06 April 2011

Diamlah, dengarkanlah, jangan dipotong.

“Diamlah, dengarkanlah pembicaraan jangan dipotong, itulah tingginya adab dan kesopanan. - Hikmah.”

Jadi penasaran dengan jumlah orang yang benar-benar mendengarkan tanpa memotong pembicaraan.

Dari pengamatan saya, hmmm, bagaimana ya mengatakannya, tidak banyak jumlahnya orang yang benar-benar mau mendengarkan.

Yang bisa saya simpulkan dari kejadian yang saya alami sendiri. Mohon maaf, tapi ini hanya dari pengamatan pribadi saya.

Pertama, saya menyampaikan informasi yang tidak menarik bagi lawan bicara saya.

Kedua, waktu yang sangat tidak tepat.

Ketiga, memang sudah menjadi karakter atau mungkin sifat dari lawan bicara saya yang secara tidak sadar ingin langsung menanggapi apa pun yang saya sampaikan, yup, memotong pembicaraan tentunya.

Keempat, lawan bicara saya tidak suka menunggu apa yang ingin saya jelaskan secara rinci atau detail. Saya hanya bermaksud agar mereka mendapatkan informasi lengkap, dan seringkali bukan itu yang mereka butuhkan.

Karena sering terjadi seperti itu, saya akhirnya hanya menjawab pertanyaan mereka dengan ya atau tidak, tanpa memberikan jawaban detail.

Kelima, mereka sudah tahu informasinya dan langsung menyambung apa yang ingin saya katakan.

Kurang lebih, seperti itulah pendapat saya.

Salah satu hal yang menjadikan seorang Bill Clinton disenangi banyak orang, konon, setiap orang yang berbincang dengan beliau selalu mendapatkan perhatian penuh, seakan-akan hanya dialah satu-satunya orang yang ada di hadapan Bill Clinton. Tentu saja dengan begitu Anda akan merasa orang paling penting di dunia.

Yuk, mulai mendengarkan lebih baik lagi jika ada orang yang ingin menyampaikan sesuatu kepada kita.

Usahakan jangan dipotong pembicaraannya. Biarkan dia selesai bicara, baru kita berikan pendapat kita. Agar sesuai dengan kalimat bijaksana di awal tulisan ini, “Diamlah, dengarkanlah pembicaraan jangan dipotong, itulah tingginya adab dan kesopanan. - Hikmah.”

Semoga bermanfaat. :)

Tidak ada komentar: