Ketujuh bocah usia taman kanak-kanak dan sekolah dasar itu duduk mengelilingi meja sambil mengaduk-aduk serbuk gipsum yang sudah dicampur air. Satu-dua anak tampak saling mengusili dengan mengoleskan serbuk putih yang sudah menjadi adonan itu ke wajah satu sama lain.
"Kalau sudah kental, tuangkan ke kotak ini, ya," ujar Ajeng Puri Palupi, yang menjadi fasilitator acara Sains Masuk Mal, sambil membagikan wadah-wadah kecil berbentuk mobil sedan dan daun. Acara pada Ahad siang pekan lalu itu digelar Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Pejaten Village, Jakarta Selatan, bekerja sama dengan Klub Sains Ilma.
Sebelum adonan tersebut benar-benar mengering, alumnus Fakultas Matematika dan IPA Universitas Nasional, Jakarta, itu kembali memerintahkan anak-anak untuk menempelkan sebuah magnet bundar dengan diameter 1 sentimeter. Tak sampai 10 menit kemudian, adonan gipsum itu dikeluarkan dari cetakan dan siap diwarnai sesuai dengan selera si anak.
"Nah, sekarang coba adik-adik tempelkan di tiang meja komputer itu," kata Ajeng. Alisha Zafira Achyar (Fira) dan Keira Salsabila (Keke), yang duduk paling dekat arah lokasi dimaksud, dengan cepat melakukannya. "Kok, enggak jatuh, ya?" ujar Fira, takjub.
Sepasang bola matanya yang bundar mengerjap-ngerjap, mengamati hasil karyanya. "Nanti di rumah aku mau tempel di kulkas, ah," ujar gadis mungil itu sambil menyibakkan poni di keningnya.
***
Dini Aviandari dari Klub Sains Ilmu Pasar Minggu mengatakan pihaknya tak berpretensi menjadikan anak-anak agar ke depan menjadi ilmuwan, karena hal itu merupakan profesi pilihan. Menghadirkan eksperimen-eksperimen sains sederhana lebih dimaksudkan untuk menjadikan anak lebih kreatif, memiliki alternatif, dan terbiasa dengan data sehingga terbentuk pola berpikir analitis.
"Seperti pembuatan magnet untuk lemari es, itu kan basic-nya adalah bagaimana si anak mengenal perubahan bentuk materi dari serbuk dan air menjadi benda padat," ujarnya.
Siang itu ada tiga eksperimen yang akan dilakukan. Tapi tak semua anak berselera mengikutinya. Mahdi, misalnya. Setelah membuat adonan gipsum untuk hiasan lemari es itu, ia merajuk. Sehabis mencuci tangan, ia memaksa mengajak kakak perempuan dan ibunya untuk meninggalkan ruangan TBM.
Untuk setiap eksperimen, Klub Sains Ilma memungut biaya pengganti bahan-bahan sebesar Rp 20 ribu. "Tapi untuk tiga paket eksperimen cuma Rp 50 ribu," ujar Dini berpromosi.
Kerja sama dengan TBM Pejaten Village telah dilakukan Klub Sains Ilma sejak awal Maret lalu. Kerja sama ini berangkat dari kesadaran bahwa fasilitas ruang membaca harus menyenangkan dan menjadi arena alternatif untuk bertindak kreatif. Klub Sains Ilma Pasar Minggu merupakan cabang dari Rumah atau Klub Sains Ilma yang didirikan oleh A. Muzi Marpaung dan istrinya, Eva, pada 2003 di kawasan Pamulang.
***
Elly Purwani, ibunda Fira, mengaku sangat terbantu dengan adanya TBM dan klub sains itu. Semula pegawai sebuah operator telepon seluler yang tinggal di kawasan Bekasi itu bimbang saat putri sulungnya memaksa ikut serta ke acara perusahaan yang digelar di mal tersebut. Ia khawatir konsentrasinya bekerja akan terpecah karena juga harus mengawasi Fira.
"Tapi, dengan adanya TBM, saya bisa menitipkan Fira. Dia pun ternyata senang banget bisa bermain-main di sana ," kata Elly. Ia berharap setiap mal di Tanah Air bisa menyediakan ruang khusus untuk TBM dan aktivitas lain yang bermanfaat bagi anak-anak. SUDRAJAT
Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/05/01/Topik/krn.20110501.234604.id.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar