09 April 2011

Mistis VS Realistis.

Ayo mengaku? Siapa yang dulu saat masih kecil dilarang duduk di atas bantal karena bokong akan bisulan? Atau jangan duduk di depan pintu karena akan jauh jodoh?

Untuk semua pertanyaan itu sudah dari sejak kecil pikiran kita dipenuhi oleh sesuatu yang mistis, sesuatu yang berada di luar logika. Padahal ada jawaban masuk akal dari semua itu, bantal tidak boleh diduduki karena dipakai untuk kepala dan Anda akan menghalangi orang keluar masuk kalau duduk di depan pintu.

Mungkin karena orangtua kita dulu bisa dibilang mencoba untuk menghentikan pertanyaan anaknya, sehingga dijawab dengan jawaban mistis yang tidak bisa diserap pikiran anak-anak, dan dulu, kita tidak mungkin lagi bertanya, kenapa, kenapa dan kenapa?

Kenapa saya menuliskan topik ini. Ya, semua ini bermula dari mobil jemputan yang disediakan kantor kami untuk para karyawan. Sambil menunggu waktu yang sudah ditentukan untuk berangkat, kami mendengarkan radio. Dan topik yang dibicarakan pagi itu adalah ”Kisah sial apa yang Anda pernah alami”.

Dari topiknya saja saya sudah tidak setuju. Saya gak suka penggunaan kata sial itu.

Penelepon pertama bercerita tentang adiknya yang mengalami ”kesialan”. Saat sedang berbelanja di mini market, sang adik melihat ada seseorang yang mencuri motornya. Karena panik dan tidak ada ojek, sang adik mencoba mengejar sang pencuri motor dengan naik bus.

Karena bus terhambat jalannya, sang adik memutuskan turun dari bus dan mengejarnya. Setelah tidak terkejar, sang adik akhirnya baru sadar kalau hp-nya juga sudah raib. Karena terlalu fokus dengan mengejar motor yang dicuri, dia tidak sadar apakah hp-nya dicopet atau jatuh di bus.

Dia bahkan berpikir, apakah seharusnya ada yang dikorbankan untuk buang sial? Astagfirullah. Padahal semua itu bisa saja tidak terjadi kalau dia lebih waspada dengan tindakan pencegahan, seperti membawa kunci gembok misalnya dan mengunci motornya dengan baik.

Cerita kedua. Seorang wanita yang percaya bahwa hari Rabu adalah hari sialnya, sehingga teman sekantornya selalu menunggu-nunggu kejadian sial yang akan dialaminya. Kasihan amat, kok orang nungguin dia dapat musibah.

Kisah berawal setahun lalu saat seorang karyawati mengambil gaji di sebuah ATM. Keluar dari ATM, tidak berapa lama dia dihampiri 2 pria. Setelah bercakap-cakap, si karyawati ditawari batu bertuah oleh kedua pria tersebut. Akhirnya dia sadar bahwa dia akan dihipnotis, dia lalu mengalihkan perhatian kedua pria itu, dan langsung naik bus.

Di bus, dia tidur. Begitu sadar, ternyata dia naik bus yang salah dan harus mencari bus lain untuk pulang ke rumahnya. Setelah naik bus yang benar, dan mau turun, ternyata ada dua pria yang mencoba menghalanginya turun. Dia tidak sadar bahwa kedua pria itu adalah pencopet.

Alhasil, dompet berisi uang gajiannya melayang. Dan sejak saat itu dia mendeklarasikan bahwa hari Rabu adalah hari sialnya. Hmm, kasihan sekali, mendeklarasikan kalau hari Rabu adalah hari sial, padahal semua hari adalah hari yang baik.

Padahal tidak akan terjadi hal seperti itu kalau dia mau lebih waspada.

Dan untungnya mobil jemputan sudah sampai kantor, sehingga saya tidak perlu mendengarkan banyak cerita kesialan lainnya.

Memang semuanya sudah terjadi. Tetapi, akan lebih baik lagi kalau kita berpikir hal yang terjadi itu bukan kesialan, karena semua itu sudah diketahui Allah SWT dan diizinkan terjadi. Bukan untuk dilihat sebagai kesialan, tetapi membuat kita lebih waspada dengan apa yang terjadi di sekeliling kita.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Hadeeuh...kasian bgt ya mereka2 yg masih percaya itu (-,-")