Ketika mendengar Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom dalam Perang Dunia II, pertanyaan pertama yang dilontarkan Kaisar Hirohito adalah berapa orang guru yang selamat. Ini menegaskan, pendidikan merupakan prioritas utama Kaisar Hirohito.
Pasca Perang Dunia II, Jepang pun segera bangkit menjadi salah satu negara paling maju di dunia. Pendidikan tentu berperan besar di sana. Guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, Sampoerna Foundation Teacher Institute (SFTI) menggelar forum yang mempelajari semangat pendidikan Jepang.
Forum itu bernama Education Sharing Network (ESN). Berlangsung di Jakarta pada pekan silam, forum ini dihadiri sedikitnya 120 peserta. Mereka terdiri atas para guru, orangtua, pendidik, serta pemerhati pendidikan. Diskusi ini difasilitatori oleh Profesor Nakaya Ayami, seorang peneliti pendidikan dari Universitas Hiroshima, Jepang.
Dalam kesempatan itu, Profesor Nakaya berbagi cerita tentang kondisi sekolah di Jepang. Mulai dari manajemen sekolah, manajemen kelas, hingga praktik metode mengajar. Di Jepang, manajemen sekolah melibatkan partisipasi semua pihak meliputi kepala sekolah, guru, orangtua dan masyarakat untuk ikut mendukung proses pendidikan siswa.
Manajemen sekolah diimbau untuk mencetak “Berita Sekolah” pada setiap bulannya, sebagai sarana informasi untuk menyampaikan kondisi siswa kepada orangtua/wali, program-program sekolah, permohonan bantuan serta ucapan terima kasih yang berkaitan dengan suatu acara.
Dalam kesempatan tersebut, Nakaya menayangkan sebuah video berisikan tayangan sebuah sekolah dasar bernama Misonou di kota Higashi Hiroshima yang mewajibkan siswa untuk melakukan Yoshu.
Yoshu berarti belajar sehari sebelumnya. Untuk itu, siswa diminta mempelajari materi yang akan dipelajari esok hari, sehingga di kelas siswa lebih siap berkonsentrasi menerima pelajaran.
Tidak hanya siswa, guru juga harus mempersiapkan diri dan membuat bahan untuk mengajar. Hal ini penting agar proses belajar mengajar menjadi lebih menarik bagi siswa. Tentunya kreativitas guru sangat diperlukan karena semua mata pelajaran di Jepang harus berkaitan dengan kemampuan hidup.
Biasanya guru akan meminta siswa untuk mengerjakan proyek sederhana. Misalnya, pelajaran bahasa Inggris dikaitkan dengan isu lingkungan hidup. Siswa akan diminta untuk membuat kampanye tentang lingkungan hidup dalam bahasa Inggris.
Nakaya mengatakan bahwa pendidikan kemampuan hidup meliputi kompetensi yang kelihatan dan tidak kelihatan. “Yang kelihatan mencakup ketrampilan tingkah laku, pengetahuan. Sedangkan yang tidak kelihatan seperti motivasi, kepercayaan diri, dan misi,” kata Nakaya. Semua itu diperlukan untuk mencetak sumber daya manusia yang berkualitas.
Menurut Nakaya, konsep life skill harus diberikan oleh setiap sekolah demi meningkatkan mutu lulusannya. Dan tidak hanya guru yang terlibat, tetapi kepala sekolah dan orangtua pun diharapkan terlibat aktif dalam penerapan faktor kemampuan hidup tersebut.
Lebih jauh Nakaya yang mengambil studi S1 di Universitas Padjajaran ini mengatakan, sebaiknya Indonesia juga memasukkan konsep kemampuan hidup dalam materi pengajaran. Hal ini sangat berguna bagi para siswa untuk mengembangkan kemampuan pribadi yang ada dalam diri dan menjadikan mereka generasi penerus yang siap berkompetisi.
ESN merupakan program reguler dua mingguan yang mengundang para pendidik untuk mendiskusikan isu-isu terkini yang sedang berkembang di dunia pendidikan. Para guru menggunakan kesempatan ini untuk mengembangkan diri mereka dan memperluas wawasan dalam mengajar.
(Sri Noviarni, Koran SINDO, Minggu, 1 Maret 2009)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar