31 Desember 2008

How to be creative part 3 of 26 by Hugh Macleod

3. Lakukan terus menerus.

Melakukan apapun yang bermanfaat membutuhkan waktu. 90% yang memisahkan orang sukses dan orang gagal adalah waktu, usaha dan stamina.

Saya sering ditanya, “Bentuk kartu nama Anda sangat sederhana. Apakah Anda tidak khawatir seseorang akan merobeknya?”

Jawaban umum : Hanya jika mereka bisa menggambar lebih banyak dan lebih baik dari saya.

Yang membuat batas dari pekerjaan itu adalah fakta sederhana bahwa saya menghabiskan waktu bertahun-tahun menggambarnya. Saya telah menggambar ribuan. Puluhan ribu jam.

Jadi jika seseorang ingin merobek ide saya, silakan. Jika seseorang ingin mengalahkan saya dalam perang corat-coret kartu nama, silakan. Anda memiliki tahun-tahun panjang di depan Anda. Dan tidak seperti saya, Anda tidak akan melakukannya untuk kesenangan. Anda akan melakukannya untuk alasan enggan, tidak suka, hanya mencari untung saja. Jadi tahun-tahun itu akan semakin lama dan jauh, lebih menyakitkan. Anda beruntung.

Jika seseorang di industri Anda lebih berhasil dibandingkan Anda, mungkin karena dia bekerja lebih keras dari Anda. Tentu, mungkin dia lebih berbakat, lebih mahir dalam jaringan dan sebagainya, tapi saya tidak menjadikan hal tersebut sebagai alasan. Dari waktu ke waktu, kelebihan itu semakin tidak diperhitungkan. Karena itulah dunia dipenuhi orang-orang berbakat, mahir dalam jaringan, orang rata-rata yang gagal.

Sukses artinya Anda memiliki jalan panjang di depan Anda. Bagaimana cara terbaik Anda menjalankannya?

Seperti yang telah saya tulis di tempat lain, jangan berhenti bekerja. Saya tidak melakukannya. Saya bekerja setiap hari di kantor, sama seperti orang bodoh lainnya. Saya menghabiskan banyak waktu di kereta; saat itulah sebagian besar saya menggambar. Saat saya lebih muda, saya seringkali menggambar saat duduk di bar, tapi hal itu tidak saya lakukan lagi.

Intinya, satu atau dua jam di dalam kereta bisa saya atur. Fakta bahwa saya memiliki pekerjaan artinya saya tidak merasa tertekan untuk melakukan sesuatu yang disukai pasar. Akan tetapi, saya bisa melakukan apapun yang saya inginkan. Saya bisa melakukannya untuk kepuasan pribadi saya. Dan saya rasa itulah yang membuat pekerjaan menjadi lebih bertenaga dalam jangka waktu panjang. Juga membuatnya lebih mudah melakukannya dengan cara yang lebih tenang, setiap hari, tidak menjadi gila, kebutuhan kreatif yang diharuskan karena kekhawatiran keuangan.

Secara sederhana, metode saya mengizinkan saya untuk menjaga kecepatan saya untuk jangka panjang, itu yang lebih penting.

Stamina tentu saja penting. Dan memungkinkan jika kita mengaturnya dengan baik. Orang berpikir bahwa yang mereka lakukan hanyalah bertahan dari keinginan kuat atas pekerjaan yang tidak harus kreatif dan impian mereka akan terkabul. Mereka salah, mereka benar-benar salah.

Menjadi ahli dalam hal apapun seperti halnya bermain ski – definisi menjadi ahli adalah bisa membuatnya terlihat mudah. Tapi sebenarnya tidak pernah mudah. Hal itulah yang sering dilupakan orang.

Jika saya baru memulai menulis, misalnya, novel atau naskah drama, atau mungkin mulai mendirikan perusahaan piranti lunak, saya tidak akan berhenti bekerja untuk mulai melakukannya.

Saya akan melakukan hal yang jauh lebih sederhana : saya akan meluangkan waktu selama satu atau dua jam yang hanya untuk saya, dan saya akan membuatnya produktif. Melakukannya terus menerus, melakukannya cukup lama dan akhirnya hal-hal yang ajaib dan mengubah hidup terjadi. Tentu, berarti berkurangnya waktu menonton tv, berselancar di internet, keluar atau apapun.

Tapi siapa yang peduli?

27 Desember 2008

How to be Creative Part 2 of 26 by Hugh Macleod

2. Ide tidak harus besar. Hanya perlu mengubah dunia.

Keduanya tidak sama.

Kita menghabiskan banyak waktu terkagum-kagum oleh orang yang belum pernah kita temui. Seseorang yang ditampilkan di media yang memiliki perusahan besar, produk hebat, film hebat, laku keras. Apapun.

Dan kita menghabiskan lebih banyak waktu tidak berhasil menyaingi mereka. Mencoba mendirikan perusahaan, produk, proyek film, buku kita sendiri.

Saya juga bersalah seperti orang lainnya. Saya mencoba berbagai hal selama bertahun-tahun, mencoba keras untuk membongkar pekerjaan saya dari cengkraman kerata-rataan. Beberapa ada hubungan dengan bisnis, seni dan sebagainya.

Suatu malam, setelah terlalu banyak melakukan awal yang salah, saya menyerah. Duduk di bar, merasa sedikit lelah karena pekerjaan dan hidup umumnya, tiba-tiba saya mulai menggambar di belakang kartu nama. Saya tidak membutuhkan alasan. Saya hanya melakukannya karena memang ada di sana, karena membuat saya senang dengan cara yang tidak lazim.

Tentu saja hal itu bodoh. Tentu saja bukan untuk iklan. Tentu saja tidak untuk laku dijual. Tentu saja membuang-buang waktu. Tapi jika dilihat kembali, ada kesia-siaan yang memberi batas. Karena itu merupakan kebalikan dari “Rencana Besar” yang biasa dibuat oleh teman-teman saya dan saya sendiri. Sangat membebaskan karena tidak harus memikirkannya.

Sangat membebaskan melakukan sesuatu yang tidak harus membuat orang lain kagum.

Sangat membebaskan untuk memiliki sesuatu yang hanya untuk diri saya sendiri.

Sangat membebaskan untuk merasa berkuasa penuh. Untuk merasa benar-benar bebas.

Dan tentu saja, saat itu, hanya saat itu, dunia luar mulai tertarik.

Kekuasaan penuh atas pekerjaan Anda akan menginspirasi lebih banyak orang dari isi yang sebenarnya. Bagaimana kekuasaan penuh Anda menginspirasi orang lain untuk menemukan kekuasaan mereka sendiri, perasaan bebas dan kemungkinan, akan mengubah dunia lebih dari nilai pekerjaan itu.

Ide Anda tidak harus besar. Hanya saja harus berasal dari Anda sendiri. Semakin asli, semakin bebas Anda melakukan sesuatu yang benar-benar hebat.

Semakin hebat, semakin banyak orang yang akan menyetujui ide Anda. Semakin banyak orang menyetujui ide Anda, maka ide itu akan mengubah dunia.

Itulah yang saya pelajari dari corat-coret di kartu.

26 Desember 2008

How to be Creative part 1 of 26 By Hugh MacLeod

MacLeod menggarisbawahi nilai keotentikan dan kerja keras, dan memperlihatkan tantangan dan imbalan karena menjadi kreatif.

Jadi Anda ingin menjadi lebih kreatif dalam bidang seni, bisnis, atau apapun. Berikut beberapa tips yang telah berhasil saya lakukan beberapa tahun ini.

1. Abaikan semua orang

Semakin asli ide Anda, semakin tidak berguna nasihat yang diberikan orang lain. Saat pertama kali saya menyatakan ingin menggambar kartun di balik kartu nama, orang-orang berpikir saya gila. Kenapa saya tidak melakukan sesuatu yang mudah dicerna oleh pasar, misalnya kartu ucapan yang lucu dan sebagainya?

Anda tidak tahu apakah ide Anda bagus saat ide itu diciptakan. Begitu juga dengan orang lain. Yang bisa Anda harapkan adalah perasaan yakin. Dan mempercayai perasaan Anda tidak semudah yang dikatakan orang. Ada alasannya mengapa perasaan membuat kita takut.

Dan bertanya kepada teman dekat juga tidak akan seperti yang Anda harapkan. Bukannya mereka sengaja tidak membantu Anda. Hanya saja mereka sama sekali tidak tahu dunia Anda sebaik Anda, tak peduli seberapa keras mereka berusaha mengerti, dan seberapa keras Anda mencoba menjelaskannya.

Dan, ide besar akan mengubah Anda. Teman-teman Anda mungkin menyayangi Anda, tetapi mereka tidak mau Anda berubah. Jika Anda berubah, pergaulan Anda dengan mereka juga berubah. Mereka menyukai apa adanya, begitulah mereka menyayangi Anda – apa adanya, bukan akan menjadi apa Anda nantinya.

Mereka tidak memiliki dorongan untuk melihat Anda berubah. Mereka akan menolak apapun yang menyebabkan perubahan tersebut. Tapi itu semua alamiah. Dan Anda pun akan melakukan hal yang sama, jika berada di sisi mereka.

Dengan rekan bisnis, lebih buruk. Mereka terbiasa berhubungan dengan Anda dengan cara tertentu. Mereka terbiasa memiliki tingkat kontrol terhadap hubungan bisnis. Dan mereka ingin apapun yang membuat mereka lebih kaya. Tentu saja, mereka juga menginginkan agar Anda kaya, tapi itu bukan prioritas utama mereka.

Jika ide Anda sangat bagus hingga mengubah hidup Anda kemana Anda atau pasar tidak terlalu membutuhkannya, mereka akan menolak ide Anda setiap kali mereka bisa melakukannya.

Sekali lagi, semua itu alamiah.

Ide bagus mengubah keseimbangan kekuasaan dalam hubungan, karena itulah ide bagus awalnya selalu ditolak.

Ide bagus datang bersama beban berat. Karena itulah hanya sedikit orang yang memilikinya. Hanya sedikit orang yang dapat mengatasinya.

17 Desember 2008

Sebagian Orang Lebih Tertarik Pada Kata-kata Atau Kalimat-kalimat Negatif

Saya baru menyadari bahwa setelah saya menuliskan status yang negatif di yahoo messenger saya barulah teman-teman menyapa saya, berbeda jika saya menuliskan status positif, jarang ada yang merespons walaupun terkadang ada satu atau dua orang yang bertanya alasan saya berbahagia.

Entahlah, mungkin mereka memang sedang sibuk atau memang lebih tertarik pada sesuatu yang negatif. Sebagian besar dari kita memang lebih tertarik pada hal-hal yang berbau penderitaan. Jika ada seseorang yang sedang curhat, kita cenderung ingin memberitahukan bahwa justru kitalah yang lebih menderita dari orang tersebut.

Bagaimana kalau kita justru mencoba membantu rekan kita tersebut untuk berfokus pada hal yang positif dari kejadian yang tidak mengenakkan itu. Jadikan kejadian itu sebagai pelajaran untuk tidak melakukan kesalahan yang sama di masa depan karena kita sudah mengetahui tanda-tandanya hingga bisa mengatasinya sebelum terlambat.

Mulai berfokus pada yang positif yuk.

09 Desember 2008

Seberapa Seringkah Kita Melabeli Orang Saat Pertama Kali Melihatnya?

Pertanyaan yang saat ini ada di dalam benak saya adalah “Seberapa Seringkah Kita Melabeli Orang Saat Pertama Kali Bertemu?” Label Si Kurus, Si Gemuk, Si Pembuat Onar, Si Egois, dan Si sifat buruk lainnya. Ya, dulu saya sering melakukannya. Saat ini, saya mencoba mengubah sifat tidak terpuji tersebut karena sering kali saya salah mengerti tentang orang tersebut dan berakhir dengan perasaan bersalah.

Berapa banyak dari kita langsung melabeli seseorang sebagai Si Kurus atau Si Gemuk. Mungkin kita orang yang ke sekian ratus yang mengatakan hal tersebut kepada mereka. Sudahkah kita mencari tahu sebelumnya mengapa mereka kurus atau gemuk? Sudahkah kita mendengar usaha mereka untuk bisa menjadi gemuk atau kurus? Dan sudahkah kita bertanya kepada diri sendiri sebelum melabeli seseorang dengan label tertentu?

Saya pernah terheran-heran dengan perilaku teman saya yang hampir bisa dibilang tidak mau berbagi dengan orang lain. Dan selalu menomor satukan kepentingannya yang kadang membuat orang terheran-heran karena dia rela mengorbankan orang lain hanya untuk kepentingan dirinya. Saya belum pernah melihat orang yang sangat egois seperti dirinya. Dan setelah saya cari tahu, ternyata yang membuatnya menjadi sangat egois adalah karena dia anak tunggal yang tidak terbiasa berbagi dengan orang lain. Setelah mengetahui hal tersebut, saya bisa memakluminya. Tapi berapa banyak dari kita yang berusaha mencari tahu sebelum melabeli atau menghakimi orang lain? Kita juga tentunya tidak ingin disalahmengertikan oleh orang lain.

Akan lebih baik sebelum kita melabeli atau menghakimi orang, berusahalah untuk memahami orang tersebut. Setidaknya carilah alasan yang membuatnya berperilaku seperti itu. Mungkin saja setelah mengalami hal yang buruk yang menyebabkan dirinya berubah dan berperilaku yang menurut kita tidak menyenangkan. Tapi apalah artinya hidup jika semuanya seperti yang kita inginkan?

Apakah Kita Akan Membeku Hanya Karena Kita Melakukan Kesalahan?

Baru-baru ini saya melakukan kesalahan yang menurut saya cukup besar. Yang membuat kondisi antar divisi di kantor temoat saya bekerja menjadi agak tegang. Setelah berkonsultasi dengan rekan kerja saya yang juga telah meyakinkan saya bahwa kesalahan itu juga pernah dibuatnya, saya menjadi agak lega walaupun masih belum bisa sepenuhnya keluar dari rasa bersalah.

Akan tetapi di balik kesalahan tersebut, saya mengambil hikmah untuk lebih berhati-hati lagi dalam bekerja. Dan mengkonfirmasi ulang kepada yang bersangkutan karena hal itu bisa meminimalkan kesalahan yang mungkin akan saya buat di masa depan. Terima kasih teman, atas nasihatnya. Dan ternyata, kita memang harus bisa melepaskan belenggu rasa bersalah untuk bisa maju menjalankan tugas-tugas berikutnya yang mungkin akan lebih berat dari yang sebelumnya. Tetap semangat!

Menemukan Pengertian Baru dari Kata Sabar

Dulu saya berpikir, sabar adalah jika ada sesuatu yang membuat kita marah dan kita butuh waktu untuk mencoba mencerna apa yang terjadi setelah bereaksi. Ternyata bukan. Sabar adalah tidak bereaksi marah saat pukulan pertama.

Memang sangat sulit rasanya bisa langsung memaafkan seseorang yang berbuat tidak baik terhadap kita seketika atau di saat itu juga. Butuh latihan keras dan jiwa besar untuk bisa melakukannya. Dan biasanya setelah kita berjanji untuk lebih sabar, ujian akan langsung datang.

Mudah-mudahan dengan adanya pengertian baru dari kata sabar ini memberikan sudut pandang berbeda dari yang biasa kita miliki. Setidaknya kita bisa mulai menjaga lisan kita untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar sebelum sepenuhnya menjadi manusia yang sabar.

12 November 2008

A New Earth, Chapter Two : Ego : The Current State of Humanity

Bab kedua ini menjelaskan agar kita lebih mengerti tentang diri kita sendiri. Suara yang ada di dalam kepala kita akan berkomentar, menerjemahkan dan melabeli apa saja yang terjadi pada kita. Untuk mencegah pikiran itu, kita harus hadir sepenuhnya, berkonsentrasi pada apa yang sedang kita lakukan.

Kita cenderung berpikir bahwa kita adalah korban. Itu hanya pikiran-pikiran yang Anda percaya sebagai diri Anda.Itu adalah gambaran mental yang ada di dalam kepala Anda.

Jika Anda sedang sakit, jangan bicarakan penyakit Anda selain kepada dokter Anda. Karena Anda akan semakin merasa sakit. Ada 2 jenis rasa sakit : sakit fisik dan sakit psikologi. Dengan membicarakan penyakit Anda kepada orang lain, Anda hanya akan menambahkan sakit psikologi Anda di atas sakit fisik Anda.

Ego dipengaruhi masa lalu. Ego adalah kekuatan rasa diri yang didasarkan pada konsep mental.

Kita tidak bisa mengidentifikasikan diri kita dengan apa yang kita miliki. Kita tidak bisa membeli persahabatan.

Kita harus bertindak melebihi ego. Kita harus sadar akan adanya ego dan tidak dikuasai oleh ego dengan cara hadir di saat ini, masa yang kita miliki saat ini. Karena ego selalu menginginkan kita berada di tempat lain atau tidak hadir di saat ini.

Semoga bermanfaat.

Pelajaran Berharga

Beberapa jam sebelum pulang kantor, saya ingin menyimpankan data teman saya yang dititipkan di komputer saya ke komputer lain untuk bisa mendapatkan memori ekstra di mana komputer saya yang sekarang sangat membutuhkannya.

Kaget bukan kepalang, data saya yang di komputer lain tersebut ternyata sudah tidak ada. Dan usut punya usut ternyata, kemarin, saat saya tidak masuk kantor, komputer tersebut diinstall ulang dan hanya data yang di drive c yang dibuatkan kopiannya. Berhubung saya menyimpan data saya di desktop, hilanglah semua hasil kerja saya.

Ya, mau diapakan lagi, nasi sudah jadi bubur. Cuma sedih saja karena saya tidak akan menghilangkan data orang lain yang ada di komputer saya.

Pelajaran : buatlah data Anda yang berjalan, simpan di flash disk, kalaupun tidak, kirimkanlah lewat email pribadi Anda, agar hal yang saya alami tidak Anda alami.
Hhhhh (menghela napas)

06 November 2008

A New Earth, Chapter One : Flowering Human Consciousness

Kemarin baru saja melihat siaran Oprah lewat internet membahas buku A New Earth bersama penulisnya Eckhart Tolle. Banyak sekali hal-hal baru, sudut pandang baru yang saya dapatkan dari menyaksikannya. Berikut ini hal-hal yang bisa saya dapatkan dari pembahasan Bab Pertama dari buku tersebut.

Untuk menjadi baik Anda tidak haru menjadi baik tetapi Anda harus menemukan kebaikan di dalam diri Anda sendiri. Yang saya tangkap dari kalimat di atas adalah Anda tidak bisa memaksakan sesuatu di luar hati nurani Anda karena menurut saya hati nurani Anda akan selalu menyuarakan kebaikan.

Oprah mengatakan bahwa dia selalu berdoa agar Tuhan selalu menggunakan dirinya. Menggunakan dirinya untuk kebaikan orang lain. Membuat saya tergugah untuk juga berdoa dan menanyakan kepada diri saya sendiri, apa yang Tuhan ingin saya lakukan untuk orang banyak? Sudahkah saya membuat diri saya berguna untuk orang lain.

Di sini juga dibicarakan untuk mencoba tidak melabeli apapun, bahkan tidak melabeli pepohonan. Dengan begitu kita akan melihat sudut pandang yang baru. Tidak melabeli orang lain agar kita juga tidak dilabeli orang lain.

Mencoba tidak menyalurkan energi negatif kita jika ada sesuatu yang membuat kita kesal atau tidak senang, karena jika energi negatif tersebut menjadi kolektif, maka akan menjadi masalah di dalam masyarakat. Karena itu diperlukan waktu untuk kita berbicara pada diri sendiri, merenungkan hal-hal yang sederhana seperti “Apakah saya masih bernapas?” dan benar-benar merasakannya.

Saat ini kita masih terpaku pada apa yang akan kita lakukan padahal kita belum selesai melakukan satu hal. Misalnya, saat kita masih menggosok gigi kita, kita sudah memikirkan apa yang akan kita lakukan di kantor nanti. Akan lebih baik kita tetap berfokus pada apa yang sedang kita lakukan agar kita benar-benar menikmatinya.

Ego masih mendominasi diri kita apabila kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan tetapi kita masih merasa kurang, tidak bahagia. Kebahagiaan ada di dalam diri Anda dan jangan biarkan apa yang Anda miliki mendefinisikan siapa diri Anda.

Pondasi dari hidup Anda adalah saat ini, misalnya rasa syukur. Temukan tempat penerimaan dalam diri Anda. Bertemanlah dengan saat ini. Pertanyakan kembali hubungan Anda dengan saat ini, apakah penuh dengan negativitas?
Karena apa yang Anda tolak, akan bertahan. Hal pertama yang sebaiknya dilakukan adalah menerimanya lalu bertindak.

Pertanyaan lainnya adalah “Apakah Anda hadir saat ini? Apakah saya siap melakukan ini?” Untuk itu hanya khawatirkan diri Anda. Dan bertanyalah pada diri Anda sendiri, “Apa tujuan hidup kita?”

Mungkin ada banyak hal lain yang saya lewatkan tetapi dari uraian saya di atas cukup bagi kita untuk mempertanyakan kembali apa tujuan hidup kita. Akankah kita berhenti bermimpi hanya karena komentar orang yang belum tentu berpihak pada keberhasilan kita? Ataukah kita akan mengorbankan impian besar kita untuk digunakan Tuhan membantu saudara-saudara kita mencapai impian mereka? Semuanya terpulang kepada Anda. Semoga bermanfaat.

05 November 2008

Thinking

Been thinking lately, what have I been doing for the rest of my life?
Not much I guess.Been complaining almost all the way. Just attend a funeral.
Seeing those toombstones, imagining if I am dead, would be a lot of people attend my funeral? And what did I achieve? Have I been useful for others? Have I been good enough to others? Is there anyone that really hates me? Those thoughts really go through my mind. Have I made my parents proud of what I’ve achieved for my whole life?

Yes, made me think to just do what I want to do without procastinating it. Yes, before I lose my breath and can not do anything anymore because I am dead.

Thank you God for letting me have these thoughts.

26 Oktober 2008

Orang Lebih Suka Mendengarkan Hal Yang Baik

Beberapa waktu lalu, saya menonton di salah satu televisi ada penelitian mengenai gelombang otak di sebuah universitas di Amerika seputar tanggapan masyarakat terhadap debat yang dilakukan oleh para calon presiden Amerika.

Di dalam penelitian itu disimpulkan bahwa orang-orang yang menyaksikan debat lebih suka jika para calon presiden itu mengatakan hal yang baik tentang lawannya. Dan tidak suka jika mereka menjelek-jelekkan lawannya. Hal itu bisa dilihat bahwa gelombang otak akan membentuk gunung jika kalimat-kalimat yang dikeluarkan adalah kalimat yang baik dan akan membentuk lembah jika kalimat-kalimat yang dikeluarkan adalah kalimat yang menjelek-jelekkan.

Dengan begitu telah terbukti bahwa perkataan yang baik akan membuat lawan bicara kita akan merasa lebih baik, dan semoga hal itu menjadikan kita lebih beruntung karena membuat orang yang kita ajak bicara merasa lebih bahagia karena perkataan kita yang baik.

Mengerti Sebelum Meminta Dimengerti

Setelah sekian lama bertanya-tanya dan merenungi mengapa banyak teman saya melakukan sesuatu yang berbeda dengan apa yang saya lakukan, akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa agar kita bisa dimengerti orang lain maka kitapun harus mengerti orang tersebut.

Untuk mendapatkan pengertian tersebut, saya harus melewati waktu yang cukup panjang. Kadang melalui debat yang tidak mencapai kata sepakat yang akhirnya malah membuat kedua belah pihak merasa kesal. Setelah diteliti lebih lanjut ternyata hal itu disebabkan kami memiliki sudut pandang yang berbeda atas suatu hal.

Tetapi saya sadar bahwa pendekatan kepada setiap orang harus berbeda karena setiap manusia diciptakan unik. Untuk memperbaikinya, saya mencoba mensahabatkan diri kepada teman-teman saya yang mungkin belum benar-benar mengetahui dan mengerti sifat-sifat saya lalu mencoba menyampaikan pendapat saya dengan cara berbeda yang tentunya lebih baik karena hubungan pertemanan itu harus dilakukan kedua belah pihak. Untuk menjaganya dibutuhkan kerja keras dan kesungguhan dari keduanya.

17 September 2008

Bersyukur

Akhirnya, setelah menunggu lama, sahabat saya akhirnya mendapatkan pekerjaan. Mungkin bukan pekerjaan impiannya, tetapi setidaknya sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Kemarin adalah hari pertamanya bekerja. Masih belum tahu betul apa yang harus dikerjakan. Sama seperti yang saya alami di hari pertama bekerja. Begitu banyak informasi yang harus diingat dalam waktu singkat. Banyak wajah dan nama yang harus diingat.

Hmmm. Yup, mungkin itu dulu juga saya alami. Mengeluh, karena banyak hal yang tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Mengeluhkan hal-hal kecil yang menjadi masalah hanya karena saya membesar-besarkannya. Sampai saat ini pun saya masih berusaha untuk lebih bersyukur. Mensyukuri apa yang sudah saya miliki dan mengurangi berkeluh kesah terhadap hal-hal kecil yang memang kadang mengganggu. Berusaha meminimalisir kemarahan, agar energi marah yang mungkin terbuang percuma itu, bisa dimanfaatkan untuk hal yang lebih berguna.

Ya, memang hal sulit untuk melihat dan mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Tetapi akan lebih baik jika kita bersyukur untuk apa yang sudah kita miliki agar Tuhan mencurahkan lebih banyak nikmat-Nya kepada kita. Amin.

08 September 2008

Mendengarkan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendengarkan berarti :
1. Mendengar akan sesuatu dengan sungguh-sungguh, memasang telinga baik-baik untuk mendengar.
2. Memperhatikan, mengindahkan; menurut (nasihat, bujukan, dan sebagainya)

Tapi berapa banyak dari kita yang mendengarkan apa yang dibicarakan teman kita? Tidak sekadar mendengarkan, menunggunya selesai bicara dan kita melanjutkannya dengan topik pembicaraan lain?

Saya sering mengalami kejadian seperti ini. Seorang teman saya memulai pembicaraan. Saya dengarkan. Lalu saya ajukan pertanyaan. Entah tidak mendengar pertanyaan saya atau memang tidak ingin menjawab pertanyaan saya, teman saya itu tidak menjawab pertanyaan saya. Atau saat saya sedang ingin didengarkan, tidak ada yang mau mendengarkan. Mungkin karena pembicaraannya yang tidak menarik atau waktunya memang tidak tepat. Entahlah.

Karena itulah saya lebih banyak berdiam diri jika ada sesuatu yang mengganggu saya. Menjauh sebentar dari orang yang membuat saya marah atau sedih. Mencoba mengintrospeksi diri sendiri, apa yang membuat seseorang itu bisa mengeluarkan perkataan yang membuat saya marah atau sedih.

Dari pengalaman itu, saya akhirnya bisa menjadi orang yang lebih sabar, tidak terlalu cepat mengumbar kejelekan orang lain dengan menceritakan hal-hal yang membuat saya marah.

Mencoba menjadikan diri ini sahabat terbaik bagi diri saya sendiri dan tentu mendekatkan diri pada Tuhan, tidak hanya pada saat susah, tetapi juga saat senang. Semoga saja.

04 September 2008

Kepercayaan dan Kejujuran

Setiap orang pasti ingin dipercaya atau menjadi orang kepercayaan. Tetapi seberapa sering kita bertanya kepada diri sendiri, sudahkah kita pantas menerima kepercayaan? Sudahkah kita bisa menjadi sosok yang amanah saat kita dititipkan sesuatu atau meminjam sebuah buku misalnya? Yah, kadang kita suka menganggap remeh hal-hal kecil seperti itu. Akan tetapi, justru hal kecil seperti itulah yang menjadikan kita bisa dipercaya atau tidak. Jika dari hal kecil kita bisa dipercaya, besar kemungkinan kita dapat dipercaya untuk hal-hal yang besar.

Untuk itu, janganlah pernah berpikir untuk bermain-main dengan kepercayaan yang telah dipercayakan kepada kita. Saya pernah mengalami hampir kehilangan rasa kepercayaan teman saya. Saat itu, sebut saja di A, menelepon si B dan memintanya untuk ke kantor walaupun sebenarnya si B hari itu libur. Sebenarnya si A hanya iseng dan meminta saya berpura-pura mendukung ceritanya. Si B kemudian menelepon saya dan mengkonfirmasi berita yang di dengarnya dari si A. Saya membenarkannya walaupun sebenarnya hati saya berteriak untuk mengatakan tidak.

Sampailah si B di kantor. Dia mengatakan bahwa dia langsung berkendara dari Bogor ke Jakarta dan semalaman belum tidur. Setelah mengetahuinya, timbul rasa bersalah pada diri saya. Dan saya langsung mendapatkan hukuman yang setimpal. Saat makan siang, si A mengatakan pada si B bahwa ide untuk meminta si B datang ke kantor adalah ide saya. Marah, marah dan marah hati ini. Kepercayaan yang saya bangun dicampakkan di depan muka saya sendiri. Walaupun tadinya hanya keisengan belaka, berubah menjadi hancurnya kepercayaan si B kepada saya yang sudah susah payah saya jaga. Saya sangat menyesal karena mendengarkan ajakan si A, padahal saya lebih lama berteman dengan si B.

Untuk itu berhati-hatilah dengan kepercayaan orang lain terhadap kita. Karena sulit untuk membentuk kepercayaan yang dalam waktu singkat bisa luluh lantak hanya karena keisengan belaka. Dan akhirnya saya tidak akan pernah lagi berbohong, walaupun hanya untuk keisengan. Sata tidak lagi mau menjadi kambing hitam untuk orang lain.

13 Agustus 2008

Nyaris Terjebak...

Kemarin, teman kerja saya memberitahukan bahwa pegawai baru yang akan direkrut dipromosikan menerima gaji yang jauh lebih besar dari gaji kami berdua.

Perasaan pertama yang saya rasakan adalah rasa marah. Kenapa bisa seperti itu?
Apakah saya kurang kompeten dengan pekerjaan yang saya lakoni sekarang?
Bagaimana bisa calon pegawai yang baru selesai kuliah bisa memiliki gaji yang lebih besar dari saya yang sudah bertahun-tahun bekerja?
Marah, marah, dan marah....

Setelah berhasil menenangkan diri, saya langsung berintrospeksi diri.
Hei, ada yang belum kau lakukan untuk membuat dirimu dikenal orang lain.
Kau belum memperlihatkan kinerjamu yang terbaik. Belum mencemerlangkan keahlianmu, belum mensahabatkan dirimu, belum membekali dirimu dengan berbagai ilmu, belum dan banyak belum lainnya.

Saya jadi malu sendiri, begitu mudahnya terpengaruh, mudah marah, mudah sekali untuk terjebak, mudah diombang-ambing. Perasaan yang sangat tidak enak, karena tidak merasa nyaman terhadap diri sendiri. Dan belum menjadikan diri ini sebagai sahabat terbaik.

Mengapa begitu mudahnya terprovokasi hal yang belum tentu benar, hanya baru sebatas isu. Masih banyak yang harus kau pelajari, sebelum merasa puas.

Untuk itu, janganlah iri terhadap apa yang orang miliki sebelum mengintrospeksi diri, mencari apa yang masih kurang dari diri kita dan mencoba mengembangkan diri sebaik mungkin dengan belajar dari orang-orang besar yang tidak akan merendahkan kita agar mereka menjadi orang besar. Hanya orang-orang kecil yang merendahkan orang lain agar mereka merasa dirinya besar.

Apakah Hanya Karena Perbuatan Baik Anda Tidak Berbalas, Anda Akan Berhenti Berbuat Kebaikan?

Ikhlas, sebuah kata yang mudah diucapkan tetapi sulit untuk diterapkan.
Saya menulis tentang ikhlas ini karena ada teman saya yang mengatakan "Kebaikan kita tidak selalu dibalas dengan kebaikan lagi".

Saya sendiripun masih dalam tahap belajar untuk ikhlas. Ikhlas membagikan ilmu yang saya miliki kepada teman kerja saya, berbagi informasi, mencoba lebih banyak membantu teman yang kesulitan dengan ilmu yang saya miliki, terutama dalam hal penerjemahan.

Setelah proyek terjemahan kemarin, kali ini ada teman meminta saya menerjemahkan puisi gubahannya ke dalam bahasa Inggris. Hmmm, ada kesempatan untuk belajar lebih banyak, karena saya belum terlatih menerjemahkan untuk yang satu ini. Terima kasih teman, sudah mempercayakannya kepada saya, maaf jika membutuhkan waktu lebih lama, karena saya memang belum terlatih.

Memang, untuk bisa membantu teman, butuh tenaga ekstra, dan semuanya harus dilakukan dengan sepenuh hati, apalagi jika memang bantuan itu adalah keahlian yang kita miliki.

Rasanya saya akan mencoba menguatkan diri untuk tetap bisa berbuat kebaikan kepada orang lain karena saya yakin jika nanti saya membutuhkan bantuan, akan datang bantuan dari arah yang tidak saya duga. Semoga saja saya bisa tetap berada di jalan yang baik. Amin

27 Juli 2008

Bahagia Bisa Membuat Orang Lain Bahagia

Hari Jumat, tanggal 25 Juli 2008, adalah hari yang menggembirakan.
Di hari itu, saya berhasil menyelesaikan terjemahan tentang data warehouse atau gudang data atas permintaan teman saya yang mengetahui kalau saya bisa menerjemahkan.

Suatu hasil yang mencengangkan jika dilihat dari cukup banyaknya halaman terjemahan, sekitar 20 halaman, dan diselesaikan dalam waktu semalam. Ya, semalam, saya juga tidak menyangka dapat melakukannya. Mungkin karena memang dia memerlukannya untuk hari Senin, dan saya harus menyelesaikan hari Jumat karena hari Sabtu saya harus menghadapi ujian lain, ujian les bahasa korea.

Ternyata, saya bisa membuat teman saya terkejut, karena dia mengharapkan saya setidaknya menyelesaikan terjemahan itu hari Sabtu. Bukan dia saja yang terkejut, saya sendiri juga terkejut, bisa menyelesaikannya tanpa merasa lelah. Rasa lelah itu baru datang setelah saya menyerahkan terjemahan itu kepada teman saya. Senang rasanya bisa membahagiakan orang lain dengan keahlian yang saya miliki.

Apabila kita mengerjakan apa yang kita sukai, rasanya tidak seperti beban. Apalagi jika kita melakukannya tidak terpaksa, dan ingin membahagiakan orang lain. Sepertinya tubuh ini dibuat tidak lelah, walaupun kalau dilihat lagi, tidak mungkin rasanya menyelesaikan 20 halaman terjemahan dalam semalam, terlepas dari hasil terjemahan saya yang mungkin kurang bagus karena data warehouse bukan bidang saya yang berlatang belakang pendidikan sastra.

Semua kerja keras itu terbayar dengan berbinarnya mata teman saya saat mengetahui terjemahan yang dia perlukan sudah saya selesaikan. Satu lagi, dengan dia meminta saya menerjemahkan, saya mengetahui informasi baru tentang data warehouse. Senang rasanya bisa membantu orang yang sedang membutuhkan bantuan dan memberikan lebih dari yang dia butuhkan. Terima kasih teman, sudah mempercayakan saya untuk menerjemahkan materi yang kau butuhkan.

19 Juli 2008

Apa Sih Kategori Orang Sulit?

Selama berinteraksi dengan orang lain, sering terdengar keluhan bahwa si A itu orangnya sulit, atau si B itu orangnya tidak bisa diajak bekerja sama.
Dulu saya selalu beranggapan bahwa seseorang itu termasuk orang yang sulit saat pertama kali bertemu.

Ternyata, anggapan saya itu seringkali justru merugikan diri saya.
Orang yang saya anggap sulit itu, terbukti tidak sulit setelah saya mengenal dirinya, bertukar pikiran dengannya, dan menemukan sedikit banyak sifat saya di dirinya.

Karena itulah, jika kita mencap seseorang itu sulit, ada baiknya untuk melihat kepada diri kita sendiri dulu, apakah memang kita yang sulit, atau dia yang sulit.
Sulit menurut kita belum tentu sulit menurut orang lain. Kita harus mengenal seseorang terlebih dulu sebelum mencapnya sebagai orang sulit.

Jika memang kita sudah mencoba mengenalnya dengan baik dan ternyata dia memang orang yang sulit, ada baiknya kita mencoba mengenalkannya pada pikiran-pikiran yang baik, dengan cara yang baik juga. Kita memberinya nasihat saat dia memintanya, dan mencoba memberikan jalan keluar yang baik untuk masalah yang dihadapinya.

Memang mudah untuk diucapkan, tapi saya juga masih dalam tahap belajar untuk bisa
mengerti mengapa seseorang berperilaku sulit. Setelah kita mengerti alasannya, kita akan lebih mudah memahami alasannya untuk berperilaku seperti itu. Intinya adalah introspeksi diri, apakah kita yang bermasalah atau orang lain yang bermasalah, agar kita bisa memperkecil konflik yang mungkin terjadi akibat ketidakpahaman diantara kita dan teman kita.

07 Juni 2008

Belajar dari Pengalaman

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Akan lebih baik jika pengalaman buruk yang menjadi pelajaran tidak terjadi pada kita, tapi kita mempelajarinya dari pengalaman orang lain. Tak perlu menjadikannya sebuah peristiwa harus terjadi dulu pada kita, baru kita menyadari bahwa hal itu pernah terjadi pada orang lain.

Bersahabat, butuh pengorbanan. Kadang lebih banyak kita yang berkorban dibandingkan sahabat kita.
Atau mungkin saja posisinya terbalik atau seimbang. Semuanya bergantung pada komitmen masing-masing.
Seorang sahabat pastinya tahu kapan sebuah informasi itu adalah sebuah rahasia atau tidak. Tak perlu diberitahu. Dan tentunya kita juga tahu, porsi yang bisa kita bagi kepada orang lain di luar keluarga.

Akan tetapi tidak jarang seseorang menjadikan sahabat segala-galanya. Lebih bisa membagi uneg-unegnya kepada sahabatnya daripada kepada keluarganya sendiri. Semuanya sah saja, akan tetapi perlu diingat, hubungan keluarga adalah hubungan darah, berbeda dengan hubungan sahabat.

Karena itu, seseorang yang selalu membagi semua kehidupannya dengan seorang sahabat akan menjadi sangat menderita saat orang yang dipercayainya itu berbagi rahasia dirinya kepada orang lain. Suatu hal yang hanya dia bagi kepada sahabatnya tersebut. Karena itu, sudah sepantasnya kita juga menguji kepantasan sahabat kita untuk dipercaya dengan mencoba menceritakannya sedikit rahasia saja untuk mengetahui seberapa bisa dipercayanya dia. Akan tetapi jangan pernah berpikir untuk membuka rahasia sahabat kita itu kepada orang lain. Jika kita melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan, kita tidak lebih baik dari dirinya.

Semua hal yang terjadi pada kita pasti ada hikmahnya. Tinggal bagaimana kita menyikapi setiap kejadian yang terjadi pada kita. Semua hal buruk bisa menjadi pelajaran terbaik bagi kita jika kita bisa menyikapinya dengan hati lapang dan bijaksana.

10 Maret 2008

Komentar positif atau negatif?

Sebagai manusia tentu kita tidak bisa melepaskan diri dari kegiatan sosial ataupun tidak berinteraksi dengan orang lain. Dalam pergaulan kita sehari-hari tentu kita tidak bisa lepas dari yang disebut komentar.
Apapun yang kita lakukan atau tidak lakukan akan mengundang komentar orang lain, baik kita memintanya ataupun tidak.

Sebuah komentar dapat dirasakan sebagai komentar yang positif atau negatif tergantung dari si penerima komentar. Jika si penerima komentar berpikir bahwa komentar itu negatif walaupun sebenarnya positif, tentu saja dia jadi benar. Begitu juga sebaliknya. Semuanya benar-benar bergantung kepada si penerima komentar.

Setiap orang memang memiliki kebutuhan untuk berkomentar. Alangkah baiknya jika sebelum berkomentar, kita berpikir terlebih dahulu apakah komentar kita akan menyakiti hati orang yang kita komentari. Jika memang begitu lebih baik kita menyimpan komentar untuk diri kita sendiri. Karena perkataan tidak bisa ditarik kembali.

Dan jika memang benar-benar ingin berkomentar, berkomentarlah yang terbaik dan juga dengan cara yang baik untuk orang yang ingin kita komentari.

28 Januari 2008

Mengeluh Tidak Menyelesaikan Masalah

Sudah hampir sebulan terakhir, teman kantor saya mengeluhkan berbagai hal. Dari divisi lain yang mendapatkan berbagai fasilitas, bos yang memberi pekerjaan tetapi kurang puas dengan pekerjaan yang dilakukan teman saya, hingga urusan gaji yang dijanjian akan naik.

Saya hanya bisa mendengarkan keluhannya, mencoba menenangkannya dan mengingat kembali, bahwa 5 tahun lalu, saya juga merasakan hal yang sama yang dia rasakan saat ini. Dari pekerjaan yang tidak dihargai, tidak mengerti apa yang atasan inginkan hingga teman yang sudah saya anggap sahabat mengkhianati saya.

Ada satu kejadian yang membuat saya akhirnya sadar bahwa sayalah yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi pada saya saat itu. Teman curhat saya bertanya kepada saya, apa yang saya inginkan? Di tempatkan dengan atasan seperti ini, mengeluh, ditempatkan dengan atasan seperti itu, mengeluh, apakah saya sudah mengirimkan lamaran ke kantor lain? Saya jawab belum. Teman saya bertanya lagi, kalau begitu bagaimana keadaan kamu bisa lebih baik kalau tidak mengubahnya.

Akhirnya saya sadar. Untuk tidak hanya mengeluh karena mengeluh saja tidak akan menyelesaikan masalah. Kalau Anda mengeluh, dimanapun Anda bekerja dan bagaimanapun keadaannya, Anda akan tetap mengeluh. Apalagi dengan mengatakan bahwa Anda akan bekerja lebih baik jika keadaannya lebih baik. Jika Anda mensyaratkan, berarti selama itu Anda tidak akan bergerak dari keadaan Anda sekarang. Untuk naik kelas, Anda harus melakukan lebih dari yang diharapkan dari orang lain.

Semoga tulisan ini cukup membuat Anda merenungkan kembali apa yang harus Anda perbaiki dari diri Anda sendiri sebelum mensyaratkan sesuatu.

27 Januari 2008

Belajar dari pasangan penjual sayur

Kurang lebih 5 tahun lalu, Yanti memulai bisnis sayur kelilingnya.
Kurang lebih 1 tahun kemudian dia bertemu dengan pria yang kemudian menjadi suaminya.

Lalu mereka berdua saling bahu membahu mengembangkan bisnis mereka dan mereka dikaruniai seorang putri.

Baru-baru ini, kurang lebih satu bulan, ibu saya memberitahukan saya bahwa pasangan itu membeli sebuah mobil seharga 90 juta rupiah untuk dijadikan angkutan kota dengan cicilan 2,5 juta rupiah per bulan.

Bukan itu saja, pasangan ini juga menyekolahkan putri semata wayang mereka ke sebuah playgroup dengan biaya spp per bulannya sebesar 400 ribu rupiah. Angka yang cukup fantastis bahkan untuk seorang pegawai kantoran.

Salut, untuk pasangan penjual sayur itu, berani bertindak dan tidak hanya menggantungkan penghasilannya dengan menjual sayur tetapi juga mengembangkan bisnisnya ke bisnis angkutan kota.

Semoga kisah nyata ini dapat memberikan inspirasi kepada kita semua, untuk tidak hanya bermimpi besar, tetapi usaha kita juga harus besar agar mimpi itu terwujud.

24 Januari 2008

The reason i use the title the power of your thought

Akhirnya setelah lama tertunda, mungkin memang karena menunda, tercipta juga blog ini.

Terima kasih kepada Dina Fatimah yang telah memberikan semangat kepada saya untuk membuat blog dan berkeinginan untuk membacanya.

Kekuatan pikiran manusia sangat hebat, bahkan bisa membuat orang itu yakin dengan pikirannya sendiri walaupun tidak sepenuhnya benar. Orang bisa yakin atas apa yang ada di pikirannya dan menggagalkan dirinya untuk mencapai apa yang sebenarnya bisa dicapainya.

Kejadian sama yang terjadi pada dua orang yang berbeda akan memiliki dampak yang berbeda jika keduanya menghadapi kejadian itu dengan cara yang berbeda.
Misal, orang pertama menghadapi kejadian buruk dengan cara yang buruk dan menganggap dirinya sial. Mungkin sepanjang hari dia akan menemukan dirinya dalam posisi sial. Dan orang yang kedua menghadapi kejadian buruk dengan cara baik, akan belajar dari kejadian buruk itu dan mengambil pelajaran agar tidak terjadi lagi pada dirinya.

Manusia memang memiliki kecenderungan untuk menyalahkan orang lain, lebih mudah menyalahkan orang lain, akan tetapi jika kita menyalahkan orang lain, kita tidak akan pernah dapat tumbuh menjadi pribadi yang bijaksana.

Karena itu, bijaksanalah dengan pikiran Anda, karena Anda tidak tahu seberapa kuat pikiran Anda yang bisa menjadikan Anda gagal atau sukses.

Semua pemikiran yang saya tulis terinspirasi dari Pak Mario Teguh. Terima kasih Pak Mario karena telah menjadi inspirasi saya.