Segmen I :
Dilema ada yang konstruktif dan destruktif.
Dalam kegalauan, dalam gamangnya rasa karena tidak adanya kepastian kadang-kadang membuat kita meleset dalam kehidupan.
Dilema itu terjadi karena kita memiliki pilihan-pilihan yang seimbang. Pilihan yang seimbang ini tidak bisa kita ambil salah satunya, tanpa mengabaikan yang lain, padahal dua-duanya penting.
Yang menjadikan kita tersiksa sehingga kita menjadi gamang karena banyak dari kita hanya berharap tanpa melakukan sesuatu, berharap tanpa bertindak, dan bermimpi tanpa bekerja.
Obat terbaik bagi penyakit hati apa pun adalah kesibukan. Orang yang sibuk tidak sempat mengeluh.
Bagaimana pun aktivitas badan itu penting.
Jangan batasi Tuhan dengan membatasi sumber pendapatan. Keberanian itu tanda dari iman. Kalau kita beriman, kita berani.
Dilema adalah pilihan yang seimbang pentingnya, tapi tidak bisa dilakukan salah satunya, tanpa mengabaikan yang lain.
Segmen II :
Kegalauan Anda mengenai penilaian tentang diri Anda itu hanya sudut pandang karena Anda melihat sudut yang menggalaukan. Alihkan sudut pandang Anda. Kalau yang Anda lihat baik, Anda akan berpersepsi baik tentang kehidupan. Dan mudah-mudahan dengannya lebih bersemangat.
Kalau Anda merasa galau, ubah tenaganya dari menikmati kesedihan, meratapi ketidakberuntungan menjadi "aku harusnya bisa", "aku mau seperti itu".
Gelisah itu mengindikasikan ketidaksabaran untuk meninggalkan satu keadaan. Kegalauan itu memperpanjang keluhan.
Sudut pandang, yang Anda lihat menentukan persepsi Anda tentang kehidupan.
Segmen III :
Tidak ada pekerjaan yang membosankan kalau orangnya tertarik kepada dirinya. Di mana pun dia bekerja, kalau dia tertarik kepada dirinya, pekerjaan ini adalah sarana untuk mencapai kemampuan yang lebih besar.
Masa depan itu bukan masa depannya pekerjaan. Masa depan itu masa depan pribadi kita.
Pilih pekerjaan yang membayar. Anda bekerja kepada orang lain tanpa bayaran itu setelah mampu.
Bagaimana Anda menasihatkan keberhasilan kalau Anda sendiri belum berhasil?
Jadilah bukti dari keefektifan pendapat Anda sendiri. Orang yang bisa lantang mengutarakan pendapat harus sudah membuktikan pendapat itu dalam kehidupannya.
Jadilah pribadi yang berhasil dulu. Sebetulnya, di dalam proses itu pun Anda sudah melayani banyak orang.
Anak yang tidak menghayati cinta ibunya, sulit menghayati cinta orang lain, sulit memberikan cinta karena cinta tidak bisa dipaksakan. Cinta datang kepada orang yang pantas untuk mencintai dan dicintai.
Jadilah pribadi dengan cita-cita yang tinggi dengan cara hidup yang pantas dicintai oleh sebaik-baiknya belahan jiwa.
Jangan pisahkan cinta dan cita-cita, hiduplah sebagai pribadi yang pantas dicintai oleh seindah-indahnya belahan jiwa.
A little off is ok, but not for ten years.
Segmen IV :
Sebagian dari kita tidak mensyukuri keberadaan satu sama lain sehingga lebih mementingkan siapa yang benar dan siapa yang salah bukan kedua-duanya membenarkan keadaan.
Pada akhirnya, setiap orang hanya bertanggung jawab tentang dirinya sendiri.
Salah sedikit itu tidak apa-apa, bagi anak muda, tapi jangan sepuluh tahun. Segeralah berubah. Jangan gunakan pengaruh-pengaruh yang tidak baik untuk kita.
Rasa takut kita untuk salah lebih sering menjadikan kita salah daripada betul. Orang yang tidak takut salah lebih sering betul dan waktu salah pun dia tertawa.
Buatlah banyak kesalahan bukan untuk niat merugikan orang lain karena kesalahan yang merugikan orang lain itu dosa. Tetapi salah untuk proses menjadi benar, itu terpuji. Lebih mulia orang yang melakukan kesalahan daripada orang yang betul tetapi tidak pernah mencoba. Orang yang betul tapi tidak pernah mencoba itu tidak ada, selalu salah.
Lebih baik mendekati kesalahan daripada menjauhi kesalahan karena benar dan salah itu dekat tempatnya, hanya bolak baliknya koin.
Lawan dari bersyukur bukanlah tidak bersyukur, tapi sinis.
Segmen V :
Orang tidak bersyukur mungkin bukan niatnya tidak bersyukur tetapi dia tidak tahu sehingga begitu diingatkan dia langsung beryukur.
Lawan dari syukur adalah sinis. Hati-hati dengan sinis. Orang sinis tahu benar disinisi. Orang sinis menolak masuk ke wilayah terang, dia berada di wilayah gelap, membenci kegelapan, tapi menghujat cahaya.
Nasihat untuk kebaikan kita itu ada dalam jangkauan kita.
Jangan menggunakan kelemahan hidup untuk menghujat orang lain karena itu sama dengan mempermanenkan penderitaan.
Yang tidak Anda ketahui akan melukai Anda. Orang yang tidak tahu menderita karena orang yang tidak tahu sudut pandangnya terbatas. Sudut pandang yang terbatas mengakibatkan dia hanya melihat yang jelek-jelek padahal kehidupan ini indah. Kehidupan memang tidak mudah tetapi itu filter. Kehidupan itu membuat kita harus bekerja keras untuk menjadi pribadi yang pantas dimuliakan.
Dilema, utamanya dua, penderitaan karena disiplin atau penderitaan karena penyesalan. Apabila Anda tidak disiplin, Anda akan menderita dalam penyesalan.
Semoga bermanfaat. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar