28 Januari 2009

How to be creative part 14 of 26 by Hugh Macleod

14. Mati muda, terlalu dibesar-besarkan.

Saya melihat banyak anak muda yang memilih rute “menggunakan narkoba untuk membuatnya menjadi seniman” selama bertahun-tahun. Pilihan yang tidak pintar, efektif, sehat ataupun berakhir bahagia.

Sebuah kisah biasa : seorang anak yang membaca tentang Charlie Parker, Jimmy Hendrix, atau Charles Bukowsky dan entah bagaimana contoh mereka yang puitis tapi cacat memberikan izin yang dihabiskan satu dekade berikutnya untuk terbenam dalam muntah metaforisnya sendiri.

Tentu saja, semakin tua Anda, semakin banyak kesulitan dari kebodohan ini yang Anda temui. Semakin banyak waktu yang merusak hidup mereka. Mereka terlihat semakin menyedihkan. Dan semakin tidak hebatlah karya yang mereka tampilkan untuk “pengalaman hebat” dan “wawasan istimewa” mereka.

Semakin cerdas dan berbakat seorang seniman, semakin kecil dia akan memilih rute ini. Tentu, dia mungkin sedikit melakukan kesalahan saat masih muda dan bodoh, tapi dia akan bergerak lebih cepat dari yang lainnya.

Tapi seorang anak hanya berpikir bahwa itu hanya bakat, dia hanya berpikir tentang potensi. Dia menganggap remeh peran waktu, disiplin dan stamina. Tentu, seperti Bukowski, mereka pengecualian. Tapi karena itulah kita menyukai kisah-kisah mereka saat kita masih muda. Karena kisah mereka adalah pengecualian. Dan setiap anak dengan gitar, pulpen, kuas atau ide untuk bisnis baru ingin menjadi pengecualian. Setiap anak meremehkan lawan, dan terlalu berharap pada kesempatan. Setiap anak adalah pecundang untuk ide yang diharapkan terlaksana tanpa harus bekerja keras mewujudkannya. Jadi bar-bar di Hollywood Barat dan New York yang terisi penuh orang-orang yang membuang kehidupan mereka dan hampir putus asa untuk menemukan jalan pintas, atau apapun. Dan banyak dari mereka bahkan tidak muda lagi; rencana B mereka telah terhapus dengan vodka bertahun-tahun lalu.

Sementara pesaing mereka di rumah, sedang bekerja keras.

Tidak ada komentar: