Membacalah.
Minat baca orang Indonesia sangat rendah dibanding negara lain, bahkan di antara negara-negara di Asia. Maklum, sejak kecil umumnya anak-anak tak dididik untuk mencintai buku. Anak Indonesia lebih suka menggunakan uang saku untuk membeli jajanan. Itu sebabnya, uang saku lebih sering dikenal dengan sebutan uang jajan.
Berbagai upaya ditempuh untuk menumbuhkan minat baca masyarakat. Salah satunya adalah menyediakan taman bacaan gratis hingga ke mal-mal. Ada pro-kontra memang. Tapi pejabat terkait telanjur menganggap mal sudah dan akan jadi pusat kebudayaan. Ya, apa salahnya, di sela-sela kegiatan berbelanja, sempatkan diri untuk membaca.
Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/05/01/Topik/krn.20110501.234602.id.html
Tetap Membaca di Sela Belanja
Mal sudah dan akan jadi pusat kebudayaan.
Sambil membaca sebuah majalah berita, satu dari empat lelaki muda yang mengelilingi meja bundar itu sesekali menyeruput kopi. Di sudut meja lain, dua mahasiswi perguruan tinggi swasta di Kota Depok tampak asyik mengetik di komputer jinjing mereka. Terkadang kepada mereka mengangguk-angguk mengikuti irama rancak tiupan saksofon Dave Koz.
Suasana pada Rabu siang lalu itu bukan di kafe, tapi di Taman Bacaan Masyarakat di Mal (TBM). Lokasi tepatnya bersisian dengan food court, Bioskop 21, dan arena permainan anak di lantai 3 Depok Town Square (Detos), Depok, Jawa Barat. Berbeda dengan kesan perpustakaan pada umumnya yang serba serius dan sunyi, di TBM itu suasananya sengaja dibuat cozy.
Selain deretan rak buku, ada sofa dan meja-meja bundar, juga bantal-bantal besar nan empuk di atas karpet. Di sana pengunjung dapat membaca sambil menikmati alunan musik instrumentalia, mengudap makanan kecil, atau menyeruput cappuccino dan aneka minuman lainnya.
"Kami sengaja merancang dengan pendekatan karakter pengunjung, masyarakat sekitar, dan mereka yang berjiwa muda," kata Dina Mariana, yang mengelola TBM itu bersama suaminya, Radian R. Sujadi. Taman bacaan sebetulnya sudah beroperasi sejak awal Januari lalu. Tapi baru diresmikan pemerintah bertepatan dengan Hari Kartini, Kamis (21 April) lalu.
"Sambil menunggu teman-teman untuk pertemuan, saya biasa nyantai sambil baca-baca di sini," kata Novika Grasiaswaty, yang baru saja lulus dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Koleksi buku di TBM ini, perempuan cantik asal Probolinggo itu melanjutkan, tergolong up-to-date. "Makanya saya suka," kata Vika sambil membolak-balik novel Opera van Gontor.
Selain menyajikan ratusan judul buku untuk anak-anak, remaja, dan dewasa, TBM tersebut menjadi Balai Belajar Bersama bekerja sama dengan Yayasan Bina Kreativitas Anak Bangsa asuhan Dina Mariana. Aneka pembelajaran, seperti fotografi, keterampilan merajut dan menyulam, hingga pelatihan kewirausahaan dan melukis bagi anak-anak, digelar di sana. "Semuanya gratis," ujar Vika.
Sementara itu, Puspa Karmila, guru di sebuah lembaga pendidikan anak usia dini di Cipayung, Depok, mengusulkan agar TBM sesekali menggelar lomba membaca bagi anak-anak. Sebab, selama ini yang dilombakan, kata dia, biasanya cuma menggambar atau menyanyi. "Lomba paling lama atau banyak membaca buku saya pikir dapat merangsang anak-anak untuk gemar membaca," ujar Puspa, yang tengah menemani putri sulungnya, Maria Qibtiyah, 8 tahun, yang asyik membaca sebuah buku cerita. "Syukur kalau si anak bisa menjelaskan garis besar cerita dalam buku yang dibacanya," ia menambahkan.
Hal yang perlu dibenahi oleh pengelola TBM ini adalah dibiarkannya pengunjung untuk merokok. Setidaknya Tempo memergoki beberapa remaja tanggung yang justru sengaja menjadikan arena TBM untuk merokok. Padahal di arena food court sekalipun merokok dilarang.
Dina Mariana, yang tengah menunaikan ibadah umrah, berjanji akan memperbaiki kondisi tersebut. "Sarannya akan diperhatikan, Mas. Thanks a lot," tulisnya melalui BlackBerry Messenger.
***
Program TBM@Mal dimulai pemerintah sejak 2 Mei tahun lalu. Pembawa acara Desak Made Hugeshia Dewi alias Dewi Hughes didaulat sebagai motor penggeraknya. Ia khusus berperan melakukan lobi-lobi ke manajemen mal di lingkungan Grup Lippo. Sementara itu, Heri Hendrayana Harris alias Gol A Gong melakukan pendekatan ke pusat belanja Carrefour di wilayah Banten. Selain itu, Lotte Mart turut berperan serta memberikan ruang bagi TBM (lihat infografis: "Di Mana Membaca Buku").
Hasilnya, beberapa mal yang dikelola Grup Lippo memberikan ruang cukup strategis dengan harga sewa murah. "Seperti di Plaza Semanggi ini, saya hanya dikenai service charge. Cuma untuk bayar listrik dan AC," kata Hughes kepada Tempo, Kamis lalu.
Taman bacaan ini merupakan yang pertama diresmikan oleh Menteri Pendidikan M. Nuh, pada 2 Mei tahun lalu. Letaknya yang tak jauh dari eskalator di lantai 3 membuat orang yang lalu-lalang di koridor itu pasti mengetahui kehadirannya. Tapi, sejak beberapa bulan lalu, ruangan persis di sampingnya ditutup karena akan dijadikan tempat karaoke. Kini taman bacaan yang dikelola Hughes itu menjadi koridor buntu yang tak lagi banyak dilalui pengunjung mal.
Hughes berharap di masa mendatang akan semakin banyak mal yang menyediakan ruang untuk TBM. "Saya sih membayangkan, pada suatu hari nanti, orang-orang yang ke mal itu di sela-sela belanja bisa tetap asyik membaca," ujarnya.
Kini, telah ada 20-an TBM di mal-mal yang tersebar di Bandung, Surabaya, Mataram, Binjai, dan Serang, Banten. Direktur Pembinaan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan Nasional Ella Yulaelawati menjelaskan, pilihan mendirikan TBM@Mal adalah karena fakta: 50 persen remaja, 25 persen anak-anak, dan 25 persen orang dewasa sering jalan-jalan ke mal. Artinya, kata dia, anak-anak tidak sekadar ikut-ikutan ke mal.
Selain itu, para remaja bisa diarahkan pada kegiatan yang positif dan produktif saat di mal. "Mal sudah dan akan jadi pusat kebudayaan, dan karena pengunjungnya kebanyakan remaja, dilengkapi dengan guru kehidupan, dengan taman bacaan," ujarnya.
Ia mengingatkan agar tidak menyamakan perpustakaan dengan TBM yang hanya merupakan tempat membaca. Dengan demikian, diharapkan kebiasaan membaca menjadi hal yang menyenangkan. "Anak yang membaca di luar buku-buku teks pelajaran akan memiliki kualitas akademis lebih baik," ujar Ella merujuk pada sebuah hasil penelitian.
Meski demikian, tak semua orang setuju dengan konsep pendirian TBM@Mal. Dhitta Benni Setiawan, penulis buku Manifesto Pendidikan Indonesia (2006) dan Agenda Pendidikan Nasional (2008), pernah menyebut pendirian TBM@Mal sebagai kurang kerjaan. Ia khawatir TBM@Mal hanya akan semakin mengukuhkan keberadaan kelas menengah dan atas, dan melupakan kelas bawah. Sebab, yang berkunjung ke mal hanyalah orang-orang kaya yang memiliki kuasa, sedangkan rakyat miskin semakin termarginalkan.
Hughes menyergah pendapat tersebut. Menurut dia, membaca adalah hak asasi setiap orang, bukan cuma persoalan orang miskin atau kaya. Lagi pula, kata dia, mal sudah menjadi semacam pusat peradaban masyarakat urban. Berbagai kegiatan sudah lazim dilakukan di mal, dari arisan hingga kebaktian umat kristiani setiap Minggu. Begitu juga saat bulan suci Ramadan tiba, banyak orang memanfaatkan mal untuk ngabuburit, berbuka puasa bersama, atau salat berjemaah di musala mal yang nyaman.
Pengunjung mal, Ella menegaskan, sesungguhnya tak melulu orang-orang berduit. Sebab, yang tak punya uang dan sekadar cari angin pun banyak yang datang ke mal. Selain itu, di sana nyatanya ada sopir, pelayan toko, dan petugas keamanan yang bisa memanfaatkan waktu luang mereka dengan membaca berbagai koleksi dari taman bacaan. "Jadi yang dimaksudkan dengan marginal di sini bukan dari sisi sosial ekonomi, tapi marginal dari budaya membaca, dan itu juga menghinggapi masyarakat yang mapan secara ekonomi," kata Ella.
Pemerintah, ia melanjutkan, tetap berkomitmen dalam upaya mengembangkan budaya baca masyarakat di segala lapisan. Karena itu, kehadiran taman bacaan dan perpustakaan juga dilakukan hingga ke pelosok daerah, pasar, rumah sakit, dan tempat publik lainnya. "Sekali lagi, TBM@Mal itu hanya salah satu upaya dari sekian banyak yang telah dikerjakan," ujarnya.
Keberadaan TBM@Mal, Ella menegaskan, adalah guna mendukung 5.552 TBM yang berada di pelosok daerah pedesaan. Tahun pertama, pemerintah memberikan dana stimulus Rp 70 juta untuk setiap TBM, serta Rp 200 juta untuk TBM dan rumah belajar. "Tapi tahun berikutnya, ya, silakan para penyelenggara untuk mandiri membiayainya," kata Ella.
Hughes, yang juga mengelola TBM di Blok M Mall, menyatakan akan melengkapi TBM-nya dengan berbagai aktivitas lain. Contohnya, menggelar kursus bahasa Inggris pada hari dan jam tertentu atau kursus public speaking untuk anak-anak, serta menjadikannya arena untuk peluncuran serta diskusi buku oleh para penulis dan penerbit buku. "Ya, pokoknya kami upayakan sekreatif mungkinlah," ujarnya. PRIHANDOKO|SUDRAJAT
Sumber : http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2011/05/01/Topik/krn.20110501.234603.id.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar