13 Juni 2009

10 mitos tentang otak, nomor 5, oleh Shanna Freeman

5 : Otak Anda Tetap Aktif Setelah Leher Anda Dipenggal

Pada suatu masa, pemenggalan leher adalah salah satu cara eksekusi yang disukai, berkat guletin. Walaupun banyak negara yang mengeksekusi pejahat telah melarang cara ini, tetapi cara ini masih dilakukan pemerintahan dan teroris tertentu. Alat ini digunakan agar kematian seseorang dilakukan secara cepat. Tapi seberapa cepat? Jika kepala Anda dipenggal, Anda masih bisa melihat atau menggerakkan kepala, bahkan untuk beberapa detik?

Konsep ini mungkin muncul pertama kali selama Revolusi Prancis, periode awal dimana guletin diciptakan. Pada tanggal 17 Juli 1973, seorang wanita bernama Charlotte Corday dieksekusi menggunakan guletin karena telah membunuh Jean-Paul Marat, jurnalis radikal, politis dan revolusionis. Marat sangat disukai karena idenya dan rakyat menunggu saat Corday harus membayarnya di guletin. Setelah pisau guletin jatuh dan kepala Corday terjatuh, salah satu asisten penjagal mengangkat kepala tersebut dan menampar pipinya. Menurut saksi mata, mata Corday menatap pria itu dan wajahnya berubah dengan ekspresi kemarahan. Selanjutnya, orang yang dieksekusi dengan pisau guletin selama masa Revolusi diminta untuk berkedip, dan para saksi menyatakan bahwa kedipan berlangsung hingga 30 detik.

Kisah lainnya yang sering diceritakan tentang kesadaran saat kepala dipenggal terjadi di tahun 1905. Dokter asal Prancis Dr. Gabriel Beaurieux menyaksikan pemenggalan kepala seorang pria bernama Languille. Dia menulis segera setelah pemenggalan, “kelopak mata dan bibir… bergerak dengan ritme tidak teratur selama 5 atau 6 detik.” Dr. Beaurieux memanggil nama Languille dan mengatakan kelopak mata Languille “perlahan terangkat, tanpa kontraksi kejang urat” dan “pupil matanya terfokus” (sumber : Kershaw). Hal ini terjadi pada kedua kali, tapi ke tiga kalinya tidak ada respons, kata Beaurieux.

Kisah-kisah ini sepertinya memberikan kepercayaan bahwa mungkin saja seseorang tetap sadar, bahkan untuk beberapa detik, setelah kepalanya dipenggal. Akan tetapi, sebagian besar dokter modern percaya bahwa reaksi yang dijelaskan diatas merupakan gerakan urat refleksif, daripada gerakan sadar atau disengaja. Jantung tidak berdetak lagi (dan juga dengan tidak adanya oksigen), otak segera berada dalam keadaan koma dan mulai mati. Menurut Dr. Harold Hillman, kesadaran mungkin “hilang dalam waktu 2-3 detik karena tidak adanya pasokan udara ke otak lewat darah. (sumber : New Scientist)

Jadi mungkin saja seseorang masih bisa sadar setelah dipenggal, tapi biasanya tidak. Hillman juga menunjukkan bahwa tidak benar jika eksekusi dengan pisau guletin tidak menyakitkan. Dia menyatakan bahwa “kematian terjadi karena pemisahan antara otak dan sumsum tulang belakang. Hal ini menyebabkan rasa sakit yang akut. Inilah salah satu alasan mengapa guletin dan pemenggalan kepala pada umumnya, tidak lagi diterima sebagai metode eksekusi di banyak negara dengan hukuman mati.

Jika kepala Anda tetap berada di bahu, kepala Anda masih bisa tetap rusak. Berikutnya, kita lihat seberapa lama kerusakan otak terjadi.

Tidak ada komentar: