01 Oktober 2011

Pemulih Jiwa, MTGW, Minggu, 5 Juni 2011

Segmen I :

Sejatinya setiap jiwa adalah jiwa yang baik.

Penyebab rusaknya jiwa :

1. Kerusakan jiwa sebagian besar selalu disebabkan oleh perlakuan tanpa kasih sayang.

Tanda jiwa yang terluka adalah kehilangan harapan yang baik.

2. Rusaknya jiwa karena rusaknya iman.

3. Kurangnya pendidikan.

Orang beriman yang pendidikannya kurang, akan kalah berargumentasi dengan orang tidak beriman yang logikanya terlatih baik.

4. Lemahnya ekonomi.

Orang yang ekonominya lemah, lebih mudah rusak jiwanya.


Cara memperbaiki jiwa kita dan jiwa orang lain :

1. Berlaku lebih berkasih sayang.

2. Bantu orang untuk menguatkan imannya. Bergaullah dengan orang-orang yang beriman.

3. Bantu orang untuk mendapatkan pendidikan yang baik.

4. Bantu orang untuk menemukan cara-cara memperbaiki ekonominya.

Sesungguhnya sejatinya setiap jiwa adalah jiwa yang baik.


Segmen II :



Ciri-ciri jiwa yang baik :

Jiwa yang baik mencintai kedamaian.

Berupaya membangun kehidupan yang bergembira,

mengagumi keindahan, menemukan kebahagiaan dalam membahagiakan yang dicintainya,

dan memiliki dorongan asli untuk menegakkan keadilan bagi kehidupan sesama.


Menyesal itu tidak apa-apa asal jangan merusak percaya diri.

Sesalilah, tetapi terimalah itu sebagai cara untuk memuliakan diri, bukan untuk merendahkan diri.

Ber-Tuhanlah, lalu tunjukkan bahwa beriman itu indah.

Setiap jiwa mempunyai taman keindahan, dan kita bisa masuk ke dalamnya melalui hatinya, karena hati adalah wajah dari jiwa.

Percayalah bahwa setiap orang itu mempunyai kebaikan.

Kita sebagai manusia yang bersahabat dengan manusia lain harus berfokus pada baiknya.

Kalau mau mengubah dunia, jangan kritik pada keburukan orang, besarkan kebaikannya, sehingga tidak ada tempat bagi keburukan di dalam dirinya.



Segmen III :

Kadang-kadang dan lebih sering daripada tidak, orang menjadi baru kalau ikhlas berbicara dengan Tuhan.

Kita tidak mungkin keluar dari pertemuan dengan Tuhan tanpa menjadi pribadi yang baru.

Jadilah pribadi yang mampu menemukan keheningan di dalam sesibuk-sibuknya kehidupan.

Karena keheningan itu memungkinkan kita berbicara kepada Tuhan.

Setelah keluar dari pembicaraan dengan Tuhan. Sering-seringlah berbicara kepada Tuhan karena Anda tidak mungkin menjadi pribadi yang tetap sama.



Segmen IV :

Kalau kita melakukan kebaikan maka kebaikanlah yang mencarikan jalan karena kebaikan memiliki bakat untuk menemukan jalannya sendiri.

Orang-orang yang bekerja di jalan kebaikan, melakukan kebaikan, meneladankan kebaikan, ditenagai oleh Tuhan.

Di dalam kehidupan ada jalur penghebatan.

Tidak ada orang yang bisa hebat dengan sendirinya. Dia harus mendekatkan diri kepada orang-orang yang akan menghebatkannya.

Beranilah untuk gagal besar. Berencanalah gagal besar.

Orang-orang yang berencana gagal besar tidak kecil hati dengan kegagalan kecil.

Ikhlaslah gagal jika Anda digagalkan oleh Tuhan.

Mana mungkin Tuhan menggagalkan orang yang melayani-Nya.

Dekat-dekatlah dengan arus dimana kebaikan itu kuat, supaya kita tidak sengaja tahu-tahu kaki kita diangkat untuk menjadi pribadi yang baik juga.



Segmen V :

Tidak ada di dalam kehidupan ini yang lebih indah daripada mengikhlaskan diri untuk menjadi pribadi yang baik.

Tugas dari langit tidak turun pada orang yang nilainya rendah.

Jiwa yang dipulihkan adalah jiwa yang menemukan kekuatan aslinya. Sebagai pribadi yang hatinya menjadi pelabuhan bagi kebaikan, yang pikirannya sibuk dengan rencana yang membaikkan kehidupan, dan perilakunya adalah perilaku yang meneladankan kesetiaan kepada yang benar.

Satu sifat yang selalu mengikuti rasa malas, ngantuk. Orang malas selalu mengantuk.

Karena dia harus melepaskan kenyataan hidup yang sedang disepelekannya.

Orang logikanya rusak tidak hanya saat jatuh cinta.

Orang-orang yang malas, logikanya sedang rusak.

Jangan mengharap bantuan dari orang lain karena orang lain sedang sibuk dengan masalahnya sendiri.

Tanggung jawab memperbaiki kehidupan ada pada diri kita sendiri.

Usia tidak menuakan jiwa kita.

Yang menuakan jiwa adalah hampanya harapan dari hati seseorang.

Orang yang berhenti berharap langsung tua.

Berhentinya berharap karena diperlakukan tanpa kasih sayang.

Kalau kita mau membangun bangsa yang bersemangat baik, yuk jadi orangtua yang membesarkan hati anak-anak, yang menjadi saudara yang membesarkan hati saudaranya, menjadi sahabat yang membesarkan hati sahabatnya, jangan berfokus pada jeleknya, yuk kita berfokus pada kebaikan, karena kalau kebaikan di diri dan di sahabat kita membesar, tidak ada tempat bagi keburukan dan kita sebagai sahabat kemudian menjadi seutuh-utuhnya pemulih jiwa.


Semoga bermanfaat. Aamiin.

Tidak ada komentar: