3.1 Desain ramah lingkungan di Arsitektur Sinan
Dalam bidang konstruksi misalnya, kita bisa merujuk ke arsitektur Sinan (menyaring asap dan menggunakannya sebagai tinta, juga menggunakan telur-telur burung unta untuk mengusir laba-laba) hingga rumah-rumah yang menyebar (sebagai desain optimal ramah lingkungan). Dalam hal manajemen sumber air, mesin pemompa air dapat menjadi acuan (termasuk menggunakan tenaga hewan, angin, sumur, bendungan dan lainnya.)
Mimar Sinan (wafat 1588 Masehi) adalah kepala arsitek dan insinyur sipil untuk Sultan Sulaiman I, Salim II dan Murad III. Dia, selama 50 tahun, bertanggung jawab untuk pembangunan atau pengawasan setiap bangunan megah di zaman kesultanan Usman. Memanfaatkan tradisi arsitektur Islam dan Turki, Sinan menggunakan telur-telur burung unta di tengah-tengah lampu kristal yang menggantung dari kubah untuk mengusir serangga yang tertarik pada lilin atau minyak lampu.
Di tengah-tengah bingkai lingkaran yang menahan banyak lilin dan minyak lentera di masjid-masjid kesultanan Usman, biasanya terdapat benda berbentuk telur seperti terbuat dari marmer. Benda itu sebenarnya adalah telur burung unta. Setelah melalui riset bertahun-tahun, kesultanan Usman menemukan bahwa telur-telur tersebut mengeluarkan zat kimia ke udara, yang mengusir laba-laba dan nyamuk. Oleh karena itu, tidak ada sarang laba-laba di masjid Usman.
Inovasi penting lainnya adalah pemurnian udara, terutama di masjid-masjid. Misalnya, di Masjid Sulaiman, dibangun oleh Mimar Sinan atas perintah Sultan Sulaiman I antara tahun 1550 hingga 1557, ada ruangan jelaga di gerbang utama Masjid Sulaiman. Lampu-lampu minyak dan lilin yang banyak digunakan untuk menerangi bangunan yang luas akan menyebabkan asap dan membakar oksigen. Untuk mengatasi masalah ini, Sinan dan pengikutnya memanfaatkan dinamika udara untuk mengarahkan asap ke ruang penyaring. Jelaga kemudian dikumpulkan dan digunakan untuk membuat tinta. Sehingga, udara bersih dialirkan ke luar untuk memastikan kesinambungan. Jelaga yang diambil dari lilin adalah salah satu bahan mentah pembuatan tinta yang digunakan untuk kaligrafi. Tinta ini melindungi buku dari rayap. Sistem ini menyaring polusi udara di dalam masjid yang berasal dari lilin dan napas manusia. Di dalam contoh ini, ada sistem berkesinambungan, yang juga ramah lingkungan. Alat yang sama masih terdapat di Masjid Sultan Ahmad di Istanbul, yang dibangun antara tahun 1609 hingga tahun 1616 selama masa pemerintahan Ahmad I oleh seorang arsitek kesultanan bernama Sedefhar Mehmet Ağa, masyarakat dan asisten senior Sinan.
Dua contoh itu, penggunaan telur-telur burung unta dan pemurnian udara dengan mengambil jelaga dan menggunakannya kembali untuk pembuatan tinta, merupakan bukti ramah lingkungan. Penelitian itu mengingatkan kita akan banyaknya penemuan di bidang ilmu kedokteran seperti penemuan benang jahit untuk operasi (benang berasal dari usus kucing yang digunakan untuk operasi organ tubuh) oleh Al Zahwari yang ditemukan agar dapat digunakan untuk manusia dan menyatu beberapa minggu kemudian setelah operasi.
Sumber : http://muslimheritage.com/topics/default.cfm?ArticleID=1167
Tidak ada komentar:
Posting Komentar