13. Jangan pernah membandingkan apa yang Anda miliki dalam diri Anda dengan penampilan luar yang dimiliki orang lain.
Semakin Anda melatih bakat Anda, Anda semakin tidak bingung dengan imbalan secara spiritual atau sebaliknya. Bahkan jika jalan Anda tidak menghasilkan uang atau meningkatkan karier Anda, masih berharga untuk diteruskan.
Saat saya berusia 16 atau 17 tahun di Edinburgh, saya tidak begitu mengenal pria yang memiliki toko dengan nama “Cinders” di Jl. St. Stephen. Toko ini spesialisasi memperbaiki perapian antik.
Modus operandi Toko Cinder sangat sederhana. Beli cerobong asap Georgia dan Victoria yang asli dari rumah-rumah tua, tidak dipelihara seharga 10 sen, perbaiki di toko dengan bijaksana, jual kembali dengan keuntungan sangat besar.
Saat itu saya penasaran sekali tentang bagaimana orang bertahan hidup (masih sampai saat ini). Jadi suatu hari, saat duduk di serambi tokonya, saya berbicara dengannya.
Pria itu menceritakan titik terhebat dari usahanya – pencarian ke rumah-rumah tua, keahlian, hubungan dengan pelanggan, dan tentu saja keuntungan.
Pria itu sepertinya cukup bangga dengan pekerjaannya. Dari caranya menjelaskannya sepertinya dia menyukai perdagangan dan bisa hidup layak. Saat itu Skotlandia masih harus melewati sedikit resesi; jumlah pengangguran tinggi, ekonomi sulit; saya rasa untuk seorang hippie yang sudah tua, keadaan mungkin lebih buruk.
Beberapa anak mengatakan, “Saat saya dewasa, saya ingin menjadi tukang reparasi perapian!” Itu bukan bisnis paling menjanjikan di seluruh dunia. Saya menanyakan padanya bagaimana dia bisa memulai bisnis itu.
“Dulu saya pedagang barang antik,” katanya. “Orang yang menghabiskan banyak uang untuk membeli barang antik sepertinya juga menghabiskan banyak uang untuk memperbaiki rumah mereka. Jadi saya mendapatkan ide dengan hanya berbincang dengan orang-orang di toko saya. Terlalu banyak pedagang barang antik di Edinburgh, jadi saya mencari cara lebih mudah untuk bertahan hidup.”
Seperti pekerjaan terbaik di dunia, terjadi begitu saja.
“Beberapa perapian memang benar-benar indah,” kata saya. “Pasti sulit untuk mengaturnya.”
“Tidak,” katanya (dan bagian ini yang paling saya ingat). “Maksud saya, saya menyukainya, tapi karena memakan banyak tempat – perapian itu sangat besar dan mengambil banyak tempat – saya senang bisa menyingkirkannya setelah terjual. Saya hanya ingin perapian itu keluar dari toko saya secepatnya dan mendapatkan uang. Menjualnya sangat mudah bagi saya. Tidak seperti barang-barang antik. Saya selalu menyukai barang antik, jadi saya selalu jatuh cinta dengan stok yang ada, saya selalu ingin memiliki barang-barang terbaik saya. Saya selalu memberikan harga terlalu tinggi secara tidak sadar agar barang-barang itu tidak terjual.”
Menjadi muda dan idealis, saya mengatakan padanya bahwa saya pikir saya sedikit sedih. Mengapa memilih menjual “barang tidak bernilai” (misal : perapian) saat Anda bisa menghasilkan uang dengan menjual yang benar-benar Anda suka (misal : barang-barang antik?) Tentu Anda lebih senang melakukan pekerjaan yang kedua.
“Aturan pertama dalam bisnis,” katanya sambil tertawa kecil karena keluguan saya, “adalah jangan pernah menjual yang Anda cintai. Jika tidak, Anda seperti menjual anak-anak Anda sendiri.”
15 tahun kemudian, saya berada di sebuah bar di New York. Seorang teman dari teman saya melihat gambar kartun saya. Dia menanyakan pada saya apakah saya akan menerbitkannya. Saya katakan padanya tidak. Saya mengatakan padanya bahwa itu hanya sebuah hobi. Saya mengatakannya tentang pekerjaan periklanan saya.
“Sobat, kenapa Anda bekerja di periklanan?” katanya, menunjuk ke porto folio saya.
“Seharusnya Anda melakukan ini. Galeri dan sejenisnya.”
“Periklanan sama dengan perapian,” kata saya, berbicara ke gelas.
“Apa?”
“Lupakan saja.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar