27 Juni 2012

From Batam with Love, Janganlah Berhenti Berharap, MTGW, Minggu, 27 Mei 2012

Segmen I :

Banyak dari kita mensyaratkan kebahagiaan pada yang kita miliki sehingga sebelum kita memilikinya, kita tidak bahagia.

Kesederhanaan dalam berharap untuk berfokus kepada yang bisa kita lakukan, untuk menjadi pemantas bagi pemberian yang kita harapkan dari Tuhan, supaya kita tetap tabah, tetap bertahan di dalam keberanian yang sabar, di dalam kebahagiaan yang penuh kesyukuran, karena kita diberikan izin untuk memulai kehidupan yang lebih baik hari ini, yang tidak lagi terbebani penyesalan-penyesalan masa lalu, karena hari ini adalah awal dari sisa masa depan kita.

Marilah kita tidak lagi mengeluhkan kurangnya bantuan orang lain, tidak lagi mengeluhkan kesulitan yang ada tetapi menjadikan kita pribadi yang tetap berharap karena kemampuan kita untuk menyelesaikan masalah lebih baik daripada yang telah kita lakukan di masa lalu.

Yang kita lakukan tidak boleh tidak ada gambar besar di masa depan.

Kalau orang ingin tumbuh besar, harus menghindari yang bisa dilakukan orang lain. Jangan lakukan yang bisa dilakukan orang lain.

Orang-orang yang ingin tidak letih pada berharap harus sibuk dalam melakukan sesuatu yang menjadikan impiannya nyata. Cara terbaik untuk sampai pada impian adalah sibuk selama menunggu. Kita semua menunggu menjadi pribadi yang mapan, yang mandiri, yang kuat, yang lebih besar kemampuannya daripada kewajiban-kewajiban kehidupan.

Orang yang bersungguh-sungguh menjadikan harapannya sebuah kenyataan yang produktif, bisa menjadikan seseorang bahkan lebih mampu daripada apabila dia mengharapkan pendapatan dari yang dibayarkan oleh orang lain.

Itu sebabnya kita tidak punya hak untuk letih dalam berharap karena masih banyak yang bisa kita lakukan dalam hidup ini.


Segmen II :

Tidak ada orang yang bisa mengeluh kalau melihat dirinya sebagai modal.

Kalau mau rezekinya baik, yang ramah.

Tandanya orang disayangi Tuhan, disayangi orang lain. Tandanya disukai Tuhan, disukai orang. Tandanya kita mudah dapat rezeki, gampang dibantu orang.

Kalau tahu modalnya diri, tindakan bisnis yang pertama kali adalah "minta".

Orang beli bukan karena butuh karena ingin.

Kalau orang dagang ingin rezekinya baik, harus pintar buat orang lain ingin.

Orang itu ingin barang dagangannya kalau suka orangnya.

Tugas kita itu untuk hidup bahagia.


Segmen III :

Orang kalau ingin memperbaiki rezeki, kuncinya satu, perbaiki diri.

Berdoa yang paling manjur bukan untuk diri sendiri tetapi untuk orang lain karena berdoa untuk orang lain itu sangat ikhlas.

Percaya saja bahwa tidak ada cara mencapai kebaikan kecuali jalan kebaikan.

Cara menunggu yang paling baik itu sibuk. Jangan putus dari berharap. Kalau ada orang putus harapan itu karena berhenti berharap.

Hati yang kosong dari harapan, masuk kesedihan. Hati yang penuh harapan tidak sempat sedih.

Orang lain mudah beli pada orang yang terbuka.

Yang membatalkan rezeki : sombong ke istri.

Tuhan tidak sampai hati membuat orang yang hatinya baik, lama-lama susah.

Cara terbaik untuk memulai adalah memulai, jangan menunggu!


Segmen IV :

Orang itu kalau mau beli harus beli rasa yakin kita karena yang pertama kali dibeli itu orangnya.

Dibeli itu, dalam istilah biasa, disukai. Orang yang disukai gampang dibeli.

Kedekatan kita dengan pelanggan itu penting. Orang mempunyai kecenderungan membeli dari teman.

Harus ada rasa percaya diri kalau yang kita jual itu, bukan lebih baik, bukan jelek, tapi sesuai. Tidak ada istilah mahal atau murah, sesuai.

Kalau orang ingin menjual sesuatu harus memperlihatkan keinginan untuk dibeli. Banyak orang berdagang mengeluhkan tidak laku seharian tetapi tidak berperilaku yang menunjukkan ia ingin dibeli.

Orang-orang yang ingin dibeli membangun pertemanan yang baik dengan orang yang lalu lalang di depan tokonya tanpa harus menjadi kenal atau menjadi sahabat lama.

Kalau kita berdagang yang kesehariannya bertemu banyak orang, pastikan kita menguasai seni bersahabat dengan cepat. Orang mempunyai kecenderungan membeli dari orang yang dikenalnya, dari orang yang ramah, dari orang yang dipercayainya.

Jadi apabila kita sudah meminta rezeki yang besar kepada Tuhan, kita harus menunjukkan kepantasan untuk menerima besar, dengan cara menjadi pribadi yang disukai oleh orang lain.


Segmen V :

Siapapun yang ingin berbisnis apapun, jangan pikirkan uangnya karena pasti dapat. Pikirkan apa yang kita lakukan supaya bermanfaat bagi sesama. Tujuan kita adalah memperbesar manfaat.

Berbisnis amanah adalah bukan memikirkan uangnya tetapi memikirkan berapa banyak orang bisa baik, untung, sehat.

Tujuan dari kita bekerja adalah tumbuh menjadi orang yang gajinya terlalu besar untuk perusahaan itu sampai harus pindah ke perusahaan yang lebih besar.

Sebagian dari kita bekerja hanya untuk menua.

Alasan kenapa orang tidak mau cita-citanya besar, tidak sabar.

Raut wajah orang yang keinginannya besar itu berbeda.

Berbisnis yang amanah itu memikirkan bagaimana orang bisa baik dan beruntung.

Segmen VI :

Berdoa yang sesuai dengan kemampuan itu salah. Kalau berdoa sesuai dengan kemampuan itu bukan Tuhan yang kasih, teman.

Yang menjadikan anak kita pemenang jika dari kecil sudah diajarkan tidak mau kalah. Nomor satu datang di sekolah, nomor satu mandi. Jadi anak harus dilatih tidak mau kalah, kompetitif.

Jadikan anak kita mencintai kejujuran. Orang jujur itu rezekinya baik. Orang jujur itu masalahnya sudah selesai bahkan sebelum masalahnya datang.

Latihlah anak kita menjadi anak yang bangga, jujur, dan bekerja keras.

Mulai dari sekarang jangan khawatir rezeki kita kurang, rezeki kita langsung dari Tuhan. Baik saja sama orang.

Banyak orang hidupnya tidak punya proyek, hanya mengeluh dari hari ke hari.

Setiap orang berhak meminta apapun yang dimintanya dari Tuhan, dan tidak boleh membatasi ukuran dari permintaannya, karena Tuhan-lah yang mampu memenuhi permintaan yang sepertinya tidak masuk akal bagi orang lain.

Tugas kita adalah melakukan yang mungkin kita lakukan, dalam kesyukuran yang indah, supaya kita mencapai yang tadinya kita rasakan tidak mungkin.

Tugas kita bukan untuk mengeluhkan besarnya beban, tugas kita adalah untuk ikhlas melakukan yang sekarang bisa kita lakukan, yang berada dalam kemampuan kita.

Setelah itu, hiduplah dengan fokus kepada menjadikan diri semanfaat mungkin, bukan uang yang dicari karena uang pasti dapat karena pelayanan kita terhadap sesama, maka marilah kita menemukan cara-cara menggembirakan, membaikkan kehidupan sesama, supaya kita dirawat dalam sebaik-baiknya kesejahteraan.

Kesempurnaan adalah kesederhanaan yang disyukuri.


Segmen VII :

Sesuatu yang dilakukan secara setengah-setengah, itu harus dilakukan dua kali.

Waktu itu menuntut kita untuk tegas sekali berfokus karena banyak orang menginginkan banyak hal, membagi waktunya untuk banyak hal.

Menginginkan banyak hal itu bagus tetapi berhasil di satu keinginan itu yang memungkinkan kita mendapatkan semua keinginan.

Orang tidak harus berhasil pada semua hal. Cari satu yang paling kita cintai, yang membuat kita bangun pagi-pagi, bekerja paling lama, lupa makan, lupa istirahat, pikirannya hanya itu, belajar hanya itu, fokus hanya itu. Itu lebih mudah berhasil.

Sesuatu yang diperlakukan tidak penting, tidak mungkin menjadikan kita penting.

Kehidupan ini hanya seindah kesungguhan kita untuk mengindahkannya. Kehidupan ini memang tidak mudah, sebetulnya sulit, tetapi hanya terasa lebih mudah jika kita menjadi pribadi yang lebih kuat.

Kesungguhan untuk menggunakan yang sederhana, yang sudah ada pada kita, jauh lebih penting daripada modal apapun, karena tidak ada modal yang cukup bagi orang-orang yang tidak mensyukuri kesederhanaan yang ada padanya karena sebetulnya kesempurnaan adalah kesederhanaan yang disyukuri.

Apabila kita ikhlas menggunakan apapun yang ada dalam diri kita, menggunakan hubungan baik dengan orang lain yang menjadikan kita pribadi yang disukai, hingga orang berhubungan dan membeli dari kita, menjadikan kita sahabat, pengisi kekurangan di dalam hidup mereka, kita akan dikuatkan dalam kehidupan yang lebih damai, lebih sejahtera yang sesuai dengan harapan kita.

Memang tidak semuanya akan menjadi seperti yang kita harapkan, tetapi apabila kita ikhlas, tidak letih berharap, bekerja dalam kejujuran dan pengabdian kepada Tuhan, bagi kebahagiaan sesama, tahu-tahu kita bisa sampai pada keadaan yang bahkan lebih indah daripada yang kita harapkan.


Semoga bermanfaat. Aamiin.

Tidak ada komentar: