25 Juni 2012

Justice for the Poor, MTGW, Minggu, 8 April 2012

Segmen I :

Tunas yang nanti tumbuh menjadi keadilan itu tumbuhnya dari hati yang baik. Tidak ada orang jahat bisa adil.

Tetapi kalau mau belajar keadilan, belajarlah dari pemimpin yang penjahat. Para pemimpin penjahat tidak berani berlaku tidak adil karena anak buahnya penjahat.

Yang aman itu pemimpinnya orang baik. Tidak amanah, berdusta, bermuslihat untuk ngakali orang banyak, masih dimaafkan oleh orang banyak karena yang dipimpinnya orang baik. Itu sebabnya orang baik tidak boleh salah memilih pemimpin. Pilihlah yang hatinya baik, sehingga kita tidak letih-letih meminta orang yang tidak berbakat untuk adil untuk adil. Kalau orang baik tidak usah kita beritahu untuk adil. Sudah alamiahnya adil.

Bertarunglah selama mungkin, tapi jangan lupa hidup. Kadang Tuhan menunjukkan cara kita melihat kehidupan yang lebih besar dengan menutup jalan yang lebih sempit yang selama ini kita pikir di situ tempat rezeki.

Sesuatu yang benar itu tidak pernah salah, hanya belum bisa diterima karena yang berkuasa sedang belum baik.

Khalifah yang sebetulnya tidak hanya hadir dan berlaku adil terhadap sesama, kepada binatang, tumbuhan, dan batupun berlaku sama, karena yang diharapkan rahmat bagi sesama.



Segmen II :

Keadilan Tuhan itu tidak sama seperti keadilan kita sebagai manusia. Contohnya, Tuhan itu Maha Adil, tapi melebihkan keadilan-Nya kepada orang yang melebihkan keberserahan.

Sebenarnya konsep keadilan adalah lebihkan. Jangan menakar.

Jadi kalau untuk kebaikan, anjurannya adalah lebihkan. Tidak mungkin akan ada rugi kalau orang lain untung.

Anjurannya, apabila Anda sedang benar, jangan terlalu berani, apabila sedang salah, jangan terlalu takut karena kita ber-Tuhan, ada perlindungan.

Iman itu logis sekali, kalau kita gunakan dengan baik tidak ada pilihan lain kecuali damai. Kita itu terlalu berharap kepada selain Tuhan sehingga kalau hak kita dinistai, kita harus mempertahankannya takut kita tidak baik hidupnya.

Berpihaklah kepada yang baik untuk diri kita sendiri.

Konsep keadilan dan kebaikan adalah lebihkanlah, karena tidak mungkin Anda rugi kalau orang lain untung.


Segmen III :

Hukum itu buta tetapi kebutaan hukum itu harus dilaksanakan dulu supaya tidak ada interpretasi yang mengubah peraturan. Dilaksanakan dulu setelah itu baru mata hatinya pemimpin memutuskan.

Sense of justice tidak bisa diakali karena aslinya dari Tuhan.

Jangan hanya memberikan banyak untuk disukai pada kelompok sendiril, menghukum keras supaya ditakuti kepada lawan. Jadilah pribadi yang berdiri di atas semua kepentingan bagi kebaikan sesama.

Pemimpin adalah cerminan masyarakatnya. Kalau Anda mengeluhkan ketidakamanahan pemimpin karena yang memilih adalah masyarakat yang tidak amanah. Tidak mungkin kita tertarik kepada orang yang tidak mirip dengan kita.

Penegakan keadilan pertama yang bisa kita lakukan adalah tidak memilih pemimpin yang tidak adil.


Segmen IV :

Orang yang cerdas akan dikalahkan orang yang pandai kalau dia tidak belajar karena kepandaian fungsi belajar. Kebijakan itu fungsi pengalaman. Itu sebabnya, orang yang lebih tua diharapkan membuat keputusan yang lebih bijak.

Bijak itu tidak selalu harus menyenangkan semua orang tetapi baik bagi semua orang.

Bagaimana kita bisa diperlakukan dengan adil jika kita belum adil kepada Tuhan?

Tuhanku aku takut sekali memikirkan yang tidak baik, merasakan yang tidak baik karena Engkau Maha Tahu.

Hati adalah tempat dimana doa Anda berangkat, janganlah kotori dengan akal-akal muslihat, dendam, dan curiga.


Segmen V :

Segala sesuatu yang terjadi sudah ada dalam pengetahuan Tuhan, dan apabila terjadi sudah diketahui dan diizinkan, dan karena Tuhan Maha Penyayang, terjadinya apa pun karena alasan kasih sayang sehingga tidak ada fitnah atau apapun berkah atau hadiah, yang bukan berkah.

Tidak ada apapun yang bukan berkah karena datangnya diizinkan Tuhan.

Cara melihat maksud baik Tuhan adalah melihat baiknya, kita itu melihat buruknya, melihat dirugikannya kita.

Kapan sih kita bisa tegas kalau kita tidak marah? Krisis adalah alasan terbaik untuk perubahan karena orang tegas.

Jadilah orang yang setia kepada kebaikan diri saja karena perlindungan Tuhan itu adalah kesaksian yang paling benar. Mari kita kembali kepada keberserahan kita kepada Tuhan. Tuhan itu Maha Adil tetapi melebihkan keadilan kepada orang yang melebihkan keberserahan.

Kalau Anda bisa ubah, ubah. Kalau tidak bisa ubah, sikap kita mengenai keadaan itu jangan menjadi seorang yang bersikap sebagai korban. Kita semua pelaku dengan peran yang seimbang.

Keberhasilan itu jangan dilihat dihalangi oleh orang karena tidak ada yang bisa dihalangi orang kalau Tuhan mau memuliakan, dan tidak ada yang bisa mencegah kalau Tuhan ingin menghinakan seseorang.

Lihat kehidupan sebagai sesuatu yang mengalir, yang tidak harus selesai dalam kehidupan kita, yang dilanjutkan oleh keturunan kita.

Lihat segala sesuatu dengan alasan di belakangnya, mudah-mudahan dengan itu, kita memang sakit hati, marah, kecewa, dan mungkin agak kehilangan kesantunan dalam kemarahan kita, tapi yuk kita kembali kepada yang benar, supaya mudah bagi sistemnya Tuhan, untuk menjadikan kita pribadi-pribadi yang mulia, karena kemuliaan pantas bagi orang yang hati, pikiran, dan tindakannya benar.


Semoga bermanfaat. Aamiin.

Tidak ada komentar: