Suatu sore di Masjid At-Tin, ada seorang ibu yang sedang duduk di dalam masjid.
Sang ibu yang berkacamata agak retak itu bertanya darimana kami dan mau kemana kami setelah shalat Ashar di masjid ini.
Setelah menjelaskan tujuan kami, beliau akhirnya menceritakan bahwa beliau berasal dari Tasikmalaya dan berkunjung ke rumah saudaranya untuk menagih hutang yang pernah beliau pinjamkan kepada saudaranya yang tinggal di daerah Pondok Gede, kalau saya tidak salah mengingatnya.
Ternyata beliau hanya menemukan rumah kosong dan saudaranya itu sedang pergi entah ke mana. Si Ibu akhirnya berjalan dari Pondok Gede ke Masjid At-Tin tersebut karena tidak memiliki ongkos.
Beliau terpaksa melakukan perjalanan jauh itu karena anak beliau yang paling kecil yang duduk di kelas VI SD akan menghadapi UAN yang tentunya membutuhkan biaya.
Dan masih akan ada perjalanan jauh untuk kembali ke rumah tanpa ongkos sama sekali. Beliau hanya meminta permen untuk mengganjal perutnya yang lapar.
Astaghfirullah. Saya langsung bertanya-tanya, di mana anak-anak beliau? Beliau memiliki 7 anak. Apakah beliau tidak memberitahukan anak-anaknya bahwa beliau akan ke Jakarta? Apakah anak-anaknya memang tahu tetapi membiarkan saja ibunya pergi tanpa mendampinginya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang melintas di kepala saya.
Mamah, doakan aku untuk selalu menjadi putri yang selalu menjaga dan menghormatimu ya, Mah. Amin.
Tidak bisa berkata-kata lagi.
2 komentar:
Duh...jadi inget Mamah jg mba..
Yup, makanya harus selalu ingat sama mamah kita sendiri ya, jangan sampai beliau meneteskan air mata kecuali air mata bahagia. Amin. :D
Posting Komentar