28 November 2009

Para Penghuni Laut Gelap, Koran Tempo, Rabu, 25 November 2009

OSLO -- Laut dalam yang selalu gelap adalah rumah bagi beragam jenis binatang, dari ubur-ubur bercahaya sampai tubeworm, yang hidup dari rembesan minyak di dasar laut. Keanekaragaman binatang yang hidup tanpa cahaya matahari itu ternyata jauh lebih banyak daripada yang diperkirakan, kata para ilmuwan kelautan, Minggu lalu.

Total ada 17.650 spesies binatang, termasuk udang, koral, bintang laut, dan kepiting, yang teridentifikasi hidup di perairan teramat dingin sedalam 5 kilometer, yang tak pernah tertembus cahaya matahari. "Keanekaragaman kehidupan di laut dalam itu jauh lebih besar daripada yang kami yakini," kata Robert Carney dari Louisiana State University, yang memimpin studi tentang laut dalam sebagai bagian dari perluasan proyek international Census of Marine Life.

Proyek Census of Marine Life berlangsung selama 10 tahun dan dijadwalkan selesai pada Oktober 2010. Untuk melakukan sensus di laut gelap itu, tim ilmuwan menggunakan berbagai peralatan kamera dan sonar berteknologi canggih. "Laut dalam itu kini bukan lubang gelap lagi," ujarnya.
Cahaya matahari biasanya mampu menembus hingga kedalaman 200 meter. Dan, zona di luar itu dianggap sebagai sebuah gurun dengan tekanan menghancurkan. Di luar area bercahaya yang memungkinkan tanaman tumbuh, setiap binatang harus mengeksploitasi bakteri, yang mengurai metan atau minyak serta makanan yang jatuh dari permukaan, semisal bangkai paus.
Di antara makhluk hidup tersebut, terdapat ubur-ubur bercahaya dan binatang lunak mirip gelatin yang dikenal sebagai oktopoda bersirip atau "dumbo" karena siripnya mirip telinga lebar dan mirip tokoh kartun gajah terbang.

Dumbo, binatang sepanjang 2 meter, adalah satu di antara beberapa penghuni laut dalam yang berukuran besar. "Makhluk besar lainnya adalah berbagai jenis hiu atau ubur-ubur siphonophore," kata Mike Vecchione dari Smithsonian Institution. "Siphonophore dilaporkan lebih panjang daripada seekor paus biru.

Di salah satu kawasan di Teluk Meksiko, para pakar biologi laut menemukan tubeworm pada kedalaman 990 meter di dasar laut. Ketika lengan robot mengangkatnya dari sebuah lubang di lantai laut, minyak tersembur ke luar. Para ilmuwan menyatakan binatang itu mengkonsumsi zat kimia dari minyak yang terurai.

Carney mengatakan perusahaan minyak dapat menggunakan keberadaan tubeworm ini sebagai indikasi adanya minyak sebagai alternatif survei geologi yang mahal. "Anda akan menemukan sumber minyak atau metana di dekatnya jika Anda menemukan tubeworm ini," ujarnya.

Meski laut dalam itu selalu diliputi kegelapan, tak berarti makhluk hidup di bawah sana tak mengenal cahaya karena banyak binatang yang menghasilkan cahaya sendiri. Mereka memiliki bagian-bagian tubuh yang mengeluarkan cahaya untuk membantu mereka mencari atau menarik mangsanya mendekat, bahkan untuk mencari pasangan. REUTERS

Soetanto, Mendidik dan Menggali Kepintaran oleh Nawa Tunggal

Di balik pencapaian gelar profesor dan empat doktor sekaligus dari empat universitas berbeda di Jepang, Ken Kawan Soetanto punya pengalaman penuh liku. ”Apa bisa orang Indonesia mengajar orang Jepang?” begitu ungkapan yang merendahkan dia sewaktu mengajukan diri menjadi dosen di salah satu universitas di Jepang setelah meraih gelar doktor keduanya pada 1988.

Dengan dana beasiswa Pemerintah Jepang dan semangat belajar tinggi, Soetanto, panggilannya, menjadi guru besar di beberapa universitas di Jepang. Di Amerika Serikat, tahun 1988-1993, ia menjadi associate professor di Universitas Drexel dan Universitas Thomas Jefferson, Philadelphia. Sejak 2005 ia menjadi guru besar Venice International University, Italia.

Keahlian Soetanto bisa ditelusuri dari minat studinya. Keempat gelar doktor dia peroleh di bidang aplikasi rekayasa elektronika dari Tokyo Institute of Technology (1985), ilmu kedokteran dari Universitas Tohoku (1988), ilmu farmasi dari Science University of Tokyo (2000), dan ilmu pendidikan dari Universitas Waseda (2003).

”Sejak 2003 saya memegang rekor gelar empat doktor sekaligus di Jepang,” katanya.
Dari pengembangan interdisipliner ilmu elektronika, kedokteran, dan farmasi, dia menghasilkan 29 paten di Jepang dan 2 paten di AS. Pencapaian riset dengan paten paling mutakhir diakui di Jepang, yakni The Nano-Micro Bubble Contrast Agent. Pemerintah Jepang melalui NEDO (The New Energy and Industrial Technology Development Organization) memberinya penghormatan sebagai penelitian puncak di Jepang dalam rentang 20 tahun, 1987-2007.

”Itu riset smart medicine atau obat cerdas yang mampu menelusuri sistem jaringan pembuluh darah untuk mencari sel-sel kanker dan melumpuhkannya,” kata Soetanto.

Mendidik itu menggali

”Negara tanpa riset akan lemah. Riset harus dikembangkan melalui pendidikan yang baik,” kata Soetanto.

Pemikiran mengenai pendidikan yang baik, menurut Soetanto, kembali pada pengertian to educe, yaitu untuk menggali. Pendidikan itu menggali kemampuan atau kepintaran diri setiap orang. Pendidikan tidak mendiskriminasikan kondisi fisik seseorang dan tidak membatasi kemampuan ekonominya.

Pendidikan untuk menggali kepintaran setiap orang, termasuk orang yang kehilangan semangat belajar atau yang dianggap bodoh. Pendidikan tidak hanya untuk orang kaya. Berdasarkan pengalaman Soetanto mengajar di Jepang, justru orang miskin memiliki kemauan belajar yang lebih tinggi.

”Berapa doktor dari Indonesia yang belajar ke luar negeri dengan membayar mahal, lalu pulang dan akhirnya tidak mengerjakan apa-apa?” sergahnya.

Soetanto dalam menjalankan proses pendidikan di Jepang tidak hanya berteori. Namun, ia berusaha benar-benar menggali kepintaran setiap peserta didik.

Metode Soetanto mengajar di Jepang sempat dikenal sebagai ”metode Soetanto” atau ”efek Soetanto”. Suatu pengajaran yang menyentuh hati setiap peserta didik dan mengumandangkan motivasi serta pemahaman tujuan yang ingin diraih.

”Manusia yang sebelumnya bodoh atau tak memiliki semangat belajar sama sekali harus didaur ulang supaya memiliki motivasi belajar dan bermanfaat bagi sesamanya,” ujarnya.

Pengalaman Soetanto pertama kali mengajar di Jepang adalah di Toin University of Yokohama pada 1993. Di universitas itu, sekitar 80 persen mahasiswa tidak memiliki motivasi belajar yang baik.

”Toin University of Yokohama itu universitas ’kelas bebek’, bukan universitas unggulan, sehingga motivasi belajar para mahasiswanya rendah,” katanya.

Soetanto berhasil mengubah keadaan. Mekanisme pengajarannya untuk pencapaian kesadaran penuh mengenai apa yang sedang dijalani siswa, dan mereka pun mengerti tujuan yang ingin diraih.

Energi tersembunyi

Berbagai penghargaan diterima Soetanto, antara lain Outstanding Achievement Awards in Medicine and Academia dari Pan Asian Association of Greater Philadelphia, AS, tahun 1990.

Ia juga meraih predikat profesor riset terbaik dan profesor mengajar terbaik selama tujuh tahun berturut-turut (1994-2000) di Toin University of Yokohama.

Soetanto termasuk kategori satu di antara tiga pemohon paten paling terkemuka di Jepang. Sejak 2003 dia menjadi guru besar di Universitas Waseda dan menjabat Kepala Divisi Urusan Internasional. Dia juga menjadi orang pertama dari luar Jepang dalam 125 tahun terakhir ini yang diajukan menduduki jabatan setingkat kepala divisi di Universitas Waseda.

Sampai kini lebih dari 1.100 karya ilmiah Soetanto telah dipublikasikan. Dalam menjalani sejumlah aktivitas tersebut, kata Soetanto, ia merasa ada hidden power (energi tersembunyi).

Energi tersembunyi itu

terlahir dari perasaan terhina sebagai orang Indonesia yang masih diremehkan di Jepang. Di Indonesia, Soetanto juga pernah merasakan terbuang.

Tahun 1965, ketika terjadi pergolakan politik menentang komunisme, hak mendapat pendidikan Soetanto terampas. Sekolahnya, Chung-Chung High School di Surabaya, ditutup untuk selamanya. Soetanto hanya menyelesaikan pendidikan sampai kelas I SMA.

Selama tak lagi bersekolah, dia bekerja mereparasi elektronik di toko abangnya di Surabaya. Setelah uang terkumpul, berangkatlah dia ke Jepang tahun 1974 untuk belajar lebih jauh mengenai elektronika.

Pada 1977 Soetanto mengikuti ujian negara di Jepang dan berhasil menjadi mahasiswa Fakultas Teknik dan Pertanian Universitas Tokyo.



***


KEN KAWAN SOETANTO ATAU CHEN WEN QUAN

• Lahir: Surabaya, 1951

• Istri: Jennie Hermanto (58)

• Anak: - Nerrie (32), Jun Adi (29), Ainie (25)

• Pendidikan:

- SD Ta Chung Surabaya (kelas I-II), SD Shi Hwa (kelas II-III), SD Ming Jiang (kelas IV-VI)
- SMP Chung-Chung - SMA Chung-Chung, sampai kelas I pada 1965
- 1965-1974 tak bersekolah, bekerja mereparasi produk elektronik
-1974: ke Osaka, Jepang
- 1977: S-1 Universitas Tokyo, Fakultas Teknik dan Pertanian
- Meraih doktor di bidang aplikasi rekayasa elektronika dari Tokyo Institute of Technology (1985), doktor dalam ilmu kedokteran dari Universitas Tohoku (1988), doktor ilmu farmasi dari Science University of Tokyo (2000), dan doktor ilmu pendidikan dari Universitas Waseda (2003)
- 1988-1993: menjadi associate professor di Drexel University dan School of Medicine, Universitas Thomas Jefferson, Philadelphia, AS
- 1993-kini: guru besar di Toin University of Yokohama, Jepang
- 1997-kini: Komite Evaluasi Tokyo Institute of Technology
- 2003-kini: guru besar School of International Liberal Studies di Universitas Waseda

Sumber : Kompas, Selasa, 17 November 2009

A strong woman vs A woman of strength (Author Unknown)

A strong woman works out every day to keep her body in shape… but a woman of strength kneels in prayer to keep her soul in shape.

A strong woman isn’t afraid of anything… but a woman of strength shows courage in the midst of her fear.

A strong woman won’t let anyone get the best of her… but a woman of strength gives the best of her to everyone.

A strong woman makes mistakes and avoids the same in the future… A woman of strength realizes life’s mistakes can also be God blessings and capitalizes on them.

A strong woman walks sure footedly… but a woman of strength knows God will catch her when she falls.

A strong woman wears the look of her confidence on her face… but a woman of strength wears grace.

A strong woman has faith that she is strong enough for the journey… but a woman of strength has faith that it is in the journey that she will become strong.

Source : http://www.youtube.com/watch?v=98gc7wFjLv4

Menyiapkan CEO Andal

Menyiapkan CEO Andal

Butuh pengenalan dan pembibitan manajer-manajer berpotensi tinggi sejak dini untuk menyiapkan pemimpin penerus. Berikut tips mendapatkan CEO andal :


Perluas Jangkauan Mereka

Para staf potensial sebaiknya dirotasi ke berbagai posisi, diganti tanggung jawab tiap 3-5 tahun bahkan
mesti memindahkannya hanya di level yang sama. Namun, para manajer semestinya berada di suatu posisi dalam waktu yang cukup lama untuk bisa dilihat hasil karyanya – baik atau buruk. Tapi, tidak juga terlalu lama karena dapat membuat mereka bosan.


Biarkan pengamatan menjadi guru

Berikan kesempatan pada para pegawai potensial untuk melewatkan waktu bersama atasan bahkan mengikuti sang atasan sampai kira-kira seminggu untuk melihat bagaimana keputusan diambil dan dilaksanakan. Orang dapat lebih mempelajari keahlian manajemen melalui pengamatan ketimbang hanya mendengar.


Dorong para pegawai untuk beropini

Berikan kepada pegawai potensial ruang yang cukup untuk menyatakan ketidaksetujuan mereka terhadap keputusan manajemen. Komunikasi top-down akan membuat calon pemimpin yang potensial kabur dan sistem ini berpotensi membuat generasi penurut yang mungkin tidak akan menghasilkan CEO yang baik.


Buka akses bagi staf ke dewan direksi

Izinkan staf yang berpotensi untuk menyampaikan presentasi di depan dewan direksi : sehingga para manajer mengetahui apa yang penting di mata para direktur, dan direktur dapat melihat talenta yang tersembunyi. Pertimbangan calon kuat dari dalam atau dari luar dewan direksi perusahaan.


Pertahankan jaringan

Jika kandidat utama pergi ke perusahaan lain dan kemudian kembali lagi, anggap pengalamannya sebagai suatu yang berguna, bukan sebagai pengkhianatan.

Seputar Indonesia, Minggu, 18 Oktober 2009

Rahasia Perempuan dengan Bayaran Termahal

Rahasia Perempuan dengan Bayaran Termahal

Mendapatkan bayaran termahal bukan masalah kemampuan, kecerdasan, atau kualitas pekerjaan. Lebih jauh dari hal itu, ada hal sederhana namun lebih dalam yang diperlukan agar layak mendapatkan bayaran mahal. Lima perempuan dengan bayaran termahal di dunia berikut ini memberikan tipsnya dan berbagi cerita sebagaimana dikutip dalam situs yahoo.com dan marieclaire.com berikut ini:

1. Menjadi diri sendiri.
Kalimat ini terdengar klise dan sering diucapkan banyak orang. Namun jangan salah, menjadi diri sendiri adalah prinsip hidup CEO PepsiCo Indra Khisnamurthy Nooyi. Wanita kelahiran India ini dinobatkan sebagai wanita dengan gaji tertinggi di Amerika Serikat dan ke-10 di dunia versi Majalah Fortune pada tahun 2009 ini dengan bayaran USD 14,9 juta dolar per tahun. Nooyi juga mendapatkan peringkat satu sebagai wanita paling berpengaruh tahun 2009 ini. Dalam kesehariannya, wanita kelahiran 28 Oktober 1955 ini, ternyata lebih suka mengenakan pakaian tradisional India, sari, dibandingkan baju-baju modern.

2. Nama adalah merk, jadi harus dijaga dengan baik.
“Saya sangat berhati-hati dengan brand yang menempel pada nama kita,” ujar selebriti chef dengan bayaran termahal Rachel Ray.

3. Jangan buang-buang energi untuk melawan orang yang membenci Anda.
“Saya tidak bisa berharap semua orang akan menyukai apa pun yang saya lakukan,” ujar penyanyi dengan bayaran termahal Beyoncé Knowles.

4. Pastikan pasangan mendukung Anda.
“Saya biasa pulang ke rumah larut malam setelah menghadiri meeting di kantor, dan saya hanya bilang ke suami saya, 'Sori, aku terlambat', dan suami saya cuma geleng-geleng kepala. Suami saya memang baik sekali,” ujar Sallie Krawcheck, mantan Chief Financial Officer dan Head of Strategy Citigroup yang juga peraih Most Powerful Women in Business dari Majalah Forbes.

5. Posisikan diri Anda untuk pekerjaan yang Anda inginkan.
“Ketika saya masih meniti karier menuju puncak di dunia tenis, saya tidak pernah mengatakan ingin menjadi nomor dua. Saya katakan, saya ingin menjadi nomor satu,” demikian ujar atlet dengan bayaran termahal, Maria Sharapova.

Seputar Indonesia, Minggu, 18 Oktober 2009

Kyle Smitley, pengusaha muda Amerika Serikat

“Ciptakan Pakaian Ramah Lingkungan bagi Anak-anak”

Gadis lulusan De Pauw University tahun 2007 dan baru berusia 24 tahun ini masuk ke dalam daftar 30 under 30 : America's Coolest entrepreneurs. Gadis ini dikenal dekat dengan anak-anak dan lingkungan.

Maka pada tahun 2007, Kyle mendirikan Barley & Birch, perusahaan pakaian berbahan organik yang dikhususkan untuk anak-anak usia 3 bulan hingga 6 tahun.

Dia ingin mengajak masyarakat untuk beralih ke pakaian organik, karena menurut Kyle, proses pembuatan katun turut merampas 25% populasi serangga yang tersebar di dunia. Penggunaan kapas organik tidak akan menimbulkan polusi dan kerusakan lingkungan.

Untuk menunjang promosi Barley & Birch, Kyle “menggandeng” beberapa figur publik yang memiliki anak berusia di bawah 5 tahun, seperti aktris Jessica Alba dan penyanyi country Sherryl Crow.

Hingga kini, Kyle telah menyisihkan 30% dari keuntungan Barley & Birch untuk menyokong aktivitas lembaga pelestarian lingkungan, diantaranya Green America, COCODA, 1% for the Planet, dan carbonfund.org.

Dirangkum dari Harian Seputar Indonesia, Sabtu, 17 Oktober 2009.

Kelelawar mengidentifikasi dengan menggunakan suara

French version

Les chauves-souris se reconnaissent à la voix

Le système d’écholocalisation que les grands murins (Myotis myotis) utilisent pour se guider serait aussi un moyen d’identification, d’après une étude acoustique de Yossi Yovel et Mariana Laura Melcon, de l’université de Tübingen (Allemagne).

Leurs appels sont certes très différents selon l’objectif (chasser ou communiquer) mais leurs vocalisations posséderaient des caractéristique permanentes (comme la fréquence), qui permettraient aux individus de se distinguer.

Une découverte précieuse pour la compréhension des comportements sociaux de ces mammifière.

Science et vie, août 2009


English version

The bats recognize themselves to voice

The system of echolocation that the big bats (Myotis myotis) use to guide itself would be also a means of identification, according to an acoustic study of Yossi Yovel and Mariana Laura Melcon, of the university of Tübingen (Germany).

Their calls are of course very different according to the objective (to hunt or communicate) but their vocalizations would possess permanent characteristics (as the frequency), that would allow the individuals to distinguish itself.

A precious discovery for the comprehension of the social behaviors of these mammals.


Versi Indonesia

Kelelawar mengidentifikasi dengan menggunakan suara

Sistem identifikasi obyek dengan menggunakan suara pada kelelawar besar (Myotis myotis) yang digunakan untuk memandu mereka juga merupakan alat identifikasi menurut penelitian akustik Yossi Yovel dan Mariana Laura Melcon dari Universitas Tübingen (Jerman).

Suara mereka tentu saja sangat berbeda berdasarkan tujuan (berburu atau berkomunikasi) tapi vokalisasi mereka memiliki karakteristik permanen (seperti frekuensi), yang memungkinkan tiap individu membedakan diri mereka masing-masing.

Sebuah temuan berharga untuk mengerti perilaku sosial hewan mamalia ini.

Diketahui penyebab sel membelah diri

French Version

On sait ce qui déclenche la division cellulaire

Une cellule sait quand elle est assez grande pour se diviser grâce à la protéine Pom1, ancrée à ses extrémités.

Selon deux généticiennes de l’université de Lausanne qui ont étudié la levure Schizosaccharomyces pombes au coeur d’une petite cellule, Pom1 inhibe la division.

Mais quand la taille de la cellule dépasse 13 micromètres, le centre devient trop éloigné des extrémités, et le signal de Pom1 n’est plus assez fort : la division est déclenchée.

Science et vie, août 2009.


English Version

We know what releases the cell division

A cell knows when it is big enough to divide itself thanks to the protein Pom1, infuse to its extremities.

According to two geneticists of the university of Lausanne that studied the yeast Schizosaccharomyces pombes to the heart of a small cell, Pom1 inhibits the division.

But when the size of the cell surpasses 13 micrometres, the center becomes too far from the extremities, and the signal of Pom1 no longer strong: the division is released.



Versi Indonesia

Diketahui penyebab sel membelah diri

Sebuah sel tahu saat ia sudah cukup besar untuk membelah berkat protein Pom1, yang ada di ujung sel.

Menurut dua ahli genetika dari Universitas Lausanne yang meneliti ragi di dalam inti sel Schizosaccharomyces pombes, Pom1 menghalangi pembelahan.

Tetapi saat ukuran sel melewati 13 mikrometer, pusat sel menjadi terlalu jauh dari ujung sel, dan sinyal dari Pom1 tidak lagi kuat : pembelahan terjadi.

Belajar diperkuat saat tidur

French Version

L’apprentissage est bien consolidé lors du sommeil

N’a-t-on jamais conseillé de bonnes nuits de sommeil aux étudiants? Adrien Peyrache et ses collègues du Laboratoire de physiologie de la perception et de l’action (Collège de France) ont donné raison au bon sens populaire en analysant l’activité cérébrale de rats en phases d’apprentissage puis de sommeil.

Conclusion : les neurones activés durant l’apprentissage sont réactivés pendant le sommeil. “Mieux encore, les neurones réactivés sont ceux qui étaient actifs au moment précis où le rats trouvait la bonne stratégie pour accéder à la récompense. Cela signifie que le cerveau réactive, et donc consolide préférentiellement les informations les plus importantes,” explique Adrien Peyrache.

Les chercheurs ont aussi montré que la consolidation est facilitée par l’hippocampe, qui enregistre l’activité du néocortex pendant l’apprentissage puis lui renvoie.

Science et vie, août 2009



English Version

Learning is well strengthen at the time of sleeping

Never advised good nights sleep to the students? Adrien Peyrache and his colleagues of the Laboratory of physiology of the perception and action (College of France) gave reason to the popular common sense while analyzing the cerebral activity of rats in stages of learning then of sleep.

Conclusion: the activated neurones during learning are revived during sleep. "Better again, the revived neurones are those that were active to the precise moment where the rats found the good strategy to attain the reward. That means that the brain revives, and therefore strengthen preferentially the informations more important," explains Adrien Peyrache.

The researchers also showed as the strengthen is facilitated by the hippocampus, that records the activity of the neocortex during learning then sends back for it.



Versi Indonesia

Belajar diperkuat saat tidur

Apakah Anda tidak pernah menyarankan tidur yang baik kepada para pelajar? Adrien Peyrache dan rekan-rekannya dari Laboratorium Fisiologi Indra Penglihatan dan Aksi (College of France) memberikan alasan bagi anggapan umum saat menganalisa aktivitas otak tikus saat belajar dan tidur.

Kesimpulan : syaraf yang aktif saat belajar diaktifkan kembali saat tidur. “Lebih baik lagi, syaraf yang diaktifkan kembali adalah syaraf yang aktif saat tikus menemukan cara tepat untuk mendapatkan upah. Itu artinya otak diaktifkan kembali, dan karenanya memperkuat terutama informasi yang penting”, jelas Adrien Peyrache.

Para peneliti juga menunjukkan bahwa penguatan itu difasilitasi oleh hippocampus, yang merekam aktivitas dari neokorteks selama belajar dan dikirimkan kembali ke hippocampus.

Para ayah berinvestasi lebih banyak ke anak yang mirip dengan dirinya.

French Version

Les pères investissent davantage les enfants qui leur ressemblent.

C’est la conclusion d’une étude menée dans des villages sénégalais traditionnels par l’equipe de Michel Raymond, de l’université de Montpellier.

Pour établir un “indice d’investissement”, les pères et mères de trente familles devaient d’abord évaluer l’engagement du géniteur dans l’éducation de leurs enfants, de 2 à 7 ans : présence, affection, argent, etc.

Les chercheurs ont ensuite demandé à des personnes étrangères au village de retrouver le père de chaque enfant parmi plusieurs photos, puis en comparant des T-shirts imprégnés de leur odeur, pour construire un “indice de ressemblance”.

Le croisement des deux indicateurs montre que le père accorde davantage d’attention au fils ou à la fille qui a le visage et l’odeur les plus proche de lui, deux indices de proximité génétique.

L’investissement paternel est donc bien influencé par la reconnaissance d’un lien filial.

Cette étude confirme également que l’investissement du père a un influence positive sur la croissance et l’epanouissement de l’enfant.

Les chercheurs mènent actuellesment une étude similaire en France.

Science et vie, août 2009


English Version

The fathers invest more to the children that resemble to them.

This is the conclusion of a conducted study in Senegalese traditional villages by the team of Michel Raymond, of the university of Montpellier.

To establish a "sign of devotion", the fathers and mothers of thirty families had first to evaluate the engagement of the parents in the education of their children, from 2 to 7 years: presence, affection, money, etc.

The researchers next asked strangers to go to the village to find the father of every child among several photos, while comparing of the T shirts impregnated of their odor, to construct a "resemblance sign".

The crossroads of the two indicators show that the father grants more attention to the son or to the daughter that has the face and the odor more close to him, two signs of genetic proximity.

The paternal investment is therefore well influenced by the recognition of a filial link.

This study confirms equally that the investment of the father has a positive influence on the growth and the development of the child.

The researchers take a similar study in France.


Versi Indonesia

Para ayah berinvestasi lebih banyak ke anak yang mirip dengan dirinya.

Itu adalah hasil kesimpulan dari penelitian di desa-desa tradisional Senegal yang dilakukan oleh tim dipimpin Michel Raymond dari Universitas Montpellier.

Untuk membuat “tanda rasa sayang”, para ayah dan ibu dari 30 keluarga pertama-tama harus menaksir keterlibatan orang tua dalam hal pendidikan dari anak-anak mereka, dari usia 2 hingga 7 tahun : kehadiran, kasih sayang, uang dan sebagainya.

Para peneliti kemudian meminta orang asing datang ke desa untuk menemukan ayah dari setiap anak dari beberapa foto, sementara membandingkan T-shirt yang telah ada aroma tubuh mereka, untuk memberikan gagasan “tanda kesamaan”

Pertemuan dari kedua tanda itu menunjukkan bahwa para ayah memberikan perhatian lebih kepada anak laki-laki atau anak perempuan yang memiliki wajah dan aroma tubuh yang mirip dengannya, dua tanda kedekatan genetik.

Investasi paternal dipengaruhi oleh pengenalan mata rantai keturunan.

Penelitian ini menegaskan bahwa investasi dari ayah memiliki pengaruh positif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Para peneliti juga mengadakan penelitian yang sama di Prancis.

Televisi memperlambat anak berkomunikasi

French version

La télévision retarde l’acquisition du langage

Lorsque la télévision est allumée, les jeunes enfants diminuent la fréquence et la durée de leurs vocalises, même s’ils ne la regardent pas. Et, de la même manière, les parents parlent moins à leur enfants.

Telles sont les conclusions de l’étude menée par Dimitri Christakis, chercheur à l’université de Washington.

Ses collègues et lui on fourni aux parents de 329 enfants âgés de 2 à 48 mois un appareil enregistrant tous les sons émis et reçues par les enfants, et leur ont demandé d’effectuer un enregistrement en continu un jour par un mois pendant deux ans.

Leurs résultats sons appel : pour chaque heure supplémentaire durant laquelle le téléviseur fonctionne, les parents emploient entre 500 et 1000 mots de moins que lorsqu’il est éteint.

D’après les chercheurs, cette absence de communication et d’interactions entre parents et enfants aurait pour conséquence de retarder le dévelopement du langage chez ces derniers.

Science et vie, août 2009


English Version

The television delays the language acquisition

When the television is on, the children diminish the frequency and the length of their vocalize, even if they don’t watch it. And, same manner, the parents speak less to their children.

That were the conclusions of the studies conducted by Dimitri Christakis, researcher to the university of Washington.

His colleagues and him furnished the parents of 329 children of age 2 to 48 months a recording device to record all the emitted sounds and received by the children, and asked them to carry out a recording continuously one day a month for two years.

The results : for additional every hour during which the television set was on, the parents employ between 500 and 1000 words of less than when it is off.

According to the researchers, the consequence of this absence of communication and interactions between parents and children is the delay of the children’s language development.


Versi Indonesia

Televisi memperlambat anak berkomunikasi

Saat televisi dinyalakan, balita kehilangan frekuensi dan durasi berbicara, walaupun mereka tidak menonton televisi. Dan dengan cara yang sama, para orangtua juga lebih sedikit berbicara kepada anak mereka.

Itu adalah hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Dimitri Christakis, peneliti dari Universitas Washington.

Dimitri bersama rekan kerjanya menyediakan sebuah alat rekam kepada orangtua dari 329 balita berusia 2 hingga 48 bulan untuk merekam suara yang dikeluarkan atau diterima oleh anak-anak mereka dan meminta para orangtua untuk merekam sehari dalam satu bulan selama 2 tahun.

Hasilnya : untuk tiap satu jam televisi menyala, para orangtua menggunakan 500 hingga 1000 kata lebih sedikit daripada saat televisi tidak menyala.

Menurut para peneliti, tidak adanya komunikasi dan interaksi antara orangtua dan anak merupakan akibat dari terlambatnya perkembangan bahasa pada anak-anak.

Kiat Menumbuhkan Rasa Percaya Diri

Kepercayaan diri merupakan salah satu faktor yang dapat membawa seseorang pada kesuksesan. Namun dalam kenyataannya untuk memperoleh hal tersebut bukanlah persoalan yang mudah. Untuk itu berikut adalah langkah yang dapat ditempuh untuk mulai menumbuhkan rasa percaya diri.

Pertama yang harus Anda lakukan adalah mencari waktu luang yang cukup untuk melihat bidang apa saja dalam kehidupan yang membuat Anda merasa mampu untuk menghadapinya. Tengoklah ke masa yang lalu dan ingat hal-hal baik apa saja yang pernah Anda lalui.

Dengan hati dan pikiran yang tenang buatlah semacam daftar yang berisi kemampuan atau keahlian yang unik. Misalnya Anda pandai menggambar, menulis, membaca dan berjalan cepat atau keahlian/kelebihan lain yang mungkin tidak semua orang dapat melakukannya sebaik Anda. Tidak usah berpikir tentang hal-hal yang besar, hal sederhana pun jika dilatih terus menerus akan menjadi nilai yang sangat berharga yang patut dibanggakan. Jangan lupa juga untuk mensyukuri apa yang Anda miliki, karena mungkin tidak semua orang seberuntung Anda. Misalnya saja dalam hal kesehatan, banyak orang harus berjuang melawan penyakit tertentu, sedangkan Anda tidak. Intinya Anda harus mengembangkan sisi positif dalam diri. Ingat pula kejadian-kejadian yang membuat Anda merasa bangga, kalau ini sudah dilakukan maka Anda telah selangkah lebih maju menjadi orang yang penuh percaya diri.

Sekarang pikirkan rencana dan mimpi-mimpi yang belum terwujud. Jika Anda merasa sulit untuk menemukan atau merasa sudah meraih semua mimpi, cobalah berpikir untuk merambah ke bidang-bidang yang belum pernah disentuh atau mencari sesuatu yang bisa membuat Anda lebih berbahagia bersama orang yang Anda cintai.

Sebaliknya jika Anda merasa ada begitu banyak mimpi yang belum tercapai, segera bangun berdiri dan buat rencana matang untuk mengejarnya. Untuk bisa mencapai mimpi ini mungkin membutuhkan waktu lama. Tapi jangan khawatir, memiliki rencana dan mengatur strategi untuk mengejar mimpi merupakan satu hal yang akan membuat hidup menjadi lebih bermakna. Jangan lupa untuk sesekali melakukan kilas balik untuk mengetahui sejauh mana perkembangan yang telah dilalui, mungkin Anda akan kaget melihat hasilnya nanti.

Kepercayaan diri adalah sesuatu yang hanya Anda sendiri yang bisa meraihnya, bukan orang lain. Untuk itu tetap bersemangat, sabar dan terus berdoa menjadi sesuatu yang tidak boleh dilupakan. Sukses selalu.

(Karier, Kompas, Rabu, 19 November 2008)

The Art of Happiness

Kalau berbicara kebutuhan dasar manusia, itu mudah dijelaskan. Papan, pangan, pakaian dan kesehatan. Jika keempatnya sudah terpenuhi, seseorang sudah memiliki modal pokok untuk meraih prestasi dan kebutuhan lain yang lebih tinggi, misalnya pendidikan, rekreasi, dan tabungan hari depan.

Tetapi begitu berbicara soal kebahagiaan (happiness), penjelasan dan pemenuhannya cukup rumit. Sulit menjelaskan dan membuat definisi tentang apa itu kebahagiaan serepot membuat definisi agama. Begitu pun definisi cinta dan porno – yang ternyata begitu beragam definisi yang dimunculkan.

Secara sederhana, kebahagiaan adalah suasana hati, emosi dan perasaan nyaman, puas, lega yang sebisa mungkin perasaan itu tidak hilang. Kalaupun hilang, ingin dihadirkan lagi dan lagi. Hanya saja, tingkat kebahagiaan orang berbeda-beda, begitu pun sumbernya. Lebih dari itu sesungguhnya, sulit untuk membanding-bandingkan kebahagiaan orang mengingat setiap pribadi punya hak dan kebebasan untuk membuat ukuran dan memaknai kebahagiaannya sendiri.

Perlu seni untuk mendapatkan kebahagiaan. Sekadar contoh, mari bayangkan, ada lima orang yang masing-masing diberi hadiah gitar. Meskipun wujud barangnya sama, pasti makna dan fungsinya akan berbeda-beda ketika masing-masing telah memilikinya. Mungkin saja ada yang kemudian menjualnya karena sama sekali tidak pintar memainkan. Namun, bagi seorang gitaris yang kebetulan tidak punya, pasti akan sangat senang lalu dimainkannya untuk menghibur diri dan orang lain.

Coba bayangkan lagi sebuah gitar, jumlah senarnya ada tujuh sesuai dengan not lagu, namun sudah berapa ribu jumlah nyanyian yang tercipta dengan nada yang tujuh itu?

Jadi, hal-hal kecil, ketika bertamu dengan mereka yang memiliki keterampilan olah seni, hal yang tampaknya kecil dan sepele itu, akan berubah jadi indah, mendatangkan senang dan bahagia bagi dirinya dan bagi orang lain. Mereka yang memiliki seni melukis, dengan modal kanvas, cat dan kuas, akan mendatangkan sumber kebahagiaan, bahkan nilai komersial yang tinggi ketika melahirkan lukisan yang bagus. Tetapi bagi yang tidak memiliki bakat seni, kuas, cat dan kanvas tidak banyak berarti. Sekarang ada sebuah teori, melukis merupakan salah satu cara untuk melepaskan berbagai rasa stres yang mengendap dalam diri seseorang.

Dalam sebuah kreasi seni, unsur perasaan, imajinasi, dan pemaknaan sangat penting, di samping ketrampilan tangan. Hal-hal yang kelihatannya kecil dan kurang berharga secara materi bisa berubah menjadi karya seni yang indah dan penuh makna bagi orang-orang yang pandai menggubah dan memaknainya.

Nah, bukankah hidup tak ubahnya dengan seni melukis ataupun memainkan gitar? Bukankah kehidupan layaknya sebuah permainan sepakbola atau golf? Ruang dan waktu yang tersedia merupakan kanvas yang di atasnya akan kita lukis dengan aneka ragam aktivitas. Kita memiliki batasan sekaligus kebebasan, sebagaimana dalam bermain sepakbola. Di sana ada ketentuan berapa luasnya lapangan, jumlah pemain dan sekian aturan yang mesti ditaati. Dalam lingkup keterbatasan dan peraturan itulah sebuah permainan diselenggarakan dan berubah menjadi perjuangan untuk berprestasi sekaligus panggung festival seni yang mengasyikkan dijalani dan ditonton.

Disayangkan, permainan sepakbola kita belum sampai pada tingkat sebuah festival seni yang begitu indah dinikmati sebagaimana klub-klub Eropa. Yang kadang terjadijustru tawuran dan perkelahian. Di sini, tanpa disadari, menunjukkan tingkat kecerdasan, etika, dan seni bangsa ini yang masih rendah. Ingin menang, namun tidak siap kalah. Padahal kekalahan dalam sebuah permainan tak kalah penting dari keinginan untuk menang. Di situ terdapat dimensi lain yang sangat substansial, yaitu seni dan festival kehidupan.

Demikianlah, untuk meraih kebahagiaan perlu melibatkan ketrampilan dan penghayatan seni, kecerdasan, dan ketrampilan sebagaimana dalam sport. Yang tak kalah unik dan menarik adalah permainan golf yang sarat makna. Objek yang dimainkan adalah bola kecil dalam lapangan yang begitu luas, tujuan akhirnya bagaimana memasukkan bola ke lubang tujuan yang juga kecil, dengan pukulan sesedikit mungkin. Namun, di depannya dihadang berbagai rintangan yang sengaja dibuat, semisal kolam, semak-semak dan lapangan yang berkelok-kelok.

Ketika berhasil memukul bola lalu bola itu terbang lurus dan tinggi mendekati target, muncul rasa bahagia sekali pada diri seorang golfer. Begitu pun ketika berhasil melayangkan bola melewati berbagai jebakan dengan jarak dan arah yang tepat, di situ muncul kebahagiaan dan kepuasan batin yang hanya bisa dimengerti oleh golfer. Yang tak kalah membahagiakan, ketika dari jauh bisa memasukkan bola yang kecil itu ke lubang akhir yang juga kecil. Sejak dari pukulan pertama sampai tujuan akhir merupakan serial perjuangan berkesinambungan yang menantang. Di situ diperlukan kesabaran, konsistensi, antusiasme menghadapi tantangan, dan sikap rendah hati, serta harus memegang prinsip kejujuran dalam menghitung skor.

Demikianlah, bukankah hal serupa juga terjadi pada kehidupan? Untuk meraih bahagia, diperlukan sebuah seni untuk merangkai dan memaknai potongan serta serial aktivitas kita sehari-hari dengan kecerdasan, kejujuran pada diri sendiri, serta kreativitas untuk menggubah hal-hal yang tampaknya kecil agar menjadi besar dan bermakna.

Dalam bahasa agama, ada beberapa kata kunci untuk mendapatkan kebahagiaan yang bermakna. Kata kunci itu antara lain ialah ikhlas dalam melakukan setiap tindakan. Didasari niat sebagai pengabdian dan rasa syukur pada Tuhan (ibadah), setiap tindakan hendaknya bermanfaat bagi diri dan orang lain. Ada rasa senang dalam melakukan karena yakin Tuhan dan para malaikat senantiasa mengawasinya dan menjanjikan imbalan sekecil apapun yang dilakukan. Di atas semua itu, suatu perbuatan akan mendatangkan rasa bahagia kalau dilakukan berdasarkan dorongan hati kecilnya yang senantiasa mengajak pada kebaikan, kebenaran, dan keindahan.

Perbuatan ikhlas yang membahagiakan bagaikan putik bunga yang sedang berproses mekar setelah mekar bunga itu membuat sekitarnya kagum dan senang melihatnya, bahkan orang pun akan memetik untuk memilikinya. Bunga tadi mekar bukan untuk pamer, tetapi menjadi dirinya sendiri karena dia tercipta untuk menghiasi kehidupan. Sesungguhnya setiap orang memiliki putik bunga yang jauh lebih indah bersemayam di hati dan pikiran yang ditanamkan oleh Tuhan ke dalam fitrah manusia. Kalau keduanya mekar, maka tangan, kaki, mata dan mulut serta organ tubuh lain akan membantu mengekspresikannya menjadi tutur kata dan tindakan yang indah dan menyenangkan dilihat dan dirasakan, baik oleh diri maupun orang lain.

Di situ muncul sebuah karya lukis kehidupan yang membahagiakan. Untuk meraihnya tidak mesti mengeluarkan biaya mahal. Kapan pun dan dimana pun kita bisa berkarya dan menciptakan kebahagiaan, asal memiliki kepekaan, kehalusan rasa, dan kecerdasan untuk merajut potongan-potongan aktivitas hidup agar bermakna dan indah bagaikan sekuntum bunga yang mekar.

(Prof. Dr. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Koran SINDO)

Belajar dari Semangat Pendidikan Jepang

Ketika mendengar Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom dalam Perang Dunia II, pertanyaan pertama yang dilontarkan Kaisar Hirohito adalah berapa orang guru yang selamat. Ini menegaskan, pendidikan merupakan prioritas utama Kaisar Hirohito.

Pasca Perang Dunia II, Jepang pun segera bangkit menjadi salah satu negara paling maju di dunia. Pendidikan tentu berperan besar di sana. Guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, Sampoerna Foundation Teacher Institute (SFTI) menggelar forum yang mempelajari semangat pendidikan Jepang.

Forum itu bernama Education Sharing Network (ESN). Berlangsung di Jakarta pada pekan silam, forum ini dihadiri sedikitnya 120 peserta. Mereka terdiri atas para guru, orangtua, pendidik, serta pemerhati pendidikan. Diskusi ini difasilitatori oleh Profesor Nakaya Ayami, seorang peneliti pendidikan dari Universitas Hiroshima, Jepang.

Dalam kesempatan itu, Profesor Nakaya berbagi cerita tentang kondisi sekolah di Jepang. Mulai dari manajemen sekolah, manajemen kelas, hingga praktik metode mengajar. Di Jepang, manajemen sekolah melibatkan partisipasi semua pihak meliputi kepala sekolah, guru, orangtua dan masyarakat untuk ikut mendukung proses pendidikan siswa.

Manajemen sekolah diimbau untuk mencetak “Berita Sekolah” pada setiap bulannya, sebagai sarana informasi untuk menyampaikan kondisi siswa kepada orangtua/wali, program-program sekolah, permohonan bantuan serta ucapan terima kasih yang berkaitan dengan suatu acara.

Dalam kesempatan tersebut, Nakaya menayangkan sebuah video berisikan tayangan sebuah sekolah dasar bernama Misonou di kota Higashi Hiroshima yang mewajibkan siswa untuk melakukan Yoshu.

Yoshu berarti belajar sehari sebelumnya. Untuk itu, siswa diminta mempelajari materi yang akan dipelajari esok hari, sehingga di kelas siswa lebih siap berkonsentrasi menerima pelajaran.

Tidak hanya siswa, guru juga harus mempersiapkan diri dan membuat bahan untuk mengajar. Hal ini penting agar proses belajar mengajar menjadi lebih menarik bagi siswa. Tentunya kreativitas guru sangat diperlukan karena semua mata pelajaran di Jepang harus berkaitan dengan kemampuan hidup.

Biasanya guru akan meminta siswa untuk mengerjakan proyek sederhana. Misalnya, pelajaran bahasa Inggris dikaitkan dengan isu lingkungan hidup. Siswa akan diminta untuk membuat kampanye tentang lingkungan hidup dalam bahasa Inggris.

Nakaya mengatakan bahwa pendidikan kemampuan hidup meliputi kompetensi yang kelihatan dan tidak kelihatan. “Yang kelihatan mencakup ketrampilan tingkah laku, pengetahuan. Sedangkan yang tidak kelihatan seperti motivasi, kepercayaan diri, dan misi,” kata Nakaya. Semua itu diperlukan untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.

Menurut Nakaya, konsep life skill harus diberikan oleh setiap sekolah demi meningkatkan mutu lulusannya. Dan tidak hanya guru yang terlibat, tetapi kepala sekolah dan orangtua pun diharapkan terlibat aktif dalam penerapan faktor kemampuan hidup tersebut.

Lebih jauh Nakaya yang mengambil studi S1 di Universitas Padjajaran ini mengatakan, sebaiknya Indonesia juga memasukkan konsep kemampuan hidup dalam materi pengajaran. Hal ini sangat berguna bagi para siswa untuk mengembangkan kemampuan pribadi yang ada dalam diri dan menjadikan mereka generasi penerus yang siap berkompetisi.

ESN merupakan program reguler dua mingguan yang mengundang para pendidik untuk mendiskusikan isu-isu terkini yang sedang berkembang di dunia pendidikan. Para guru menggunakan kesempatan ini untuk mengembangkan diri mereka dan memperluas wawasan dalam mengajar.

(Sri Noviarni, Koran SINDO, Minggu, 1 Maret 2009)

Keyakinan, Awal Kesuksesan

Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, ruang publik dijejali dengan beragam kamuflase kesuksesan. Ironisnya, para elite politik sibuk memperjuangkan pencitraan.

Padahal, dalam kehidupan konkret, masyarakat tertekan dengan hidup yang semakin sulit. Di benak masyarakat, kemewahan dan kesuksesan hanya impian kosong. Untuk sekedar berharap dan berpikir sekalipun, kesuksesan seolah menjadi barang mahal.

Padahal, harapan dan pikiran untuk sukses sejatinya merupakan kunci pertama untuk mendapatkan kesuksesan yang asli, sebagai master mind. Hal inilah yang menjadi inti dari buku motivasi karya Napoleon Hill, salah satu motivator terbesar yang pernah hadir. Buku The Master Key to Riches dianggap sebagai salah satu buku pertama yang secara sistematis, terstruktur, dan memiliki daya penalaran kuat guna menggerakkan seseorang mewujudkan kesuksesannya.

Guna mentransformasikan kesuksesan dalam bentuk konkret, Hill memulai dengan memilah kebaikan dengan 12 kekayaan yaitu sikap mental positif, kesehatan fisik yang prima, hubungan yang harmonis, bebas dari rasa takut, harapan akan pencapaian, kapasitas keyakinan, kesediaan untuk berbagi, amal tanpa pamrih, berpikiran terbuka, disiplin diri, kemampuan memahami orang lain dan keamanan ekonomi. Ke-12 kebaikan ini sebuah kesatuan yang saling temali. Namun, semuanya dimulai dengan menciptakan harmonisasi kesuksesan di dalam pikiran.

Kesuksesan yang ingin diwujudkan dalam pikiran dibentuk, diinternalisasi dalam memantapkan tujuan yang pasti. Misalnya, suatu ketika saya berpikir untuk menjadi seorang akademisi yang sukses dan berguna untuk peradaban, maka pemantapan tujuan yang pasti tidak akan berubah ketika melihat kesuksesan seorang akademisi yang menjadi pejabat publik. Konsistensi menjadi akademisi memiliki konsekuensi etis dan akademis yang ketat. Ia harus tanpa pamrih berjuang, berpikir, dan bertindak dalam menciptakan tata kehidupan yang lebih baik dan adil. Tetapi, untuk menjadi seorang pejabat publik, kesuksesan dilihat dari kemampuannya melayani publik sesuai tugasnya, bukan atas derajat tinggi-rendah kedudukan. Dalam hal ini, Hill menyebutkannya sebagai keutamaan yang pasti.

Selanjutnya, setelah menentukan tujuan yang pasti, katalisator kesuksesan didukung oleh sugesti positif secara mandiri. Secara terus menerus, menciptakan gambaran-gambaran positif secara tidak langsung membimbing alam bawah sadar untuk menyuplai keyakinan atas kemampuan diri dan harapan. Kekuatan alam bawah sadar yang sering dinafikan oleh sebagian orang justru sangatlah besar pengaruhnya. Seperti fenomena gunung es, kesadaran hanyalah permukaan. Alam bawah sadar yang tidak termaksimalkan pada dasarnya merupakan kerugian yang sangat besar. Sedangkan ketidakmampuan mensugesti diri secara positif menimbulkan pikiran negatif dan kadang berbentuk perusakan diri.

Dalam implementasi meraih kesuksesan, Hill juga memasukkan aspek sosial dalam pembentuk keberhasilan. Baginya, kesuksesan seseorang terlihat ketika yang bersangkutan mampu berbuat lebih. Ia mampu mendisiplinkan diri untuk terus bekerja keras meski oleh orang lain dianggap telah mendapatkannya. Ia mampu mengendalikan ego, menyeimbangkan nalar, dan menundukkan semua hal yang positif dalam kesatuan harmonis.

Berbuat lebih juga berbentuk kepada kebiasaan untuk memberi sesuatu kepada orang lain. Menurut Hill, kebahagiaan adalah ketika kita melakukan, bukan semata memiliki. Karena itu, cinta yang sejati tidak harus memiliki, ia bisa berbentuk keinginan untuk melihat seseorang yang dicintainya sukses tanpa melibatkan kepemilikan diri, seseorang yang tidak mesti menjadi pasangannya. Biasanya orang takut untuk menjadi sukses. Di dalam benaknya mewujudkan kesuksesan sangatlah berliku, padahal ketakutan tidak lain hanyalah proses yang muncul dalam pemikiran semata.

Kesimpulan dari buku ini membimbing bagaimana cara mendapatkan kesuksesan. Itu diraih ketika kita memunculkan kesuksesan dalam pikiran yang terkait potensi alam bawah sadar, kemudian mengorganisasikannya menjadi ide dan rencana kerja. Dari itu, ada proses transformasi rencana menjadi tindakan aktif dan konkret.

Buku ini oleh sebagian kalangan tepat dikatakan sebagai salah satu buku terbaik yang pernah ada, karena menyadarkan diri bahwa kesuksesan itu bermula dari pikiran dan harapan. Tetapi kesuksesan yang sejati pada dasarnya ketika mampu menjadikannya berguna untuk sesama, bukan bersifat pribadi.

(Herdis Herdiansyah, Manajer Riset Pusat Kajian Strategik dan Pertahanan (CSDS), Pascasarjana UI, Koran SINDO, Minggu, 15 Februari 2009)

“Hearing but Not Listening”

Mendengar tapi tidak mendengarkan. Apakah bedanya? Coba perhatikan contoh kalimat ini : Kita setiap hari mendengar gosip, tetapi jarang mendengarkan ceramah atau warta berita. Mendengar tampaknya bersifat pasif, lebih merupakan kepekaan dan aktivitas telinga yang mampu menangkap getaran-getaran gelombang suara di sekitarnya. Tetapi kalau mendengarkan sifatnya lebih aktif, secara sadar akal pikiran fokus pada objek yang didengarkan dengan penuh perhatian. Misalnya, ketika duduk di ruang kelas, kita dituntut mendengarkan ceramah dosen, meskipun tanpa sengaja telinga kita mendengar berisik suara mobil yang lewat atau dering telepon genggam.

Untuk menjadi pendengar yang baik, sungguh tidak mudah. Diperlukan, kesiapan mental-intelektual serta ketulusan hati untuk menjadi pendengar yang baik (good listener). Seorang wartawan yang baik, misalnya, mesti memiliki bekal intelektual dan kecerdasan emosional serta empati ketika melakukan wawancara agar mampu memahami pikiran narasumber sehingga hasilnya akan dalam dan objektif. Orangtua mesti bisa menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya agar terjadi komunikasi yang baik dan tidak salah paham ketika anak-anaknya semakin tumbuh dewasa lantaran semakin tumbuh dewasa seorang anak, maka pengetahuan orangtua semakin menciut.

Seorang dokter dan psikolog biasanya sudah terlatih untuk menjadi pendengar yang baik bagi klien agar nantinya bisa tepat ketika membuat diagnosa dan terapi. Konon katanya, yang sulit jadi pendengar adalah para penceramah agama karena pribadinya sudah terbentuk untuk memberikan ceramah dan maunya didengarkan. Mungkin mereka lupa bahwa salah satu asma Allah adalah Maha Mendengar (as-sami’) yang selalu siap dan penuh empati mendengarkan berjuta macam doa dan keluhan hamba-Nya.

Tak kalah pentingnya, untuk menjadi pendengar yang baik adalah para pemimpin dan wakil rakyat. Sebelum berbicara kepada rakyat, terlebih dahulu mereka mesti mendengarkan dan memahami perasaan dan pikiran mereka, baik yang diutarakan secara verbal maupun non verbal. Disayangkan, para politikus dan pejabat negara lebih senang berbicara dan didengarkan dan sungguh sangat sulit untuk mendengarkan. Maunya dipahami, bukannya secara tulus mau memahami orang lain. Yang juga membuat saya tercenung, di forum DPR ada istilah hearing. Biasanya mereka menghadirkan para pejabat pemerintah (eksekutif) untuk dimintai penjelasan mengenai berbagai kebijaksanaan yang perlu di dengar dan dikritisi DPR.

Namun lagi-lagi, mungkin sesuai dengan nama forumnya, forum hearing itu jarang dihadiri penuh oleh anggota komisi. Mereka mendengar(kan) penjelasan kalangan eksekutif dan ada pula yang sambil asyik main-main SMS dengan telepon genggam. Setelah tamu selesai bicara, gantian anggoa DPR bertanya dan mengkritik. Namun setelah berbicara, ada yang terus keluar ruang, sehingga tiba giliran eksekutif menjawab, yang bertanya sudah pergi. Jadi, forum itu memang terasa pas disebut hearing, bukan listening. Fisiknya hadir dan berkumpul di satu ruang yang sama, namun perhatiannya entah kemana. Tentu saja masih banyak anggota DPR yang tetap menjaga etika persidangan dan memiliki listening skill.

Mengapa seseorang sulit mendengarkan orang lain? Ibarat gelas, mungkin dirinya sudah merasa penuh. Sudah merasa pintar, sehingga tidak perlu lagi diajari, terlebih dari mereka yang dianggap lebih rendah posisinya. Bukankah mendengarkan itu berarti juga kesediaan untuk menerima? Bukankah tindakan mendengarkan juga mengandung sikap untuk memberi? Orang sulit mendengarkan mungkin juga karena mereka sibuk dengan dirinya sendiri. Dia mau mendengarkan hanya pada ungkapan yang memuji dan menyenangkan dirinya.

Orang semacam ini mungkin terkena sindrom narsisisme, sangat mencintai dirinya sendiri serta pelit untuk berbagi. Mereka selalu ingin melihat pantulan dirinya, entah cermin kaca atau cermin sosial, namun hanya yang menyenangkan saja dan enggan menghargai kehadiran orang lain. Dia tidak siap menerima kenyataan pahit dari lingkungannya meskipun objektif adanya. Buruk muka cermin dibelah, kata pepatah.

Dalam penelitian psikologi komunikasi, daya serap terhadap pembicaraan orang diperkirakan tidak melebihi 15%. Dalam suatu forum kuliah atau ceramah di ruang yang nyaman sekalipun, mendengarkan ceramah lebih dari 45 menit sudah antiklimaks. Namun, seseorang akan mendengarkan omongannya sendiri hampir 100%. Jadi, setiap orang itu cenderung egois, tidak mudah menjadi pendengar yang baik. Oleh karena itu, tidak mudah pula jadi orangtua dan pemimpin yang baik, karena salah satu syaratnya haruslah menjadi pendengar yang baik, sebelum menjadi pembicara yang baik.

Dulu ketika sekolah di SD, saya masih menerima pelajaran “mencongak” atau “dikte”. Ibu guru membacakan kalimat paling banyak dua kali, lalu murid-murid menuliskannya. Lama-lama semakin dibuat sulit. Kalimat semakin panjang dan hanya sekali diucapkan, agar murid semakin terlatih untuk mendengarkan. Tetapi sekarang rasanya tak ada lagi pelajaran listening skill ini.

Coba saja amati sekeliling! Berita gosip yang mestinya cukup terdengar sambil lalu, malah menarik dan asyik didengarkan. Jadi, kita bukannya mendengar gosip sebagai angin lalu yang kemudian terlupakan, tetapi justru dirancang sedemikian rupa sebagai sajian berita yang memperoleh perhatian besar untuk didengarkan (to be listened). Begitulah, kehidupan memang warna-warni. Berita dan informasi bermutu dianggap angin lalu masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tetapi gosip yang tidak edukatif justru asyik didengarkan, direkam dalam hati, diolah lagi dengan tambahan bumbu-bumbu penyedap, lalu disebarkan dengan antusias ke kanan dan ke kiri lewat obrolan, telepon, dan SMS.

Dalam teori pendidikan dan pengasuhan dikatakan bahwa hanya mereka yang berbicara dengan hati, maka omongannya juga akan didengarkan dengan hati. Sepintar apa pun seseorang, kalau berbicara tanpa disertai rasa empati dan tulus, omongannya hanya sebatas didengar (being heard), tetapi tidak didengarkan (not being listened). Dalam komunikasi keluarga ataupun lingkungan kantor, seseorang lebih banyak mendengarkan melalui bahasa perilaku dan bawah sadarnya, baru sisanya melalui komunikasi verbal.

Rasanya kita perlu mendidik anak-anak kita baik di lingkungan keluarga maupun sekolah untuk terampil dan etis dalam berkomunikasi. Dalam acara pernikahan ataupun pertemuan lain, sering kali saya melihat orang berjabat tangan tapi pandangan matanya terarah ke orang lain. Ini sungguh tidak etis. Ketika berjabat tangan, mata, wajah dan senyum sebaiknya terarah pada orang di depannya yang sedang berjabat tangan sehingga kehadirannya merasa dihargai. Anehnya, yang sering melakukan itu justru dari kalangan papan atas, secara ekonomi ataupun jabatan struktural.

(Prof. DR. Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, SINDO, Jumat, 24 Oktober 2008)

Bukan Kerja Keras, tapi Kerja Cerdas

Semua pekerja yang sedang merintis karier tentunya ingin meraih kesuksesan. Untuk mencapai kata sukses, ternyata tidak cukup dengan bekerja keras saja. Kenapa?

Menjadi sebuah konsekuen logis, bahwa untuk meraih kesuksesan Anda memang dituntut untuk bekerja keras. Itu adalah salah satu nilai lebih yang bakal dilihat oleh perusahaan tempat Anda membangun karier.

Tetapi kerja keras hanya sebuah syarat “cukup” untuk mencapai kesuksesan dalam berkarier. Bila Anda tidak bisa mengaturnya dengan baik, hal itu justru bakal mendorong Anda menjadi lupa waktu dan terperangkap dalam rutinitas tugas yang tidak bisa dinikmati lagi.

Menjadi hard worker identik dengan berada lebih lama di kantor sejatinya sudah dianggap tidak lagi efisien. Bahkan, hal ini menjadi aktivitas yang memboroskan. Penambahan jam kerja bisa membuat Anda dinilai tidak memiliki manajemen kerja yang baik sehingga tidak bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat sesuai jam kerja.

Tidak salah kiranya dengan kondisi itu, para pekerja keras sering mengeluh bahwa kerja keras dan pengorbanan terkadang tidak sepadan dengan hasil yang mereka dapatkan. Akan lebih membuat kesal, jika banyak orang yang menurut Anda bekerja lebih santai malah punya karier yang jauh lebih baik dari apa yang Anda miliki.

Menurut Margaret Steen, seorang ahli karier, jika kerja keras tidak sesuai dengan apa yang didapatkan maka berhentilah menjadi hard worker. Namun, itu bukan berarti Anda bermalas-malasan, atau tidak mengerjakan tugas dan bertanggung jawab dengan baik sebagai seorang karyawan. Berhenti menjadi hard worker berarti waktunya Anda mengubah pola dan mekanisme kerja.

Steen menawarkan cara kerja yang disebutnya sebagai bekerja dengan cara yang cerdas atau smart work. Inti dari bekerja dengan cerdas, yaitu pembagian atau manajemen waktu, melakukan pekerjaan dengan lebih efektif dan efisien. Jangan takut untuk melakukan terobosan-terobosan saat menjalankan kewajiban Anda bekerja.

Cara yang bisa dilakukan mulailah memusatkan perhatian pada pekerjaan. Kurangi hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian seperti bergosip, membuka situs jejaring sosial dan sebagainya.

Sebenarnya, hal-hal yang sejatinya sepele itu membuat Anda lebih lama berada di kantor. Dengan fokus pada pekerjaan, semuanya bisa diselesaikan dengan lebih cepat. Hal-hal yang tidak penting, seperti bergosip atau lainnya, bisa Anda lakukan setelah selesai jam kerja atau ketika pekerjaan tuntas.

Jangan pernah menunda pekerjaan. Sikap tersebut sangat penting, tapi sering diabaikan oleh kita. Sebab, sudah merasa ahli atau berpengalaman dalam bidang yang ditekuni, Anda merasa semuanya bisa diselesaikan dengan cepat dan mudah. Jangan salah, masih tetap dibutuhkan waktu, pikiran, dan konsentrasi untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan seberapapun ahli Anda dalam melakukannya.

Lakukan terobosan dalam menyelesaikan pekerjaan Anda. Hal yang bisa dicoba misalnya dengan bekerja menggunakan sistem multi-tasking.

Sistem ini mengadopsi cara bekerja komputer, di mana alat itu bisa melakukan lebih dari satu pekerjaan dalam satu waktu. Komputer bisa memainkan lagu sambil Anda mengetik.

Dengan cara ini, Anda bisa mengerjakan dua atau tiga tugas dalam waktu bersamaan agar lebih menghemat waktu. Sudah bukan masanya lagi untuk berpikir bahwa yang satu bisa diselesaikan setelah yang lainnya. Kini, saat berpikir literal, banyak hal bisa dilakukan bersama dengan hasil yang tetap optimal.

Dengan bekerja cerdas, Anda telah mengoptimalkan waktu kerja lebih efisien dan efektif. Semakin sederhana kehidupan kerja Anda, makin sedikit waktu bekerja, serta semakin besar peluang menambah penghasilan.

Mengapa? Karena Anda akan bisa memiliki banyak waktu untuk mencari side job. Apalagi side job itu adalah hal yang Anda senangi. Jadi pekerjaan sampingan tersebut bisa jadi adalah hobi, tapi hobi yang menyenangkan yang menghasilkan pundi-pundi rupiah.

(Helmi Firdaus/berbagai sumber, SINDO, Selasa, 17 Februari 2009)

Perilaku yang Tidak Disukai Atasan

Apa yang menjadi standar penilaian orang lain terhadap diri Anda? Ternyata, orang di sekitar akan menilai Anda berdasarkan perilaku. Karena itu, jagalah perilaku Anda baik-baik, terutama di tempat kerja.

Di semua tempat kerja, seorang karyawan harus mematuhi segala peraturan yang berlaku di kantor, aturan tertulis ataupun tidak. Nah, terkait perilaku di kantor yang sering dilanggar adalah hal-hal yang tidak tertulis. Untuk mengantipasi kemungkinan itu, Anda perlu mengetahui apa saja perilaku yang berpotensi merusak reputasi Anda di mata bos. Coba tengok beberapa hal berikut ini :

• Menghindari Pertemuan dengan Bos

Menghindari bertatap muka, bertemu dengan bos secara sengaja di situasi informal kelihatannya memang sepele. Tapi kalau bos sadar bahwa Anda sering menghindarinya, bisa saja dia akan menganggap karyawannya manusia aneh yang tidak bisa bersosialisasi. Untuk menghindari penilaian ini, Anda jangan lantas mendadak “balik badan” karena ogah menegur bos saat bertemu secara tidak sengaja di lift atau di tempat lain. Sapa saja dan beri senyum yang wajar kepada atasan.

• Sering Terlambat

Sering terlambat, meski dalam durasi pendek tetap merupakan salah satu bentuk perilaku yang sangat tidak disukai atasan. Walau bagaimanapun karyawan yang baik adalah karyawan yang selalu tepat waktu datang ke meja kerjanya. Bahkan, ada yang berpendapat jika sering datang tepat waktu, bos akan tutup mata dengan kesalahan lain yang Anda perbuat. Makanya, usahakan tepat waktu, entah saat datang, rapat atau deadline.

• Tampil Berantakan

Banyak yang bilang, penampilan sepenuhnya adalah hak pribadi Anda, tapi ada baiknya Anda berbusana dan berpenampilan yang baik di kantor. Pertama, karena Anda mewakili image kantor di mana Anda mengais rezeki. Selain itu, siapa pun orangnya lebih menyukai mereka yang tampil rapi dan profesional. Maka selalu bereskan penampilan. Jangan sekalipun tampil di kantor dengan rambut acak-acakan dan pakaian berantakan.

• Pelupa

Apa pun informasi yang Anda terima sehubungan dengan pekerjaan jangan tunda-tunda menyampaikannya kepada atasan. Jika tidak sempat bertemu langsung, sampaikan lewat e-mailnya. Jika bos kebetulan sedang cuti atau tidak di tempat, Anda bisa saja menghubungi ponselnya jika informasi tersebut sangat penting. Lupa menyampaikan informasi vital bisa berakibat fatal dan sangat berpotensi menciptakan penurunan kredibilitas Anda.

(Helmi Firdaus/berbagai sumber, SINDO, Selasa, 17 Februari 2009)

Kebiasaan Buruk dalam Bekerja

Evaluasi penting supaya Anda tahu apa kelemahan dan kelebihan pada diri Anda. Margaret Steen, seorang pakar karier, menyebutkan setidaknya ada delapan kebiasaan buruk dalam bekerja yang membuat target yang telah ditetapkan sulit tercapai. Apa saja delapan kebiasaan buruk itu?

• Perencana yang Buruk

Banyak orang yang tidak tahu apa yang akan mereka kerjakan besok ketika dalam perjalanan pulang kantor. Akan lebih efisien jika sebelum pulang, Anda merencanakan apa yang harus dikerjakan besok.

• Menghabiskan Banyak Waktu Membalas E-mail

Balas surat elektronik yang penting dan perlu saja. Sebab, tidak semua e-mail berkaitan dengan target yang telah Anda ciptakan sebelumnya.

• Selalu Beralasan Menyelesaikan Pekerjaan Rumah

Seringkali orang tidak optimal melakukan pekerjaannya dengan beralasan energinya habis untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Hal ini membuat orang menilai Anda tidak profesional.

• Mengedepankan Urusan Personal daripada Kerja

Penting untuk punya kehidupan di luar pekerjaan. Namun, akan sangat mengganggu jika seringkali urusan personal membuat jadwal kerja Anda dengan orang lain terbengkalai.

• Terlambat

Keterlambatan akan menular ke orang lain sehingga keterlambatan akan makin parah. Keterlambatan ini juga akan membuat orang yang tepat waktu tidak merasa dihargai atau membuat waktunya percuma.

• Tidak Cukup Peduli Urusan Kesehatan dan Kebersihan

Urusan kesehatan dan kebersihan itu mesti diperhatikan agar Anda memiliki impresi awal yang menarik. Tidak itu saja, menjaga kesehatan dan kebersihan akan membuat kita lebih fit dan bertenaga dalam menyelesaikan pekerjaan.

• Membuat Humor yang Tidak Tepat

Punya rekan kerja yang humoris tentu menyenangkan. Bisa jadi obat stres. Namun, humor-humor yang tidak tepat seperti terlalu vulgar soal seks, suku, agama atau politik, akan membuat orang yang mendengarnya menjadi jengah dan menurunkan citra Anda sebagai pribadi.

• Tidak Perhatian atas Pekerjaan

Saat ini kita tidak bisa bekerja sendirian, selalu melibatkan orang lain alias bekerja sebagai tim. Pasti menyenangkan punya teman kerja yang antusias dan bertanggung jawab penuh atas pekerjaannya.

(Helmi Firdaus, SINDO, Rabu, 14 Januari 2009)

Tips Menjadi Karyawan T.O.P

T = Teachable

Sikap yang sangat dibutuhkan untuk menjadi karyawan yang TOP adalah dengan memiliki hati yang MAU DIAJAR (teachable), artinya memiliki karakter yang tenang dan rendah hati. Responsif terhadap masukan, nasehat, dan saran baik dari atasan, rekan sekerja, maupun dari bawahan. Memiliki karakteristik tidak membeda-bedakan orang, asalkan bisa belajar dan menjadi lebih baik, bersedia untuk dilatih dan diberikan pengarahan.

Benar apa yang dikatakan oleh Earl Nightingale, “Sikap kita terhadap kehidupan ini menentukan sikap kehidupan terhadap kita”. Ada sedikit perbedaan dalam diri setiap karyawan, namun perbedaan itu adalah SIKAP. Milikilah sikap selalu mau diajar, karena cepat atau lambat karyawan yang demikian akan mendapatkan tidak hanya lebih banyak ilmu dan kemampuan, tetapi juga promosi dari atasan.

O = Observant

Sikap kedua yang sama pentingnya, yang dibutuhkan untuk menjadi karyawan TOP adalah sikap MAU BELAJAR (observant). Banyak orang-orang tidak berkembang dalam kariernya, karena tidak mau terus belajar. Mereka memiliki keyakinan bahwa, semakin lama bekerja dalam sebuah perusahaan, maka semakin besar pula kesempatan mendapatkan promosi.

Kenyataannya, hari-hari ini karyawan yang memberikan kontribusi paling besarlah yang memiliki peluang lebih besar mendapatkan peningkatan dalam karier mereka. Dan orang seperti ini adalah mereka yang mau terus belajar, yaitu memperlengkapi diri mereka dengan pengetahuan (knowledge), kemampuan (skill), dan hasil kerja (performance).

Karyawan yang memiliki sikap mau belajar, walaupun berjalan di jalan yang rusak akan tetap mencapai kemajuan. Namun, mereka yang tidak memiliki kemauan belajar, walaupun berjalan di atas jalan yang mulus, tetap tidak akan membuat kemajuan.

P = Persistent

Mengapa ada karyawan yang sukses dalam jenjang karier mereka, dan banyak yang lain tidak mengalami peningkatan, atau mungkin tidak mengalami kemajuan yang signifikan. Salah satu penyebabnya adalah karena mudah menyerah. Tips terakhir untuk menjadi karyawan yang TOP adalah dengan mengembangkan karakter GIGIH (persistent).

Ketahuilah bahwa sukses besar esok hari dimulai dengan tindakan-tindakan kecil hari ini. Jadikanlah kutipan kata-kata dari pelatih sukses kepemimpinan John C. Maxwell menjadi filosofi hidup Anda, “Orang yang sukses bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang tidak pernah menyerah”. Ya, tepat sekali, jadilah karyawa yang gigih. Tidak mudah sakit hati, tidak gampang kecewa, atau tidak mudah menyerah saat mendapatkan banyak tekanan kerja. Anda harus mengetahui bahwa seperti yang dikatakan Margaret Thatcher, “Saya tidak mengenal seorang pun yang dapat mencapai posisi puncak tanpa kerja keras”.

Profesi yang Tepat untuk si Pendiam

Siapa yang bisa disebut pendiam? Orang yang pendiam biasanya memiliki ciri-ciri tertentu. Di antaranya lebih senang menghabiskan waktu sendiri daripada bergabung dengan teman atau keluarga.

Untuk orang-orang kategori ini, peristiwa terbaik bagi mereka ialah saat berada di dalam kamar sendirian, bermain-main dengan pikiran atau imajinasi mereka sendiri, bergelut dengan komputer atau buku, atau bermain dengan hewan peliharaan.

Orang-orang seperti ini umumnya tak nyaman jika harus berkomunikasi dengan orang asing. Terkadang mereka juga merasa tak perlu berkomunikasi dengan rekan kerja jika memang tak ada hal penting yang harus dibicarakan. Tentu saja jika sikap pendiam ini terus dipelihara di lingkungan kerja yang menuntut tingkat sosialisasi tinggi, akan membawa masalah bagi si pendiam. Karena itulah, si pendiam harus pintar-pintar mencari profesi yang sesuai dengan karakternya ini. Apa saja profesi yang cocok untuk mereka, simak di bawah ini.

1. Teknisi Automotif.

Teknisi automotif “dilarang” berbicara banyak. Ia hanya membutuhkan satu keintiman dengan satu hal, mobil. Para teknisi ini cukup menanyakan masalah pada kendaraan klien. Setelah itu mereka bisa menghabiskan waktu dengan memperbaiki mobil tersebut.

2. Cost Estimator.

Jika teknisi automotif harus berintim ria dengan kendaraan, maka cost estimator cukup bergelut dengan kertas-kertas berisi proposal suatu proyek. Pekerjaan mereka adalah menganalisis dana proyek dan membuatnya menjadi sebuah pengeluaran seminimal mungkin. Jadi tak perlu banyak bicara, bukan?

3. Desainer Interior.

Desainer interior memang harus berkomunikasi dengan kliennya tentang berbagai hal yang dibutuhkan sang klien. Tapi waktu untuk mengomunikasikan hal tersebut tidaklah memakan waktu banyak. Selebihnya seorang desainer interior lebih banyak menghabiskan waktu memilih desain ruangan yang tepat, furnitur yang menunjang, dan warna ruangan yang menyempurnakan desain tersebut. Fakta yang lebih menyenangkan lainnya, seorang desainer interior biasanya bekerja sendiri, di rumah mereka. Tentu ini kondisi yang paling diidam-idamkan si pendiam.

4. Pustakawan.

Perpustakaan mungkin menjadi tempat yang paling cocok untuk si pendiam. Alasannya apalagi kalau bukan karena tempat ini adalah area “dilarang bicara”. Ketenangan adalah atmosfer yang begitu terasa di setiap perpustakaan. Pekerjaan seorang pustakawan “hanyalah” mengatur koleksi perpustakaan dan berkata sepatah dua patah kata untuk memberikan petunjuk pada pengunjung perpustakaan tentang lokasi koleksi buku yang mereka cari. Selebihnya, seorang pustakawan bisa duduk tenang membaca buku kegemarannya.

5. Pencatat Kondisi Medis.

Mereka dibayar bukan untuk berbicara melainkan mencatat keluhan pasien. Ini tentu pekerjaan yang nyaman untuk para pendiam yang senang dengan hal yang berbau sosial atau kemanusiaan. Para pencatat kondisi medis ini bertugas untuk memindahkan keluhan pasien tersebut ke dalam bentuk laporan medis. Jadi bisa dibilang mereka tak perlu bicara untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

6. Analisis IT.

Buat si pendiam yang menggilai IT, rasanya tak ada pekerjaan lain yang lebih cocok selain sebagai analis IT.

Pekerjaan mereka benar-benar tak membutuhkan keahlian berbicara melainkan ketajaman menganalisis kerusakan sistem komputer atau jaringan internet. Bahkan, dalam titik yang ekstrem, jika ada keluhan dari klien, cukup klien saja yang berbicara tentang masalah mereka, selebihnya para analis cukup menganggukkan kepala dan melakukan pekerjaan mereka.

7. Peneliti.

Seorang peneliti atau ilmuwan lebih banyak bekerja di laboratorium daripada harus berinteraksi dengan orang banyak. Jika mereka tidak di laboratorium, mereka pasti berada di belakang mejanya untuk membuat laporan penelitian yang mereka kerjakan.

8. Penerjemah.

Penerjemah memang banyak “bergaul” dengan kata-kata, tapi kebanyakan kata-kata tersebut bukan diucapkan melainkan dituliskan. Kalaupun penerjemah harus berkata, kata yang diucapkan adalah kata-kata yang keluar dari orang lain. Keuntungan lain dari profesi ini ialah pekerjaannya bisa dilakukan di rumah.

9. Pengurus Pemakaman.

Sudah jelas, suasana duka memang mengharuskan seseorang untuk sedikit berbicara. Jadi seorang pengurus pemakaman memang seharusnya lebih banyak bekerja daripada berkata-kata.

10. Penulis.

Banyak penulis yang membutuhkan tempat sepi untuk mencari inspirasi dan menulis cerita. Jadi jika kamar di rumah adalah tempat menyepi terbaik bagi seorang yang pendiam, itu artinya kamar pribadi adalah tempat paling inspiratif bagi seorang penulis.

(Herita Endriana, Koran Seputar Indonesia, Selasa, 14 April 2009)

Dari Brandweer Batavia ke Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta

“Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk.
Rumah ane kebakaran, gara-gara kompor mleduk.
Ane jadi gemeteran wara-wiri keserimpet…”

Banjir dan kebakaran sering bikin hati warga Jakarta dag-dig-dug. Banjir selalu mengancam di musim hujan, sementara musibah kebakaran sering terjadi di musim kemarau seperti sekarang. Suasana kalang kabut akibat kebakaran direfleksikan dengan jenaka oleh seniman Betawi, almarhum Benyamin. S, dalam lagunya “Kompor Mleduk”, yang sepotong liriknya dikutipkan di atas.

Di zaman kejayaan Bang Ben, 1970-1980-an, kebakaran memang sering terjadi gara-gara kompor minyak tanah meledak. Sekarang, yang lebih banyak mleduk adalah tabung kompor gas pembagian pemerintah. Namun, yang paling sering dituduh sebagai penyebab kebakaran adalah hubungan pendek arus listrik alias korsleting.

Sejarah kebakaran di Jakarta mungkin sama tuanya dengan usia kota itu sendiri. Sebelum abad ke-16, kebakaran mungkin sudah pernah terjadi di lingkungan Pelabuhan Sunda Kelapa, cikal bakal Jakarta. Si jago merah mungkin pula pernah mengamuk di kompleks Keraton Jayakarta, yang dibangun Panglima Falatehan dari Demak setelah ia berhasil mengakhiri kekuasaan Kerajaan Hindu Pajajaran dan mengusir para pedagang Portugal dari Pelabuhan Sunda Kelapa pada 22 Juni 1572. tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai hari Jakarta.

Namun, catatan tertulis tertua tentang kebakaran di Jakarta berasal dari zaman awal kekuasaan Belanda, abad ke-17 dan ke-18, waktu nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Pada zaman VOC itu Batavia masih dikelilingi hutan yang lebat. Karenanya, kebakaran yang sering terjadi adalah kebakaran hutan akibat kegiatan penebangan kayu, bahan bangunan utama pada masa itu. Disebutkan juga, kebakaran hutan juga kerap terjadi dalam kegiatan pembukaan lahan untuk pembangunan suiker-molens, penggilingan tebu untuk dijadikan gula, salah satu komoditas perdagangan utama maskapai dagang Belanda itu.

Barisan pemadam kebakaran jelas belum ada waktu itu. Entah bagaimana cara warga Batavia memadamkan kebakaran. Mungkin dilakukan secara bergotong-royong, disiram dengan air yang diambil dari Sungai Ciliwung atau kanal-kanalnya memakai ember kayu.

Terima kasih warga Betawi

Masalah kebakaran di Batavia mulai diurus pemerintah tahun 1873, pada zaman pemerintahan James Loudon, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berdarah Inggris. Waktu itu Residen Batavia mengeluarkan peraturan tentang pemadaman kebakaran di Batavia dan sekitarnya.

Namun, sampai awal abad ke-20, satuan pemadam kebakaran belum mendapat perhatian yang memadai dan masih bekerja dengan cara-cara yang kuno. Peralatan yang dimiliki berupa beberapa alat pemadam api tangan dan para anggotanya hanya memiliki pengetahuan sekadarnya tentang cara menolong korban kebakaran.

Baru pada tahun 1917 dibelilah sejumlah peralatan yang lebih modern, termasuk mesin penyemprot kebakaran bertenaga uap, dan dua mobil pemadam kebakaran. Kedua mobil pemadam kebakaran bermerk Arbenz disiagakan di pos pemadam kebakaran yang berlokasi di dekat Stasiun Kereta Api Weltevreden, kini Stasiun Gambir, di jakan Medan Merdeka Timur. Namun, usaha pemadaman kebakaran masih sering gagal karena belum berpengalamannya para petugas dan kurang panjangnya selang tekanan tinggi yang dimiliki.

Untuk membantu para anggota satuan pemadam kebakaran yang masih terbatas, di berbagai perkampungan juga dibentuk kelompok-kelompok pemadam kebakaran beranggotakan para pemuda pengangguran yang belum menjadi wajib pajak. Mereka yang disebut “anak pompa” ini selalu siaga dan langsung bergerak setiap kali terdengar suara kentungan dari pos ronda yang memberi tahu adanya kebakaran. Saat bertugas, mereka mengenakan sepotong kain bernomor urut yang diikatkan di lengan baju.

Sistem pemadam kebakaran yang diterapkan pemerintah ini seringkali tak mampu mengatasi bencana kebakaran yang terjadi. Dalam kebakaran yang terjadi di daerah Kwitang pada tahun 1918, misalnya, satuan pemadam kebakaran yang dibantu warga tak berhasil menjinakkan kobaran si jago merah.

Dalam buku peringatan 25 tahun berdirinya Kotapraja atau Gemeente Batavia yang terbit pada tahun 1930 disebutkan, musibah yang menimbulkan kerugian besar itu mendorong pemerintah memberi perhatian lebih besar terhadao masalah pemadaman kebakaran. Tahun itu juga, Wali Kota Batavia mengangkat pensiunan perwira tentara Hindia Belanda, Letnan Kolonel RBM de Wijs, menjadi Komandan Barisan Pemadam Kebakaran. De Wijs diminta menyusun rencana reorganisasi kesatuan itu.

Setahun kemudian, 1919, Kotapraja Batavia secara resmi mendirikan Barisan Pemadam Kebakaran atau Brandweer, yang merupakan cikal bakal dari Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta sekarang. Dengan dukungan peralatan yang semakin modern dan sumber daya manusia yang kian profesional, kinerja Brandweer pun semakin baik. Kepiawaian menjinakkan si jago merah yang sering ditunjukkan membuat Brandweer menjadi pelindung sejati warga Betawi dalam bencana kebakaran.

Oleh karena itu, pada 1 Maret 1929, dalam rangka peringatan 10 tahun kelahiran Brandweer Batavia, sekelompok tokoh Betawi menyerahkan tanda penghargaan kepada pasukan pemadam kebakaran itu. Pemberian tanda penghargaan berbentuk prasasti itu dilakukan sebagai wujud terima kasih segenap masyarakat Betawi atas darma bakti para anggota barisan pemadam kebakaran.

“Dalam masa yang soeda-soeda bahaja api djarang tertjega habis langgar dan roema. Tidak memilih tinggi dan renda sepoeloeh tahoen sampai sekarang semendjak Brandweer datang menentang bahaja api moedah terlarang mendjadikan kita berhati girang...” Demikian sebagian tulisan yang terukir pada prasasti itu, yang kabarnya sampai kini masih tersimpan di Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta di Gang Ketapang, kini Jalan Zainul Arifin, Jakarta Pusat.

Para pemadam kebakaran zaman Belanda bisa bekerja maksimal, antara lain, karena relatif baiknya prasarana yang disiapkan pemerintah untuk menunjang kerja mereka. Banyak daerah pemukiman di Jakarta dulu sempat dilengkapi dengan apa yang disebut gang kebakaran, brandgang, jalan kecil yang dibangun di bagian belakang deretan rumah sebagai jalan khusus bagi petugas kalau terjadi kebakaran.

Sayang, jalan akses khusus bagi para anggota pemadam kebakaran untuk memudahkan kerja mereka itu kini nyaris tak bisa temui lagi. Setelah zaman kemerdekaan, lorong-lorong itu lambat laun hilang akibat pembangunan yang tak terkendali oleh warga Ibu Kota.

(Mulyawan Karim, Koran Kompas, Rabu, 15 Juli 2009)

Cara Pandang Pemimpin yang Sukses

Apakah Anda ingin menjadi pemimpin? Jika iya, Anda harus mengetahui bahwa di balik kisah seorang pemimpin yang sukses, selalu ada bawahan, rekan kerja, pembimbing, dan orang-orang yang mendukung dan bisa dipercaya. Berikut saran yang diberikan Keith Ferrazzi, penulis buku Who’s Got Your Back.

• Kebaikan Hati.

Kebaikan hati menjadi dasar bagi semua perilaku dan kebiasaan. Sifat ini pula yang bisa mendukung kita untuk menyampaikan ide-ide kreatif kepada dunia. Sifat ini pula yang bisa membawa kita untuk membantu setiap orang mengeluarkan potensi yang mereka miliki untuk kepentingan bersama. Kebaikan hati juga menjadi senjata ampuh menciptakan hubungan dan lingkungan kerja yang baik.

• Saling Pengertian.

Seberapa besar atasan dan bawahan bisa saling mengerti satu sama lain? Saat terjadi benturan antara keinginan atasan dan bawahan, sebenarnya terjadi konflik yang sehat antara keduanya. Yang diperlukan ialah adanya pembicaraan yang intens agar tercipta rasa saling pengertian.

• Terus Terang.

Keleluasaan untuk berkata terus terang atau jujur bagi atasan dan bawahan menjadi bagian yang tak kalah penting. Dengan berani berkata jujur, masing-masing pihak saling mengungkapkan harapan, ketakutan dan keluh-kesah mereka. Keterusterangan juga akan membuat seorang pemimpin belajar untuk bertindak cepat terhadap informasi yang sampai kepadanya.

(herita, Koran Seputar Indonesia, Sabtu, 18 Juli 2009)

25 Juli 2009

Meja Kerja Cerminan Karakter Anda.

Bagi banyak orang, meja kerja lebih dari sekadar tempat untuk bekerja. Di tempat inilah, sebagian besar orang menghabiskan waktu dan “hidupnya”. Tak heran, meja kerja pun bisa mencerminkan pemiliknya.

Bagi banyak orang, meja kerja mungkin menjadi tempat yang paling fungsional dalam hidupnya. Di meja tersebut, mereka tak hanya bekerja atau menelepon klien, tapi mungkin juga makan, bahkan tidur. Tak heran, segala jejak perilaku pemilik meja tersebut mungkin saja tertinggal dan bisa “berbicara” tentang sifat atau perilaku pemiliknya.

Tentu saja, membaca kepribadian lewat “jejak” di meja kerja tidaklah 100% akurat. Tapi “jejak” tersebut setidaknya bisa memberikan sedikit gambaran pada rekan kerja, atasan, atau bahkan klien tentang orang tersebut. Tentu saja, kesan yang ditimbulkan bisa saja tidak menguntungkan, karena itulah mungkin setelah membaca artikel yang dikutip dari aol.com ini, Anda tergerak untuk memperbaiki tampilan meja kerja Anda.

1. Penuh dengan foto.

Pemilik meja ini diasosiasikan sebagai orang yang cinta dengan keluarga. Tentu saja, ini adalah kepribadian yang positif. Namun jika seseorang memenuhi mejanya dengan potret anggota keluarga atau sahabat, hal ini bisa menandakan kalau pikiran orang tersebut selalu tertuju ke rumah hingga konsentrasinya terhadap pekerjaan akan berada jauh di bawah komitmen terhadap keluarga.

Untuk orang seperti ini, akan lebih cocok jika bekerja di perusahaan yang memiliki peraturan waktu yang fleksibel jika berhubungan dengan urusan keluarga. Ia juga sebaiknya mencari pekerjaan yang memiliki waktu libur dua hari dalam seminggu agar bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan orang-orang yang dicintainya.

2. Meja Kosong.

Orang-orang yang lebih suka mejanya kosong ialah orang yang tidak akan puas jika pekerjaannya belum diselesaikan dengan baik. Mereka adalah orang yang bekerja secara efektif dan efisien. Orang seperti ini umumnya juga orang yang agak kaku dan kurang menganggap penting hal kecil seperti memberi sentuhan pribadi pada meja kerjanya.

Pekerjaan yang cocok untuk orang seperti ini ialah pekerjaan di bidang farmasi atau konseling. Pekerjaan seperti itu umumnya memang hanya membutuhkan meja yang cenderung minimalis agar mereka bisa tetap fokus saat bekerja.

3. Penuh dengan Makanan.

Orang yang meja kerjanya penuh dengan makanan biasanya adalah rekan kerja yang ramah, suka memberi, dan senang berteman dengan siapa saja. Mereka biasanya suka memberi keceriaan di kantor. Sifat negatif yang mungkin dimiliki orang seperti ini ialah bahwa ia suka mengobrol atau bergosip, yang mungkin akan membuat beberapa orang terganggu dengan kebiasaannya ini.

Pekerjaan yang cocok untuk mereka yang senang berteman ialah pekerjaan di bidang komunikasi atau di bidang yang mengandalkan keahlian berkomunikasi untuk menggaet klien.

4. Penuh Wewangian.

Orang seperti ini biasanya meyakini kalau dirinya adalah orang yang penuh pengertian dan ingin menunjukkan eksistensinya dengan menebarkan wangi khasnya ke seluruh ruangan. Sayangnya, orang dengan tipe ini biasanya malah sering tidak dapat rasa tenggang rasa yang baik dari rekan kerja maupun kliennya.

Pekerjaan yang cocok untuk mereka tentu saja adalah berhubungan langsung dengan bisnis parfum atau wewangian. Ia bisa mencoba berbagai jenis posisi, mulai dari sales sampai marketing. Bisa juga menjajal pekerjaan di counter parfum di mal atau plaza.

5. Penuh Gagdet.

Orang seperti ini mencerminkan orang yang selalu ingin mengetahui hal-hal yang baru, menyukai tantangan, dan cepat menyerap teknologi. Intinya, apa pun yang bisa memberikan warna berbeda di dalam hidupnya, maka akan diterimanya dengan tangan terbuka. Meski begitu, jika ia mengajak orang lain untuk menggunakan gadget tersebut di kantor, tentu hal ini bisa menimbulkan gangguan terhadap suasana kantor.

Pekerjaan yang cocok untuk orang seperti ini ialah di bidang teknologi atau yang berhubungan dengan dunia komputer.

6. Penuh catatan-catatan.

Orang seperti ini kerap kali disebut sebagai orang yang terorganisasi. Sayangnya, dengan terlalu banyak catatan yang menutupi meja kerjanya, justru memperlihatkan bahwa ia adalah seorang pekerja keras namun tidak mampu melakukan manajemen waktu dengan baik. Lebih tepatnya, ia lebih banyak kerja keras daripada kerja cerdas.

Pekerjaan yang cocok untuk tipe ini ialah pekerjaan yang penuh rutinitas yang terduga, hingga tak perlu membuatnya terus-menerus membuat catatan atau mengecek apa yang harus dilakukannya hari ini.

7. Penuh bunga dan tanaman.

Orang yang senang memenuhi mejanya dengan bunga dan tanaman menunjukkan orang yang senang dengan segala hal yang alami dan menyukai detail. Orang dengan tipe seperti ini cocok jika bekerja di bidang layanan sosial atau terapi kejiwaan.

8. Penuh dengan file.

Mereka adalah orang-orang yang menganggap penting informasi sekecil apa pun. Mereka sangat senang jika memiliki kontrol terhadap segala sesuatu, dan selalu memprioritaskan pekerjaan mereka di atas urusan pribadi. Pekerjaan yang cocok untuk mereka ialah auditor atau bidang apa pun yang berhubungan dengan angka atau penyusunan informasi.

9. Penuh catatan inspirasional.

Orang yang senang menempelkan catatan yang inspirasional dan penuh motivasi adalah orang yang selalu terdorong untuk menjadi pemimpin dan ingin selalu memperbaiki perilaku mereka.

Pekerjaan yang cocok untuk tipe ini adalah di tataran manajemen atau di bidang pendidikan.

10. Penuh Plakat Penghargaan.

Wajar saja jika seseorang bangga dengan penghargaan yang pernah diraihnya. Namun, jika memamerkan semua penghargaan tersebut di meja kerja membuatnya menjadi terlalu berlebihan. Bisa jadi orang akan menganggapnya sebagai seseorang yang sombong dan terlalu menonjolkan diri.

Pekerjaan untuk orang-orang yang senang membuktikan dirinya sebagai orang yang berkualitas seperti ini ialah pekerjaan di bidang penjualan atau di industri hiburan.

(herita endriana, Koran Seputar Indonesia, Sabtu, 18 Juli 2009.)

10 Tips untuk mengatasi rintangan menulis, tips kesepuluh

X. Ingat alasan mengapa Anda mulai menulis

Lihat apa yang Anda tulis dan mengapa. Apakah Anda menulis apa yang Anda sukai, atau apa yang seharusnya Anda tulis? Tulisan yang dilakukan seperti bermainlah yang akhirnya akan membuat Anda bahagia dan tulisan inilah dimana pembaca Anda dengan sendirinya akan terhubung. Pada akhirnya, menulis akan menjadi sulit jika untuk alasan lain. Jika Anda terus menyentuh dasar dari apa yang Anda nikmati dalam menulis, hal itu akan menjaga Anda, tidak hanya terhadap rintangan menulis saat ini, tetapi juga rintangan apapun di masa depan.

10 Tips untuk mengatasi rintangan menulis, tips kesembilan

IX. Pertimbangkan Kembali Tempat Menulis Anda.

Apakah meja dan kursi Anda nyaman? Apakah ruangan Anda pencahayaannya cukup? Apakah akan membantu jika sesekali menulis di kafe? Tanpa menjadi terlalu berharap – atau mengubahnya menjadi bentuk penundaan – pikirkan tentang bagaimana Anda menciptakan atau menemukan tempat yang Anda inginkan.

Tempat Menulis Khusus

Strategi Menemukan Tempat Menulis oleh Ginny Wiehardt

Idealnya, kita semua menikmati ruangan Virginia Woolf yang terkenal, dengan sebuah pintu tertutup untuk memastikan waktu menulis yang tidak terganggu. Akan tetapi, bagi kebanyakan dari kita, ini bukanlah pilihan. Tapi kurangnya tempat untuk menulis seharusnya tidak menghalangi Anda untuk menulis. Dengan sedikit ketetapan hati dan kreativitas, Anda akan selalu menemukan cara untuk menulis.

• Jika Anda tidak dapat memiliki kantor, cukuplah di pojok ruangan.

Siapkan meja untuk Anda bekerja di pojok ruangan paling sepi di rumah Anda. Tidak harus mewah – hanya tempat Anda dapat duduk dan menulis. Jika Anda memiliki kawan sekamar atau keluarga, temukan waktu dimana semua orang apakah tidur atau tidak ada. Dengan begitu Anda bisa yakin tidak ada seorangpun yang akan mengganggu Anda, atau membuat Anda berhenti menulis.

• Tetapkan batas visual di sekeliling tempat menulis Anda.

Orang tidak akan mengganggu Anda dengan pertanyaan atau permintaan jika mereka tidak bisa melihat Anda. Sekat bahkan tirai atau sprai yang digantung dari langit-langit dapat menyediakan kebebasan pribadi dan menyingkirkan gangguan visual. Putarkan musik di headset atau pasang penutup telinga untuk menghalangi suara.

• Pertimbangkan menulis di kafe atau restoran.

Anda mungkin menemukan bahwa Anda menulis dengan sangat baik saat berada di luar rumah. (Ini benar sekali saat Anda memiliki anak-anak.) Pergilah saat waktu libur, setelah makan siang atau sebelum makan malam. Berikan tip yang cukup dan sopan, sehingga Anda selalu disambut baik.

• Sewa tempat menulis.

Jika Anda mampu menyewa kantor atau studio kecil, ini adalah pilihan yang sangat baik. Bagi beberapa penulis, memiliki kantor di luar rumah membantu mereka bekerja lebih serius. Lagipula, seperti pergi bekerja. Hal ini juga memastikan bahwa gangguan ditinggalkan. Beberapa kota juga memiliki ruangan penulis yang disewakan kepada penulis.

• Gunakan perpustakaan.

Tempat gratis, dan sangat tenang (Hindari area internet, dimana orang cenderung lebih banyak bicara); mereka membiarkan Anda puas sampai waktunya tutup tiba; Anda dapat menulis dan dikelilingi oleh tulisan-tulisan hebat. Apa lagi yang Anda inginkan?

• Kreatif dalam menemukan tempat menulis.

Kurangnya tempat tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak menulis. Bawalah buku catatan dan tulislah kapanpun Anda memiliki waktu luang – saat menunggu janji bertemu, di taman saat makan siang, bahkan di transportasi umum. Anda akan terkejut betapa banyak tulisan yang bisa Anda tulis dalam waktu singkat. Anda mungkin menemukan bahwa kendala dalam hidup Anda mengilhami kerja Anda dengan cara mengejutkan.

10 Tips untuk mengatasi rintangan menulis, tips kedelapan

VIII. Coba Latihan Menulis.

Mungkin mengingatkan Anda saat Anda berada di kelas menulis saat SMA, latihan menulis dapat membebaskan pikiran dan membuat Anda menuliskan sesuatu yang tidak mungkin Anda tulis. Setidaknya, latihan menulis akan menghasilkan kata-kata di kertas, dan jika Anda cukup melakukannya, beberapa tulisan itu akan cukup baik.

10 Tips untuk mengatasi rintangan menulis, tips ketujuh

VII. Kerjakan Lebih dari Satu Proyek dalam Satu Waktu.

Beberapa penulis menemukan bahwa sangat membantu bekerja bolak balik dari satu proyek ke proyek lainnya. Apakah ini meminimalkan ketakutan atau kebosanan, atau keduanya, sepertinya bekerja seperti itu mencegah adanya rintangan menulis bagi banyak orang.

10 Tips untuk mengatasi rintangan menulis, tips keenam

VI. Periksa Masalah Besar di balik Rintangan Menulis Anda.

Tulislah tentang kecemasan Anda terhadap menulis atau kreativitas. Bicaralah kepada teman, terutama yang juga hobi menulis. Berbagai macam buku, seperti “The Artist’s Way”, di desain untuk membantu orang yang kreatif menjelajahi akar penyebab rintangan menulis mereka. (Mempelajari kehidupan penulis lainnya juga dapat memberikan masukan mengapa Anda terhalangi.) Jika Anda terus mengalami kesulitan menulis, sebaiknya Anda berkonsultasi. Banyak ahli terapi yang mengkhususkan membantu seniman dan penulis terhubung kembali dengan kreativitas mereka.

10 Tips untuk mengatasi rintangan menulis, tips kelima

V. Tetapkan Tenggat Waktu dan Tepati.

Banyak penulis, sangat dimengerti, memiliki masalah untuk melakukannya sendiri. Mungkin lebih baik mencari rekan menulis yang setuju untuk saling mengingatkan tenggat waktu dengan cara menyemangati dan tidak mengkritik. Mengetahui bahwa seseorang menunggu hasil membantu banyak penulis menghasilkan tulisan. Grup menulis atau kelas menulis adalah cara baik untuk memulai rutinitas menulis.

0 Tips untuk mengatasi rintangan menulis, tips keempat

IV. Istirahatlah Jika Anda Baru Saja Menyelesaikan Sebuah Proyek.

Rintangan menulis mungkin sebuah tanda bahwa ide-ide Anda butuh waktu untuk dicerna. Waktu istirahat mungkin merupakan kunci dari proses kreatif. Berikan waktu bagi Anda untuk mengumpulkan pengalaman dan ide baru , dari kehidupan, membaca, atau bentuk lain dari seni, sebelum Anda memulai lagi.

10 Tips untuk mengatasi rintangan menulis, tips ketiga

III. Pikirkan Menulis sebagai Pekerjaan Tetap, dan Bukan Seni

Stephen King, penulis produktif yang terkenal, menggunakan metafora dari kotak peralatan untuk berbicara tentang menulis di “On Writing”, dengan disengaja dihubungkan kepada kerja fisik. Jika kita berpikir bahwa diri kita adalah buruh, sebagai tukang, mudah untuk duduk dan menulis. Kita hanya menuliskan kata-kata di kertas, kita hanya menciptakan berbagai hal, - cerita, puisi atau sandiwara – hanya menggunakan kosa kata dan tata bahasa bukannya batu bata dan adukan semen.

10 Tips untuk mengatasi rintangan menulis, tips kedua, Jangan Terlalu Keras Pada Diri Sendiri

II. Jangan Terlalu Keras Pada Diri Sendiri.

Jangan terlalu keras pada diri Anda saat menulis. Anna Quindlin menulis, “Orang memiliki rintangan menulis bukan karena mereka tidak bisa menulis, tapi karena mereka putus asa menulis dengan fasih.” Matikan otak yang kritis. Ada waktu dan tempat untuk kritisisme, namanya editing.

10 Tips untuk mengatasi rintangan menulis, tips pertama Jalankan Jadwal Menulis

Sebagian besar penulis akan mengalami rintangan menulis di dalam hidup mereka. Alasan rintangan menulis mungkin banyak sekali : rasa takut, khawatir, perubahan hidup, berakhirnya sebuah proyek, awalnya sebuah proyek… hampir semuanya, sepertinya dapat menyebabkan rasa takut dan frustrasi. Untungnya ada begitu banyak cara untuk mengatasi rintangan menulis. Di bawah ini hanya merupakan saran, tapi mencoba sesuatu yang baru adalah langkah pertama untuk mulai menulis lagi.

I. Jalankan Jadwal Menulis

Atur waktu menulis dan abaikan rintangan menulis. Datang untuk menulis, bahkan jika ide tidak segera datang. Saat Anda duduk untuk menulis di halaman yang sama di waktu dan tempat yang sama setiap hari, akhirnya pikiran Anda akan melakukan hal yang sama. Graham Greene yang terkenal menulis 500 kata, dan hanya 500 kata, setiap pagi. Lima ratus kata hanya sekitar satu halaman, tapi dengan 500 kata setiap hari, Greene menulis dan mencetak lebih dari 30 buku.

Memiliki Waktu untuk Menulis oleh Ginny Wiehardt

Bagi sebagian besar dari kita, memiliki waktu untuk menulis selalu akan menjadi sesuatu yang diperjuangkan. Dengan teman dan keluarga, kewajiban finansial dan masalah emosi yang berlomba-lomba menguras perhatian kita, butuh ketetapan hati untuk membuat jadwal menulis dan menjalankannya. Saya sudah mencapai kesimpulan bahwa tidak ada jawaban mudah, tapi ada hal-hal konkret yang dapat kita lakukan untuk memiliki waktu untuk menulis.

1. Tunjuk masalah yang membuat Anda tidak memiliki waktu untuk menulis.

Jika Anda selalu ingin menulis dan tidak melakukannya, sediakan pikiran untuk mengetahui apa yang menjadi sumber rintangan menulis Anda. Apakah rasa takut gagal, kecenderungan menunda, atau sesuatu yang sederhana seperti kurangnya ruang untuk menulis? Jika tidak jelas apa rintangannya, sediakan waktu untuk merenung, atau bicara dengan teman, terapis atau penasihat kehidupan. Saat Anda mulai mengerti hal-hal yang merintangi Anda dari menulis – apakah internal atau eksternal – Anda dapat membuat rencana untuk mengatasinya.

2. Jadwalkan Waktu untuk Menulis.

Tidak menarik atau menyenangkan selalu menempel pada jadwal, tapi sangat membantu. Jika Anda bekerja purnawaktu, mungkin lebih mudah mendapatkan waktu tetap setiap hari untuk menulis. Bangun pagi dan menulis sebelum Anda berangkat, bawa buku catatan saat Anda makan siang, mampir ke warung kopi saat Anda pulang kerja. Murid mungkin memiliki setiap hari selama seminggu yang didedikasikan untuk menulis kreatif. Ibu dan bapak rumah tangga seringkali bergantung pada waktu tidur. Jadwal mungkin berevolusi saat hidup Anda berubah, tapi sebagian besar orang dapat lebih banyak menyelesaikannya jika mereka memiliki waktu tetap untuk menulis. Buatlah waktu itu sangat berharga, seperti pertemuan yang sangat penting. Anda akan merasa lebih baik tentang diri Anda sendiri dan hidup Anda jika Anda meluangkan waktu untuk menulis.

3. Tahan Keinginan untuk Melakukan Lebih.

Jika Anda tipe orang yang cenderung melibatkan diri ke dalam proyek baru hanya untuk kelelahan setelah satu atau dua minggu, pertimbangkan untuk berhenti menulis. Jangan biarkan Anda terobsesi saat memulai. Menulislah selama satu atau dua jam lalu lanjutkan dengan pekerjaan sehari-hari Anda. Kita semua mengambil keuntungan dari menjadwalkan waktu untuk bersenang-senang, bahkan hanya untuk menonton ke bioskop atau menelepon teman lama. Ingatlah bahwa Anda akan melakukannya untuk jangka waktu lama, dan pikiran Anda membutuhkan waktu untuk melengkapinya.

4. Terima Kenyataan Bahwa Semua Ini Tidak Mudah.

Anda mungkin lebih lelah di akhir hari. Ada beberapa kewajiban sosial yang mungkin dapat disisihkan. Keluarga Anda mungkin harus ikut menentukan. Putuskan apa yang akan Anda korbankan untuk beberapa jam seminggu yang didedikasikan untuk menulis. Sebagian besar dari kita memiliki kewajiban yang tidak dapat kita hindari, tapi jika Anda berketetapan hati, Anda bisa mengatur keduanya. Di saat bersamaan, bersyukurlah dengan apapun yang dapat Anda berikan kepada tulisan Anda. Bahkan satu jam sehari menambah waktu.

5. Temukan Sumber-sumber untuk Membantu Anda Menjaga Jadwal Anda.

Apa yang coba Anda lakukan tidaklah mudah. Dukunglah diri Anda dengan cara sebanyak mungkin. Buku-buku tentang menulis dapat membantu, begitu juga dengan memiliki ruang untuk menulis. Dan hampir sebagian besar penulis mengambil keuntungan dari komunitas tertentu. Jika ada teman Anda yang Anda tahu mengorbankan aspek karier atau kehidupan sosial mereka untuk kreatif, akan lebih mudah melakukannya untuk diri Anda sendiri. Dengan pilihan gaya hidup, yang diasosiasikan dengan beberapa orang yang berbagi prioritas dengan Anda dan perjuangan Anda akan membantu Anda menopang waktu untuk berlatih menulis.

Creative Thinking Techniques, Pertanyaan Menghasilkan Ide by Robert Harris

Bertanya untuk mendorong keingintahuan dan kreativitas telah terbukti membantu semua jenis usaha, apakah mencari jalan keluar, pengembangan produk, menciptakan atau komunikasi. Daftar tertulis dari pertanyaan pendorong pikiran sangat berguna karena mengingatkan kita atas pendekatan dan kemungkinan yang tidak ada di dalam pikiran kita. Ya, kadangkala memungkinkan untuk menjadi kreatif dengan cara seksama dan bahkan teratur.

Enam Pertanyaan Jurnalis

Berikut ini adalah enam pertanyaan yang diajarkan kepada mahasiswa jurnalisme untuk menjawab artikel mereka dan untuk memastikan bahwa mereka telah meliput kisah secara keseluruhan. Untuk pemikir kreatif, pertanyaan-pertanyaan ini mendorong berpikir tentang ide di dalam pertanyaan dan memungkinkan pendekatan dari berbagai sudut.

1. Siapa? (Pelaku atau Perantara) Siapa yang terlibat? Seperti apa wajah orang menghadapi masalah itu? Siapa yang melakukan, atau siapa yang kemungkinan melakukan? Siapa yang menggunakannya, menginginkannya? Siapa yang akan mendapatkan keuntungan, akan terluka, akan diikutsertakan, ditiadakan?

2. Apa? (Tindakan) Apa yang seharusnya terjadi? Apakah itu? Apa yang telah dilakukan, harus dilakukan, telah dilakukan? Apa yang akan dilakukan jika X terjadi? Apa yang telah terjadi salah atau dapat menjadi bencana? Apa yang akan terjadi jika tindakan itu sukses?

3. Kapan? (Waktu atau Waktu Kejadian) Kapan kejadian ini terjadi atau akan dilakukan? Dapatkah dilakukan terburu-buru atau ditunda? Apakah waktu lebih cepat atau lebih lama yang disukai? Kapankah waktunya jika X terjadi?

4. Dimana? (Tempat kejadian atau Sumber) Dimana kejadian terjadi atau dilakukan? Dimana lagi kemungkinan dilakukan? Dimana lagi kejadian yang sama terjadi, atau harus terjadi? Apakah tempat-tempat lain terpengaruh, terancam, terlindungi, terbantu dengan tempat ini? Bagaimana pengaruh tempat ini pada pelaku, tindakan?

5. Kenapa? (Tujuan) Kenapa tindakan ini dilakukan, dihindari, atau diizinkan terjadi? Kenapa harus dilakukan, dihindari, diizinkan terjadi? Kenapa pelaku melakukan atau harus melakukannya? Apakah ada pelaku, tindakan, waktu, dan tempat lain? Kenapa tindakan, aturan, ide, jalan keluar, masalah, bencana itu dan bukan yang lain? Kenapa pelaku, waktu, tempat itu dan bukan yang lain?

6. Bagaimana? (Perantara atau Cara) Bagaimana terjadi, seharusnya dilakukan, dihentikan, dihancurkan, dibuat, diperbaiki, diubah? Bagaimana tindakan itu dijelaskan, dimengerti? Bagaimana awal mengarah ke kesimpulan?

Pemeriksaan Bagaimana Terjadi

Pertanyaan-pertanyaan ini sangat membantu untuk menghasilkan ide untuk memperbaiki sesuatu (pendekatan evolusi), tetapi pertanyaan-pertanyaan itu juga membantu mengubah cara pikir dari cara evolusi dan menempatkannya ke dalam cara revolusi dengan mengembalikan pemikir kepada asal dan tujuan dari ide atau jalan keluar. Dengan kembali ke akar dari masalah, pandangan baru dapat diciptakan.

1. Intisari. Apakah itu? Obyek, konsep? Dibuat dari apa? Apakah nyata, dasar alam? Apakah bagian-bagiannya? Kesamaan, perbedaan? (Kiasan sangat membantu dalam mengerti hal abstrak) Apa hubungannya? Apakah jenis, segi, corak? Bagian dari apa? Bagian mana yang tidak biasa atau menonjol? Dalam bentuk apa terlihat? Apakah biasa atau tidak biasa dalam jenisnya? Apa yang bukan? Apa yang menjadi lawannya? Bagaimana bisa berbeda? Apa yang membuatnya berbeda?

2. Asal. Darimana asalnya? Bagaimana dibuat, disusun atau dikembangkan? Apa yang menjadi penyebabnya? Jika sebuah ide, bagaimana ide itu muncul? Apakah asalnya saat ini menjadi berarti? Apa yang menyebabkannya menyebar, berlipat ganda atau begitu disukai? Apa alasan dibaliknya? Apakah alasan itu masih berlaku atau berguna? Kenapa? Kenapa tidak? Apakah masih dibutuhkan? Apa yang mempengaruhinya? Apakah berubah? Dapatkah, haruskah diubah, diperkuat, dihilangkan? Apa yang dapat menghindari, menunda, mendorong tindakan?

3. Tujuan. Apa yang dilakukan? Bagaimana caranya? Apa tujuannya? Apakah tujuannya tercapai? Lebih baik dari pendahulunya? Dapatkah atau seharusnya diperbaiki? Apakah maksudnya justru membantu atau malah melukai? Apakah implikasinya; apa tujuannya? Apakah memiliki akibat yang jelas atau tersembunyi? Apakah memiliki lebih dari satu tujuan? Apakah akibat jangka pendek dan jangka panjangnya? Apakah fungsi yang sebenarnya sama dengan tujuan awal yang diinginkan oleh penciptanya? Apakah dapat digunakan untuk tujuan lain?

4. Datangkan. Apakah arti secara keseluruhan? Apakah artinya bagi manusia, lingkungan, peradaban, kebahagiaan, kebaikan, keamanan, kenyamanan, dan sebagainya? Apakah penting? Apakah merupakan unsur kunci di dalam kehidupan, peradaban, daerah setempat, keberadaan seorang manusia? Apakah diperlukan? Apakah diinginkan?

5. Reputasi. Apa yang Anda pikirkan? Apakah Anda menutupi anggapan? Apa yang orang lain pikirkan? Apakah Anda menemukan persetujuan, pertentangan? Apakah baik, buruk, membantu, berbahaya dalam fakta atau pendapat orang lain? Apakah Anda dapat memutuskan perbedaan antara kenyataan dan pendapat, maksud dan keadaan yang sesungguhnya, pro dan kontra anggota? Kelemahan apakah yang seringkali teridentifikasi? Apakah ada daerah yang benar-benar ingin diubah atau diperbaiki atau dihilangkan?