04 September 2008

Kepercayaan dan Kejujuran

Setiap orang pasti ingin dipercaya atau menjadi orang kepercayaan. Tetapi seberapa sering kita bertanya kepada diri sendiri, sudahkah kita pantas menerima kepercayaan? Sudahkah kita bisa menjadi sosok yang amanah saat kita dititipkan sesuatu atau meminjam sebuah buku misalnya? Yah, kadang kita suka menganggap remeh hal-hal kecil seperti itu. Akan tetapi, justru hal kecil seperti itulah yang menjadikan kita bisa dipercaya atau tidak. Jika dari hal kecil kita bisa dipercaya, besar kemungkinan kita dapat dipercaya untuk hal-hal yang besar.

Untuk itu, janganlah pernah berpikir untuk bermain-main dengan kepercayaan yang telah dipercayakan kepada kita. Saya pernah mengalami hampir kehilangan rasa kepercayaan teman saya. Saat itu, sebut saja di A, menelepon si B dan memintanya untuk ke kantor walaupun sebenarnya si B hari itu libur. Sebenarnya si A hanya iseng dan meminta saya berpura-pura mendukung ceritanya. Si B kemudian menelepon saya dan mengkonfirmasi berita yang di dengarnya dari si A. Saya membenarkannya walaupun sebenarnya hati saya berteriak untuk mengatakan tidak.

Sampailah si B di kantor. Dia mengatakan bahwa dia langsung berkendara dari Bogor ke Jakarta dan semalaman belum tidur. Setelah mengetahuinya, timbul rasa bersalah pada diri saya. Dan saya langsung mendapatkan hukuman yang setimpal. Saat makan siang, si A mengatakan pada si B bahwa ide untuk meminta si B datang ke kantor adalah ide saya. Marah, marah dan marah hati ini. Kepercayaan yang saya bangun dicampakkan di depan muka saya sendiri. Walaupun tadinya hanya keisengan belaka, berubah menjadi hancurnya kepercayaan si B kepada saya yang sudah susah payah saya jaga. Saya sangat menyesal karena mendengarkan ajakan si A, padahal saya lebih lama berteman dengan si B.

Untuk itu berhati-hatilah dengan kepercayaan orang lain terhadap kita. Karena sulit untuk membentuk kepercayaan yang dalam waktu singkat bisa luluh lantak hanya karena keisengan belaka. Dan akhirnya saya tidak akan pernah lagi berbohong, walaupun hanya untuk keisengan. Sata tidak lagi mau menjadi kambing hitam untuk orang lain.

Tidak ada komentar: