17 Mei 2011

Salesman dan kawan-kawannya.

Yup, salesman, tetapi yang ingin saya bicarakan adalah salesman yang berkeliling di perumahan.

Saya sangat menghargai apa pun bentuk pekerjaannya asalkan dilakukan dengan cara yang halal dan tidak mengganggu ketenangan orang lain.

Mengganggu ketenangan?

Ya, maksud saya jam yang biasa mereka gunakan untuk mengetuk pintu rumah yang ingin mereka tawarkan dagangan atau pun yang ingin mereka tanyai untuk survei yang mereka lakukan.

Kali ini, mereka datang sekitar pukul 15.00.

Berhubung hari libur, tentu saja banyak orang mengisinya dengan tidur.

Sepertinya mereka sama sekali tidak merasa sungkan untuk mengetuk pintu rumah seseorang di waktu si pemilik rumah sedang beristirahat.

Ya, saya mengerti, mereka pastinya harus memenuhi kuota penawaran atau daftar survei. Tetapi apakah seperti ini caranya, tidak mempedulikan caranya apakah mengganggu orang lain atau tidak tetapi hanya peduli dengan hasil yang mereka capai.

Suatu kali pernah ada 4 orang, 2 laki-laki dan 2 perempuan melakukan survei ke sekitar tempat saya tinggal. Saat itu ayah saya memberikan nasihat kepada mereka untuk "permisi" dulu sebelum melakukan survei.

Mengajukan izin ke ketua RT atau ketua RW setempat sebelum melakukan survei dengan tujuan agar kegiatan survei yang mereka lakukan atas seizin dan sepengetahuan ketua RT atau ketua RW.

Alasan yang mereka kemukakan, mereka pikir sudah cukup hanya dengan mendapatkan surat tugas dari institusi tempat mereka bekerja atau belajar.

Bukankah kita sudah diajarkan untuk masuk ke rumah orang lain dengan masuk dari pintu depan bukan masuk dari pintu samping atau jendela? Apakah sebegitu parahnya ketidakpedulian mereka atas sopan santun? Apakah harus diajarkan lagi sopan santun? Entahlah.



Lain lagi dengan kasus yang satu ini.

Pernah ada saleswoman yang datang ke rumah saya dan membawa "kabar gembira" kalau ibu saya bisa menjawab dengan benar satu pertanyaan yang diajukannya, maka ibu saya akan mendapatkan 4 buah panci.

Pertanyaan diajukan dan saya membantu ibu saya menjawabnya.

Yang menjengkelkan adalah saat si saleswoman bertanya kepada ibu saya, apakah ibu saya yakin bahwa saya tidak membohonginya. Hmmm, hebat, baru bertemu beberapa menit sudah berani melabeli saya pembohong.

Ibu saya menjawab, tentu saja saya tidak mungkin membohonginya.

Dan ya, setelah ibu saya berhasil menjawab dengan benar pertanyaan darinya. Barulah dia mengeluarkan berbagai syarat untuk mendapatkan hadiah 4 buah panci tersebut.

Yang harus mengeluarkan uang sejumlah sekian lah baru dapat pancinya. Dan yang lainnya saya tidak ingat, karena saya langsung berpikir, "Nah, sekarang siapa yang sebenarnya pembohong?" :D



Ada lagi modus lainnya.

Suatu hari ayah saya menerima surat pemberitahuan bahwa beliau mendapatkan hadiah dan hadiahnya bisa diambil di sebuah ruko dekat sebuah pusat perbelanjaan.

Ayah saya dan saya akhirnya datang untuk mengetahui apa yang mereka inginkan. Ayah saya mengatakan, "Hmm, paling hadiahnya cuma jam dinding, tapi ga pa pa kita coba cari tahu dulu saja. "

Setelah sampai di ruko sesuai alamat di surat, kami masuk. Begitu masuk, ruangan yang tidak luas itu terdiri dari kurang lebih 3 meja dan tiap meja sudah ada orang yang datang ingin mengambil hadiahnya.

Yang membuat saya curiga, musik yang dimainkan di ruangan itu bisa dibilang sangat memekakkan telinga. Tujuannya sepertinya memang agar para pengambil hadiah tidak dapat mendengarkan pembicaraan satu sama lainnya.

Mulailah ayah saya ditawarkan berbagai macam produk dengan harga yang sangat murah. Menurut mereka.

Karena saya tidak tertarik dengan barang-barang yang ditawarkan, saya mulai melihat ke sekeliling. Hmm, banyak juga orang yang tertarik membeli produk yang mereka tawarkan.

Mengamati saya yang melihat keadaan sekeliling, si pegawai kemudian bertanya pada saya agar konsentrasi saya kembali ke topik yang dia tanyakan.

Setelah itu kami diberi minum. Dan selama hidup saya, baru pertama kalinya saya diberikan cangkir yang masih ada lipstiknya untuk diminum. Hmm, saking repotnya, mungkin mereka sampai tidak sempat mencuci cangkir. :((

Karena kami sama sekali tidak tertarik dan sepertinya mereka mengetahui misi mereka gatot alias gagal total, akhirnya mereka menyerah dan hanya memberikan jam dinding, seperti yang sebelumnya telah ayah saya perkirakan. :D

Hidup itu memang mengenai pilihan. Dan sudah seharusnya kita memilih hidup dengan jalan yang baik dan benar agar hidup ini menjadi berkah, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang banyak. Amin.

Semoga bermanfaat. :D

16 Mei 2011

Memaafkan itu Melegakan, Annida Online, Senin, 9 Mei 2011.

“Gue susssaaaah banget maafin kesalahan dia!”

“Sampai mati pun, kagak bakalan gue ampunin, gue udah didzolimin!!!”

Sob, banyak yang tidak “ngeh” bahwa dendam sebenarnya tidak membawa apapun selain kehancuran. Bukan kehancuran buat orang yang kita timpakan rasa dendam euy! Melainkan kehancuran buat diri kita sendiri. Ali Radiyallahu’anhu dengan tepatnya mengumpamakan, “Memelihara dendam itu seperti diri kita meminum racun, tapi berharap orang lain yang mati.” Aha! Sudah jelas kan bahwa miara dendam sama parah dengan miara tuyul? Hii...

Terus, bagaimana doong cara untuk melampiaskan emosi yang terpendam karena sering dizolimi? Kan susah banget memaafkan kesalahan orang yang udah terlanjur kita benci sampai ubun-ubun!

Nah, makanya... ikuti pembahasan Bianglala Nida edisi ini sampai tuntas... tas... tas...


Tingkatan Orang yang Dizolimi

Sob, jangan salah... orang yang dizolimi punya level yang berbeda-beda looh!

Level terendah adalah mereka yang dizolimi, kemudian orang-orang ini sulit memaafkan dan malah memendam dendam. Hayyo... jangan sampe deh kita berada di level ini, rugi dunia-akhirat!

Level lumayan adalah mereka yang dizolimi, kemudian membalas kezoliman itu dengan setimpal sehingga tidak lagi memendam dendam. Lumayan daripada lumanyun, tapi tingkatan ini masih standar banget Sob!

Level tinggi adalah mereka yang dizolimi, kemudian memaafkan dengan lapang dada.

Level dahsyat adalah mereka yang dizolimi, kemudian malah membalas orang yang mendzolimi dengan kebaikan.

Yuk kita bahas level demi levelnya! Supaya kita bisa sampai ke tingkat memaafkan dengan lapang dada dan bahkan membalas kedzoliman dengan kebaikan.


Pertama-tama: Benarkah Dizolimi, atau Kita yang Menzolimi Diri Sendiri?

Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk “nrimo” keburukan yang dilakukan orang lain pada kita loh Sob, tampar pipi kanan, kasih pipi kiri. Justru Allah Swt. membolehkan kita untuk membalas kejahatan dengan setimpal.

Coba simak Quran surat An-Nahl ayat 126: “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu...”

Misalnya kita dipukul, yaa balaslah memukul dengan kekuatan seimbang. Kecuali kalau kita memang ikhlas dipukul, gak ada dendam apalagi sakit hati. Artinya, ketika kita dipukul kemudian kita malah diam saja, tapi sebenarnya hati kita merasa benci dan dendam, sejatinya, yang menzolimi diri kita bukanlah orang yang memukul, tetapi diri kita sendiri yang membiarkan orang lain memukul kita dengan leluasa. Bukankah kita adalah pemimpin untuk diri sendiri? Seharusnya kita bertanggungjawab terhadap apapun yang terjadi pada diri kita, jangan bisanya cuma menyalahkan orang lain dan merasa dendam, padahal kita memang tidak melakukan apa-apa untuk membela hak kita sendiri.

Kalaupun kita tidak memiliki kemampuan melawan dengan fisik, kita bisa menggunakan kecerdasan kita, misalnya meminta bantuan pihak lain untuk membantu kita mengatasi kezoliman tersebut, atau jauhkan diri dari sumber kezoliman tersebut. Hargai diri kita sendiri! Jangan sampai rela dizolimi orang... Jika kita tidak melakukan langkah apapun untuk melawan kezoliman terhadap diri kita, berarti memang kitalah pelaku kezoliman untuk diri sendiri:

“Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar-Ra’d 11)

Artinya, Allah meminta kita untuk berinisiatif mengubah nasib sendiri, dengan demikian kita tidak ada hak untuk menyalah-nyalahkan orang lain, dendam kesumat, bahkan bersumpah tidak akan memaafkan orang tersebut. Jadi, penting untuk menyadari di awal... apakah kita benar dizolimi, atau justru kita yang menzolimi diri sendiri? Duh, jangan sampai deh kita “sakit” gara-gara kejahatan orang lain. Belajar bela diri sendiri yuk!

“Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, "Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?" Nabi Saw menjawab, "Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)


Kedua: Digigit Anjing, Tidak Perlu Balas Dengan Gigitan!

Kalau kita dizolimi, sah-sah saja membalas dengan setimpal. Masalahnya... kalau yang menzolimi kita memang bukan manusia, bukankah menghabiskan waktu saja kalau cari perkara dengannya? Ibaratnya, digigit anjing malah balik ngegigit anjing itu, yang bodoh kita atau anjingnya? Bingung kan?

Sobat Nida, banyak sekali manusia yang “bukan manusia” di dunia ini, punya otak tapi tidak dipakai berpikir, punya hati tapi mati, sehingga semua ucapannya menyakitkan, setiap tindak-tanduknya menyinggung orang lain. Untuk tipe yang satu ini, perlu kebesaran hati kita untuk tidak memasukkan ke dalam hati hal-hal yang ia lakukan, kalau tidak? Beuh, bisa-bisa habis waktu dan energi untuk mengurusi hal-hal menyebalkan dari perbuatannya.

So, nggak perlu deh merasa dendam, benci, kesel setengah mati, plus geregetan dengan orang seperti ini! Cukup kasih peringatan seperlunya, atau diamkan saja dan jangan sekali-kali kita izinkan perkataan dan perbuatannya merasuki hati kita sampai bikin kita depresi, rugiiiii. Kita bisa menganggap orang-orang ini adalah “utusan syetan” untuk menjerumuskan kita ke neraka. Biarkan aja mereka bertingkah, jangan sampai terpancing!

Anjuran dari al-Quran surat Al-Maaidah ayat 13 untuk “membalas” orang-orang yang hatinya sudah kadung jadi batu:

“Maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Peribahasanya begini: Anjing melolong, kafilah berlalu. Biarin aja anjingnya capek sendiri, kita mah cuek aja. Oke?

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (Al Qur’an surah 7:199)


Ketiga: Maafkanlah, Karena Dendam Hanya Melahirkan Dendam

Ketika kita merasa kesal setengah mati dan berencana tidak memaafkan orang lain, sebenarnya itu bisa menyempitkan hati kita sendiri. Kita menyimpan dendam sebesar gunung ke dalam hati, akibatnya... hati kita penuh dengan kebencian, dada kita terasa sesak. Yang rugi yaa diri kita sendiri Sob.

Apakah kita mengira jika perasaan dendam itu dibalaskan maka kita akan menjadi lega? Oh, ternyata tidak! Dendam yang dibalaskan malah akan memunculkan dendam yang lain looh, jadinya saling dendam sampai tujuh turunan, kan gak oke banget tuh. Makanya Allah memberi solusi agar kita bebas dari dada yang sempit dan hidup yang penuh dendam kesumat:

“Hendaklah memberi maaf dan melapangkan dada, tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?” (Q.S. An-Nuur: 22)

Pasti kita berharap kesalahan-kesalahan kita dimaafkan oleh Allah, bagaimana kalau kita duluan yang memaafkan kesalahan orang lain, sehingga Allah ridho pada kita dan mau memaafkan kesalahan kita?


Jangan Lupakan Hukum Alam!

Yang tidak boleh kita lupa adalah adanya hukum alam, “Siapa yang menabur, dia akan menuai.” Bahasa Fisikanya, hukum kekekalan energi. Bahwa energi baik dan energi buruk yang kita keluarkan akan kembali pada diri kita dengan nilai yang sama. Jadi siapapun yang berlaku dzolim, kedzolimannya itu akan berbalik mengenai diri mereka sendiri.

Artinya, kalau kita mau lebih cerdas daripada sekedar membalas kezoliman orang lain, yaa caranya dengan Memaafkan! Ngapain kita nyempit-nyempitin hati dengan memperhitungkan kedzoliman orang, toh kejahatan mereka akan berbalik pada diri mereka sendiri.

Memaafkan itu sama dengan membuang beban-beban yang bergelayutan di hati kita, dengan memaafkan, berarti kita menyerahkan “pembalasan” pada Allah. Dan asal tahu aja... pembalasan dari Allah untuk orang-orang dzolim pasti lebih “nendang” daripada kita balas sendiri. Makanya Allah meminta kita menahan diri:

“... Akan tetapi jika kamu sekalian mau bersabar atas kedzoliman yang telah mereka timpakan kepada kamu serta dengan itu semua kamu mengharap pahala dari Allah sebagai ganti dari kedzoliman itu lalu kamu pasrahkan dan serahkan semuanya kepada Allah maka itu akan lebih baik bagi kamu sekalian.” (An-Nahl 126)


Memaafkan itu Menyehatkan

Ternyata memaafkan itu menyehatkan! Dalam buku Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres.

Sebuah tulisan berjudul "Forgiveness" [Memaafkan], yang diterbitkan Healing Current Magazine [Majalah Penyembuhan Masa Kini] edisi bulan September-Oktober 1996, menyebutkan bahwa kemarahan terhadap seseorang atau suatu peristiwa menimbulkan emosi negatif dalam diri orang, dan merusak keseimbangan emosional bahkan kesehatan jasmani mereka. Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa orang menyadari setelah beberapa saat bahwa kemarahan itu mengganggu mereka, dan kemudian berkeinginan memperbaiki kerusakan hubungan. Jadi, mereka mengambil langkah-langkah untuk memaafkan. Disebutkan pula bahwa, meskipun mereka tahan dengan segala hal itu, orang tidak ingin menghabiskan waktu-waktu berharga dari hidup mereka dalam kemarahan dan kegelisahan, dan lebih suka memaafkan diri mereka sendiri dan orang lain.

Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Hmm...


Terdahsyat: Tidak Sekedar Memaafkan, tapi Membalas dengan Kebaikan

Ini yang lebih dahsyat, Rasulullah Saw. telah mampu memberi teladan buat kita, tidak sekedar memaafkan kezoliman orang, tapi juga membalas kezoliman tersebut dengan kebaikan. Yaa ampun, nyebutinnya aja udah pengen keluar air mata, hebat banget sih idola kita...

Bayangkan... meskipun dilempar batu dan diusir oleh penduduk Thaif, Rasulullah Saw. malah berdoa semoga Allah memberikan keturunan orang-orang yang beriman dari penduduk Thaif. Apakah kita sanggup menirunya?

Kalau kita ingin menang berkali-kali, apa yang dilakukan Rasulullah Saw. ini harus kita coba dan kita biasakan Sob! Membalas kezoliman atau penghinaan dengan kebaikan. Ada juga kisah menarik dari buku “13 Wasiat Terlarang” karya Ippho Santosa mengenai hal ini:

Suatu ketika, Jerman Timur membuang timbunan sampah di perbatasan Jerman Barat. Orang-orang di Jerman Barat sangat marah dan ingin membalas penghinaan tersebut. Namun, ada seorang bijak yang memberi usul lebih cemerlang.

Akhirnya, Jerman Barat justru menaruh beraneka hasil bumi, sayur-mayur, buah-buahan di perbatasan Jerman Timur, mereka sekaligus memancangkan sebuah papan bertuliskan “Masing-masing memberi sesuai dengan kemampuannya.”

Hehehe. Bukankah itu pembalasan yang manis? Sebenarnya Jerman Barat sedang menghina “Jerman Timur mah kemampuannya cuma sampah”, tapi pembalasan ini dibungkus dengan amat cantik. Malah keren kan?

Begitulah, kita mustinya belajar untuk membalas kedzoliman dengan kebaikan, karena hasilnya pasti berakhir happy ending.


Memaafkan itu Melegakan

Sekarang mari kita berpikir jernih, benarkah di hidup yang singkat ini kita rela menghabiskan usia hanya untuk memendam kesal dan kebencian yang mendarah daging? Benarkah kita rela membakar diri sendiri dalam api kemarahan sekaligus api neraka hanya karena seorang yang mendzolimi kita?

Sekarang, pikirkanlah orang-orang yang mendzolimi kita, yang pernah menghina kita, yang meremehkan kita, bahkan yang menghancurkan masa depan kita! Bayangkan wajah mereka, dan katakanlah “Saya telah memaafkanmu, semoga Allah mengampuni saya!” katakanlah berulang-ulang! Sebanyak-banyaknya! Minimal sepuluh kali, kalau perlu sampai air mata kita luruh!

Karena kita berharap Allah menempatkan kita di tempat terbaik, dunia-akhirat, maka lepaskanlah rasa marah, dendam, benci itu, biarkan dada kita lega dan lapang tanpa beban! Jangan lagi memberatkan hati kita dengan memikirkan cara-cara membalas dendam.

Percayalah Sob, kemaafan kita adalah untuk kebaikan diri kita sendiri, bukan untuk kebaikan mereka. Jika benar mereka melakukan kedzoliman, pasti Allah membalasnya dengan adil! Jadi, demi kelegaan dan kedamaian dalam hati, maafkanlah kedzoliman orang lain, dan rasakanlah sensasi luar biasa yang tidak akan kita dapatkan sekalipun kita telah melampiaskan amarah dan dendam di dada!

“Maka disebabkan rahmat Allah atasmu, kamu berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkan mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka…”(QS:3:159)

Sob, sungguh... memaafkan itu melegakan, mari kita menjadi pribadi yang terbiasa memaafkan, sehingga Allah pun mudah memaafkan kesalahan kita. (Syamsa/ dari berbagai sumber)

Sumber : http://www.annida-online.com/artikel-3013-memaafkan-itu-melegakan.html

Terima kasih, Pak.

Pagi tadi saya berangkat seperti biasa, menggunakan bus kota, yang kali ini juga tidak ada kernetnya.

Dan seperti biasa, ada seorang penumpang yang naik masih menghisap rokok lalu duduk di dekat supir.

Tetapi yang tidak biasa adalah saat seorang bapak tua yang akan turun dan memberikan ongkos ke sang supir, bapak tersebut menegur si penumpang yang merokok itu sambil menunjuk ke arah tertentu.

Setelah saya lihat, ternyata beliau menunjuk ke arah stiker yang bertuliskan : "Dia yang merokok, kita yang mati."

Kembali ke hal yang biasa.

Si penumpang perokok itu hanya melihat sekilas ke stiker tulisan tersebut.

Dan seperti yang sudah bisa ditebak, tetap terus merokok hingga rokoknya habis dihisapnya.

Ya, setidaknya si bapak sudah berusaha.

Terima kasih banyak, Pak, semoga bapak mendapatkan amal setelah mengingatkan si perokok itu untuk tidak merokok di dalam bus. :D

Mereka Mengajak Warga Membaca, Koran Tempo, Minggu, 1 Mei 2011.

Kementerian Pendidikan Nasional mencatat jumlah taman bacaan masyarakat di berbagai pelosok negeri mencapai 5.552 buah. Tak semua didanai pemerintah tentu saja. Sebagian di antaranya merupakan prakarsa anggota masyarakat sendiri. Mereka yang gigih mengajak warga untuk gemar membaca itu pun tak selalu dari golongan cerdik-pandai, tapi ada juga yang mantan buruh migran dan penjual jamu seperti sosok berikut ini.

Kiswanti

Menyaingi Warung Remang-remang


Warung remang-remang yang banyak berdiri di kawasan Parung, Bogor, membuat Kiswanti prihatin. Sebab, hal itu amat berpengaruh terhadap gaya pergaulan anak-anak di sana. Tak cuma ber-elu-gue, "Mereka juga suka menyebut organ reproduksi perempuan," ujar Kiswanti sambil menghela napas.

Perempuan asal Yogyakarta yang cuma lulusan sekolah dasar itu datang ke Parung pada 1994. Sehari-hari ia berkeliling kampung menjajakan jamu racikannya. Hingga suatu hari pada 1997, ia mulai menyelipkan beberapa buku di antara botol-botol jamu yang dibawanya. Sambil menunggu jamu racikan disuguhkan Kiswanti, satu-dua pelanggan mulai membolak-balik dan membaca buku-buku itu.

Kegiatan berkeliling menjual jamu sambil membawa buku itu dilakoni Kiswanti hingga tiga tahun kemudian. Karena jumlah koleksi bukunya kian banyak, dan warga yang berminat untuk membaca terus bertambah, ia pun mulai menyediakan satu ruang di rumahnya untuk taman bacaan. Kiswanti memberinya nama Warabal, singkatan dari Warung Bacaan Lebak Wangi.

"Saya pilih istilah warung bacaan karena selama ini yang ada cuma warung remang-remang," ujar perempuan 46 tahun ini.

Kini jumlah koleksi buku di Warabal membengkak. Dari semula cuma 250 buku menjadi 8.000 buku dengan 5.015 judul. "Subhanallah kerja Allah, sangat misterius," ujarnya tentang donasi dan apresiasi berbagai pihak terhadap pengabdiannya itu.

Kegiatan Warabal saat ini tidak lagi sekadar taman bacaan, tapi juga berkembang dengan kegiatan-kegiatan lain, seperti pendidikan anak usia dini, taman pendidikan Al-Quran, kursus bahasa Inggris, kelas kreatif, serta kursus komputer. Untuk mendukung semua kegiatan dengan seratusan peserta, Kiswanti dibantu 16 sukarelawan.

Dalam beberapa bulan ke depan, aktivitas Warabal, yang menempati rumah sewaan berukuran 60 meter persegi, akan pindah ke bangunan baru permanen dua lantai yang terlihat asri dan apik di samping kediaman Kiswanti. "Ada yayasan yang tergerak membantu membiayai Warabal," ujar dia.

Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/05/01/Topik/krn.20110501.234607.id.html



Eni Kusumawati

Menolak Donasi Uang


Salah satu aset berharga yang dibawa pulang Eni Kusumawati setelah menjadi tenaga kerja di Hong Kong adalah ratusan buku. Belakangan ia menata tumpukan buku itu di rak-rak hasil karya suaminya yang bekerja di bengkel mebel. "Karena dipajang itulah, para ibu dan anak-anak yang belajar mengaji di rumah pada ikut membaca," kata Eni, yang bekerja di Hong Kong selama enam tahun sejak 2001.

Akhirnya, sejak pertengahan tahun lalu, ia memutuskan menjadikan salah satu ruang di rumahnya sebagai taman bacaan untuk para tetangganya di Jalan Belitung, Banyuwangi, Jawa Timur. Penulis buku motivasi Anda Luar Biasa itu memberi taman bacaannya dengan nama Rumah Cerdas. Di situ Eni juga memberi bimbingan belajar bagi anak-anak usia sekolah dasar maupun taman kanak-kanak.

"Ada kalanya, ya, saya juga jemput bola mendatangi ibu-ibu di warung atau anak-anak supaya mau membaca buku-buku saya. Gratis kok, tinggal baca," ujar ibu Natasya Ensa Motivani, 3 tahun, itu.

Sosok Eni, yang dikenal sebagai pembicara motivasi yang kerap tampil di seminar-seminar di kawasan Jawa Timur, memudahkannya mendapat tambahan koleksi buku untuk taman bacaannya. Penulis buku motivasi Andrie Wongso, misalnya, menyumbangkan 80 majalah terbitannya pada awal April lalu. "Kami memang cuma menerima donasi berbentuk buku, bukan uang," kata Eni.


Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/05/01/Topik/krn.20110501.234608.id.html



Asma Nadia

Bagian dari CSR


Selain produktif menulis buku, Asma Nadia telah mendirikan taman bacaan masyarakat di berbagai kota. Berawal dari ruangan-ruangan sederhana yang "disulap" menjadi perpustakaan mini, dengan fasilitas seadanya tapi rapi, satu per satu taman bacaan masyarakat yang dinamai Rumah Baca Asma Nadia hadir di tempat-tempat yang membutuhkannya.

Setelah adanya peraturan tentang kewajiban tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), Asma, yang juga mengelola Asma Nadia Publishing, pun menggenjot pendirian taman bacaan masyarakat ke berbagai pelosok. Tujuannya tak lain untuk memberi wadah alternatif menyediakan buku-buku bacaan buat anak-anak (dan dewasa) sekaligus sebagai pusat kegiatan yang kreatif bagi para pengunjungnya.

Sejak 2003, Rumah Baca Asma Nadia telah berjumlah 32 buah. “Pekan depan insya Allah akan kami resmikan di Rawa Kalong, Depok,” ujar penulis cerita Emak Ingin Naik Haji dan Rumah Tanpa Jendela itu. Selain dana CSR, Asma menghibahkan semua royalti buku Emak Naik Haji untuk operasionalisasi rumah baca.

Di beberapa taman bacaan, Asma melengkapinya dengan sarana mainan edukatif dan pelatihan membaca Al-Quran. Ke depan, ia ingin melengkapinya dengan pelatihan bahasa Inggris dan komputer. “Untuk komputer, saya masih menunggu donatornya, nih,” ujarnya. Ayo, siapa mau mendonasikan komputer? AMIRULLAH | SUDRAJAT


Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/05/01/Topik/krn.20110501.234609.id.html

Bereksperimen di TBM, Koran Tempo, Minggu, 1 Mei 2011.

Ketujuh bocah usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar itu duduk mengelilingi meja sambil mengaduk-aduk serbuk gipsum yang sudah dicampur air. Satu-dua anak tampak saling mengusili dengan mengoleskan serbuk putih yang sudah menjadi adonan itu ke wajah satu sama lain.

"Kalau sudah kental, tuangkan ke kotak ini, ya," ujar Ajeng Puri Palupi, yang menjadi fasilitator acara Sains Masuk Mal, sambil membagikan wadah-wadah kecil berbentuk mobil sedan dan daun. Acara pada Ahad siang pekan lalu itu digelar Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Pejaten Village, Jakarta Selatan, bekerja sama dengan Klub Sains Ilma.

Sebelum adonan tersebut benar-benar mengering, alumnus Fakultas Matematika dan IPA Universitas Nasional, Jakarta, itu kembali memerintahkan anak-anak untuk menempelkan sebuah magnet bundar dengan diameter 1 sentimeter. Tak sampai 10 menit kemudian, adonan gipsum itu dikeluarkan dari cetakan dan siap diwarnai sesuai dengan selera si anak.

"Nah, sekarang coba adik-adik tempelkan di tiang meja komputer itu," kata Ajeng. Alisha Zafira Achyar (Fira) dan Keira Salsabila (Keke), yang duduk paling dekat arah lokasi dimaksud, dengan cepat melakukannya. "Kok, enggak jatuh, ya?" ujar Fira, takjub.

Sepasang bola matanya yang bundar mengerjap-ngerjap, mengamati hasil karyanya. "Nanti di rumah aku mau tempel di kulkas, ah," ujar gadis mungil itu sambil menyibakkan poni di keningnya.

***

Dini Aviandari dari Klub Sains Ilmu Pasar Minggu mengatakan pihaknya tak berpretensi menjadikan anak-anak agar ke depan menjadi ilmuwan, karena hal itu merupakan profesi pilihan. Menghadirkan eksperimen-eksperimen sains sederhana lebih dimaksudkan untuk menjadikan anak lebih kreatif, memiliki alternatif, dan terbiasa dengan data sehingga terbentuk pola berpikir analitis.

"Seperti pembuatan magnet untuk lemari es, itu kan basic-nya adalah bagaimana si anak mengenal perubahan bentuk materi dari serbuk dan air menjadi benda padat," ujarnya.

Siang itu ada tiga eksperimen yang akan dilakukan. Tapi tak semua anak berselera mengikutinya. Mahdi, misalnya. Setelah membuat adonan gipsum untuk hiasan lemari es itu, ia merajuk. Sehabis mencuci tangan, ia memaksa mengajak kakak perempuan dan ibunya untuk meninggalkan ruangan TBM.

Untuk setiap eksperimen, Klub Sains Ilma memungut biaya pengganti bahan-bahan sebesar Rp 20 ribu. "Tapi untuk tiga paket eksperimen cuma Rp 50 ribu," ujar Dini berpromosi.

Kerja sama dengan TBM Pejaten Village telah dilakukan Klub Sains Ilma sejak awal Maret lalu. Kerja sama ini berangkat dari kesadaran bahwa fasilitas ruang membaca harus menyenangkan dan menjadi arena alternatif untuk bertindak kreatif. Klub Sains Ilma Pasar Minggu merupakan cabang dari Rumah atau Klub Sains Ilma yang didirikan oleh A. Muzi Marpaung dan istrinya, Eva, pada 2003 di kawasan Pamulang.

***

Elly Purwani, ibunda Fira, mengaku sangat terbantu dengan adanya TBM dan klub sains itu. Semula pegawai sebuah operator telepon seluler yang tinggal di kawasan Bekasi itu bimbang saat putri sulungnya memaksa ikut serta ke acara perusahaan yang digelar di mal tersebut. Ia khawatir konsentrasinya bekerja akan terpecah karena juga harus mengawasi Fira.

"Tapi, dengan adanya TBM, saya bisa menitipkan Fira. Dia pun ternyata senang banget bisa bermain-main di sana ," kata Elly. Ia berharap setiap mal di Tanah Air bisa menyediakan ruang khusus untuk TBM dan aktivitas lain yang bermanfaat bagi anak-anak. SUDRAJAT


Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/05/01/Topik/krn.20110501.234604.id.html

Tetap Membaca di Sela Belanja, Koran Tempo, Minggu, 1 Mei 2011.

Membacalah.

Minat baca orang Indonesia sangat rendah dibanding negara lain, bahkan di antara negara-negara di Asia. Maklum, sejak kecil umumnya anak-anak tak dididik untuk mencintai buku. Anak Indonesia lebih suka menggunakan uang saku untuk membeli jajanan. Itu sebabnya, uang saku lebih sering dikenal dengan sebutan uang jajan.

Berbagai upaya ditempuh untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. Salah satunya adalah menyediakan taman bacaan gratis hingga ke mal-mal. Ada pro-kontra memang. Tapi pejabat terkait telanjur menganggap mal sudah dan akan jadi pusat kebudayaan. Ya, apa salahnya, di sela-sela kegiatan berbelanja, sempatkan diri untuk membaca.

Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/05/01/Topik/krn.20110501.234602.id.html



Tetap Membaca di Sela Belanja


Mal sudah dan akan jadi pusat kebudayaan.

Sambil membaca sebuah majalah berita, satu dari empat lelaki muda yang mengelilingi meja bundar itu sesekali menyeruput kopi. Di sudut meja lain, dua mahasiswi perguruan tinggi swasta di Kota Depok tampak asyik mengetik di komputer jinjing mereka. Terkadang kepada mereka mengangguk-angguk mengikuti irama rancak tiupan saksofon Dave Koz.

Suasana pada Rabu siang lalu itu bukan di kafe, tapi di Taman Bacaan Masyarakat di Mal (TBM). Lokasi tepatnya bersisian dengan food court, Bioskop 21, dan arena permainan anak di lantai 3 Depok Town Square (Detos), Depok, Jawa Barat. Berbeda dengan kesan perpustakaan pada umumnya yang serba serius dan sunyi, di TBM itu suasananya sengaja dibuat cozy.

Selain deretan rak buku, ada sofa dan meja-meja bundar, juga bantal-bantal besar nan empuk di atas karpet. Di sana pengunjung dapat membaca sambil menikmati alunan musik instrumentalia, mengudap makanan kecil, atau menyeruput cappuccino dan aneka minuman lainnya.

"Kami sengaja merancang dengan pendekatan karakter pengunjung, masyarakat sekitar, dan mereka yang berjiwa muda," kata Dina Mariana, yang mengelola TBM itu bersama suaminya, Radian R. Sujadi. Taman bacaan sebetulnya sudah beroperasi sejak awal Januari lalu. Tapi baru diresmikan pemerintah bertepatan dengan Hari Kartini, Kamis (21 April) lalu.

"Sambil menunggu teman-teman untuk pertemuan, saya biasa nyantai sambil baca-baca di sini," kata Novika Grasiaswaty, yang baru saja lulus dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Koleksi buku di TBM ini, perempuan cantik asal Probolinggo itu melanjutkan, tergolong up-to-date. "Makanya saya suka," kata Vika sambil membolak-balik novel Opera van Gontor.

Selain menyajikan ratusan judul buku untuk anak-anak, remaja, dan dewasa, TBM tersebut menjadi Balai Belajar Bersama bekerja sama dengan Yayasan Bina Kreativitas Anak Bangsa asuhan Dina Mariana. Aneka pembelajaran, seperti fotografi, keterampilan merajut dan menyulam, hingga pelatihan kewirausahaan dan melukis bagi anak-anak, digelar di sana. "Semuanya gratis," ujar Vika.

Sementara itu, Puspa Karmila, guru di sebuah lembaga pendidikan anak usia dini di Cipayung, Depok, mengusulkan agar TBM sesekali menggelar lomba membaca bagi anak-anak. Sebab, selama ini yang dilombakan, kata dia, biasanya cuma menggambar atau menyanyi. "Lomba paling lama atau banyak membaca buku saya pikir dapat merangsang anak-anak untuk gemar membaca," ujar Puspa, yang tengah menemani putri sulungnya, Maria Qibtiyah, 8 tahun, yang asyik membaca sebuah buku cerita. "Syukur kalau si anak bisa menjelaskan garis besar cerita dalam buku yang dibacanya," ia menambahkan.

Hal yang perlu dibenahi oleh pengelola TBM ini adalah dibiarkannya pengunjung untuk merokok. Setidaknya Tempo memergoki beberapa remaja tanggung yang justru sengaja menjadikan arena TBM untuk merokok. Padahal di arena food court sekalipun merokok dilarang.

Dina Mariana, yang tengah menunaikan ibadah umrah, berjanji akan memperbaiki kondisi tersebut. "Sarannya akan diperhatikan, Mas. Thanks a lot," tulisnya melalui BlackBerry Messenger.

***

Program TBM@Mal dimulai pemerintah sejak 2 Mei tahun lalu. Pembawa acara Desak Made Hugeshia Dewi alias Dewi Hughes didaulat sebagai motor penggeraknya. Ia khusus berperan melakukan lobi-lobi ke manajemen mal di lingkungan Grup Lippo. Sementara itu, Heri Hendrayana Harris alias Gol A Gong melakukan pendekatan ke pusat belanja Carrefour di wilayah Banten. Selain itu, Lotte Mart turut berperan serta memberikan ruang bagi TBM (lihat infografis: "Di Mana Membaca Buku").

Hasilnya, beberapa mal yang dikelola Grup Lippo memberikan ruang cukup strategis dengan harga sewa murah. "Seperti di Plaza Semanggi ini, saya hanya dikenai service charge. Cuma untuk bayar listrik dan AC," kata Hughes kepada Tempo, Kamis lalu.

Taman bacaan ini merupakan yang pertama diresmikan oleh Menteri Pendidikan M. Nuh, pada 2 Mei tahun lalu. Letaknya yang tak jauh dari eskalator di lantai 3 membuat orang yang lalu-lalang di koridor itu pasti mengetahui kehadirannya. Tapi, sejak beberapa bulan lalu, ruangan persis di sampingnya ditutup karena akan dijadikan tempat karaoke. Kini taman bacaan yang dikelola Hughes itu menjadi koridor buntu yang tak lagi banyak dilalui pengunjung mal.

Hughes berharap di masa mendatang akan semakin banyak mal yang menyediakan ruang untuk TBM. "Saya sih membayangkan, pada suatu hari nanti, orang-orang yang ke mal itu di sela-sela belanja bisa tetap asyik membaca," ujarnya.

Kini, telah ada 20-an TBM di mal-mal yang tersebar di Bandung, Surabaya, Mataram, Binjai, dan Serang, Banten. Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan Nasional Ella Yulaelawati menjelaskan, pilihan mendirikan TBM@Mal adalah karena fakta: 50 persen remaja, 25 persen anak-anak, dan 25 persen orang dewasa sering jalan-jalan ke mal. Artinya, kata dia, anak-anak tidak sekadar ikut-ikutan ke mal.

Selain itu, para remaja bisa diarahkan pada kegiatan yang positif dan produktif saat di mal. "Mal sudah dan akan jadi pusat kebudayaan, dan karena pengunjungnya kebanyakan remaja, dilengkapi dengan guru kehidupan, dengan taman bacaan," ujarnya.

Ia mengingatkan agar tidak menyamakan perpustakaan dengan TBM yang hanya merupakan tempat membaca. Dengan demikian, diharapkan kebiasaan membaca menjadi hal yang menyenangkan. "Anak yang membaca di luar buku-buku teks pelajaran akan memiliki kualitas akademis lebih baik," ujar Ella merujuk pada sebuah hasil penelitian.

Meski demikian, tak semua orang setuju dengan konsep pendirian TBM@Mal. Dhitta Benni Setiawan, penulis buku Manifesto Pendidikan Indonesia (2006) dan Agenda Pendidikan Nasional (2008), pernah menyebut pendirian TBM@Mal sebagai kurang kerjaan. Ia khawatir TBM@Mal hanya akan semakin mengukuhkan keberadaan kelas menengah dan atas, dan melupakan kelas bawah. Sebab, yang berkunjung ke mal hanyalah orang-orang kaya yang memiliki kuasa, sedangkan rakyat miskin semakin termarginalkan.

Hughes menyergah pendapat tersebut. Menurut dia, membaca adalah hak asasi setiap orang, bukan cuma persoalan orang miskin atau kaya. Lagi pula, kata dia, mal sudah menjadi semacam pusat peradaban masyarakat urban. Berbagai kegiatan sudah lazim dilakukan di mal, dari arisan hingga kebaktian umat kristiani setiap Minggu. Begitu juga saat bulan suci Ramadan tiba, banyak orang memanfaatkan mal untuk ngabuburit, berbuka puasa bersama, atau salat berjemaah di musala mal yang nyaman.

Pengunjung mal, Ella menegaskan, sesungguhnya tak melulu orang-orang berduit. Sebab, yang tak punya uang dan sekadar cari angin pun banyak yang datang ke mal. Selain itu, di sana nyatanya ada sopir, pelayan toko, dan petugas keamanan yang bisa memanfaatkan waktu luang mereka dengan membaca berbagai koleksi dari taman bacaan. "Jadi yang dimaksudkan dengan marginal di sini bukan dari sisi sosial ekonomi, tapi marginal dari budaya membaca, dan itu juga menghinggapi masyarakat yang mapan secara ekonomi," kata Ella.

Pemerintah, ia melanjutkan, tetap berkomitmen dalam upaya mengembangkan budaya baca masyarakat di segala lapisan. Karena itu, kehadiran taman bacaan dan perpustakaan juga dilakukan hingga ke pelosok daerah, pasar, rumah sakit, dan tempat publik lainnya. "Sekali lagi, TBM@Mal itu hanya salah satu upaya dari sekian banyak yang telah dikerjakan," ujarnya.

Keberadaan TBM@Mal, Ella menegaskan, adalah guna mendukung 5.552 TBM yang berada di pelosok daerah pedesaan. Tahun pertama, pemerintah memberikan dana stimulus Rp 70 juta untuk setiap TBM, serta Rp 200 juta untuk TBM dan rumah belajar. "Tapi tahun berikutnya, ya, silakan para penyelenggara untuk mandiri membiayainya," kata Ella.

Hughes, yang juga mengelola TBM di Blok M Mall, menyatakan akan melengkapi TBM-nya dengan berbagai aktivitas lain. Contohnya, menggelar kursus bahasa Inggris pada hari dan jam tertentu atau kursus public speaking untuk anak-anak, serta menjadikannya arena untuk peluncuran serta diskusi buku oleh para penulis dan penerbit buku. "Ya, pokoknya kami upayakan sekreatif mungkinlah," ujarnya. PRIHANDOKO|SUDRAJAT


Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/05/01/Topik/krn.20110501.234603.id.html

09 Mei 2011

Proses Belajar dengan Makan, Koran Tempo, Senin, 25 April 2011.

Anak yang sulit makan umumnya karena orang tua keliru saat memperkenalkan makanan padat sejak pertama kali.

Seribu akal telah dicoba Anita Iriani, 32 tahun, untuk membuat anaknya memiliki nafsu makan. Meski beberapa cara efektif membuat Salma, 2 tahun, buah hati Anita, minta disuapi, hal itu belum juga sesuai dengan yang ditargetkan Anita. "Salma seharusnya memiliki berat badan 12 kilogram, sekarang baru 11 kilogram," ujar Anita.

Sejak kecil, Salma memang tergolong anak yang mudah diberi makan karena Anita selalu melakukan hal yang disarankan dokter ataupun temannya. Namun, saat usianya 13 bulan, Salma terkena sakit campak Jerman dan DBD, hal ini kontan membuat nafsu makannya turun drastis. Berat badan Salma akhirnya tetap menyentuh 9 kilogram hingga usia 21 bulan, padahal seharusnya mencapai 11 kilogram. "Menurut tes medis, dia terkena flek paru-paru yang mempengaruhi nafsu makannya," ujar Anita. "Setelah diobati nafsu makan Salma pun berangsur meningkat," kata Anita.

Untuk tetap membuat Salma mudah diberi makan, Anita berkreasi dengan memberikan temulawak setiap pagi dan merumuskan kegiatan saat makan agar Salma tidak bosan. "Kadang sambil nonton kartun Pocoyo, sambil naik odong-odong, naik sepeda, ataupun belajar. Pokoknya dia harus dialihkan perhatiannya karena anaknya memang cepat bosan," kata Anita.

Tidak hanya Anita, sebagian besar kaum ibu memang memiliki masalah yang hampir sama mengenai anaknya yang masih kecil. Dr Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K), Ketua UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI, mengatakan kegiatan makan sangat kompleks, melibatkan fisik, psikologis, dan lingkungan.

Perlu diingat, kesalahan manajemen makanan sewaktu bayi dapat menyebabkan malnutrisi dan berdampak lebih parah dibanding kekurangan pengelolaan makanan pada usia selanjutnya. Dan berdasarkan data Global Strategy for Infant and Young Child Feeding (GSIYCF) WHO 2003, sebanyak 60 persen kematian anak di bawah usia 5 tahun disebabkan oleh malnutrisi dan dua pertiganya berhubungan dengan Inappropriate Feeding Practice selama satu tahun di awal kehidupan bayi.

Susah makan pada anak, terutama batita, kemungkinan besar disebabkan oleh kurang sempurnanya cara pemberian makan pertama, sehingga mempengaruhi kemampuan oromotornya.

Bayi yang baru lahir tidak dapat memfokuskan mata maupun tangannya ke sumber makanan. Perabaan pada pipi dan daerah sekitar mulut merangsang refleksnya untuk mengarahkan mulut ke puting susu atau dot, dan selanjutnya melakukan gerakan mengisap. Hal ini membuat bayi terbiasa refleks untuk menghampiri makanan yang datang dari sendok.

"Selain itu, pada lima bulan pertama, bayi biasanya memasukkan tangan ke mulut. Ini jangan dicegah karena akan melatih dan mempersiapkan bayi untuk mengolah makanan padat," kata Damayanti.

Kemampuan bayi pada usia tersebut adalah menelan makanan cair, yaitu air susu ibu (ASI), tetapi mendorong makanan padat. Jika bayi dilarang memasukkan tangannya ke mulut, refleks menjulurkan lidah (ekstrusi) nantinya tidak akan berkurang.

Hal tersebut akhirnya membuat makanan padat spontan ditolak dan dimuntahkan oleh bayi, padahal saat umur 6 bulan bayi sudah harus dikenalkan pada makanan pendamping ASI (MPASI) dan masuk pada fase kritis pertama. Bit, wortel, bayam, dan lobak pun tidak boleh diberikan kepada bayi di bawah usia 6 bulan karena kandungan nitrat yang tinggi.

"Inilah yang terkadang membuat anak menolak makanan, dan akhirnya terbawa susah makan untuk selanjutnya. Jangan memakaikan anak Anda sarung tangan, cukup jamin tangan anak Anda bersih," ujar Damayanti.

MPASI dibutuhkan karena adanya kekurangan energi kebutuhan anak dengan ketersediaan ASI oleh ibu. Tahap awal mengetahui bayi sudah dapat dikenalkan pada makanan semi-padat adalah jika bayi sudah dapat duduk, serta kedua tangan dapat menggenggam benda dan memasukkannya ke mulut.

MPASI yang diberikan adalah tepung beras yang kaya akan zat besi, dengan satu jenis bahan makanan terlebih dulu, diberikan setelah minum ASI, harus lembut, halus, dan masih encer. Pemberian makanan lebih baik kurang dari setengah jam, dan mulai dari takaran yang sedikit, kemudian meningkat.

"Keterlambatan pada fase ini berpotensi terjadinya gagal tumbuh, defisiensi zat besi, serta gangguan tumbuh-kembang. Sedangkan jika terlalu cepat, akan berisiko diare, dehidrasi, produksi ASI menurun, sensitisasi alergi, serta gangguan tumbuh-kembang," tutur Damayanti.

Selanjutnya, usia 7-9 bulan, bayi masuk pada fase kritis kedua untuk mengenalkan bayi pada makanan semi-padat yang lebih bertekstur, yang memerlukan keterampilan mengunyah. Pada usia 9-12 bulan, bayi sudah terampil mengunyah, memegang benda dengan jari, dan minum gelas, tapi tidak boleh diberi madu. Pada usia 1-3 tahun, anak dapat makan sendiri.

"Pola makan yang baik diawali ASI atau susu pada pagi hari, sarapan dengan bubur, makanan selingan dari buah dan roti, makan siang, susu, makanan selingan pada sore hari, makan malam, serta susu. Anak usia lebih dari 1 tahun normalnya bertambah 2 kilogram setiap tahun," ujar Damayanti.

"Selain jenis makanan, kualitas nutrisi, baik berupa kecukupan energi maupun semua nutrisi, sesuai dengan umur juga tak kalah penting," kata Damayanti. Proses pengolahan seperti pemasakan yang menggunakan proses panas dapat menghilangkan sebagian ataupun semua nutrisi yang dibutuhkan bayi dari makanan tersebut.

Misalnya kekurangan zat besi pada makanan padat yang tidak difortifikasi akan menyebabkan anemia zat besi, yang selanjutnya berdampak negatif terhadap kekebalan dan kecerdasan otak. Jumlah masukan makanan sebagai sumber energi dan protein yang berkurang untuk jangka panjang ada kemungkinan dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan, yang pada masa bayi lazim disebut gagal tumbuh.

RENNY FITRIA SARI

Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/04/25/Gaya_Hidup/krn.20110425.233956.id.html

Belajar Santun dari Hal Kecil dalam Keluarga, Koran Tempo, Senin, 25 April 2011.

Anak-anak butuh role model, maka orang tua tak hanya wajib mengarahkan, tapi juga memberi contoh komunikasi yang santun.

"Mbaaaakkk... ambilin minum!" teriak Tara, putri sulung presenter kondang Becky Tumewu. Saat itu si mbak, pembantu rumah tangga mereka, pun bergegas mengambilkan air minum.

Kebetulan saat itu Becky melihat kejadian tersebut. Tak langsung memarahi Tara, Becky hanya memandangi anak itu. Seketika itu juga Tara paham bahasa tubuh ibunya dan langsung meralat ucapannya. "Mbak, minta tolong ambilin air minum," ujarnya. Begitu pembantu datang, Tara pun serta-merta mengucapkan terima kasih.

Becky tersenyum melihat perilaku anaknya itu. Ia memang sudah sering mengingatkan Tara untuk menghargai si mbak pembantu di rumah. Biasanya Becky akan mengajak bicara dua putrinya--Tara dan Kayla--untuk membicarakan segala sesuatu. Becky juga sesekali memperlihatkan bahasa tubuh jika tak setuju dengan tindakan putri-putrinya itu.

Becky Tumewu menceritakan kejadian itu seusai peluncuran audio book Talk-Inc, Point for Parent. Kata-kata minta tolong dan terima kasih dinilai sering terlupakan sebagai upaya untuk menghormati atau menghargai orang lain. Sekelumit pengalaman ini dituangkan Becky dalam audio book yang baru diluncurkan itu. Audio book ini keluar menyusul buku Talking Point, yang keluar tahun lalu.

"Lewat audio book ini kami ingin mengingatkan para orang tua," ujar Becky di sela peluncuran CD tersebut baru-baru ini.

Audio book berdurasi 50 menit ini dikemas ringan dengan model talk show antara pengajar Talk Inc, Alexander Sriewijono, Becky Tumewu, dan Erwin Parengkuan.

Audio book ini berisi pengalaman ketiganya berkomunikasi dengan buah hati mereka tentang berbagai hal. Terutama menyangkut tata krama, sopan santun, toleransi, bersyukur, berinteraksi dengan orang lain, atau mengungkapkan perasaannya.

Kejadian kecil semacam pengalaman Becky di atas sering luput dari perhatian orang tua, sehingga anak bertingkah sembarangan, menyepelekan, dan tidak menghormati orang lain. Kesibukan orang tua membuat mereka sering tak menyadari perkembangan anak dan interaksinya dengan orang lain.

Orang tua sering dibuat terkejut ketika pembantu atau sopir melaporkan anak berbicara kasar atau main pukul kepada mereka. Ada juga anak menjadi penyela pembicaraan atau bicara tanpa menatap lawan bicara. Beruntung jika sopir atau pembantu bisa menjadi bagian komunikasi di keluarga tersebut.

Erwin Parengkuan mengatakan masalah yang dominan muncul antara anak dan orang tua adalah tidak adanya komunikasi terbuka. Tak hanya antara anak dan orang tua, tapi juga antara anak dan orang-orang di sekitarnya, seperti pembantu, sopir, saudara, serta nenek.

Jika tak diingatkan tentang perilaku, tata krama, dan sopan santun, anak akan bertindak semaunya. Lama-lama anak akan sulit diatur dan tidak menghargai orang lain.

"Anak jadi manja, egoistis, tidak toleran, dan tidak mensyukuri sesuatu hanya karena kita mengiyakan atau tidak bertindak tegas terhadap mereka," ujar Erwin.

Menurut dia, topik yang diperbincangkan ini cukup praktis untuk memberi tip dan strategi kepada orang tua, terutama terhadap anak-anak berusia 6-12 tahun. Namun, menurut pengalaman bapak empat anak ini, usia 4-7 tahun adalah usia paling riskan. Sebab, anak dalam masa peralihan dan keinginan mereka mengeksplorasi sesuatu sangat besar.

Penyiar radio ini juga menyinggung teror yang sering dilakukan anak. Seperti saat si kecil merengek-rengek ketika diajak ke mal atau "memeras" orang tua untuk membelikan mainan. Anak akan mencoba menguji kedua orang tuanya agar permintaannya terkabul.

"Ini sering dilakukan. Jika tak mempan ke ibu, dia akan lari ke ayahnya. Karena itu, orang tua harus konsisten dan tegas," ujar pria berlesung pipi ini.

Becky, Alex, dan Erwin pun berusaha untuk mengarahkan anak dengan jalan yang positif dan membesarkan kepercayaan diri anak. Mereka pun tak segan-segan menerapkan hukuman dan hadiah untuk buah hatinya.

"Pernah si sulung saya hukum seminggu tidak boleh ke luar rumah, tapi lain kali saya juga beri apresiasi membeli lukisan dia dan menjanjikan pameran," ujarnya.

Psikolog Kassandra Putranto menguatkan apa yang dijelaskan Becky dan Erwin. Menurut dia, menerapkan aturan keluarga tentang tata krama dan sopan santun harus dibiasakan sejak dini. Dengan demikian, anak akan menyerap apa yang diajarkan orang tua. "Sejak usia dua tahun mungkin sudah bisa, ya, seperti menyapa, menyalami," ujar Kassandra.

Mengajarkan dan menerapkan tata krama memang tak mudah dan butuh konsistensi. Menurut dia, untuk menerapkannya pun kadang terjadi penggabungan satu konsep dengan konsep yang lain serta butuh waktu dan bertahap. Tentunya disesuaikan dengan usia anak.

Menurut Kassandra, jika hal ini diajarkan kepada anak usia 10 tahun, akan semakin sulit diterapkan. "Karena dia tidak punya konsep dasar, tak biasa diatur, jadi kaget," ujarnya.

Mengajarkan hal-hal demikian, kata Kassandra, tak bisa sekadar diucapkan. Sebab, anak butuh role model dan contoh dari orang tuanya. Contohnya saat anak diminta bicara sopan tapi orang tuanya tetap bicara kasar. Orang tua juga harus memberi alasan saat melarang suatu tindakan.

Penyampaian pesan dan komunikasi orang tua kepada anak juga harus elegan, mudah ditangkap anak tapi tidak menggurui. Orang tua tetap harus dekat dengan anak dengan peran sebagai orang tua.

Sandra J. Bailey, PhD CFLE, spesialis pengembangan manusia dan keluarga dari Universitas Montana, mengatakan komunikasi yang positif akan mempererat hubungan keluarga.

Dia menyebutkan komunikasi nonverbal dan bahasa tubuh bisa membantu membangun hubungan. Dalam mengelola komunikasi, keluarga bisa memanfaatkan berbagai cara, seperti telepon seluler, jadwal acara keluarga, atau meninggalkan catatan tertentu.

Orang tua juga bisa berinteraksi dengan anak saat acara keluarga dengan diskusi atau acara santai. "Sambil mengajarkan tidak memotong pembicaraan, menjadi pendengar, tidak berteriak, dan sebagainya," ujarnya.

Keluarga juga bisa memanfaatkan waktu saat makan bersama di meja makan untuk saling berinteraksi. Orang tua harus cerdik meluangkan waktu untuk anak-anak mereka.

DIAN YULIASTUTI | MSUEXTENSION.ORG | THEPARENTSZONE.COM

Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/04/25/Gaya_Hidup/krn.20110425.233954.id.html

Berbagai tipe karakter anak, dan yang harus diperhatikan orang tua, Wanita Indonesia, 9-15 April 2011.

Jika dikaitkan dengan struktur otak (triune brain) terdapat 3 macam karakter secara umum, menurut psikolog Efnie Indrianie, M. Psi :


Instinktif.

Anak yang memiliki karakter ini pada dasarnya lebih senang melakukan sesuatu berdasarkan keinginannya sendiri, keras, cuek, tidak mudah dipengaruhi, dan sulit diubah pendiriannya. Untuk menanganinya adalah secara terus menerus menyampaikan masukan sampai pola berpikir anak berubah. Selain itu, pada saat mengajarkan sesuatu, sampaikanlah informasi tersebut dengan jelas dan terstruktur.


Intutitif.

Anak dengan karakter ini pada sadarnya didominasi oleh perasaan, sensitif, sedikit emosional. Dalam mengasuh anak dengan tipe ini haruslah diberikan kenyamanan yang lebih agar dia dapat mengerjakan segala sesuatu dengan optimal.


Logis.

Anak dengan karakter ini pada dasarnya didominasi oleh logika. Anak dengan tipe ini akan lebih termotivasi jika hal-hal yang dikerjakan memperoleh rewards.


Jika mengacu pada konsep struktur otak maka sejak lahir seorang anak sudah memiliki karakter bawaan dan seiring perkembangan kehidupannya yang melewati berbagai pengalaman dan proses pembelajaran, anak terkadang menyesuaikan perilakunya sesuai dengan tuntutan lingkungan di mana ia berada.



Yang harus diperhatikan orang tua!

1. Anak-anak harus yakin bahwa kita mencintainya tanpa syarat (unconditional love). Baik anak kita benar, bahkan sekalipun anak kita salah, baik nilainya bagus maupun nilainya kurang bagus. Mereka harus tahu persis, cinta dan kasih sayang bunda tidak pernah terbatas.

2. Mendorong anak mencapai hasil yang optimal dengan memahami bakat, gaya belajar, karakter anak.

3. Memberikan kesempatan pada anak untuk menjadi dirinya sendiri bukan menjadi diri seperti yang orang tua mau. Tugas kita mengarahkan anak agar apa yang ingin dicapai adalah benar-benar yang ingin dicapai, bukan sekadar ikut tren atau ikut-ikutan.

4. Dalam menerapkan disiplin, usahakan secara maksimal untuk tidak menggunakan hukuman fisik, apa pun bentuknya. Walau hanya sekadar memukul tangan.

5. Sesuaikan dengan usia dan tingkat kematangan anak dalam menerangkan berbagai hal. Misalnya bagaimana menjelaskan untuk mengucapkan rasa terima kasih kepada anak usia 2 tahun, bagaimana menjelaskan budaya antre kepada anak usia 4 tahun, dan lain sebagainya.

Yang perlu dilakukan orang tua untuk mengajari anak berperilaku santun.

1. Orang tua sebaiknya bersikap terbuka untuk dapat diajak berdiskusi dengan anak.

Sebaiknya orang tua dapat menyediakan waktu untuk anak untuk menjadi teman anak bercerita apa pun. Sehingga anak juga dapat mencurahkan segala keluh kesahnya dan orang tua pun bisa memberikan masukan-masukan yang positif. Dapat memberi tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik.

2. Orang tua sebaiknya menghargai pendapat-pendapat anak.

Berikan kepada anak kesempatan untuk mengungkapkan apa yang ia pikirkan dan rasakan, jangan meremehkan pendapatnya. Sebisa mungkin orang tua menjadi pendengar yang baik untuk anak.

3. Orang tua sebaiknya tidak memaksakan pendapatnya kepada anak.

Sebagai orang tua jangan pernah merasa dirinya paling benar. Jangan menyalahkan anak ketika ia benar, dan jangan membenarkan anak ketika ia salah. Karena bagaimanapun juga, anak pun memiliki hak untuk berpendapat.

4. Kenalkan aneka cara meminta maaf.

Ajarkan anak selalu meminta maaf apabila ia melakukan kesalahan. Ada berbagai cara meminta maaf, baik langsung maupun tidak. Ada yang bersalaman tangan, rangkulan, dan semacamnya.



Cara terbaik dengan menumbuhkan empatinya. ”Kamu sudah memukul adikmu seperti itu. Coba, kamu pikirkan kalau kamu yang diperlakukan seperti itu, bagaimana rasanya?” Mungkin anak tidak akan langsung menjawab atau berkomentar saat itu juga dengan mengatakan, ”Tidak enak”, misalnya. Tapi setidaknya anak tahu, perbuatannya telah membuat orang lain menderita, terganggu, atau tersakiti. Anda juga harus bisa memahami, perbuatannya itu tidak baik. Dia juga harus merasakan apa yang orang lain rasakan. Anak harus melihat dampak yang dia lakukan pada anak lain, bagaimana perasaan orang tersebut, dan sebagainya.


Sumber : Wanita Indonesia, 9-15 April 2011.

Berbagai cara memotivasi anak, Wanita Indonesia, 26 Maret-1 April 2011

Keterampilan yang Mesti Dimiliki Ibu :

Setiap ibu harus punya kemampuan untuk mengobservasi atau membaca karakter anak masing-masing. Jangan menyamakan anak atau copy paste, tiap anak punya plus-minus.

1. Harus punya kemampuan menerima dengan lapang dada anak kta dengan penuh cinta. Harus punya kemampuan sebagai role model atau contoh bagi anak.

2. Harus bisa berganti-ganti peran, kadang sebagai orang tua, teman, sahabat, guru, harus bisa menempatkan sesuai situasi dan kondisi anak.

3. Tekankan pembangunan karakter. Sopan itu prestasi. Anak yang baik hati, tidak sombong itu juara. Jangan selalu pakai ukuran nilai akademis untuk mengukur kepintaran anak. Juara bukan sekadar nilai akademis tinggi tetapi juga bagaimana anak mampu berperilaku atau punya karakter yang baik dan jujur. Kalau nilai 100 tapi menyontek, itu percuma.

4. Anak gencar bertanya, orang tua harus siap dengan pertanyaan anak. Kalau tidak bisa menjawab misalnya, minta waktu untuk mencari jawaban di mesin pencari google.

Ajeng Raviando, psikolog.


Kiat memotivasi anak:

1. Kita pahami dulu karakter anak. Tiap anak berbeda pandangan walau nilainya sama.

2. Harus bisa menggali perasaan anak. Sedang sedih, sedang senang, kita bisa tahu. Setelah itu kita bisa masukkan sugesti.

3. Dengan pasangan, terlebih dahulu samakan persepsi. Kalau persepsi orang tua tidak sama, anak akan bingung.

4. Semua usahakan seimbang, antara akademik, sosial, emosi, spiritual, norma.

5. Membiasakan saling menelepon, saling bercerita antara orang tua dan anak. Anak akan melakukan hal yang sama pada orang tua.

6. Kalau khilaf menyakiti hati anak, segera bilang minta maaf untuk menghapus rasa kecewa dan membangun kepercayaan lagi. Antar anak juga dibiasakan saling meminta maaf.

7. Meminta izin, mengucapkan terima kasih, sederhana tapi benar-benar mengajarkan norma kepada anak.

Irma Ayank Gustina, psikolog.


Banyak cara memotivasi anak untuk belajar. Utamanya adalah memperkuat tujuan yang sudah disepakati.

Membuat catatan pengingat adalah hal yang efektif, misalnya :

1. Menuliskan atau membuat visualisasi dari target-target dan menempelkan di tempat yang paling sering dilihat.

2. Membuat grafik pencapaian dan menempelkan di tempat yang mudah dilihat seluruh anggota keluarga.

3. Merayakan pencapaian ketika satu target berhasil diselesaikan, bisa juga dengan pemberian hadiah yang sudah disepakati sebelumnya.

Ami KMD Saragih, psikolog.



Tips memberikan motivasi pada anak :

1. Sepakati tujuan yang telah dibuat bersama.

2. Membantu anak membuat pernyataan pribadi (self-affirmation)

3. Menyepakati cara pencapaian.

4. Menentukan bersama target-target antara.

5. Menentukan penghargaan yang didapat untuk keberhasilan antara maupun utama.

6. Menawarkan dukungan.

7. Mengajak anak untuk membayangkan situasi (imaginering)

8. Mendampingi anak mengejar sasaran.

9. Merayakan bersama, keberhasilan yang telah dicapai.

Ami KMD Saragih, psikolog.

Ragam si pengganggu dan kiat praktis menangkis gangguan saat jam kerja, WI, 19-25 Maret 2011

Agaknya situs jejaring sosial bukanlah satu-satunya penyebab gangguan yang dialami para pekerja pada jam kerja mereka. ‘Si pengganggu’ para pekerja bisa datang dari mana saja. Pakar karier Wulan Ayodya mencoba menguraikan :

1. Telepon genggam.

Baik telepon atau sms merupakan gangguan yang seringkali hinggap pada para pekerja di waktu-waktu produktif. Telepon atau sms yang bukan merupakan urusan kerja datang dari teman-teman yang bersosialisasi saat waktu bekerja.

2. Masalah pribadi.

Terkadang beberapa pekerja membawa masalah pribadi mereka ke dalam kantor. Sehingga menyebabkan perubahan mood atau suasana hati menjaid tidak baik yang berakibat terganggunya keefektifan kerja.

3. Rasa kantuk.

Baik masalah pribadi atau pun rasa kantuk berasal dari faktor diri. Waktu tidur yang tidak teratur seringkali menjadi penyebabnya.

4. Teman di sekitar.

Waspada hal ini, gangguan bisa saja muncul dari teman kantor Anda sendiri. Mulai dari obrolan ringan hingga berat, bisa menyita waktu kerja Anda.

5. Shif kerja.

Shift kerja yang berbeda-beda akan menyebabkan ketidakteraturan dalam jam kerja akan mengakibatkan mood dan kondisi kerja yang berubah-ubah. Contohnya, saat shift pagi karyawan dapat lebih fokus bekerja dibanding malam hair, ada pula yang sebaliknya sehingga jika harus melaksanakan jam kerja yang berbeda akan berkurang kualitas kerjanya.



Kiat praktis menangkis :

1. Mulai menerapkan aturan disiplin kerja yang sesuai kebutuhan masing-masing karyawan.

2. Melakukan evaluasi kerja kemudian melakukan perbaikan diri untuk menanggulangi gangguan kerja.

3. Usakahan untuk fokus pada peningkatan kualitas kerja secara berkala dan hasil yang akan diperoleh jika menghasilkan kerja yang berkualitas.

4. Membiasakan budaya produktif seperti tepat waktu, menjaga kualitas diri, tidak korupsi waktu, tidak malas, dan sebagainya.

5. Melatih diri bermental ’karyawan produktif’.

6. Membuat catatan agar kita tidak lupa pada pekerjaan yang perlu diselesaikan segera.

7. Berani bersikap tegas pada teman yang ingin mengajak ngobrol atau ’curhat’ ketika jam kerja.

Manfaat hobi, Wanita Indonesia edisi 19-25 Maret 2011

1. Membuat hidup lebih semangat.

Biasanya orang yang memiliki hobi berdasarkan apa yang ia suka. Dengan melakukan hobi secara tidak langung akan memiliki semangat atau gairah dalam melakukan sesuatu yang ia suka.

2. Memberi banyak manfaat positif.

Dengan hobi travelling, orang cenderung akan lebih terbuka dan berpikir bijak karena seseorang akan mencoba untuk mempelajari budaya lain. Melalui hobi membaca, wawasan seseorang akan menjadi lebih luas. Atau seseorang dapat melatih kesabarannya dengan hobi memancing.

3. Memberikan lebih dari kesenangan.

Ketika melakukan hobi, orang cenderung tidak akan memikirkan masalah. Jadi selakin hal positif yang telah diuraikan pada point ke dua tadi, hobi tentu akan memberikan kesenangan karena setidaknya walau untuk sejenak, kita menjadi acuh pada masalah.

4. Peluang usaha.

Dengan sedikit kreativitas dan peluang, hobi justru dapat mendatangkan uang. Contoh, seseorang dengan hobi memasak dapat membuka industri makanan kecil-kecilan. Saat hobi dapat menghasilkan barang atau jasa yang mengandung nilai ekonomi, maka hobi akan dapat meningkatkan status finansial seseorang.

5. Membakar kalori.

Tak harus melakukan olahraga berat untuk membakar kalori, dengan hobi menari secara tak langsung akan membakar kalori melalui gerakan yang diciptakan.