisa mengerti bahwa yang terjadi di rumah tidak akan sama dengan yang akan mereka hadapi di luar sana.

Di rumah mungkin digunakan bahasa yang santun. Tetapi berbeda dengan yang ada di luar, karena setiap keluarga mendidik anaknya dengan cara berbeda. Ada yang dengan teriakan, dengan cacian, ataupun juga ada yang dengan kasih sayang.

Dengan adanya persiapan mental, anak tidak akan terguncang, sekiranya menemukan sesuatu yang tidak mereka temui di rumah. Mereka akan terbiasa dengan perbedaan dan akan tetap memiliki apa yang menjadi identitas diri mereka dengan apa yang diterapkan oleh orangtua mereka di rumah. Menjadikan rumah sebagai tempat teraman bagi mereka dan tidak mencari orang lain selain keluarga untuk merasa nyaman dan diterima.