Yup, salesman, tetapi yang ingin saya bicarakan adalah salesman yang berkeliling di perumahan.
Saya sangat menghargai apa pun bentuk pekerjaannya asalkan dilakukan dengan cara yang halal dan tidak mengganggu ketenangan orang lain.
Mengganggu ketenangan?
Ya, maksud saya jam yang biasa mereka gunakan untuk mengetuk pintu rumah yang ingin mereka tawarkan dagangan atau pun yang ingin mereka tanyai untuk survei yang mereka lakukan.
Kali ini, mereka datang sekitar pukul 15.00.
Berhubung hari libur, tentu saja banyak orang mengisinya dengan tidur.
Sepertinya mereka sama sekali tidak merasa sungkan untuk mengetuk pintu rumah seseorang di waktu si pemilik rumah sedang beristirahat.
Ya, saya mengerti, mereka pastinya harus memenuhi kuota penawaran atau daftar survei. Tetapi apakah seperti ini caranya, tidak mempedulikan caranya apakah mengganggu orang lain atau tidak tetapi hanya peduli dengan hasil yang mereka capai.
Suatu kali pernah ada 4 orang, 2 laki-laki dan 2 perempuan melakukan survei ke sekitar tempat saya tinggal. Saat itu ayah saya memberikan nasihat kepada mereka untuk "permisi" dulu sebelum melakukan survei.
Mengajukan izin ke ketua RT atau ketua RW setempat sebelum melakukan survei dengan tujuan agar kegiatan survei yang mereka lakukan atas seizin dan sepengetahuan ketua RT atau ketua RW.
Alasan yang mereka kemukakan, mereka pikir sudah cukup hanya dengan mendapatkan surat tugas dari institusi tempat mereka bekerja atau belajar.
Bukankah kita sudah diajarkan untuk masuk ke rumah orang lain dengan masuk dari pintu depan bukan masuk dari pintu samping atau jendela? Apakah sebegitu parahnya ketidakpedulian mereka atas sopan santun? Apakah harus diajarkan lagi sopan santun? Entahlah.
Lain lagi dengan kasus yang satu ini.
Pernah ada saleswoman yang datang ke rumah saya dan membawa "kabar gembira" kalau ibu saya bisa menjawab dengan benar satu pertanyaan yang diajukannya, maka ibu saya akan mendapatkan 4 buah panci.
Pertanyaan diajukan dan saya membantu ibu saya menjawabnya.
Yang menjengkelkan adalah saat si saleswoman bertanya kepada ibu saya, apakah ibu saya yakin bahwa saya tidak membohonginya. Hmmm, hebat, baru bertemu beberapa menit sudah berani melabeli saya pembohong.
Ibu saya menjawab, tentu saja saya tidak mungkin membohonginya.
Dan ya, setelah ibu saya berhasil menjawab dengan benar pertanyaan darinya. Barulah dia mengeluarkan berbagai syarat untuk mendapatkan hadiah 4 buah panci tersebut.
Yang harus mengeluarkan uang sejumlah sekian lah baru dapat pancinya. Dan yang lainnya saya tidak ingat, karena saya langsung berpikir, "Nah, sekarang siapa yang sebenarnya pembohong?" :D
Ada lagi modus lainnya.
Suatu hari ayah saya menerima surat pemberitahuan bahwa beliau mendapatkan hadiah dan hadiahnya bisa diambil di sebuah ruko dekat sebuah pusat perbelanjaan.
Ayah saya dan saya akhirnya datang untuk mengetahui apa yang mereka inginkan. Ayah saya mengatakan, "Hmm, paling hadiahnya cuma jam dinding, tapi ga pa pa kita coba cari tahu dulu saja. "
Setelah sampai di ruko sesuai alamat di surat, kami masuk. Begitu masuk, ruangan yang tidak luas itu terdiri dari kurang lebih 3 meja dan tiap meja sudah ada orang yang datang ingin mengambil hadiahnya.
Yang membuat saya curiga, musik yang dimainkan di ruangan itu bisa dibilang sangat memekakkan telinga. Tujuannya sepertinya memang agar para pengambil hadiah tidak dapat mendengarkan pembicaraan satu sama lainnya.
Mulailah ayah saya ditawarkan berbagai macam produk dengan harga yang sangat murah. Menurut mereka.
Karena saya tidak tertarik dengan barang-barang yang ditawarkan, saya mulai melihat ke sekeliling. Hmm, banyak juga orang yang tertarik membeli produk yang mereka tawarkan.
Mengamati saya yang melihat keadaan sekeliling, si pegawai kemudian bertanya pada saya agar konsentrasi saya kembali ke topik yang dia tanyakan.
Setelah itu kami diberi minum. Dan selama hidup saya, baru pertama kalinya saya diberikan cangkir yang masih ada lipstiknya untuk diminum. Hmm, saking repotnya, mungkin mereka sampai tidak sempat mencuci cangkir. :((
Karena kami sama sekali tidak tertarik dan sepertinya mereka mengetahui misi mereka gatot alias gagal total, akhirnya mereka menyerah dan hanya memberikan jam dinding, seperti yang sebelumnya telah ayah saya perkirakan. :D
Hidup itu memang mengenai pilihan. Dan sudah seharusnya kita memilih hidup dengan jalan yang baik dan benar agar hidup ini menjadi berkah, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang banyak. Amin.
Semoga bermanfaat. :D
1 komentar:
Deuuu...muter2 dulu akhirnya tetep nipu ya mba :(
Posting Komentar