17. Kebaikan bisa dibeli. Semangat tidak.
Orang yang bisa mengubah dunia hanyalah orang yang mau. Dan tidak semua orang mau.
Manusia memiliki sesuatu yang saya sebut “gen marah”. Bagian dari psikis kita itulah yang membuat kita sama sekali sangat tidak puas, tidak peduli betapa baiknya nasib baik tersenyum pada kita.
Hal itu ada alasannya. Kembali ke masa purbakala, menjadi marah membuat kita menjadi rajin, ke luar dari gua menuju tundra memburu mamot, untuk dijadikan makan malam. Itu mekanisme bertahan hidup. Dulu sangat berguna, begitu juga sekarang.
Itu gen marah yang sama yang membuat kita ingin menciptakan sesuatu – menggambar, sonata biola, perusahaan pengepakan daging, situs internet. Gen yang sama yang menggiring kita menemukan cara membuat api, roda, busur dan anak panah, memasang pipa ledeng, komputer, dan daftarnya tidak akan ada habisnya.
Bagian dari mengerti kebutuhan kreatif adalah mengerti bahwa hal itu adalah yang utama. Ingin mengubah dunia bukanlah panggilan yang mulia; itu panggilan utama.
Kita mengira bahwa kita “menyediakan sistem logistik superior yang terpadu” atau “membantu Amerika untuk benar-benar terasa segar”. Bahkan kita marah dan ingin keluar dari gua dan membunuh mamot.
Bisnis Anda mengizinkan atau tidak mengizinkan Anda untuk memburu mamot. Tentu saja, seperti banyak pekerjaan kerah putih yang ada saat ini, Anda mungkin saja ditawarkan uang dalam jumlah banyak untuk duduk di bagian sudut gua kantor dan berpura-pura berburu. Menyedihkan. Yang lebih menyedihkan adalah Anda setuju menerima uangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar