Segmen I :
Kekayaan pribadi tidak mejadi bernilai apabila dia bukan menjadi kenikmatan bagi sesama.
Yang menjadikan kita membatasi diri adalah terutama karena kita membenci kekayaan. Orang-orang yang membenci kekayaan biasanya orang-orang yang perlu memperbaiki kemampuannya.
Paradigma adalah peta berpikir. Mulai saat ini peta berpikir harus lurus menuju kekayaan, bukan karena kita ingin melebihkan diri di atas orang lain, tapi karena ingin menjadikan diri berguna bagi orang lain.
Mindset itu cara kita menata apa yang kita izinkan, kita setujui atau tidak. Banyak orang yang di dalam dirinya yang boleh adalah yang merusak kesehatannya, nama baiknya, menjauhkan orang baik, yang menjadikan dia lebih dekat kepada keburukan. Ada orang yang mengatakan tidak. Tetapi yang ditolak adalah yang baik bagi dirinya. Bisa dibayangkan kualitas kehidupan dari orang ini?
Sudut pandang. Dunia yang sama dilihat oleh orang yang sudut pandangnya berbeda, berbeda.
Yang menjadi fokus kita, tumbuh.
Yang terakhir adalah obsesi.
Segmen II :
Tidak semua harta adalah kekayaan. Tetapi kekayaan selalu harta. Kekayaan milik orang baik.
Seorang yang jahat, korup hanya bisa punya harta yang bukan kekayaan tetapi tanda dari besarnya hukuman yang sedang ditangguhkan.
Jangan iri terhadap orang yang berharta karena ketidakjujuran. Irilah dengan orang miskin yang ikhlas, bersyukur dengan keadaannya dan sedang mendidik anak-anaknya yang akan menjadi orang kaya yang amanah. Perbaiki konsep kita mengenai kekayaan.
Orang malas adalah orang yang rajin bermalas-malasan. Sebetulnya setiap orang mampu rajin.
Orang yang mudah kaya melihat segala sesuatu bisa dijual.
Jadi, setelah paradigma, mindset, sudut pandang, fokus, dan obsesinya betul, yang kita butuhkan adalah tubuh yang patuh. Tubuh yang patuh pada hati dan pikiran yang baik.
Sebetulnya tidak ada badan yang rajin atau malas, hanya tinggal badan Anda patuh atau tidak.
Segmen III :
Untuk semua kemudahan hidup yang kita inginkan, kita diharuskan mampu melampaui kesulitan karena hukum dalam kehidupan ini, kepantasan. Yang pantas yang dapat.
Hukumnya, kepantasan mendahului keberhasilan.
Banyak orang ingin menjadi sesuatu dalam hidup tidak tahu caranya.
Rezeki hanya berkenaan dengan dua hal, yang Anda lakukan dan orang yang mengenal Anda.
Jangan persulit orang menemukan Anda karena yang Anda lakukan, dan orang yang mengenal Anda dijadikan oleh Tuhan jalan lewatnya rezeki.
Segmen IV :
Kekayaan itu bukan hanya punyanya tetapi cara mengenakannya.
Orang berharta yang tidak tahu caranya mengenakan hartanya, seperti orang bukan kaya.
Orang yang tidak berharta yang tahu merk paling mahal bukan di tas, telepon, laptop. Merk yang termahal adalah nama baik. Syukuri diri Anda.
Jangan lukai hati anak-anak dengan mengatakan bahwa mereka tidak berhak menjadi seseorang yang besar. Paling kasihan anak yang tidak menemukan pahlawan pada figur ayah dan ibunya karena anak itu tumbuh berbahagia dan kuat apabila ada orang tua yang bersedia jongkok di sebelahnya dan mengatakan, "Kamu bisa". Kalau Anda belum bisa menghebatkan anak-anak Anda, paling tidak jangan lukai mereka. Kasihi.
Orang yang sudah demikian ikhlasnya menerima bahwa dirinya bukan apa-apa, sudah ada di tempat terbaik untuk mulai dijadikan sesuatu.
Orang yang sudah demikian sedih sampai tidak merasa menjadi apa-apa adalah orang yang kerendahan hatinya paling indah.
Segmen V :
Anda tidak pernah betul-betul siap karena kalau Anda siap, itu bukan sesuatu yang hebat. Kalau Anda siap, itu sesuatu yang rutin, yang sudah Anda bisa. Padahal rezeki Tuhan yang besar itu berada di tempat-tempat di mana kita belum bisa.
Jangan mengeluh tentang kesiapan.
Jangan terlalu khawatir mengenai kesempatan.
Persiapan terbaik adalah diri Anda. Tugas Anda adalah meminta orang lain mempekerjakan Anda. Jangan tolak pekerjaan sulit karena itu belum tahu dan semua rezeki baik ada di tempat yang kita belum tahu.
Kesempatan sudah Anda miliki. Kesempatan itu sudah ada di Anda.
Kalau mau diperjakan oleh orang hebat, belajar.
Setiap orang dari kita sedang menunggu ditemukan.
Kekayaan yang kita sebut sebagai kekayaan hati itu adalah kesalihan.
Ada 2 macam kesalihan : kesalihan pribadi. Dan ini yang biasanya orang banggakan atau syukuri sebagai kekayaan hati. Kesalihan ini menjadi indah sekali apabila menjadi kesalihan sosial. Apabila kekayaan Anda berdampak bagi perbaikan kualitas hidup orang lain.
Jadilah orang berilmu, supaya ilmunya membukakan pengertian kepada sesama. Jadilah orang kaya sehingga berderma, memberdayakan pendidikan dan kesehatan dan kebaikan hidup bagi sesama. Jadilah manusia yang dihadiahkan oleh Tuhan bagi kebahagiaan sesama karena Anda kaya sebagai pribadi dan sebagai rahmat bagi sesama.
Semoga bermanfaat. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar