Kementerian Pendidikan Nasional mencatat jumlah taman bacaan masyarakat di berbagai pelosok negeri mencapai 5.552 buah. Tak semua didanai pemerintah tentu saja. Sebagian di antaranya merupakan prakarsa anggota masyarakat sendiri. Mereka yang gigih mengajak warga untuk gemar membaca itu pun tak selalu dari golongan cerdik-pandai, tapi ada juga yang mantan buruh migran dan penjual jamu seperti sosok berikut ini.
Kiswanti
Menyaingi Warung Remang-remang
Warung remang-remang yang banyak berdiri di kawasan Parung, Bogor, membuat Kiswanti prihatin. Sebab, hal itu amat berpengaruh terhadap gaya pergaulan anak-anak di sana. Tak cuma ber-elu-gue, "Mereka juga suka menyebut organ reproduksi perempuan," ujar Kiswanti sambil menghela napas.
Perempuan asal Yogyakarta yang cuma lulusan sekolah dasar itu datang ke Parung pada 1994. Sehari-hari ia berkeliling kampung menjajakan jamu racikannya. Hingga suatu hari pada 1997, ia mulai menyelipkan beberapa buku di antara botol-botol jamu yang dibawanya. Sambil menunggu jamu racikan disuguhkan Kiswanti, satu-dua pelanggan mulai membolak-balik dan membaca buku-buku itu.
Kegiatan berkeliling menjual jamu sambil membawa buku itu dilakoni Kiswanti hingga tiga tahun kemudian. Karena jumlah koleksi bukunya kian banyak, dan warga yang berminat untuk membaca terus bertambah, ia pun mulai menyediakan satu ruang di rumahnya untuk taman bacaan. Kiswanti memberinya nama Warabal, singkatan dari Warung Bacaan Lebak Wangi.
"Saya pilih istilah warung bacaan karena selama ini yang ada cuma warung remang-remang," ujar perempuan 46 tahun ini.
Kini jumlah koleksi buku di Warabal membengkak. Dari semula cuma 250 buku menjadi 8.000 buku dengan 5.015 judul. "Subhanallah kerja Allah, sangat misterius," ujarnya tentang donasi dan apresiasi berbagai pihak terhadap pengabdiannya itu.
Kegiatan Warabal saat ini tidak lagi sekadar taman bacaan, tapi juga berkembang dengan kegiatan-kegiatan lain, seperti pendidikan anak usia dini, taman pendidikan Al-Quran, kursus bahasa Inggris, kelas kreatif, serta kursus komputer. Untuk mendukung semua kegiatan dengan seratusan peserta, Kiswanti dibantu 16 sukarelawan.
Dalam beberapa bulan ke depan, aktivitas Warabal, yang menempati rumah sewaan berukuran 60 meter persegi, akan pindah ke bangunan baru permanen dua lantai yang terlihat asri dan apik di samping kediaman Kiswanti. "Ada yayasan yang tergerak membantu membiayai Warabal," ujar dia.
Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/05/01/Topik/krn.20110501.234607.id.html
Eni Kusumawati
Menolak Donasi Uang
Salah satu aset berharga yang dibawa pulang Eni Kusumawati setelah menjadi tenaga kerja di Hong Kong adalah ratusan buku. Belakangan ia menata tumpukan buku itu di rak-rak hasil karya suaminya yang bekerja di bengkel mebel. "Karena dipajang itulah, para ibu dan anak-anak yang belajar mengaji di rumah pada ikut membaca," kata Eni, yang bekerja di Hong Kong selama enam tahun sejak 2001.
Akhirnya, sejak pertengahan tahun lalu, ia memutuskan menjadikan salah satu ruang di rumahnya sebagai taman bacaan untuk para tetangganya di Jalan Belitung, Banyuwangi, Jawa Timur. Penulis buku motivasi Anda Luar Biasa itu memberi taman bacaannya dengan nama Rumah Cerdas. Di situ Eni juga memberi bimbingan belajar bagi anak-anak usia sekolah dasar maupun taman kanak-kanak.
"Ada kalanya, ya, saya juga jemput bola mendatangi ibu-ibu di warung atau anak-anak supaya mau membaca buku-buku saya. Gratis kok, tinggal baca," ujar ibu Natasya Ensa Motivani, 3 tahun, itu.
Sosok Eni, yang dikenal sebagai pembicara motivasi yang kerap tampil di seminar-seminar di kawasan Jawa Timur, memudahkannya mendapat tambahan koleksi buku untuk taman bacaannya. Penulis buku motivasi Andrie Wongso, misalnya, menyumbangkan 80 majalah terbitannya pada awal April lalu. "Kami memang cuma menerima donasi berbentuk buku, bukan uang," kata Eni.
Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/05/01/Topik/krn.20110501.234608.id.html
Asma Nadia
Bagian dari CSR
Selain produktif menulis buku, Asma Nadia telah mendirikan taman bacaan masyarakat di berbagai kota. Berawal dari ruangan-ruangan sederhana yang "disulap" menjadi perpustakaan mini, dengan fasilitas seadanya tapi rapi, satu per satu taman bacaan masyarakat yang dinamai Rumah Baca Asma Nadia hadir di tempat-tempat yang membutuhkannya.
Setelah adanya peraturan tentang kewajiban tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), Asma, yang juga mengelola Asma Nadia Publishing, pun menggenjot pendirian taman bacaan masyarakat ke berbagai pelosok. Tujuannya tak lain untuk memberi wadah alternatif menyediakan buku-buku bacaan buat anak-anak (dan dewasa) sekaligus sebagai pusat kegiatan yang kreatif bagi para pengunjungnya.
Sejak 2003, Rumah Baca Asma Nadia telah berjumlah 32 buah. “Pekan depan insya Allah akan kami resmikan di Rawa Kalong, Depok,” ujar penulis cerita Emak Ingin Naik Haji dan Rumah Tanpa Jendela itu. Selain dana CSR, Asma menghibahkan semua royalti buku Emak Naik Haji untuk operasionalisasi rumah baca.
Di beberapa taman bacaan, Asma melengkapinya dengan sarana mainan edukatif dan pelatihan membaca Al-Quran. Ke depan, ia ingin melengkapinya dengan pelatihan bahasa Inggris dan komputer. “Untuk komputer, saya masih menunggu donatornya, nih,” ujarnya. Ayo, siapa mau mendonasikan komputer? AMIRULLAH | SUDRAJAT
Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/05/01/Topik/krn.20110501.234609.id.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar