28 November 2009

Dari Brandweer Batavia ke Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta

“Jakarta kebanjiran, di Bogor angin ngamuk.
Rumah ane kebakaran, gara-gara kompor mleduk.
Ane jadi gemeteran wara-wiri keserimpet…”

Banjir dan kebakaran sering bikin hati warga Jakarta dag-dig-dug. Banjir selalu mengancam di musim hujan, sementara musibah kebakaran sering terjadi di musim kemarau seperti sekarang. Suasana kalang kabut akibat kebakaran direfleksikan dengan jenaka oleh seniman Betawi, almarhum Benyamin. S, dalam lagunya “Kompor Mleduk”, yang sepotong liriknya dikutipkan di atas.

Di zaman kejayaan Bang Ben, 1970-1980-an, kebakaran memang sering terjadi gara-gara kompor minyak tanah meledak. Sekarang, yang lebih banyak mleduk adalah tabung kompor gas pembagian pemerintah. Namun, yang paling sering dituduh sebagai penyebab kebakaran adalah hubungan pendek arus listrik alias korsleting.

Sejarah kebakaran di Jakarta mungkin sama tuanya dengan usia kota itu sendiri. Sebelum abad ke-16, kebakaran mungkin sudah pernah terjadi di lingkungan Pelabuhan Sunda Kelapa, cikal bakal Jakarta. Si jago merah mungkin pula pernah mengamuk di kompleks Keraton Jayakarta, yang dibangun Panglima Falatehan dari Demak setelah ia berhasil mengakhiri kekuasaan Kerajaan Hindu Pajajaran dan mengusir para pedagang Portugal dari Pelabuhan Sunda Kelapa pada 22 Juni 1572. tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai hari Jakarta.

Namun, catatan tertulis tertua tentang kebakaran di Jakarta berasal dari zaman awal kekuasaan Belanda, abad ke-17 dan ke-18, waktu nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Pada zaman VOC itu Batavia masih dikelilingi hutan yang lebat. Karenanya, kebakaran yang sering terjadi adalah kebakaran hutan akibat kegiatan penebangan kayu, bahan bangunan utama pada masa itu. Disebutkan juga, kebakaran hutan juga kerap terjadi dalam kegiatan pembukaan lahan untuk pembangunan suiker-molens, penggilingan tebu untuk dijadikan gula, salah satu komoditas perdagangan utama maskapai dagang Belanda itu.

Barisan pemadam kebakaran jelas belum ada waktu itu. Entah bagaimana cara warga Batavia memadamkan kebakaran. Mungkin dilakukan secara bergotong-royong, disiram dengan air yang diambil dari Sungai Ciliwung atau kanal-kanalnya memakai ember kayu.

Terima kasih warga Betawi

Masalah kebakaran di Batavia mulai diurus pemerintah tahun 1873, pada zaman pemerintahan James Loudon, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang berdarah Inggris. Waktu itu Residen Batavia mengeluarkan peraturan tentang pemadaman kebakaran di Batavia dan sekitarnya.

Namun, sampai awal abad ke-20, satuan pemadam kebakaran belum mendapat perhatian yang memadai dan masih bekerja dengan cara-cara yang kuno. Peralatan yang dimiliki berupa beberapa alat pemadam api tangan dan para anggotanya hanya memiliki pengetahuan sekadarnya tentang cara menolong korban kebakaran.

Baru pada tahun 1917 dibelilah sejumlah peralatan yang lebih modern, termasuk mesin penyemprot kebakaran bertenaga uap, dan dua mobil pemadam kebakaran. Kedua mobil pemadam kebakaran bermerk Arbenz disiagakan di pos pemadam kebakaran yang berlokasi di dekat Stasiun Kereta Api Weltevreden, kini Stasiun Gambir, di jakan Medan Merdeka Timur. Namun, usaha pemadaman kebakaran masih sering gagal karena belum berpengalamannya para petugas dan kurang panjangnya selang tekanan tinggi yang dimiliki.

Untuk membantu para anggota satuan pemadam kebakaran yang masih terbatas, di berbagai perkampungan juga dibentuk kelompok-kelompok pemadam kebakaran beranggotakan para pemuda pengangguran yang belum menjadi wajib pajak. Mereka yang disebut “anak pompa” ini selalu siaga dan langsung bergerak setiap kali terdengar suara kentungan dari pos ronda yang memberi tahu adanya kebakaran. Saat bertugas, mereka mengenakan sepotong kain bernomor urut yang diikatkan di lengan baju.

Sistem pemadam kebakaran yang diterapkan pemerintah ini seringkali tak mampu mengatasi bencana kebakaran yang terjadi. Dalam kebakaran yang terjadi di daerah Kwitang pada tahun 1918, misalnya, satuan pemadam kebakaran yang dibantu warga tak berhasil menjinakkan kobaran si jago merah.

Dalam buku peringatan 25 tahun berdirinya Kotapraja atau Gemeente Batavia yang terbit pada tahun 1930 disebutkan, musibah yang menimbulkan kerugian besar itu mendorong pemerintah memberi perhatian lebih besar terhadao masalah pemadaman kebakaran. Tahun itu juga, Wali Kota Batavia mengangkat pensiunan perwira tentara Hindia Belanda, Letnan Kolonel RBM de Wijs, menjadi Komandan Barisan Pemadam Kebakaran. De Wijs diminta menyusun rencana reorganisasi kesatuan itu.

Setahun kemudian, 1919, Kotapraja Batavia secara resmi mendirikan Barisan Pemadam Kebakaran atau Brandweer, yang merupakan cikal bakal dari Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta sekarang. Dengan dukungan peralatan yang semakin modern dan sumber daya manusia yang kian profesional, kinerja Brandweer pun semakin baik. Kepiawaian menjinakkan si jago merah yang sering ditunjukkan membuat Brandweer menjadi pelindung sejati warga Betawi dalam bencana kebakaran.

Oleh karena itu, pada 1 Maret 1929, dalam rangka peringatan 10 tahun kelahiran Brandweer Batavia, sekelompok tokoh Betawi menyerahkan tanda penghargaan kepada pasukan pemadam kebakaran itu. Pemberian tanda penghargaan berbentuk prasasti itu dilakukan sebagai wujud terima kasih segenap masyarakat Betawi atas darma bakti para anggota barisan pemadam kebakaran.

“Dalam masa yang soeda-soeda bahaja api djarang tertjega habis langgar dan roema. Tidak memilih tinggi dan renda sepoeloeh tahoen sampai sekarang semendjak Brandweer datang menentang bahaja api moedah terlarang mendjadikan kita berhati girang...” Demikian sebagian tulisan yang terukir pada prasasti itu, yang kabarnya sampai kini masih tersimpan di Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta di Gang Ketapang, kini Jalan Zainul Arifin, Jakarta Pusat.

Para pemadam kebakaran zaman Belanda bisa bekerja maksimal, antara lain, karena relatif baiknya prasarana yang disiapkan pemerintah untuk menunjang kerja mereka. Banyak daerah pemukiman di Jakarta dulu sempat dilengkapi dengan apa yang disebut gang kebakaran, brandgang, jalan kecil yang dibangun di bagian belakang deretan rumah sebagai jalan khusus bagi petugas kalau terjadi kebakaran.

Sayang, jalan akses khusus bagi para anggota pemadam kebakaran untuk memudahkan kerja mereka itu kini nyaris tak bisa temui lagi. Setelah zaman kemerdekaan, lorong-lorong itu lambat laun hilang akibat pembangunan yang tak terkendali oleh warga Ibu Kota.

(Mulyawan Karim, Koran Kompas, Rabu, 15 Juli 2009)

Tidak ada komentar: