17 September 2008

Bersyukur

Akhirnya, setelah menunggu lama, sahabat saya akhirnya mendapatkan pekerjaan. Mungkin bukan pekerjaan impiannya, tetapi setidaknya sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Kemarin adalah hari pertamanya bekerja. Masih belum tahu betul apa yang harus dikerjakan. Sama seperti yang saya alami di hari pertama bekerja. Begitu banyak informasi yang harus diingat dalam waktu singkat. Banyak wajah dan nama yang harus diingat.

Hmmm. Yup, mungkin itu dulu juga saya alami. Mengeluh, karena banyak hal yang tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Mengeluhkan hal-hal kecil yang menjadi masalah hanya karena saya membesar-besarkannya. Sampai saat ini pun saya masih berusaha untuk lebih bersyukur. Mensyukuri apa yang sudah saya miliki dan mengurangi berkeluh kesah terhadap hal-hal kecil yang memang kadang mengganggu. Berusaha meminimalisir kemarahan, agar energi marah yang mungkin terbuang percuma itu, bisa dimanfaatkan untuk hal yang lebih berguna.

Ya, memang hal sulit untuk melihat dan mensyukuri apa yang sudah kita miliki. Tetapi akan lebih baik jika kita bersyukur untuk apa yang sudah kita miliki agar Tuhan mencurahkan lebih banyak nikmat-Nya kepada kita. Amin.

08 September 2008

Mendengarkan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendengarkan berarti :
1. Mendengar akan sesuatu dengan sungguh-sungguh, memasang telinga baik-baik untuk mendengar.
2. Memperhatikan, mengindahkan; menurut (nasihat, bujukan, dan sebagainya)

Tapi berapa banyak dari kita yang mendengarkan apa yang dibicarakan teman kita? Tidak sekadar mendengarkan, menunggunya selesai bicara dan kita melanjutkannya dengan topik pembicaraan lain?

Saya sering mengalami kejadian seperti ini. Seorang teman saya memulai pembicaraan. Saya dengarkan. Lalu saya ajukan pertanyaan. Entah tidak mendengar pertanyaan saya atau memang tidak ingin menjawab pertanyaan saya, teman saya itu tidak menjawab pertanyaan saya. Atau saat saya sedang ingin didengarkan, tidak ada yang mau mendengarkan. Mungkin karena pembicaraannya yang tidak menarik atau waktunya memang tidak tepat. Entahlah.

Karena itulah saya lebih banyak berdiam diri jika ada sesuatu yang mengganggu saya. Menjauh sebentar dari orang yang membuat saya marah atau sedih. Mencoba mengintrospeksi diri sendiri, apa yang membuat seseorang itu bisa mengeluarkan perkataan yang membuat saya marah atau sedih.

Dari pengalaman itu, saya akhirnya bisa menjadi orang yang lebih sabar, tidak terlalu cepat mengumbar kejelekan orang lain dengan menceritakan hal-hal yang membuat saya marah.

Mencoba menjadikan diri ini sahabat terbaik bagi diri saya sendiri dan tentu mendekatkan diri pada Tuhan, tidak hanya pada saat susah, tetapi juga saat senang. Semoga saja.

04 September 2008

Kepercayaan dan Kejujuran

Setiap orang pasti ingin dipercaya atau menjadi orang kepercayaan. Tetapi seberapa sering kita bertanya kepada diri sendiri, sudahkah kita pantas menerima kepercayaan? Sudahkah kita bisa menjadi sosok yang amanah saat kita dititipkan sesuatu atau meminjam sebuah buku misalnya? Yah, kadang kita suka menganggap remeh hal-hal kecil seperti itu. Akan tetapi, justru hal kecil seperti itulah yang menjadikan kita bisa dipercaya atau tidak. Jika dari hal kecil kita bisa dipercaya, besar kemungkinan kita dapat dipercaya untuk hal-hal yang besar.

Untuk itu, janganlah pernah berpikir untuk bermain-main dengan kepercayaan yang telah dipercayakan kepada kita. Saya pernah mengalami hampir kehilangan rasa kepercayaan teman saya. Saat itu, sebut saja di A, menelepon si B dan memintanya untuk ke kantor walaupun sebenarnya si B hari itu libur. Sebenarnya si A hanya iseng dan meminta saya berpura-pura mendukung ceritanya. Si B kemudian menelepon saya dan mengkonfirmasi berita yang di dengarnya dari si A. Saya membenarkannya walaupun sebenarnya hati saya berteriak untuk mengatakan tidak.

Sampailah si B di kantor. Dia mengatakan bahwa dia langsung berkendara dari Bogor ke Jakarta dan semalaman belum tidur. Setelah mengetahuinya, timbul rasa bersalah pada diri saya. Dan saya langsung mendapatkan hukuman yang setimpal. Saat makan siang, si A mengatakan pada si B bahwa ide untuk meminta si B datang ke kantor adalah ide saya. Marah, marah dan marah hati ini. Kepercayaan yang saya bangun dicampakkan di depan muka saya sendiri. Walaupun tadinya hanya keisengan belaka, berubah menjadi hancurnya kepercayaan si B kepada saya yang sudah susah payah saya jaga. Saya sangat menyesal karena mendengarkan ajakan si A, padahal saya lebih lama berteman dengan si B.

Untuk itu berhati-hatilah dengan kepercayaan orang lain terhadap kita. Karena sulit untuk membentuk kepercayaan yang dalam waktu singkat bisa luluh lantak hanya karena keisengan belaka. Dan akhirnya saya tidak akan pernah lagi berbohong, walaupun hanya untuk keisengan. Sata tidak lagi mau menjadi kambing hitam untuk orang lain.